
"Kamu itu egois Daisy"ucap Rayendra.
"Terserah Abang mau bicara apa?... yang penting bagi ku saat ini adalah ketenangan,aku sudah terbiasa sendiri selama ini, dan aku tidak perlu kesakitan menahan luka, ditinggalkan ataupun dikhianati"ucap Daisy yang sudah berada di atas tangga lantai dua.
"Tidak semua laki-laki seperti itu , masih banyak yang setia termasuk aku, cinta ku tak pernah berubah Daisy sayang"ucap Rayendra yang kini berjalan menyusul Daisy.
"Ya, setia setiap tikungan ada" ucap Daisy.
"Sayang aku serius, tapi kamu selalu menjauh dari ku"ucap Rayendra.
"Itu yang terbaik bang kita terlalu jauh berbeda, dan kamu bisa lihat contoh nya saat aku dan mas Gibran, harus terpisah karena perbedaan"ucap Daisy.
"Tapi aku janji tidak akan seperti itu, sayang aku akan mempertahankan diri mu, sampai kapan pun"ucap Rayendra.
"Sudah tidak ada lagi kesempatan bang, lupakan lah buang jauh-jauh rasa itu kamu sudah punya masadepan,aku yakin kamu akan sangat bahagia setelah kehadiran si kecil nanti"ucap Daisy, yang langsung berlari menuju kamar nya.
Rayendra, menghentikan langkahnya ia tidak bisa terus memaksakan kehendak nya saat ini,biar Daisy, berpikir dengan tenang.
"Aku benar kan Vin tidak ada cinta yang benar-benar tulus,di dunia ini semua hanya omongan belaka terimakasih atas semua yang telah kamu berikan Abang,mas dan kami vino, semua nya sudah menjawab apa?... yang aku katakan saat itu"Gumam Daisy.
Daisy, membaringkan tubuhnya di atas ranjang perlahan matanya terpejam ingin sekali dia pergi dari dunia ini agar dia tidak perlu lagi merasakan sakit yang teramat sangat.
hingga pagi menjelang kini Daisy, sudah terbangun dan beranjak dari tempat tidur dia ingin membersihkan diri, setelah itu, dia akan kembali bekerja seperti biasa nya memantau perkembangan pembangunan hotel tersebut.
sementara Rayendra yang masih menginap di rumah nya kini sudah berada di meja makan dengan seorang wanita cantik yang entah kapan dia datang, dia adalah istri Rayendra.
"Pagi, Daisy"ucap wanita itu.
"Pagi juga, kapan mbak datang"ucap Daisy mencoba bersikap ramah, sementara Rayendra mengepalkan tangannya, dia kecewa dengan sikap Daisy yang malah sangat ramah memperlakukan istrinya itu.
"Semalam, mas Rayendra, menjemput ku di halte"ucap nya.
"Owh bagus lah, kamarnya sudah tau bukan,aku harus segera pergi ke tempat kerja"ucap Daisy.
"Kita berangkat bareng"ucap Rayendra .
"Tidak usah bang aku bisa pergi sama tukang ojek"ucap Daisy.
"Daisy, sekali saja kamu dengarkan aku, bahaya tau berpergian dengan ojek"ucap Rayendra beralasan.
"Aku sudah terbiasa di sini, jadi aku tau bahaya atau tidak nya, lagian kenapa??.... Abang tidak cuti saja kasihan istrinya udah nyusul jauh-jauh tapi tidak di temani"ucap Daisy yang membuat Rayendra semakin emosi.
"Semalam kami sudah bercinta sampai pagi jadi saat ini dia akan istirahat"ucap Rayendra
Daisy langsung pergi menuju pintu keluar dia sudah tidak ingin berdebat lagi dengan pria itu, dia tau jika suami istri bertemu pasti melepaskan rindu, tapi tidak perlu juga dia membicarakan itu di hadapan orang lain.
Daisy, terus berjalan hingga tangan nya ditarik oleh Rayendra, dibawa ke dalam mobil nya dia langsung memaksa nya masuk kedalam dan memasang seat belt di tubuh Daisy, setelah itu dia buru-buru masuk dan langsung menghidupkan mesin lalu tancap gas, hingga di tengah jalan tepat di perkebunan teh yang biasa dia lalui Rayendra menghentikan mobilnya .
dia langsung melepaskan safety belt.
Rayendra langsung mengubah posisi jok yang di duduki oleh Daisy menjadi setengah rebahan dan itu memudahkan nya mengungkung Daisy yang kini berontak.
__ADS_1
Rayendra mencium bibir Daisy dengan kasar tidak hanya itu dia juga menggigit bibir bawahnya Daisy, agar wanita itu mau membalas ciuman nya, dan itu berhasil membuat Daisy membuka bibir tapi tetap tidak membalas ciuman Rayendra, yang kini menggenggam tangan nya erat di atas kepala Daisy.
"eum.... lepas Abang kamu apa eum..
a eum ...."Daisy tidak diberikan kesempatan untuk bicara, Daisy ingat kejadian terakhir kalinya di apartemen saat itu dia hampir saja dinodai oleh Rayendra, karena menolak untuk menikah dengan nya, beruntung seseorang menelpon Rayendra, dan malam itu juga Rayendra menikah dengan istri pertama nya dulu.
"Abang lepas ih ...... Abang itu maunya apa sih udah punya istri juga, dan katanya semalam su eum.... Abang eum.."Ucap Daisy lagi-lagi Rayendra, tidak memberikan dia waktu untuk bicara.
saat Rayendra melepaskan tautan bibirnya, tiba-tiba Daisy berteriak"ahhhhhh....aku benci kamu bang!!.... hiks hiks hiks hiks kenapa?... tidak kamu bunuh saja aku sekalian hiks hiks hiks aku sudah lelah"ucap Daisy yang kini menangis pilu.
"Kamu mikir nggak sih kenapa?...aku begini"ucap Rayendra.
"Aku mau pergi awas minggir "ucap Daisy.
"Pergi dengan semua tanda itu di leher mu iya"ucap Rayendra , Daisy yang melihat itu dia langsung mengambil gunting dari dalam tas nya.
"Aku lebih baik mati saja dari pada harus terus begini"ucap Daisy hendak menusukkan gunting ke dadanya yang kini masih terbuka karena Rayendra.
"Jangan konyol kamu lepas"ucap Rayendra yang langsung merebut gunting dari tangan Daisy.
"Aku ok tidak ingin hidup lagi, hiks hiks hiks buka pintu nya, aku lebih baik bunuh diri saja hiks hiks hiks Abang selalu buat aku seperti wanita ****** dengan seperti ini,aku cape hiks hiks hiks cape tau"ucap Daisy yang hendak membuka pintu tapi Rayendra langsung mengunci pintu otomatis saat itu juga .
"Mi apa?... sulitnya kamu menerima ku untuk jadi suami kamu itu aja, kamu itu cinta siapa sih Mi...aku tanya kamu sebenarnya suka sama siapa!"ucap Rayendra.
"Jangan panggil aku dengan nama itu, hanya suamiku yang boleh memanggil nama itu paham!!"ucap Daisy yang tidak kalah keras.
"Mi....Mi....aku juga calon suami mu sedari dulu bahkan kamu tidak melihat ku, owh,aku tau kamu nunggu si vino cerai dengan istri nya iya kan"ucap Rayendra.
plak.....
"Aku memang janda, tapi aku tidak akan merebut suami orang , lebih baik aku sendiri seumur hidup ku"ucap Rayendra.
"Apa?...pantas sebutan janda untuk wanita yang bahkan tidak pernah disentuh oleh suaminya sendiri sampai bertahun-tahun lamanya, heuhhhhh,atau jangan-jangan kamu memang gak normal"ucap Rayendra lagi.
"Stop, tuan Rayendra yang terhormat ada jangan kelewat batas, normal atau tidak,itu bukan urusan anda mulai sekarang kita tidak usah lagi saling kenal"ucap Daisy yang langsung menekan tombol otomatis untuk membuka pintu, tapi saat Daisy kembali bergerak Rayendra langsung mengunci nya lagi.
"Tidak, semudah itu untuk bisa pergi dari ku, honey, kamu tau aku selalu berusaha menahan diri untuk tidak menodai mu lebih dulu tapi kali ini tidak lagi,aku akan melakukan hal itu agar kamu mau menikah dengan ku"ucap Rayendra.
"Tidak Rayendra jangan lakukan itu, lepas aku bilang lepas"Daisy terus saja berontak tapi tenaga nya kalah oleh Rayendra yang bahkan tiga kali lebih besar, dan akhirnya rasa sakit itu Daisy rasakan di bagian inti nya, Air mata meluncur begitu deras Daisy mengeratkan cengkraman tangan nya di jok mobil tersebut sementara Rayendra tidak peduli dengan itu semua dan akhirnya terjadi lah apa yang tidak seharusnya terjadi.
"Bajingan,aku benci kamu hiks hiks hiks hiks"tangis Daisy semakin pecah saat Rayendra menanam benih di rahim nya.
"Aku harap anak kita segera tumbuh agar kamu tidak lagi menghindari ku, maafkan aku jika dengan cara ini aku harus memiliki mu, kamu adalah cinta pertama Dan terakhir ku, sampai kapan pun aku tak akan pernah rela kamu jadi milik orang, dan tuhan pun merestui itu kehormatan mu pun aku yang mengambil nya, terimakasih sudah menjaga nya untuk ku"ucap Rayendra diakhiri kecupan di puncak kepala Daisy.
Daisy langsung pingsan saking lelahnya jiwa dan raga nya, saat ini hingga dia sudah tidak bisa menahan kesedihannya.
sementara itu di Rayendra langsung kembali membawa Daisy pulang meskipun harus ketahuan, dia tidak akan pernah mundur, berkali-kali ia mendarat kan kecupan di punggung tangan Daisy wanita yang sangat ia cintai, Rayendra, bahkan mendapat kan Daisy sepenuhnya.
sesampainya di halaman rumah terlihat sangat sepi Rayendra langsung membawa Daisy masuk kedalam rumah dan menuju kamar nya, tidak hanya itu Rayendra juga membantu Daisy, berganti pakaian dengan baju santai nya Rayendra langsung mengunci pintu dan ikut merebahkan diri di samping Daisy.
pria itu takut jika Daisy, berbuat nekad, setelah sadar nanti.
__ADS_1
hingga lima belas menit kemudian Daisy, sadar dari pingsan nya, Rayendra masih berada di samping nya menatap wajah nya lekat.
"Kamu sudah bangun Honey...."ucap Rayendra.
"Pergi,aku tidak ingin lagi melihat mu, kamu gila bang kamu berengsek aku benci kamu bang aku benci,hiks hiks hiks... Daisy memukul Rayendra di dada bidang nya .
"Mi aku mencintaimu sayang,aku sudah berjuang bertahun-tahun Mi, kamu mikir gak bagaimana rasanya jadi aku,aku bahkan berkali-kali mengakhiri hidup ku, tapi aku tidak mati, dan cinta ini masih terus tumbuh subur di hati aku, dan hanya kamu,mi kamu, tidak ada yang lain nya"ujar Rayendra.
"Kamu mikir gak sih bang kamu itu sudah punya dia dan calon anak mu, kenapa?... kamu ahhhhhh.... tuhan kenapa?... engkau masih membiarkan aku hidup jika aku tau aku akan melewati masa ini lebih baik aku mati saja hiks lebih baik aku mati saja saat itu hiks"Daisy tidak bisa meneruskan kata-katanya, dia terus terisak .
"Baiklah Mi"
"Jangan sebut nama itu!!... kamu bahkan tidak pantas untuk memanggil nama itu"ucap Daisy.
"Baik Daisy, kamu sekarang pilih menikah dengan ku, atau kamu melihat ku mati saat ini juga"ucap Rayendra, yang kini sudah memegang pisau lipat milik Daisy.
"Benar-benar kamu bang ahhhhhh!!"teriak Daisy.
Rayendra sudah mulai menggenggam erat pisau tersebut dan darah mulai menetes .
"Kamu kejam bang"ucap Daisy sambil terisak.
"Lebih kejam mana aku atau kamu yang selama bertahun-tahun menyiksa batin ku"ucap Rayendra yang kini tersenyum sambil terus menggenggam erat pisau yang kini sudah menembus kulit nya.
"Iya Ok kita menikah hiks hiks hiks, kita menikah tapi dengan syarat aku tetap di sini dan kamu pulang bersama dengan istri mu"ucap Rayendra.
"Tidak ada syarat atau aku akan terus seperti ini "ucap Rayendra lagi.
"Iya... iya Ok fine "ucap Daisy.
Rayendra pun tersenyum dan melempar pisau itu ke sembarang arah, dan langsung memeluk dan mendaratkan secara bertubi-tubi di kening dan seluruh bagian wajah Daisy.
akhirnya Rayendra pun mempersiapkan semua nya lewat asisten pribadi nya, untuk menyiapkan pesta pernikahan mereka yang akan digelar di desa sementara istrinya kembali di kirim ke kota karena ibunya juga sudah berkali-kali menelpon nya.
sementara Daisy, hanya bisa pasrah menangis juga tidak ada guna, saat ini dia hanya bisa berpikir bagaimana caranya pernikahan nya dengan Rayendra nanti akan bisa diakhiri secepatnya Daisy tidak ingin terus jadi orang ketiga dalam pernikahan tersebut.
hingga pesta di gelar mulai dari akad nikah hingga pesta perayaan warga kampung turut bahagia dengan pernikahan mereka berdua tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi.
setelah pesta selesai kini Daisy, sudah berada di dalam kamar nya dia langsung tidur setelah berganti pakaian.
sementara Rayendra yang baru menyelesaikan pekerjaan nya setelah selesai pesta tersebut, dia menyusul Daisy, ke dalam kamar nya.
"Sayang kamu sedang apa?... ucap Rayendra yang langsung menghentikan langkahnya karena tidak biasa nya Daisy tidur secepat itu.
"Yang kamu sakit?..."ucap Rayendra yang langsung memeriksa,suhu tubuh istri nya itu.
"Kamu lagi ngapain sih bang,ini lagi kenapa?... tinggal di kamar aku, kamu itu punya Kam eum...."ucapan Daisy berhenti karena Rayendra langsung menyerang nya.
"Aku tidak mau lagi jauh dari mu, aku sudah menunggu mu selama bertahun dan sekarang aku tidak mau lagi itu terjadi, aku akan membawa mu pergi kemana pun aku pergi,aku akan tunjukkan pada dunia bahwa kamu adalah istri yang paling kucintai"ucap Rayendra sambil tersenyum.
sementara itu di sebuah kota kecil seorang pria yang tampan berjalan tertatih karena kakinya mengalami cedera dua tahun yang lalu saat kecelakaan pesawat, terjadi dia di selamat kan oleh salah seorang warga yang melintas di area pesisir pantai tersebut,lalu dibawa pulang ke rumah nya, karena di negara itu akan terkena sangsi jika menolong orang sembarangan.
__ADS_1
pria itu dirawat seadanya hingga sembuh meski kakinya cacat dan akhirnya tidak bisa berjalan dengan normal sekarang dia sedang membantu pria yang sudah berjasa menolong nya untuk mengantar barang ke toko-toko yang sering menjual barang dagangan nya hingga sebuah mobil mewah melintas yang kini ditumpangi oleh sepasang suami istri hampir menabrak nya.
"Om Gibran"ucap pria itu.