
Setelah di putuskan, bahwa mereka akan kembali hari esok, mereka pun tidur, dengan nyenyak, hingga pagi tiba.
Daisy sudah membereskan barang-barang milik Anya dan Agam, dan membuat sarapan pagi, untuk mereka berempat, setelah selesai, dia langsung menghidangkan makanan tersebut, tapi dia tidak kunjung melihat Rayan datang ke belakang.
"Mom, apa? mommy benar-benar tidak akan ikut"ucap Agam.
"Mommy, sibuk disini, akan seratus harinya Ambu, tidak masalah bukan, ada atau tidak adanya mommy di sana, yang penting kalian bahagia"ucap Daisy.
"Tapi Mom, rasanya sangat sepi"ucap Agam lagi.
"Tidak akan, setelah nona Almira, resmi menjadi istri kakak kalian, dia yang akan menggantikan tugas mommy, mengurus kalian"ucap Daisy lembut.
"Tidak mau, kita bisa tinggal terpisah, dari mereka berdua, asal ada mommy, sudah cukup bahagia"ucap Agam.
"Tidak boleh begitu, setidaknya hargai kakak, kalian yang selama ini dia sudah membesarkan dan menjaga kalian dengan baik"ucap Daisy.
"Kamu meminta mereka, menghargai ku, sementara kamu sendiri.... apa? Dy, kamu bahkan tidak pernah menghargai ku sedikit saja"ucap Rayan.
"Tuan, saya, sudah sangat menghargai Anda, saya sudah mencoba membalas kebaikan tuan yang telah menyelamatkan saya, tapi jika itu masih kurang, semoga tuhan yang menggantikan kebaikan tuan, dengan kebahagiaan seperti yang saat ini akan dijalani oleh tuan"ucap Daisy.
Tapi bukan nya Rayan, terima perkataan Daisy, yang justru telah menggoreskan luka yang cukup dalam, karena Rayan, begitu mencintai Daisy, tapi wanita itu, malah mengucapkan selamat, pada dirinya, atas perjodohan itu.
"Agam, segera, bawa barang-barang kalian ke mobil kalian, kita akan langsung berangkat, percuma saja bicara dengan orang yang tidak peka"ucap Rayan.
"Anda, benar tuan, saya memang tidak peka"ucap Daisy yang kini menyibukkan diri dengan bersih-bersih rumah.
"Mom, sarapan sudah siap"ucap Anya.
"Sudah, semua sudah siap, silahkan sarapan pagi terlebih dahulu sebelum pergi"ucap Daisy.
"Mom, temani aku sarapan"ucap Agam.
"Tidak usah Agam, sudah terlambat kita bisa sarapan di jalan nanti"ucap Rayan.
Daisy, hanya terdiam dan berusaha untuk tidak memperdulikan, pria itu, Daisy, tau pria itu, tengah marah pada dirinya, karena, Daisy menolak untuk ikut, dengan nya.
Sampai akhirnya, pria itu pergi lebih dahulu, menuju mobilnya, setelah merapihkan dirinya dan membawa tas miliknya.
Anya dan Agam, memeluk Daisy, mereka benar-benar tidak ingin pisah, tapi Rayan tidak mungkin sendirian saat pernikahan nya nanti.
Daisy pun mencoba tersenyum, saat mengantar keduanya, sampai ke mobil, sementara, Rayan, tetap berada di dalam mobilnya, yang sudah terparkir di jalan raya.
Daisy, pun menatap kepergian, mereka, dan wanita itu langsung kembali ke rumah nya.
Daisy duduk, di depan meja makan, Air mata nya meleleh begitu saja, dia pun perlahan mengambil piring dan, sendok, mengambil nasi dan lauk pauk yang tadi dia sediakan untuk mereka, tapi tidak sedikit pun mereka makan, bahkan melirik nya pun tidak.
Daisy, fokus makan, sampai saat seseorang duduk di samping nya.
"Aku sudah mengetuk pintu berulang kali teh, tapi tidak ada jawaban"ucap Riki.
"Ah, maafkan aku, A, tadi mungkin sedang berada di kamar mandi"ucap Daisy.
"Teh, tth nangis?"ucap Riki, kaget.
"Iya A, aku kasihan, pada mereka, sudah di masak tapi tidak di makan"ujar Daisy, bohong, walaupun sedikit ada alasan itu.
"Ah kebetulan, Rere, Ani buruan masuk kita dapat sarapan gratis"ujar Riki.
"Dua perempuan itu pun masuk, Daisy pun tersenyum manis dan mempersilahkan mereka masuk.
Sementara di perjalanan, Rayan, benar-benar merasa frustasi, dia tidak habis pikir, kenapa? Daisy, tidak sedikit pun menahan nya, untuk pergi, wanita itu benar-benar telah membuat dirinya kesal sedih sakit hati, Rayan ingin Daisy menahan nya, agar tidak pergi, atau pun kembali, untuk menikah, agar dia punya kekuatan untuk menolak perjodohan itu, tapi nyatanya Daisy, malah bersikap dingin.
"Dy, kamu keterlaluan, aku sakit hati, kenapa? kamu tidak pernah menahan ku, untuk terus berada di sisi mu"ucap Rayan sambil memukul setir.
Rayan, ingin sekali kembali, tapi kemudian membuat perhitungan dengan nya, dan mendekap erat wanita itu.
__ADS_1
Sementara Daisy sendiri, saat ini sudah pergi ke desa sebelah untuk mencari hewan seekor sapi, yang akan dijadikan hewan untuk akikah, Ambu nya, sekaligus mengadakan bagi-bagi rezeki,di hari keseratus hari menikah dengan nya.
Sesampainya di rumah kediaman Rayan, pria itu, sudah di sambut langsung, oleh Almira, dan juga gadis, istri dari Rayan.
Almira, langsung menyambut nya, dengan pelukan, sementara Anya dan Agam, hanya mencibir nya, mereka berdua langsung pergi menuju kamar nya masing-masing untuk istirahat, karena diluar begitu terdengar bising, oleh obrolan mereka.
Jika saja, keduanya tidak merasa kasihan pada Rayan, sang kakak mungkin saat itu juga, mereka sudah mengusir orang-orang itu, dari rumah mereka, karena, itu adalah hak mutlak milik Agam dan Anya, sementara Rayan, memiliki rumah lain, dari mendiang mommy nya, yang tidak pernah di tempati tapi masih terawat hingga saat ini.
Sementara perusahaan milik Vino, masih ditangani oleh, Rayan yang juga punya perusahaan sendiri, hanya saja Agam dan Anya belum siap untuk mengambil alih semua itu, karena mereka masih suka bermain-main, dan belum benar-benar berpikir dewasa.
Rayan pun pamit pada semua, untuk membersihkan diri setelah perjalanan jauh, tapi sebelum itu, meminta pelayan untuk menyiapkan makan siang untuk mereka bertiga, karena tadi mereka hanya sarapan roti, itupun, sambil jalan, karena ingin buru-buru sampai.
Sesampainya di dalam kamar, Rayan, benar-benar menyesal karena telah menyia-nyiakan sarapan pagi yang dibuat oleh Daisy.
Daisy, bahkan menyiapkan itu, sedari pagi sekali, untuk mereka, bahkan Rayan, heran, gadis itu punya uang, untuk mengurus mereka, entah dari mana, padahal saldo rekening bank Daisy, yang Rayan, berikan hingga saat ini masih utuh, belum tersentuh.
"Dy, kamu itu, perempuan keras kepala, yang membuat ku, jatuh cinta dengan semua yang kamu miliki, kamu tidak pernah gengsi dan tidak pernah melakukan pencitraan di depan siapapun bahkan tidak sedikit pun kamu, mau menggunakan uang, yang telah aku berikan, bagaimana jika kamu kesulitan, saat aku tidak ada, di sisi mu"ucap Rayan lirih.
Pria yang kini berdiri tegak di,bawah guyuran shower, hati dan pikiran nya tengah bermonolog, Rayan, sudah hampir lima belas menit berada di sana, bayangan wajah Daisy, terus melintas di pikiran nya.
Daisy, sendiri, saat ini baru tiba dari desa sebelah, setelah membayar, seekor sapi, untuk acara yang akan digelar tiga hari lagi.
Gadis itu, tengah duduk bersandar di, kursi santai milik, Ambu nya, sesekali air mata nya, kembali menetes, kini hidupnya, benar-benar sebatang kara.
.......................
"Ambu, maaf Daisy, menjual perhiasan itu, untuk seratus hari nya, Ambu, pergi, meskipun ada satu perhiasan, yang tidak akan pernah Daisy jual, yaitu cincin, milik ibu"ucap Daisy.
Selain, cincin memang masih ada gelang dan anting, tapi Daisy akan menyimpan itu, sebagai kenang-kenangan.
Sampai saat, nanti, saat Daisy, sudah tidak punya apa-apa lagi.
Daisy pun kembali ke kamar nya setelah menutup pintu dan jendela, dan memastikan semua nya terkunci, Daisy langsung mengunci pintu kamar nya, karena malam pun telah larut, dan suara-suara bintang pun sudah terdengar, termasuk jangkrik kodok, di Empang dan juga, burung hantu.
Suasana Desa, yang masih asri dengan pepohonan dan hutang lindung yang tidak jauh dari tempat tinggal Daisy, sudah terbiasa dengan suara-suara tersebut.
Daisy, memberanikan diri untuk mengangkat telepon tersebut.
^^^"Halo"Daisy.^^^
"Belum, tidur"Rayan.
^^^"Sudah, baru saja bangun, karena haus"Daisy.^^^
"Dy, temui aku besok pagi di kantor"Rayan.
^^^"Jika ngantuk jangan main ponsel"Daisy^^^
"Dy, aku serius, besok pagi aku kirim sopir"Rayan.
^^^"Aku sibuk, bicarakan saja disini"Daisy.^^^
"Dy, aku mohon"Rayan.
^^^"Aku tidak punya waktu, mulai besok acara persiapan, untuk seratus hari nya, Ambu"Daisy.^^^
"Dy, jangan keras kepala? sebelum Almira, aku ingin mengenalkan mu, terlebih dahulu sebagai istri ku" Rayan.
^^^"Tidak ada istri lain, selain Almira, Ray, aku hanya orang asing, berhentilah bermimpi"Daisy^^^
"Dy, aku tidak sedang bermimpi, aku mencintaimu, mengertilah"Rayan.
^^^"Ray, kamu juga harus mengerti, posisi ku, kita terlalu jauh berbeda, aku hanya akan jadi benalu untuk mu nantinya"Daisy.^^^
"Dy, kamu akan menjadi istri sekaligus ibu, sebelum dia"Rayan.
__ADS_1
^^^"Rayan, anggap saja kita tidak pernah bertemu dan saling mengenal, lupakan aku, jangan buat hidupmu sulit hanya karena aku"Daisy^^^
"Dy, aku tidak mau tau, pokonya besok kita bertemu di kantor"ucap Rayan.
^^^"Maafkan saya tuan, saya tidak akan datang, dan satu lagi Handpone milik anda, saya kirim lewat paket besok"Daisy.^^^
"Dy, jangan berani kamu lakukan itu, atau kau akan menyesal!"Rayan.
Daisy, hanya bisa menangis, setelah itu dia mematikan ponselnya.
Niat awal ingin, minum karena haus, tapi nyatanya, wanita itu malah terduduk di kursi sambil menangis sesenggukan, hatinya perih, mungkin jika,satu saat nanti dia benar-benar menjadi istri Rayan pun, dia hanya akan menjadi bahan hinaan, dan cemoohan dari keluarga nya.
Daisy, tidak ingin itu terjadi.
Gadis itu akan pergi menjauh, dari nya.
Karena,menjauh bukan berarti benci,tapi menjaga hati dari luka, yang akan datang, itu jauh lebih baik.
Hingga pagi tiba, semua orang, sudah berada di teras rumah nya, meskipun kebanyakan pasangan muda-mudi mereka, siap membantu Daisy, untuk membuat berbagai kudapan lezat untuk acara yang akan digelar tiga hari lagi, ada makanan khas, jawa barat , berupa tape ketan, rengginang, opak, wajit , dan lain sebagainya.
Daisy, pun sudah bersiap dengan wajah sembab nya, khas orang yang habis menangis.
"Teh, Anya dan Agam sudah kembali ya"ujar mereka.
"Ya, mereka sudah terlalu lama berlibur, dan sekarang sudah harus masuk kuliah"ucap Daisy.
"Ayo th mana yang akan dikerjakan terlebih dahulu"ucap mereka.
"Semua, ada di dapur"ucap Daisy.
Mereka pun mulai bekerja, dari mulai menanak beras ketan, hingga menjadi nasi, yang nantinya akan ditumbuk halus.
Sebagian, menanak nasi, ketan untuk membuat, wajit gula aren.
Dan, masih banyak yang lainnya lagi, hingga akhirnya Daisy pun membuat nasi liwet untuk mereka semua makan bersama, tidak hanya muda-mudi yang membantu masih banyak lagi ibu-ibu lainnya, karena mereka juga pernah merasakan kebaikan keluarga Daisy, apalagi saat, almarhum ibunya Daisy, masih ada, mereka selalu membantu orang yang membutuhkan.
Hingga, sopir yang di utus oleh Rayan, datang tepat pukul sembilan pagi, tapi Daisy, tetap kekeuh untuk menolak, sampai ibu RT, menengahi, karena terjadi keributan,antara Daisy dan orang-orang yang akan membawa nya, ternyata bukan hanya sopir, tapi ada mobil lainnya, yang berisi beberapa orang bodyguard nya.
"Nona, saya mohon ikut, dengan kami tuan muda bisa mengamuk jika anda tidak ikut, taruhan nya nyawa kami, lalu anak istri kami nanti makan apa? ujar mereka kompak.
"Tuan, istri anda menolak untuk ikut, dengan alasan sibuk"ujar salah seorang dari mereka.
"Rayan, aku benar-benar sibuk, ayo lihat lah"ujar Daisy yang memperlihatkan kesibukan orang-orang di rumah nya.
"Dy, sayang kamu bisa membayar semua orang, suami mu, sedang butuh kamu di kantor , ayolah sayang" Rayan.
Entah mau sampai kapan? pria itu bersandiwara.
"Ray, jangan sekarang ok..aku sibuk"Daisy.
"Neng pergi saja, mungkin keadaan darurat, percayakan semua pada ibu"ucap Bu RT, menengahi.
Daisy, pun menghela nafas, dia pun mengangguk pasrah dan bersiap untuk pergi, tapi tidak membawa koper, wanita itu hanya membawa tas ransel, kecil berisi satu stell pakaian.
Daisy bahkan hanya menggunakan kaos polos berwarna hitam dan celana jins berwarna marun, juga topi hitam dia menggendong tas punggung nya.
Gadis, itu pun pergi, meninggalkan rumah nya, hingga tiba di ibukota, dengan pemandangan khas, gedung-gedung pencakar langit, Daisy, dibawa ke sebuah salon kecantikan terlebih dahulu, seperti yang dijadwalkan oleh Rayan, wanita itu di make over, hingga tampil semakin cantik, gadis itu pun, semakin terlihat sangat cantik, Daisy pun kini menggunakan dress, selutut berwarna merah, dengan tali spaghetti di atas nya, rambutnya,di Cepol, ala wanita Korea, yang memperlihatkan leher jenjang yang putih bersih dan mulus,khas gadis desa, yang belum terjamah.
Sampai, dia berada di lobby kantor, gadis itu pun, disambut dengan senyuman dan pelukan hangat dari, Rayan Anya dan Agam, Daisy hanya tersenyum.
"Perkenalkan, dia istri saya, Nyonya Rayan Davidson"ucap Rayan, pada seluruh karyawan yang berkumpul di sana.
Daisy, tersenyum manis meskipun, sedikit terpaksa, karena Rayan, sedari tadi merangkul pinggang Daisy.
"Dy, setelah ini, kita akan pulang ke rumah kita"ujar Rayan.
__ADS_1
"Rumah"