
hari demi hari Daisy lewati dengan penuh kesabaran, Daisy masih dalam proses penyembuhan, pasca operasi , padahal dia ingin sekali melihat Gibran yang sudah mengalami kecelakaan, hati nya begitu sakit saat mendengar pria yang menjadi suami nya itu, kecelakaan.
Gibran yang sangat lembut dan pengertian dibalik ketampanan nya, apa lagi saat Daisy, mengingat masa lalu nya dengan pria itu.
Gibran selalu bersikap sebagai seorang suami pada umumnya, apa lagi perhatian Gibran, saat sehari-hari yang biasa nya saat pulang bekerja Gibran selalu membelikan oleh-oleh dan setangkai bunga mawar.
Gibran akan memeluk nya dari belakang saat dia tengah memasak sarapan pagi, sampai dia di marahi oleh Daisy, dia baru bisa lepas pelukan yang disertai kecupan di leher jenjang Daisy.
Daisy, hanya bisa pasrah jika Gibran, ingin memeluk nya, saat tidur malam hari, hingga pagi menjelang.
Daisy akan manja pada Gibran, saat pria itu pulang lebih awal dari kantor, dan akan minta tidur dengan posisi kepala di pangkuan Gibran, layaknya orang pacaran, Daisy dan Gibran seperti pasangan normal lainnya, bertahun-tahun hidup bersama mereka pun memiliki ikatan batin yang cukup kuat, tapi Gibran,kalah dengan cinta masa lalu nya, hingga tanpa sengaja melukai hati Daisy, wanita yang selama ini telah berkorban untuk nya.
Gibran, hanya bisa melihat dia pergi dari rumah nya yang sudah lama mereka tempati selama ini.
kini Daisy, berbaring di berankar rumah sakit, Daisy sendiri hanya ditemani oleh seorang suster yang dibayar oleh Rio, selama ini menjadi teman setia nya.
Daisy, pun meminta bantuan suster tersebut untuk menemui Gibran, diam-diam tanpa sepengetahuan Rio.
saat ini dia sudah tiba di ruangan Gibran, Daisy masih duduk di kursi roda, Gibran kaget saat melihat itu.
"Yang kamu kenapa??... kamu dirawat di sini, siapa yang membawa mu kesini "ucap Gibran yang mencoba bangun dari berankar yang selama ini menjadi tempat ia berbaring.
"Mas,hiks hiks hiks... jangan cemas kan aku justru aku mencemaskan keadaan mu, kenapa??... kamu berakhir di rumah sakit"ucap Daisy, yang langsung mendekat dan berusaha berdiri dia langsung memeluk Gibran, seperti sepasang kekasih yang baru bertemu setelah sekian lama.
"Yang mas tidak apa-apa, hanya ada bagian yang patah, tapi kamu tidak usah khawatir mas sudah baikan, kamu sendiri di sini kenapa??... yang kenapa??... gak ngabarin aku kita pulang ya kerumah"ucap Gibran lembut.
"Mas aku akan pulang ke desa,dua hari lagi"ucap Daisy.
"Yang please aku mohon, kalaupun kamu tidak ingin kembali ke rumah lama kita setidaknya kita masih bisa tinggal di rumah kita yang baru yang aku belikan untuk mu"ucap Gibran.
"Aku tidak janji mas, tapi aku akan tinggal beberapa saat, untuk merawat mu mas setelah itu aku akan pulang"ucap Daisy.
"Kalau hanya merawat mas juga bisa minta suster sayang,mas hanya butuh istri mas tinggal bersama dengan mas,mas mohon sayang , mohon"ucap Gibran.
"Aku akan pertimbangkan mas,oh iya apa mas sudah makan dan minum obat"ucap Daisy.
"Sudah sayang tadi siang tinggal malam ini, saja, mungkin nanti sebentar lagi.kamu belum jelasin sama mas kenapa??.. kamu berada di sini yang"ucap Gibran.
"Aku, habis operasi mas, bos ku dulu yang membiayai operasi ku, karena saat itu aku terkena serangan jantung saat mendengar mas kecelakaan"ucap Daisy.
"Sayang maafkan aku, aku tidak pernah becus mengurus istri ku sendiri, sampai saat ini malah orang lain yang mengobati penyakit mu"ucap Gibran.
"Sudah lah mas bukan waktu nya mengeluh sekarang adalah saatnya kamu harus segera pulih secepatnya, agar aku bisa tenang saat jauh dari mu"ucap Daisy.
"Yang"ucap Gibran.
"Mas, kita masih bisa bersama meskipun kita tidak tinggal bersama aku akan ada di sana jika kamu ingin menemui ku"ucap Daisy lembut.
"Aku hanya ingin tinggal bersama dengan mu, honey, apa??... itu salah"ucap Gibran.
"Nona maaf tuan menanyakan keberadaan Nona, sebaiknya kita segera kembali"ucap suster yang sedari tadi menunggu nya di luar.
"Mas, aku pergi dulu kamu baik-baik ya, aku akan usahakan setelah dua hari lagi"ucap Daisy sambil mencium pipi Gibran dan memeluk nya.
"Cepat sembuh suamiku sayang"ucap Daisy, sambil tersenyum manis pada Gibran.
__ADS_1
"Cepat sembuh istri tercinta ku, hati-hati sayang kamu tidak boleh bepergian sendiri"ucap Gibran.
"Aku sayang kamu mas"ucap Daisy.
"Mas juga sayang kamu"ucap Gibran.
setelah hari itu, mereka tidak pernah bertemu lagi, hingga satu bulan lamanya, karena Gibran, dibawa oleh keluarga nya, berobat ke Amerika, atas usulan istrinya Almira, bukan hanya itu, Gibran, juga menetap kembali di negara itu bersama dengan kedua orang tua kandung nya.
sementara Daisy, tanpa keputusan yang jelas, dia bahkan tidak pernah diberi kabar sama sekali,kini wanita itu tengah tinggal di desa, tempat kelahiran ayah nya,meski Rio, sudah kembali membawa nya pulang ke rumah lama milik Daisy, tapi wanita itu, masih menolak, dia tidak ingin lagi berhubungan dengan Rayendra.
Daisy, sudah menekuni profesi nya, sebagai guru di kampung tersebut dengan murid dari segala penjuru kampung tersebut, tapi wanita itu tidak pernah mengeluh, meskipun hingga saat ini dia masih harus meminum obat dan vitamin untuk proses penyembuhan.
Daisy, masih tetap semangat, sudah beberapa bulan ini, dia mendapat kan kunjungan dari vino,tak jarang pria itu membantu Daisy mengajar.
vino juga sering memberikan uang tanpa bisa Daisy tolak, pria itu tetap saja selalu menyimpan uang di mana pun di rumah Daisy.
sementara dia dengan Gibran, benar-benar berpisah.
tanpa surat cerai tapi surat kaleng yang bahkan tidak di ketahui tulisan siapa tapi di dalam sana menjelaskan bahwa Gibran, menjatuhkan talak pada Daisy, dan Daisy pun menerima semua itu meskipun rasanya berat, tapi dia, selalu berharap semoga Gibran, bahagia bersama dengan istrinya dan juga kedua anak kembar nya itu.
"Mas... aku tidak tahu, apa?... alasan dari semua ini tapi aku berharap kamu baik-baik saja dan selalu bahagia dimana pun kamu berada"gumam Daisy lirih, dan langsung menyimpan surat tersebut.
setelah itu Daisy, kembali bersiap untuk melanjutkan, tugas mengajar nya, saat ini ada vino yang membantu nya mengajar,vino juga membawa buku bacaan dari kota, dari mulai buku untuk anak usia dini hingga untuk usia lanjut yang juga ikut sekolah khusus yang buta huruf.
Daisy, pun dengan senang hati mengajar mereka, dengan sabar, dan kadang Daisy mendapatkan hal lucu saat dia mengajar apa lagi ditemani oleh vino yang selalu berusaha untuk lebih dekat dengan nya.
🌹💖💖💖🌹
pagi hari tepat pukul delapan, Daisy, sudah masuk gedung yang dibangun dengan suwadaya masyarakat, setempat hingga di kampung tersebut sudah ada aula tempat nya mengajar.
"Ade-ade ada yang tau tidak apa bahasa Inggris nya Aku"ucap vino.
"I....!"ucap mereka serempak.
"Wah pintar cepat juga ya Bu guru ini ngajar nya,kalo cinta apa bahasa Inggris nya"ucap vino, lagi.
"Love...!"ucap mereka serempak.
"Wah hebat Bu guru nih, kalo kamu itu apa bahasa Inggris nya"ucap vino lagi.
"you...!"seru mereka.
"Kalo di satukan bagaimana??... bunyinya"ucap vino lagi
"I love you...!!!"seru mereka lagi kompak .
"heummm...pintar kalau begitu kakak juga mau ngikutin kalian ah" ucap vino, yang langsung di hentikan oleh Daisy.
"Sudah-sudah sekarang kalian fokus pada pelajaran nya kakak mau pulang dulu"ucap Daisy.
"Kok pulang sih Tan, gak seru ah"ucap vino .
"Vin, aku punya pekerjaan lain dari kakak sepupu mu"ucap Daisy.
"Tan santai lah sejenak, apa??... Tante masih membutuhkan banyak uang, bukan nya saat ini Tante , sudah sembuh total"ucap vino.
__ADS_1
"Vin ini bukan masalah uang ,ini masalah kedisiplinan, aku sudah harus tidur sebelum aku kelelahan"ucap Daisy.
vino langsung mengikuti Daisy yang berjalan lebih dulu, melewati beberapa rumah warga dan sawah yang luas,meski jalanan becek mereka berdua tidak pernah mengeluh Daisy, masih terus berjalan hingga bertemu dengan Bu Maryam, yang sengaja hendak mencari nya karena ada tamu di rumah ada seseorang dari kota yang mencari nya.
"Non untung saja,non Daisy ada di sini,itu dirumah ada tamu yang mencari non Daisy"ucap Bu Maryam.
"Siapa??... Bu"ucap Daisy, bingung karena Rio, sudah menelpon nya bulan depan dia baru akan ke desanya.
"Tidak tau neng tapi sepertinya orang penting, karena yang turun dari mobil hanya asisten nya non"ucap Bu Maryam.
Daisy pun berjalan dengan cepat disusul oleh vino, dan Bu Maryam, sesampainya di depan rumah, Daisy langsung mematung ternyata Gibran, yang kini berada di hadapan nya.
derai air mata itu mengalir deras turun tanpa izin, dari kedua matanya, Daisy buru-buru masuk kedalam rumah tanpa mempersilahkan tamu nya untuk masuk, Daisy, begitu sedih karena bertemu dengan orang yang telah membuang nya begitu saja, selama ini.
"Yang, aku datang bukan nya di sambut tapi kamu malah pergi begitu saja"ucap Gibran yang kini hendak memeluk Daisy, tapi tangan Daisy, menghentikan pergerakan nya.
"Stop mas Gibran, aku bukan siapa-siapa mas lagi semenjak kamu mengirim ku, surat cerai, sejak saat itu kita sudah bukan siapa-siapa lagi"ucap Daisy, yang langsung membuat Gibran,kini mematung.
"Apa??... maksud kamu yang aku tidak pernah melakukan hal itu,sumpah demi apapun,aku tidak akan pernah melakukan itu padamu"ucap Gibran.
"Mas... sudah lah, tidak mungkin orang lain tau alamat ku di sini jika mas tidak percaya aku punya bukti nya"ucap Daisy.
Daisy langsung masuk kedalam kamar nya dan langsung mengambil surat cerai itu.
tidak lama Daisy kembali dengan sepucuk surat, yang Gibran kirim kan satu tahun yang lalu.
"Ini bukti nyata nya "ucap Daisy, sambil menyodorkan sepucuk surat.
Daisy yang saat itu hendak pergi tapi tangan Gibran, menahan nya.
"Yang aku mohon, lihat lah ini bukan tulisan tangan ku, kamu tau sendiri bagaimana tulisan ku"ucap Daisy.
"Aku tidak tahu itu tulisan mu atau bukan tapi semua yang tertera di sana menyatakan tentang dirimu yang menceraikan ku, bahkan kita sudah berpisah lama tanpa ada kabar sedikit pun, aku pikir mungkin surat itu benar-benar dari mu"ucap Daisy.
"Yang aku tahu aku salah sudah tidak pernah memberi mu kabar tapi aku tidak akan pernah mau menceraikan mu, aku pergi karena ada luka di bagian dalam yang harus di sembuhkan, dan aku awal nya menolak itu aku tidak mau ninggalin kamu tapi mommy meminta ku terus aku pun pergi, sumpah sayang aku tak ada niat untuk meninggalkan mu"ucap Gibran.
pria itu langsung memeluk Daisy yang kini menangis.
"Mas... jika kamu sudah tidak bisa mempertahankan aku,mas boleh ceraikan aku, untuk apa dilanjutkan, semua itu tidak ada guna, aku juga hanya kamu jadikan patung pajangan, aku juga ingin hidup normal seperti wanita lain nya, yang memiliki suami dan anak, aku ingin masa tua ku nanti anak-anak ku,ada menemani ku, tapi jika terus begini aku tidak tahu lagi"ucap Daisy.
"Baiklah sayang mulai sekarang aku janji aku akan memperlakukan mu seperti seharusnya,lagi pula kamu sudah sehat, sekarang aku akan memenuhi kewajiban ku sebagai seorang suami"ucap Gibran.
saat mereka sedang berbicara tiba-tiba seseorang menelpon mengabarkan bahwa ibunya Gibran masuk rumah sakit, Gibran menghela nafas berat, setelah itu dia berkata.
"Sayang aku harus segera kembali mommy masuk rumah sakit, aku mohon tunggu aku kembali"ucap Gibran, sambil memeluk dan mengecup bibir Daisy.
"Mas, sebaiknya kamu putus kan sekarang ceraikan saja aku, aku tau telpon tadi itu tidak benar mommy baik-baik saja, tapi dia sudah berubah membenci ku saat ini dan hubungan tanpa restu tidak akan menghasilkan kebahagiaan"ucap Daisy.
"Sayang aku tau kamu tidak percaya dengan ku, tapi mommy memang sedang tidak enak badan tadi, saat aku tinggal please untuk kali ini aku janji akan segera kembali"ucap Gibran.
"Tidak mas sekali kamu pergi maka selamanya kita resmi bercerai"ucap Daisy yang langsung membuat Gibran mematung .
"Yang aku mohon pengertiannya please, aku mencintaimu Daisy aku mohon, jangan bicara seperti itu, aku bingung yang satu adalah mommy ku dan satunya lagi adalah istri ku, aku harus apa??... Daisy sayang aku harus apa??...Mi tolong beritahu aku"ucap Gibran yang kini menjatuhkan tubuhnya melorot di lantai dia memohon di kaki Daisy.
"Bangun mas kamu tidak pantas melakukan itu, kamu harus ambil sikap tegas aku tidak melarang mu untuk pergi, aku hanya ingin kejelasan, tentang semua nya, aku bukan halte tempat persinggahan menunggu bus yang akan datang"
__ADS_1