
Kini Almira masih menjalani perawatan intensif setelah operasi selesai dilakukan, dan suaminya itu terus menemani dia disisinya.
Tidak hanya itu, dia juga membantu merawat istrinya mulai dari membersihkan setiap inci bagian tubuhnya itu.
Sementara itu di Indonesia Agista baru saja mendarat setelah ia kembali dari luar negeri.
Agis dijemput oleh Weni dari bandara dan pulang menuju apartemen miliknya peninggalan Novita dulu untuk beristirahat di sana.
Sepanjang perjalanan Agista begitu antusias menceritakan kebahagiaan nya saat bertemu dengan sang ayah.
Agista juga bercerita bahwa Ayahnya adalah pria yang sangat pengertian dan sangat menyayangi dia.
Weni yang menderanya pun ikut larut dalam kebahagiaan tersebut.
Sementara David yang mendapatkan laporan dari anak buahnya bahwa Agista sudah berada di Indonesia dengan memberikan bukti foto Agista yang berada di pintu keluar bandara tersebut.
David pun segera menyelesaikan pekerjaan itu dan meminta asisten pribadinya itu untuk menghandle perusahaan seperti yang dilakukan selama ini.
Pria itu langsung bergegas pergi menuju apartemen dimana dia tinggal beberapa hari belakangan ini.
David langsung berkemas setibanya di sana, dia tidak ingin menunda waktu karena bagi dirinya jauh lebih penting untuk bertemu dengan Agista ketimbang memikirkan hal lainnya.
Sampai saat dia tiba di bandara Changi Singapura dia langsung memasuki jet pribadinya yang sudah bersiap untuk pulang ke Indonesia.
Sepanjang perjalanan David terus memikirkan cara untuk membuat Agista bisa kembali padanya.
Karena mereka tidak pernah menyepakati keputusan untuk berpisah, Agista pergi karena tekanan dari keluarganya.
Sampai saat dia tiba di Indonesia, pria itu buru-buru keluar dari jet pribadi miliknya itu dan berjalan menuju pintu keluar dari bandara tersebut, disana sudah ada sopir pribadinya.
David langsung masuk kedalam mobil tersebut sementara asistennya itu memasukkan barang-barang nya kedalam bagasi mobil tersebut.
"Ke tempat dimana istriku berada."ucap David.
__ADS_1
Sementara keduanya hanya mengangguk lalu mengikuti perintah dari David.
Sementara Agista, saat ini baru selesai berbenah kamar bersama dengan Weni. mereka berdua membersihkan apartemen tersebut bersama dengan petugas kebersihan disana.
Saat mereka hendak makan malam, tiba-tiba saja suara pintu terbuka, Agis dan Weni menyangka bahwa itu adalah petugas kebersihan yang baru keluar, tapi suara derap langkah sepatu itu terdengar begitu nyaring.
Agista yang hendak menyuapkan makanan tersebut kedalam mulutnya tapi dia malah menjatuhkan sendok yang dia pegang saat dia melihat David sudah berada tidak jauh dari arahnya.
Pria itu tidak berbicara apapun saat ini hanya berjalan menghampiri Agista dan Weni yang kini terdiam di tempatnya David langsung duduk di samping Agista tanpa basa-basi dia langsung bertanya.
"Yank, bagaimana? kabar Daddy mu saat ini."ucap David.
Agis hanya menatap lekat pada pria tampan dengan wangi maskulin itu.
"Heumm,,, apa? kau memata-matai aku."ucap Agista dengan nada yang penuh penekanan.
"Apa? salah jika aku melakukan itu demi kebaikan istriku."ucap David.
"Istri,,,, heeuh bahkan kita tidak punya hubungan apapun lagi saat ini jadi tuan David yang terhormat silahkan keluar dari gubuk ini."ucap Agista.
"Heumm."ujar Agista.
"Yank,,, aku juga laper."ujar David sambil meraih sendok yang baru itu.
"Apa? kamu tidak mendengar apa? yang aku katakan tadi."ucap gadis itu.
"Sayang please, aku mohon jangan seperti ini.... aku tidak ingin semuanya berakhir seperti ini, aku minta maaf jika kedua orang tua ku membuat mu terluka, aku tidak ada hubungannya dengan itu. jadi tolong jangan sangkut pautkan aku dengan masalah itu karena aku tetap mencintaimu sampai kapanpun itu."ucap David.
Agis hanya terdiam sambil menatap lekat wajah tampan itu mencari sebuah kebenaran, tapi kini dia tidak ingin bimbang dalam mengambil keputusan.
"Kita sudah berpisah sesuai dengan yang orang tuamu katakan, pergilah anggap saja itu adalah bagian dari pembelajaran bahwa jika jatuh cinta itu harus pada orang yang sepadan dengan kita."ucap Agista.
"Yank,,, sejak kapan? kamu berubah menjadi keras kepala seperti saat ini, aku sangat mencintaimu dan kita sudah berjanji tidak akan pernah berpisah apapun yang terjadi nanti."ucap gadis itu.
__ADS_1
"Heumm,,, kamu pikir aku akan tetap bertahan disaat kedua orang tuamu menentang hubungan ini. tidak David aku tidak sekuat itu, hati ini akan merasakan sakit yang teramat sangat saat seseorang menyinggung dimana posisi ku."ucap gadis itu.
Sementara itu di kediaman Rayan saat ini ketiga orang yang baru saja kembali dari jalan-jalan di luar kini tengah duduk sambil tertawa cekikikan sambil mengobrol tentang apa? Yang mereka alami tadi.
Setelah masa hukuman berakhir Vanya pun mengajak temannya untuk jalan-jalan sekaligus mengajak Kimberly sigadis kalem itu untuk jalan-jalan di luar.
Selama perjalanan tidak ada obrolan yang panjang yang dilakukan oleh gadis itu, dia hanya menjawab pertanyaan dan sesekali bertanya namun tidak dalam ranah pribadi.
Kedua adik sepupu itu sungguh memiliki sifat yang sangat bertolak belakang, jika dulu Vanya dan Raya bisa berbagi cerita dan masalah apapun itu, maka lain halnya dengan Kimberly yang sampai saat ini hanya berbicara seperlunya.
Sementara gadis yang kini sibuk berceloteh dan disambut tawa riang oleh kedua gadis itu sedang memindai seluruh ruangan yang ada di dalam rumah besar itu.
"Kim, Daddy dan mommy mu dimana?kok dari tadi tidak terlihat."tanya gadis itu.
"Heumm... mereka mungkin masih liburan."ucap gadis itu.
"Kau tidak diajak oleh mereka."ucap gadis itu.
"Untuk apa? ikut orang yang akan berbulan madu bisa-bisa aku ganggu."jawab Kimberly.
"Ya enggak lah mana ada ganggu yang ada seru."ucap gadis itu lagi.
"Tidak mereka memang orang tua ku, tapi mereka juga butuh privasi untuk berdua."ucap Kimberly yang terdengar sangat bijak sana.
Mereka terus melanjutkan obrolan hingga gadis itu membahas tentang David yang kini tengah berada di kediaman Agista di apartemen.
Mereka masih bertengkar hebat, gara-gara Agista menolak untuk melanjutkan hubungan diantara mereka.
Sementara David menolak untuk berpisah. alhasil David pun melakukan hal yang seharusnya bisa dicegah, dia ingin mealhiri hidupnya dengan melukai urat nadinya jika saja Agista tidak merebut pisau yang begitu tajam itu.
"David,,,, sudah aku katakan kita tidak akan pernah bisa bersama,jauh dari kata mungkin untuk kita bersatu sebaiknya lupakan semua itu, kamu bisa mencari wanita manapun."ucap gadis itu.
"Aku hanya ingin kamu titik."ucap David.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin."
"Baiklah lebih baik aku mati saja."ucap David.