
"Mommy tiba-tiba saja harus pulang kampung kak"
"Ikut aku"ucap Rayan tegas.
"Saya sangat buru-buru tuan"ucap Daisy.
Tapi Rayan tidak perduli dia menarik pergelangan tangan Daisy, pria itu tidak perduli jika wanita itu kesakitan karena Rayan menggenggam erat tangannya.
Sampai di kamar Daisy, Rayan langsung meraih tas Daisy, dia mengeluarkan isi nya, bukan dia menuduh Daisy, mencuri tapi dia curiga dengan gelagat Daisy.
"Tuan saya tidak mencuri apapun, saya hanya meminjam uang pemberian tuan untuk ongkos pulang, dan semua titipan tuan ada disana"ucap Daisy yang terlihat berkaca-kaca, karena dia pikir Rayan mencurigai dia mencuri.
"Aku tidak butuh semua itu Dy, aku tau kamu ingin pergi karena aku iyakan, apa? kamu pikir uang segitu bisa membuat mu, sampai ke rumah mu, aku membuka tas mu bukan bermaksud menuduh kamu mencuri tapi aku curiga kau mau kabur begitu saja dari ku, jika tidak kenapa? kamu bahkan pergi tidak membawa barang yang aku berikan dan ini, ini baju saat pertama kali aku membawa mu pulang kemari"ucap Rayan.
"Saya, memang hanya membawa milik saya karena saya tidak ingin mengambil yang bukan hak saya"ucap Daisy.
"Tapi semua yang aku berikan padamu, semua itu hak kamu Dy, apa itu namanya jika kamu tidak menghargai ku, yang telah memberikan semua itu" ucap Rayan.
"Saya, sudah sangat berterimakasih kepada anda yang sudah memberikan tumpangan buat saya, dan anda tidak perlu membayar saya untuk semua yang saya lakukan selama ini adalah balasan atas semua kebaikan anda, jadi tuan tidak usah salah paham kenapa? saya tidak membawa barang pemberian tuan uang itu sudah lebih dari cukup untuk ongkos bus "ucap Daisy.
"Aku akan mengantarkan mu pulang jika benar-benar mendesak"ucap Rayan.
"Tidak usah tuan, anda adalah orang yang sibuk jadi sebaiknya tuan disini saja"ucap Daisy.
Rayan melihat gadis itu sedari tadi terus menunduk, dia tau Daisy melakukan itu karena ingin menghindari nya.
"Daisy tatap aku dan jawab pertanyaan ku, dengan jujur, apa? aku menyakiti hati mu"ucap Rayan sambil memegang kedua bahu Daisy.
"Tuan, tidak punya salah, saya benar-benar terburu-buru untuk pulang"ucap Daisy.
"Alasan nya, kenapa? kamu buru-buru pulang apa? ada masalah di kampung"tanya Rayan lagi.
"Ambu sakit tuan"ucap Daisy.
"Dan kamu akan pulang dengan tangan kosong, saat nenek mu itu sakit"ucap Rayan.
"Saya tidak punya apa-apa, yang harus saya bawa, lagi pula saya tidak bekerja di kota ini"ucap Rayan.
"Tapi ada aku, aku bisa membantu mu, kenapa? kamu tidak meminta bantuan ku"ucap Rayan.
"Saya malu tuan, saya sudah numpang hidup, dan tidak mungkin ditambah lagi dengan beban lain"ucap Daisy.
"Daisy, kamu tidak menumpang hidup, kamu bahkan lebih dari apapun, bagi kedua adikku, dan sudah sepantasnya kami memperlakukan mu dengan baik"ucap Rayan.
"Tapi tuan, saya hanya tidak enak dengan mereka"ucap Daisy yang teringat dengan ucapan keluarga Rayan.
"Daisy, kamu tidak perlu memikirkan mereka, dan jika kamu tersinggung aku benar-benar minta maaf, tapi tolong jangan diambil hati, kamu tidak usah perduli pada mereka tapi peduli kan saja kami bertiga, aku janji akan memenuhi semua kebutuhan hidup mu, seperti halnya Anya dan Agam, tapi aku mohon jangan pergi dari hidupku, aku tidak tau nasibnya mereka jika kamu pergi"ucap Rayan.
"Ya.... hanya mereka yang harus aku perduli kan, bukan hati ku"gumam Daisy dalam hati.
"Bersiap lah aku akan mengantar mu pulang"ucap Rayan.
"Tidak perlu tuan, saya pulang sendiri saja, setelah Ambu sehat saya akan balik lagi ke sini"ucap Daisy.
"Baiklah, tapi janji jangan pulang dengan tangan kosong dan aku akan menyiapkan semua nya, kamu pulang bersama dengan sopir"ucap Rayan tegas.
Daisy hanya bisa mendengus pelan, dia tidak punya alasan lain lagi untuk menolak.
Hingga Rayan menelpon seseorang untuk menyiapkan buah tangan untuk dibawa ke kampung halaman Daisy.
Gadis itu pun berganti pakaian dengan pakaian yang pernah Rayan belikan untuk nya saat itu.
__ADS_1
setelah itu Daisy juga mengisi dompet nya dengan dua kartu, satu ATM, satu lagi kartu kredit, semua itu atas perintah Rayan, dan Rayan juga memberikan uang di amplop cokelat yang cukup tebal dia bilang itu adalah oleh-oleh untuk keluarga nya di kampung, atau keperluan Daisy, dan untuk pengobatan Rayan akan transfer uang ke nomor ATM yang Daisy pegang.
Daisy pun bersiap untuk pergi setelah kedua anak sambung nya pergi kuliah, rasanya memang aneh punya anak sambung disaat belum menikah dan usia mereka tidak jauh berbeda, seakan seperti pelakor muda, tapi kini Daisy sudah mulai terbiasa, dan bahkan wanita itu begitu menyayangi keduanya.
Daisy pun pergi meninggalkan rumah megah tersebut, dia yang awalnya ingin minggat tapi digagalkan oleh Rayan, dengan segala alasan, dan Rayan akan melakukan apa saja agar Daisy mau tetap tinggal di sana.
"Tuan, aku tidak tau apa? yang sebenarnya kamu ingin dari ku, aku tidak pernah berbuat melakukan apapun untuk kalian, tapi kalian seakan takut kehilangan ku, apa? karena wajah dan tubuh ini"ucap Daisy, lirih.
Dia bukan tidak senang jika dia memiliki kemiripan dengan ibu mereka, tapi dia tidak ingin orang lain beranggapan bahwa dirinya memanfaatkan semua itu.
Daisy pun hanya bisa menarik nafas panjang lalu ia hembuskan, semoga kedepannya nya tidak ada gangguan yang lebih berarti.
Daisy, ingin hidup tentram meskipun tidak seperti yang Rayan janjikan, pria itu memang tidak pernah ingkar janji tapi menerima semua pemberiannya sama saja dia seakan menjadi sugar baby dan sugar Daddy nya adalah Rayan.
Sementara itu di kantor, Rayan sedikit berpikir keras, kenapa? Daisy tiba-tiba ingin pergi, apa? gadis itu tersinggung dengan kata-kata nya tadi pagi, tapi Rayan merasa itu wajar, bahkan dia sering memarahi sang adik.
"Apa? Daisy, memiliki rasa yang sama dengan ku"Rayan pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Hingga dia kembali berkutat dengan pekerjaan nya, pria itu pun kembali fokus.
Dan saat Rayan dan Agam, pulang dari kantor suasana rumah terasa begitu sepi, seperti di kuburan, karena tidak ada lagi bau masakan yang bisa mereka cium dari saat ini, bahkan hanya ada meja kosong mungkin para pelayan tidak tau bahwa Daisy pulang kampung saja ini.
Anya terlihat sedang berada di dapur gadis itu sedang memanaskan makanan kesukaan nya, yang Daisy simpan di kulkas, sebagai stok makanan.
.........................................
"Kamu sedang apa? tanya Rayan.
"Mommy pergi dan aku laper"ucap Anya.
"Anya bisa pesan makan dari luar untuk apa? susah-susah memanaskan makanan" ucap Rayan sambil mengelus puncak kepala adiknya itu.
"Gak mau mau masakan mommy"ucap nya yang kini terlihat sendu.
Pria itu merasa terenyuh dengan keadaan ini, seakan seperti baru pertama kali nya, ibunya meninggal dulu dirumah yang sepi itu hanya ada Isak tangis bersautan.
"Duduk lah bersama Agam biar kakak yang urus semuanya"ucap Rayan.
"Baiklah kak"ucap Anya.
Rayan, pun memanaskan makanan tersebut dengan cara dimasukkan ke dalam microwave.
Tidak hanya itu, Rayan juga membuka stok makanan di kulkas nya, wanita itu ternyata sudah menyiapkan beberapa bahan seperti ayam ungkep yang penuh bubu, jika sewaktu-waktu mereka ingin buat ayam bakar atau di goreng.
Ada juga cumi tepung yang sudah di goreng setengah matang ikan siap goreng dan tidak lupa sambil kesukaan mereka, dan ada lagi Daisy membuat asinan buah yang sangat Anya sukai .
semua sudah komplit ada SOP buntut yang tinggal mereka panaskan dan ada juga nasi dalam kotak penyimpanan khusus.
"Kamu memang wanita yang sangat pintar, aku tidak akan pernah mengijinkan mu untuk pergi, untuk selamanya"gumam Rayan.
Sementara wanita yang sedang sangat ia butuhkan saat ini baru sampai di kampung halaman.
Tapi, Daisy, begitu terkejut karena saat ini dia melihat ada bendera kuning di rumah yang sederhana itu.
"Ambu!!...." terik Daisy, saat sopir baru memarkirkan mobilnya di pinggir jalan perkampungan tersebut.
"Nona, hati-hati"ucap sang sopir yang melihat Desy berteriak histeris dan berlari menerobos orang-orang yang menyambut nya.
"Ambu... bangun Ambu, Daisy pulang....Ambu bangun hiks hiks hiks hiks"gadis itu meronta-ronta menangis histeris karena satu-satunya keluarga nya sudah tidak ada.
"Ambu... hiks hiks hiks Ambu bangun aku tidak punya siapa-siapa lagi Ambu bangun"ucap Daisy, Isak nya semakin pilu, sang sopir merekam kejadian itu lewat video, dia bahkan memperlihatkan tangis Daisy di depan jenazah, dan langsung segera dikirimkan pada Rayan.
__ADS_1
Tepat saat magrib tiba Rayan membuka pesan tersebut dia begitu terkejut dan langsung bergegas keluar kamar.
"Anya.... Agam! Bersiaplah kita harus kerumah mommy kalian, bilang sama sopir untuk bersiap dan bawa dua orang pelayan, untuk membantu di sana, dengan dua mobil"teriak Rayan.
Anya yang mendengar itu pun langsung berlari memberitahu sopir dan pelayan, keduanya bagi-bagi tugas dan menyiapkan semua kebutuhan mereka selama di perjalanan dan baju juga, setelah semua siap Rayan langsung mengemudi kan mobil sport nya agar bisa tiba lebih awal.
Sementara itu mobil Honda jazz mengikuti nya dari belakang meskipun jauh di belakang tertinggal mereka yang membawa barang bawaan milik ketiga nya bersama dengan dua pelayan wanita.
Sementara mobil Ferrari berwarna hitam itu, melesat membelah jalanan yang beruntung sepi hanya ada beberapa kendaraan lain Agam dan Anya, seakan berada dalam film fast furious, karena Rayan mengemudi kan mobil tersebut dengan sangat cepat, seakan mewakili hatinya yang gundah.
Anya, bahkan terbatuk-batuk dan hampir muntah, hingga Rayan pun sedikit mengurangi kecepatan dan meminta Agam memberikan Air mineral yang ada di sana.
"Apa? kakak sedang ingin terbang"ucap Anya.
"Maaf kan kakak tapi ini darurat, mommy mu sedang berduka Ambu nya meninggal dunia"cap Rayan.
"Apahhh!"teriak keduanya kaget.
"Kalau begitu, cepat kak, kita harus segera pergi"ucap Anya.
Rayan pun kembali menambah kecepatan hingga mobil seakan terbang melayang, Agam dan Anya pun sama-sama berpegang kecuali Rayan yang kini mengemudi.
perjalanan yang biasa ditempuh empat jam dengan motor atau kendaraan lain, kecuali mereka yang baru saja berkunjung kini menjadi tiga jam perjalanan, Rayan benar-benar mengemudi dengan kecepatan tinggi.
Beruntung karena larut malam dan mereka pun tidak ada kendala di perjalanan, hingga bisa tiba di tempat yang tepat.
Agam pun turun lebih dulu, setelah itu disusul Anya dan Rayan yang kini di sambut oleh sopir yang tadi pagi berangkat bersama dengan Daisy.
Suasana rumah begitu sepi hanya terdengar lantunan ayat suci dari suara serak orang yang habis menangis, Daisy tengah duduk di atas tikar dengan Al Qur'an di hadapan nya.
Rayan langsung mendekat dan duduk bersila di samping Daisy, gadis itu terlihat sembab, setelah seharian menangis, Rayan yang tidak tega pun menarik Daisy kedalam dekapannya.
"Kamu masih punya aku, Anya dan Agam"ucap Rayan.
"Daisy masih terisak saat ini Anya dan Agam pun memeluk nya.
"Mommy harus, kuat mommy punya aku dan kak Rayan"ucap Anya.
"Terimakasih atas kedatangan kalian semua"ucap Daisy yang sesekali masih terisak pelan.
Wanita itu pun hendak pergi ke dapur setelah mempersilahkan mereka duduk di kursi kayu jati yang antik itu karena sudah puluhan tahun dan terlihat sangat licin.
rumah yang sederhana tapi bersih dan sangat asri dan sejuk itu membuat Anya, yang baru merasakan suasana pedesaan itu merasa nyaman meskipun terkadang dia mengeluh karena ada saja nyamuk nakal tidak seperti di rumah megahnya itu, semua serba canggih..
"Mom, nyamuknya nakal gatel nih"ucap Anya.
"Sebentar ya sabar saya pasang kelambu dulu agar tidak ada nyamuk" ucap Daisy yang kini menggelar kasur lantai untuk mereka bertiga tidur menghabiskan malam yang tinggal beberapa jam lagi.
"Mom, kasus nya keras, punggung ku sakit" ucap Anya, Rayan yang merasa tidak enak dengan Daisy, pun dia menegur Anya.
"Anya, jangan samakan ini seperti di rumah mu"ucap nya pelan tapi penuh penekanan.
"Maafkan saya nona muda, tapi beginilah kondisi rumah kami tidak ada barang mahal seperti di rumah anda"ucap Daisy.
"Dy, tolong jangan diambil hati, mereka memang tidak pernah hidup sederhana, jadi nyesel kenapa? tidak buang saja ni bocah di kolong jembatan tadi"ucap Rayan yang kesal.
"Tidak apa? tuan saya mengerti" ucap Daisy.
"Kak jangan dibuang kalau aku dibuang nanti kakak, tidak punya kesempatan untuk dekati mommy" ucap Anya, asal ceplos, hingga keduanya menahan malu, sementara Rayan mencubit pipi Anya kesal.
"Sakit tau kak, aku juga tidak salah kan, kalian itu memiliki perasaan yang sama, dan aku tidak akan bilang-bilang pada Daddy"ujar gadis itu .
__ADS_1
"Anya seperti nya kamu masuk angin sayang, hingga bicara mu ngawur begitu" ujar Rayan