
Ray pun mulai melangkah pergi meninggalkan rumah sakit itu setelah memastikan bahwa Raya bebas.
Soal Rayan dia yang akan menghadapi Daddynya itu nanti.
Pria itu hanya tidak ingin, saudara angkatnya itu dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Karena Ray tahu gadis itu adalah korban kekejaman Almira.
Jika gadis itu tidak dihasut sedemikian rupa maka, dia tidak akan menjadi sekejam itu.
Meskipun sedari kecil Raya selalu tidak ingin memiliki saingan di dalam hidupnya.
Raya pun pergi meninggalkan rumah sakit menuju ke alamat rumah yang Ray berikan.
Sesampainya di sana dia menangis melihat rumah yang sangat nyaman dan cukup besar untuk dia tinggali sendiri tidak lupa dengan mobil dan isi perabotan rumah.
Raya begitu menyesal telah mengecewakan mereka yang bahkan sudah berbuat baik padanya hanya karena Almira yang bahkan tidak pernah ia kenal sebelumnya.
Raya pun langsung membuka pintu dengan kunci yang ada di dalam koper tersebut dan langsung bergegas menuju kamar utama rumah itu.
Lagi-lagi Raya menangis sesenggukan meskipun tidak semewah di kamarnya dulu dia bersyukur kamar itu juga sangat nyaman bahkan kasur itu masih sama empuknya dengan kasur yang ada di sana.
Gadis itu pun mengetik sesuatu di ponselnya.
"Terimakasih yang tiada terhingga untuk mu saudara ku."Raya.
Gadis itu pun berbaring setelah meminum obat dari rumah sakit tersebut.
Sementara itu di tempat lain, Agista kini mulai terlihat jauh lebih baik, dokter pun terus memantau kepulangannya.
Agista kini tengah bercanda bersama dengan kedua adik kesayangannya sejak kecil.
"Aku tadi mampir ke Cafe milik kakak dan aku gratiskan semua menu yang ada di sana sebagai rasa syukur karena pemilik cafe sudah bangun dan selamat."ujar Argha.
"Tidak masalah yang penting adikku yang tampan ini yang bayar."ujar Agista.
"Tentu saja tidak, kan yang syukuran adalah kakak bukan aku."ujar Argha tanpa rasa bersalah.
"Sialan yang ada bukannya sembuh tapi aku kena struk."ujar gadis itu.
"Heumm,,, amit-amit Yank,,, kamu harus sembuh biar aku yang bayar seluruh kerugiannya."ucap David yang baru saja tiba.
"Hahaha,,,tuh kan ada pahlawan kesiangan."ujar mereka.
"Kalian ingin kakak kalian sakit."ujar David.
__ADS_1
"Bukan justru aku bilang kan rasa syukur."ujar gadis itu.
Agista pun mulai memejamkan mata karena merasa pusing, tapi David mencegah itu karena saat ini dia membawakan es krim favorit gadis itu.
"Jangan tidur dulu yang nanti eskrimnya cair."ujar David.
"Wah es krim enak seperti kami mau."ujar keduanya.
"Kalian bisa jalan beli sendiri."ujar gadis itu.
"Ya kakak pelit."keduanya.
Agis terus menggoda keduanya adiknya itu.
Argan langsung menghubungi sang mommy yang kini tengah berada di restaurant miliknya.
"Mommy lihat kakak tidak mau ngasih aku es krim."ujar pria tampan berusia dua puluh tahun itu.
"Yah,,, beraninya ngadu saja."ujar gadis itu sambil menjulurkan lidahnya.
"Sayang kamu tidak apa-apa makan es krim kan masih harus minum obat."ujar Sherina.
"Tidak apa-apa mommy cantik, Agis sudah jauh lebih baik."ujar gadis itu.
"Syukurlah sayang mau dibawakan apa? nanti mommy dan Daddy kesana."ujar Sherina.
"Bawakan es krim yang banyak mommy kita berdua harus begadang menjaga putri kesayangan kalian.
Agista tersenyum bahagia, sementara Sherina hanya terkekeh kecil, melihat kedua putranya merasa cemburu.
"Mommy sayang kalian bertiga, kalian tidak ada bedanya di mata mommy jadi kalian harus saling menjaga satu sama lainnya.
Agis pun mengangguk dan tersenyum manis, tanpa diminta oleh kedua orang tua nya itu Agis akan menjadi kakak yang baik untuk mereka.
Agista pun memberikan es krim itu sebagian pada kedua adiknya yang juga menginginkan es krim itu.
Sejak kecil mereka memang selalu meributkan yang satu itu, ketiganya suka sekali dengan es krim.
Agista pun meminta apel pada David yang kini tengah mengupas buah-buahan untuk dirinya.
"Yank,,, aku mau buah itu."ujar Agista.
"Apel atau pisang heumm."tanya David.
"Itu saja."ujar Agis.
__ADS_1
Cuph....
Rayan malah mengecup bibir manis itu sekilas.
"Apa-apaan sih yang."ujar Agis.
"Lanjut saja kita tidak ada kok."ucap Argha.
"Syirik aja."ujar David.
"Memang benar kata orang,,, jika kita sedang jatuh cinta dunia terasa milik berdua yang lain ngontrak."ucap Argha.
"Kalian sedang apa? kelihatannya asik."ujar Natali yang datang membawa baju ganti untuk Sherina.
Gadis itu mengeluh tidak ingin menggunakan piyama dari rumah sakit.
Sementara itu di kediaman Rayan, pria itu tengah marah besar hingga hampir menghajar putra bungsunya itu gara-gara Ray membebaskan Raya.
"Sudah mas,,, jangan sakiti putraku dia tidak bersalah, semua yang dia lakukan adalah benar, aku mungkin sempat marah dan benci dia tapi semua karena salah faham diantara aku dan Raya. gadis itu tidak akan berbuat demikian jika kekasihmu tidak menghasutnya akupun akan menerima dia apa adanya aku akan jadikan dia sebagai putri ku yang lainnya."ujar Daisy yang kini melindungi putranya.
Rayan langsung mematung di tempatnya.
"Kita mungkin sudah salah mendidik dia, tapi meskipun dia bukan darah daging ku setidaknya dia pernah membuat kita bahagia, dengan kehadirannya mengisi kekosongan jiwa kita yang tidak tau bahwa putri kita sudah tidak ada disini. mungkin aku bisa gila, sekarang aku lebih bersyukur karena putriku sudah kembali dalam keadaan selamat dan tidak kurang suatu apapun."ujar Daisy.
Sementara itu Kimber hanya bisa diam, karena jujur dia masih bingung dengan hal ini.
Gadis itu pun hanya bisa pasrah dan berharap keluarganya saat ini kembali tenang.
Daisy membawa Ray duduk dan mengobati sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah.
"Mom,, jangan benci Raya dia tetap adik Ray, meskipun Kim adalah adik kandung Ray yang sebenarnya, Ray sayang mereka berdua."
"Kasihan Raya dia sudah menjalani hukumannya saat ini dia sudah keguguran dan hidup menderita tanpa kita disisinya."ujar Ray.
"Begini saja Mom, tetaplah menjadi kedua orang tua Raya. biar aku tinggal di luar lagi tidak apa-apa setidaknya kalian tahu aku dimana? kasihan Raya.... dia tidak bisa hidup diluar tanpa kalian sementara aku sudah terbiasa dengan itu."tutur Kimberly.
Namun Daisy malah menangis dan langsung memeluk Kimberly meminta maaf atas segala kesalahannya karena tidak pernah tau yang mana putrinya yang sebenarnya, karena darah Rayan dan Raya satu golongan darah.
Sampai saat Ray kembali berkata bahwa ia ingin Kimberly tetap berada di sisinya.
Rayan pun ikut bicara.
"Biarkan dia kembali kesini tapi harus terus diawasi."ujar pria itu.
"Dia bukan penjahat daddy Raya adalah korban."ujar Ray.
__ADS_1
"Heumm,,, baik'lah sayang besok kita temui dia bersama-sama."ujar Daisy.