
Haidar langsung berangkat setelah Natali memesan cheese cake, setelah itu dia langsung pergi meninggalkan ruang rawat inap.
Sementara Natali dan baby sitter Agis kini tengah mengurus Agis setelah dia selesai menyeka tubuh gadis kecil itu.
"Agis sekarang sayang Mommy harus minum obat ya,,, biar Agis cepat sembuh dan kita segera pulang setelah Agis sembuh Mommy bawa Agis jalan-jalan."ujar Natali.
Natali membujuk Agis agar mau minum obat, beruntung gadis kecil itu mau menuruti kata-kata Natali yang kini tengah memangku Agis.
Sampai saat Agam datang membawa makanan favorit Agista.
"Sayang bagaimana keadaan mu, lihat Daddy bawakan apa?."ujar Agam.
Agam mendekat lalu mengelus puncak kepala nya dan mengecup nya penuh kasih sayang.
"Daddy Agis kangen banget dengan Daddy dan kedua adik Agis, juga aunty bidadari."ujar gadis kecil itu.
"Kami juga rindu kamu sayang,,, cepat sembuh biar cepat pulang ke rumah, adik-adik nungguin kakak Agista yang sangat cantik."ujar Agam yang kini mengambil alih Agista dari Natali.
Sampai Haidar tiba membawa pesanan Natali dan juga baby sitter Agis diikuti oleh asisten pribadi nya yang mengikuti dia sampai masuk.
Agis tersenyum manis karena kedua Daddy nya berkumpul di sana, gadis kecil itu sedikit bisa melupakan rasa rindu yang sangat menggebu pada almarhum Novita.
Agista langsung mau makan meskipun hanya sedikit karena mengeluh sakit di bagian tenggorokan, meskipun sakit nya sedikit berkurang.
Saat, Agis anteng dengan Agam. Natali dan Haidar sedang menikmati sarapan pagi.
Haidar memberikan air mineral pada Natali yang kini terlihat sedikit tak sedikit kesulitan menelan sarapan pagi nya.
Sampai saat wanita itu selesai minum Haidar mengusap sisa air di sudut bibir Natali yang sungguh terlihat menggoda dan seksi seperti bibi Anggelina Jolie .
"Terimakasih."ujar Natali.
"Heumm.."balas Haidar sambil mengangguk kecil.
Pria itu langsung membereskan bekas sarapan mereka meskipun Natali menolak, karena dia juga bisa melakukan sendiri.
Sementara itu Haidar tidak mau mendengarkan Natali.
Setelah semua selesai, dia menghampiri Agis.
"Kamu tidak masuk kantor?"tanya Haidar.
"Sebentar lagi, aku merindukan putri kita."ujar Agam.
"Ya semalam sepertinya dia mengigau karena merindukan kalian.
Agam pun mengangguk pelan.
"Sayang Daddy, mungkin sebentar lagi Daddy akan pergi bekerja, tapi setelah kembali dari kantor Daddy akan kembali lagi."ujar Agam.
"Tidak usah Daddy kasihan Aunty repot mengurus kedua adik Agis, lebih baik Daddy bantu Aunty saja, setelah Agis sehat Agis akan membantu Daddy jaga adik."celoteh Agis.
Agam langsung memeluk gadis cantik yang sangat menggemaskan itu.
"Andaikan saja kamu benar-benar anak Daddy, mungkin Daddy akan lebih bahagia lagi memiliki kamu sayang,,, tapi Daddy tetap bersyukur karena kamu tetap menjadi anak Daddy."gumam Agam didalam hati sambil membenamkan bibirnya di puncak kepala Agis.
"Semoga kamu bahagia di sana sayang,,, putri kita sungguh banyak orang yang menyayangi mu."ujar Haidar yang melihat interaksi Agam dan Agis.
Sampai saat Natali pamit hendak membersihkan diri terlebih dahulu, dia pulang ke Mension Rayan sekaligus melihat Leon.
"Pulanglah kamu pasti sibuk bukanya hari ini mulai masuk ke perusahaan."ujar Haidar.
"Besok saja sekarang asisten pribadi ku yang akan mengurus semuanya."ujar Natali.
Natalia pun pergi meninggalkan rumah sakit, dia membawa mobilnya sendiri.
Sementara Haidar langsung sibuk dengan laptop nya.
Agista sendiri kembali tidur mungkin karena efek obat.
Haidar pun menyusul karena semalam dia sering kebangun saat Agis berkali-kali mengigau memanggil ibunya.
Ada rasa sakit yang menjalar di hati Haidar, rasa bersalah itu kembali muncul saat mengingat perjalanan hidup rumah tangga nya dengan Novita.
Dia bahkan tidak sempat berpikir, bahwa dirinya akan bisa melukai wanita yang sangat ia cintai di hidupnya itu.
Haidar bahkan sampai berkali-kali menyeka air mata, yang masih selalu turun disaat gadis kecil itu merindukan Novita.
Sampai saat dia kembali tertidur setelah Agis tidur meskipun hanya beberapa menit kemudian pagi sudah datang.
Sementara itu di kediaman Daisy, Natali baru selesai mandi dan membantu Leon memasangkan mainan robot yang dia bawa dari Amerika karena koleksi robot milik Leon cukup banyak dari yang mahal hingga termahal.
Kini Leon tengah mengajak main Ray dan Raya.
"Sayang mainnya hati-hati ya robot yang ini selalu gigit manusia karena ini robot terinfeksi oleh zombie saat di pesawat."ujar Natali dengan sengaja menggoda kedua anak kecil itu.
Alhasil kedua balita itu berlari terbirit-birit sambil menangis, jika sudah begitu Daisy dan Rayan akan sulit untuk membujuk keduanya.
"Natalia!"teriak Rayan yang kini tengah kesal karena lagi-lagi anaknya dibuat menangis, sementara yang punya dosa kini tengah cekikikan hingga tertawa terbahak-bahak.
"Kau itu senang sekali menggoda mereka."ujar Rayan.
"Anak mu begitu menggemaskan kak, aku semakin gemas dibuat nya." ujar Natali.
Sementara Daisy hanya menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir sepupu suaminya itu begitu suka menggoda kedua anaknya itu.
Sementara Leon, tetap kalem sambil bermain dengan robot-robot nya yang berjalan kesana-kemari.
"Daddy belikan Ray robot tapi jangan yang di Amerika, Ray takut ada zombie nya."ujar Ray.
"Heumm ya sayang, kita beli yang dari Jepang saja."ujar Rayan.
"Disana robotnya lebih kejam karena ada Yakuza nya."ujar Natali.
__ADS_1
"Nat,,,, jangan mulai."ujar Rayan.
"Heumm, mau gimana lagi terserah sudah dikasih tau juga, ujar Natali yang terlihat lebih serius dan berbalik pergi sambil menahan tawa karena kedua anak Rayan kembali menangis histeris.
"Natalia!!"teriak Rayan.
Sementara Natali kabur masuk kedalam lift saat Rayan melemparkan bantal kursi itu kearah Natali.
Sementara Natali menjulurkan lidahnya kearah mereka sebelum pintu lift tertutup.
"Kau itu lihat kan Leon, Mommy mu itu selalu bikin kedua sepupu mu menangis."ujar Rayan.
Leon justru merasakan kehangatan keluarga.
"Mommy terlihat bahagia saat tinggal di sini, padahal baru dua hari."ujar Leon.
"Karena disini dia sudah memiliki kekasih dan calon Daddy mu juga calon adik sambung mu ada di rumah sakit."ujar Rayan.
Sementara Leon hanya tersenyum, dia adalah pria kecil yang cukup kalem karena dia sudah mengerti semua itu, Leon tidak akan melarang asal Mommy nya itu bahagia.
Leon sendiri akan menerima dengan baik siapapun pria yang bisa membuat Mommy nya bahagia.
"Kau diam bukan berarti tidak mengerti apa? yang aku katakan bukan."ujar Rayan.
"Itu urusan Mommy siapapun yang akan menjadi pendamping Mommy yang penting dia bahagia."ujar Leon.
"Wow,,, kamu memang hebat sayang"Ujar Daisy.
.................................
Sementara itu, di balkon lantai empat Mension tersebut. Natali tengah duduk termenung.
Dia tengah merindukan almarhum kedua orang tua nya, dia sebenarnya tidak ingin pindah ke Indonesia, namun dia harus bisa melanjutkan hidup bersama dengan Leon, dan disana dia tidak punya saudara untuk menitipkan putra semata wayangnya itu, jika pekerjaan nya mengharuskan dia meninggalkan negara tersebut.
Beda dengan di Indonesia, dia memiliki Agam Rayan dan Anya, dia adalah keluarga angkat nya.
Dan mereka adalah orang-orang yang sangat baik, bahkan tidak terlihat jika mereka tidak memiliki hubungan darah karena kedekatan mereka selama ini.
"Mommy, Daddy, tolong jangan marah Natali pergi bukan karena tidak ingin tinggal bersama dengan kalian, tapi Leon butuh kehangatan keluarga."ujar Natali.
Wanita itu pun mengusap sudut matanya.
Sampai pesan dari Haidar masuk kedalam ponsel yang sedang dia pegang.
"Sayang,,, Agis merindukan mu."Haidar.
"Kau itu,,, bilang tunggu."Natali.
Wanita itu tersenyum kecil, setelah sekian lama menutup diri dari semua itu, kini Natali merasa seakan baru menemukan pria yang bisa membuat hatinya nyaman.
Natalia kembali turun kebawah, dia ingin mengajak serta Leon ke rumah sakit.
Natalia, celingukan mencari kedua bocah yang kini tidak terlihat olehnya.
"Twins kemana."ujar Natali.
"Dibawa Daddynya keatas."jawab Daisy.
"Heumm,,, aku mau ngajak mereka ke rumah sakit."ujar Natali.
"Heumm... paling mereka merecoki mu."kata Daisy.
"Tidak apa-apa, biar Agis tidak kesepian."balas Natalia.
"Baiklah, aku panggil."ujar Daisy.
"Mereka sudah tidur."ujar Rayan yang baru turun, dia mendengar obrolan istri dan sepupunya itu.
"Heumm,,, baik'lah."balas Natalia.
"Leon, ayo ikut Mommy."ujar Natali.
"kemana? Mom,,,"tanya Leon.
"Lihat adik cantik."jawab Natali.
"Heumm,,, benarkah,"ujar Leon yang kini beranjak dari duduknya.
"Ayo Mommy bantu siap-siap."ujar Natali.
"Ya Mom."ujar Leon.
"Mau kasih kado apa? untuk adik."tanya Natali.
"Heumm,, bawa boneka saja Mom."ujar Leon.
"Ya,, oke kita cari boneka lebih dulu."kata Natali.
"Baik."jawab Leon.
Sesampainya di dalam kamar, Leon mandi terlebih dahulu, setelah itu dia langsung dibantu oleh Natali menyiapkan pakaian dan juga aksesoris yang selalu Leon kenakan.
Sejak kecil Leon selalu berpenampilan sempurna layaknya pria dewasa yang selalu tampil sempurna.
Sampai selesai bersiap akhirnya mereka pun pergi dengan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Namun di perjalanan Natali sempat berhenti di sebuah pusat perbelanjaan, mereka ingin membeli hadiah untuk Agista.
Leon begitu bersemangat saat ia memilih boneka untuk adiknya itu.
meskipun Leon belum pernah bertemu secara langsung tapi dia sudah melihat adiknya itu lewat foto yang Mommy nya perlihatkan padanya.
Leon membelikan sebuah boneka Teddy bear berwarna krem.
__ADS_1
Tidak hanya itu Leon juga memberikan sekuntum mawar.
Natali tersenyum bangga pada putranya itu.
Sampai mereka tiba di rumah sakit, Natali melihat Leon begitu bersemangat.
Leon masuk setelah Natali masuk pria kecil berusia tujuh tahun tapi sudah seperti anak sepuluh tahun karena postur tubuh nya yang tinggi itu sungguh mempesona.
"Agis Mommy datang."ujar Natalia sambil merentangkan tangan, diikuti oleh Leon dari belakang.
"Kau sudah datang."ujar Haidar yang baru saja selesai menyuapi Agis obat.
"Tentu saja karena Aku ingin Agis berkenalan dengan kakak nya."ujar Natali setelah memeluk Agista.
"Hai adik manis, perkenalkan nama ku Leonardo, salam kenal."ujar pria kecil itu sambil memberikan bunga mawar putih di hadapan Agis.
Gadis kecil itu tidak buru-buru mengambil bunga itu, karena kini tengah menatap pria tampan yang ada di hadapannya, ya menurut Agis Leon adalah pria yang sangat tampan selain kedua Daddy nya.
"Sampai kenapa? tidak diambil."tanya Natali.
"Agis malu Mommy dia kakak tampan."ujar Agis sambil menyembunyikan wajahnya.
"Sayang ku tak usah merasa malu, dia kakak mu. ayo ambil hadiahnya itu kakak sendiri loh yang pilih buat princess Mommy."ujar Natali.
"Thank you kak."ujar Agis.
"Sama-sama."ujar Leon sambil tersenyum manis, alhasil Agista semakin dibuat malu oleh perlakuan lembut Leon, Agista tersenyum dengan pipi merah merona.
"Owh ya ampun Nat, apa? anak gadis ku sudah tau arti suka pada lawan jenis."ujar Haidar yang diam-diam merangkul pinggang Natali.
Sementara wanita itu hanya bisa menatap Haidar yang kini pura-pura tidak tahu arti tatapan dari Natali.
"Heumm,,, Agis sakit apa?"tanya Leon.
"Demam."jawab Agis lirih.
"Cepat sembuh ya, nanti temani kakak main."ujar Leon.
"Heumm baik'lah."ujar Agis.
"Kalian bisa ngobrol, Mommy dan Daddy harus bicara, ada suster yang akan menjaga Agis."ujar Haidar.
"Heumm,,, tapi jangan lama-lama Daddy." ujar Agista.
"Tidak lama sayang di cafe yang ada di lobby kok."ujar Haidar.
"Ya Daddy."balas Agis.
Mereka pun pergi menuju Cafe, Haidar tidak melepaskan rangkulan nya pada pinggang Natali yang sedari tadi berjalan santai seolah tidak terjadi apa-apa karena Haidar sudah tidak bisa di larang.
"Yank,,, kamu tega biarkan aku kelaparan, siang ini aku belum makan karena nungguin kamu datang."ujar Haidar.
"Vero,,, jangan seperti anak kecil begini kamu sudah dewasa meskipun belum memiliki anak."ujar Natali.
"Anak ku sudah ada dua"ujar Haidar.
"Heumm..."begitu ya.
"Ya honey,,, aku laper."ujar Haidar sambil menarik kursi untuk Natali.
"Iya tunggu aku pesan makanan dulu."ujar Natali.
"Heumm,, baik'lah."kata Haidar.
Natalia langsung memanggil pelayan.
Natali sibuk memesan makanan, sementara Haidar sibuk mengabadikan momen itu lewat handphone nya.
Dia melihat kecantikan natural yang dimiliki oleh Natali.
Kini sepertinya pria itu sudah mulai buccin.
Sampai akhirnya wanita cantik itu kembali fokus pada pria yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya itu.
"Kamu sibuk sedang chat dengan siapa? heumm."ujar Natali.
"Heummm lagi mengabadikan momen terindah."ujar Haidar.
"Aku boleh lihat."ujar Natali.
"Tentu."ujar Haidar sambil menyodorkan handphone miliknya.
"Vero,,, kamu kurang kerjaan banget."ucap Natali.
"Aku justru sangat rajin, hingga aku tak bisa melewatkan ini."ujar Haidar.
"Vero,,, hapus jelek ih."ujar Natali.
"Jelek apanya honey,,, ini sangat indah lebih indah lagi aslinya."ujar Haidar.
"Gombal."ujar Natali yang kini mencubit perut suspek milik Haidar.
Haidar pun pura-pura mengaduh.
"Yank makanan sudah datang nanti kangen-kangenan nya dilanjutkan."ujar Haidar.
"Heumm,,,, aku gigit baru tau rasa."ujar Natali.
"Heumm,,, gigitan yang sungguh menggemaskan."ujar Haidar.
Natali tersipu malu, saat Haidar berbisik di kupingnya.
"Bagaimana,,, apa? itu enak."tanya Natali.
__ADS_1
"Enak,,, apalagi dimasakin sama kamu."ujarnya.