
Daisy berjalan menuju teras rumah meninggalkan Gibran yang kini tengah kebingungan dia tidak tau harus bagaimana saat ini tidak mungkin dia pergi tanpa Daisy, apa lagi obat milik Daisy tinggal untuk beberapa hari lagi.
Gibran berjalan cepat menuju teras rumah dimana Daisy, saat ini tengah menyiram bunga.
"Mi ayo bersiap, kita akan pulang ke ibukota, kamu harus segera di melakukan cek up saat sayang"ucap Gibran lembut.
"Mas, aku cape harus terus minum obat lebih baik biarkan saja toh minum obat atau tidak aku akan tetap me"ucapan Daisy terhenti saat Gibran, langsung membungkam bibir nya dengan telunjuk nya, yang kini menempel di bibir Daisy.
"Mi... aku tidak suka kamu bicara begitu yang menentukan semua itu adalah Allah bukan kita"ucap Gibran sambil memeluk erat tubuh Daisy, yang diam tertunduk.
sementara itu seseorang tengah berdiri di atas balkon pria itu hanya bisa berdiri mematung saat melihat mereka berdua.
Ya... dialah vino yang saat ini sudah bersiap untuk berangkat ke ibukota tempat dia tinggal sedari kecil, Daisy tidak tahu kalau vino kini tengah memperhatikan gerak-gerik mereka berdua.
Gibran melepaskan pelukannya setelah itu dia langsung bergegas ke dalam, Daisy mengikuti nya, dia memberikan roti yang sudah di olesi selai kacang dan coklat seperti biasanya, setelah Gibran menerima itu, dia langsung masuk ke dalam kamar mengambil sisa uang hasil penjualan handphone waktu itu.
"Mas.. kamu sudah bersiap ini uang sisa penjualan ponsel kemarin, anggap saja ini sebagai bunga nya, mungkin akan perlu waktu untuk aku bisa mengembalikan uang mu"ucap Daisy, sontak Gibran mengamuk karena tidak tahu lagi harus memberitahu atau menjelaskan pada Daisy bahwa uang itu hak milik nya .
"Mi... cukup mi cukup, aku tau aku terlalu dalam melukai perasaan mu,tapi jujur mi semua itu bukan inginku, aku pun tidak tahu harus bagaimana, aku mohon maafkan kesalahan ku Mi... maaf"ucap Gibran yang langsung berdiri dari duduknya setelah terdengar suara mobil.
"Mi aku pergi dulu sayang maaf jika aku tidak bisa membuat mu bahagia selama ini,satu hari lagi aku akan meminta orang untuk menjemput mu, kamu harus segera cek up.,Mi.."ucap Gibran tapi Daisy tidak menjawab.
Gibran memeluk erat Daisy dan mencium nya setelah itu dia melangkah pergi dengan berat hati sesekali Gibran melirik ke belakang, dan dia melihat Daisy yang menunduk tanpa mau menatap kepergian nya.
Gibran, menyimpan black card nya di meja makan tanpa sepengetahuan Daisy, dia ingin Daisy tau itu setelah dia pergi dan berharap wanita itu akan menggunakan kartu tersebut untuk kebutuhan hidupnya.
Gibran berlalu pergi dengan mobilnya saat ini bahkan Daisy tidak melihat kepergian nya.
sementara setelah Gibran pergi,vino masuk dia langsung memeluk Daisy yang, langsung membulat kan mata nya karena kaget.
"Vin lepas kenapa??... kamu datang tiba-tiba dan memeluk ku"ucap Daisy.
"Tan sebentar saja sebelum aku pulang"ucap vino.
"Tapi Vin, tidak baik aku ada suami dan kita bukan muhrim"ucap Daisy sabar memberi tahu bahwa yang dilakukan oleh vino adalah salah.
"Heuuhh suami yang tidak pernah menyentuh mu"ucap vino yang masih terngiang di telinga nya.
"Tan sebaiknya Tante lupakan dia dan mulai saat ini aku yang akan menanggung beban hidup Tante aku akan membuat mu bahagia, dan gunakan ini jika Tante,butuh apapun"ucap vino.
"Vino... aku tidak ingin bergantung pada siapapun, bawalah kamu lebih membutuhkan ini dan aku sangat berterima kasih atas semua bantuan mu"ucap Daisy.
"Tan aku mohon, ambilah"ucap vino,memelas.
"Vin aku"ucapan Daisy terhenti saat Bu Maryam memberikan sesuatu.
"Non... seperti nya ini milik tuan ketinggalan"ucap nya
"Bukan ketinggalan BI, dia mungkin sengaja meninggalkan itu, tapi aku tidak akan pernah menggunakan itu, besok aku akan mengirimkan itu lewat paket"ucap Daisy.
__ADS_1
"Tan..... aku mohon ambil lah"Ucap vino kembali memelas.
"Vin aku mohon hormatilah keputusan ku, aku tidak berhak untuk semua itu, jangan kan milikmu milik suami ku pun, aku tak ada hak karena masih ada istri lain yang lebih berhak"ucap Daisy.
"Tante aku tidak tau harus bilang apa??... tapi percayalah aku tulus anggap saja ini untuk modal usaha Tante, dan Tante bisa memperbesar warung Tante dengan modal nya, setelah itu Tante, boleh kembalikan atau tidak"ucap vino.
"Tidak Vin, aku tidak bisa aku mohon mengertilah , tolong bawa kartu mu" ucap Daisy sambil melangkah gontai menuju pintu kamar.
"Tan aku mau pulang... setidaknya ucapkan apa??...gitu setelah itu antar aku hingga ke depan pintu, aku calon suami mu"ucap vino tanpa malu.
"Vin... jangan berharap dengan sesuatu yang tidak akan mungkin, kamu lihat bukan, selama aku menikah dengan nya pun, aku hanya jadi cadangan dengan segala komitmen yang menjadi alasan,kamu pasti bisa mengerti kenapa??... semua itu bisa terjadi, aku Vin, aku memang ditakdirkan tuhan untuk hidup menyendiri"ucap Daisy yang langsung masuk ke dalam kamar dan tidak pernah keluar lagi hingga vino menyerah dan akhirnya pergi, tapi sama halnya dengan Gibran, dia meletakkan black card nya di atas meja.
black card itu, satu-satunya peninggalan ibunya sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, semua harta milik ibunya pribadi diberikan pada nya, termasuk black card tersebut.
di perjalanan Gibran yang kini sudah berada di jalan kota, saking ngebut nya saat ini.
bayangan Daisy, yang meminta berpisah terus terngiang di telinga nya.
"Mi jangan minta itu aku mohon bertahan lah"gumamnya lirih.
tapa disadari dia hampir saja menabrak seseorang dan dia langsung banting setir hingga menabrak pohon mobil nya terbalik Gibran terluka parah hingga dia di tolong orang yang berada di sekitar jalan dan dibawa oleh mobil ambulans menuju ke rumah sakit terdekat.
sementara itu Daisy yang tengah memegang gelas tiba-tiba refleks terjatuh dan pecah berhamburan.
Daisy pun kaget tubuhnya bergetar dia tau itu firasat buruk, karena jelas-jelas sedari tadi gelas itu sedang ia pegang erat dan tidak akan mungkin terjatuh.
Daisy, pun mengambil handphone lama nya yang selalu ia bawa kemanapun meski tidak pernah di aktifkan.
📱"Halo ini dengan siapa ya"ucap seseorang di sebrang telpon.
📱"Saya istri pemilik handphone ini anda siapa, dimana mas Gibran"ucap Daisy.
📱"Saya yang membawa suami ibu ke rumah sakit karena dia sudah mengalami kecelakaan, dan bukan nya istrinya ada di sini ya,satu lagi mas yang tadi kecelakaan dia manggil Mi... saya kurang tahu"ucap seseorang di sebrang telpon.
sementara telpon tidak mati juga tidak terputus tapi Daisy tak sadar kan diri.
sementara Gibran, masih ditangani di ruang operasi karena kepalanya terluka parah dan ada bagian tulang rusuk patah berjam-jam Gibran di meja operasi, dan hanya asisten yang menungguinya di sana sementara Almira, tengah berlibur di Bali, dan yang tadi ke rumah sakit adalah adik Gibran yang mencintai Gibran, tepat nya adik tiri nya.
Daisy belum sadarkan diri juga, setelah mendengar kabar tersebut,vino yang sudah setengah jalan dia kembali lagi bersama pengawal pribadi nya karena mendengar Daisy, jatuh pingsan dan ini sangat lama.
vino langsung meminta helikopter untuk membawa dirinya dan Daisy yang tengah pingsan.
🌹💖💖💖🌹
Satu Minggu berlalu semenjak saat itu kini Daisy baru tersadar dia perlahan membuka mata, dan menatap ke sekeliling ruangan yang dominan putih tersebut Daisy menatap kearah lain dia melihat seorang pria yang dulu pernah menolong nya.
Rio....
laki-laki itu adalah Rio,sepupu dari vino.
__ADS_1
ibunya vino dan ibu Rio, adalah saudara kandung .
"Bos"ucap Daisy.
"Daisy kau sudah bangun, syukur lah"ucap Rio
"Dimana aku"ucap Daisy.
"Kamu dirumah sakit, hampir saja nyawa mu melayang , apa sih yang kamu lakukan selama ini sudah tau kondisi mu sangat parah , tapi malah kamu biarkan, untung saja sepupu ku langsung membawa mu kesini"ucap Rio.
"Terimakasih, boleh aku bertemu dia"ucap Daisy lagi.
"Dia sedang kuliah mungkin nanti petang baru datang"jawab Rio.
"Bos... jangan bilang sama yang lain aku ada disini"ucap Daisy.
"Dia sudah tau Daisy, bahkan semalam dia yang menjaga mu "ucap Rio yang langsung membuat Daisy melotot.
"Bos, aku mau jenguk suami ku, bisa aku minta tolong"ucap Daisy.
"Kau baru saja melakukan operasi, jadi dilarang bepergian "ucap Rio.
"Kalo begitu aku minta tolong tolong lihat dia bagaimana kondisi nya"ucap Daisy.
"Segitu nya kamu mencemaskan suamimu heuhhhhh "ucap seseorang yang baru saja datang.
"Abang"ucap Daisy yang melihat pria yang selama ini selalu ia hindari, Daisy hanya bisa pasrah sambil membuang pandangannya ke arah lain.
"Rayendra, aku sudah bilang jangan pernah menampakkan diri, untuk saat ini tapi kamu tidak pernah mendengar kan aku"ucap Rio marah dia hanya ingin kondisi Daisy membaik dulu, sebelum mereka bertemu dan karena sudah bisa di prediksi akan terjadi pertengkaran antara mereka, seperti biasanya.
"Bagaimana aku bisa tahan jika wanita ini selalu saja bertanya tentang pria yang sama sekali tidak berguna itu, apa??..... untungnya menikah dengan laki-laki pelit macam dia yang bahkan tidak mau keluar uang untuk biyaya operasi istrinya sendiri, kalau benar dia memang istrinya, tapi rasanya itu hanya halusinasi karena tidak mungkin bila seorang suami yang benar-benar mencintai istrinya bisa membiarkan dia dalam keadaan sakit dan semudah itu kembali pada istri muda nya"ucap Rayendra , yang kini tengah mengeluarkan unek-unek nya.
"Stop... please jangan bicara buruk tentang suamiku stop... aku mohon hentikan,hiks hiks hiks dia bukan tidak ingin membiayai ku untuk operasi, semua itu tidak dia lakukan karena aku yang minta dan dia tidak pernah memperhitungkan berapa pun,uang yang telah ia berikan kepada ku, dia sangat baik, dan hanya aku yang tau jadi aku mohon jangan menjelekkan suamiku, dia adalah orang yang sangat baik, meskipun kami sedang didera masalah rumah tangga tapi kasih sayang nya tidak pernah berkurang terhadap ku"ucap Daisy sambil menangis sesenggukan.
"Termasuk dengan cara tidak pernah menyentuh mu,ia begitu dan kamu masih bertahan hingga saat ini dengan cinta gila itu yang hanya membuat mu menjadi babu pribadinya Daisy, kamu sungguh bodoh"ucap Rayendra.
Daisy kembali hendak bicara tapi tiba-tiba jantung nya yang baru di operasi satu Minggu yang lalu itu terasa sakit bahkan Daisy hampir tidak sadarkan diri sebelum Rio, menghentikan Rayendra dan menyuruh nya untuk pergi ke luar dari ruangan tersebut.
Rayendra pergi ke luar sesampainya di sana dia langsung menonjok tembok dinding itu Rayendra, benar-benar merasakan sakit yang teramat sangat, karena wanita yang sangat ia cintai malah mati-matian membela pria lain di hadapan nya.
sementara Daisy, yang kini menangis , ditemani oleh Rio, yang terus berusaha untuk menghentikan tangisnya, saat ini karena takut sesuatu terjadi dengan jantung nya.
"Aku memang bodoh karena telah menikah dengan pria yang jelas-jelas masih berstatus suami orang tapi tidak ada satupun yang akan mengerti bahwa selama ini mas Gibran, telah memberiku sebuah rumah dimana aku bisa pulang pergi sesuka hati ku aku juga memiliki keluarga berkat dirinya,meski pada akhirnya semua itu sudah seharusnya kembali pada pemiliknya, aku tidak mempermasalahkan hal itu karena niatku sedari awal aku hanya menikahi nya demi anak-anak nya, dan jika istrinya kembali suatu saat nanti, seperti sekarang ini aku pun ikhlas biarpun orang lain berkata aku adalah wanita bodoh,hiks hiks hiks aku memang bodoh tapi apa aku salah jika aku ingin tau bagaimana kondisi nya saat ini"ucap Daisy.
Rayendra sendiri sudah pergi ke sebuah club untuk menjernihkan otak nya itu menurut nya.
sementara itu di sebuah ruangan rawat VVIP, seorang pasien, pria yang baru sadar dari koma dia terus menyebut kata Mi .
Almira yang baru saja kembali dari liburan nya bersama dengan anak nya, dia langsung bergegas menuju rumah sakit tersebut dan dia mendapati kondisi suaminya seperti itu rasa bersalah yang teramat sangat itu kini iya rasakan bagaimana tidak hanya karena kebohongan nya, Gibran harus mengalami kecelakaan saat ini, dan sudah dipastikan kondisi nya tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Mas maaf kan aku aku sangat salah aku mohon maafkan aku mas maaf"ucap Almira sambil terisak tapi Gibran, tidak merespon perkataan nya, dia hanya diam setelah itu dia berkata.
"Bawa Mi kehadapan ku, setelah itu aku akan memaafkan semua salah mu, andaikan saja aku bisa lebih peduli pada nya sedari dulu mungkin ini tidak akan pernah terjadi tapi wanita itu rela mengorbankan masa lajangnya hanya karena merasa tidak tega dengan kedua bayi yang kau tinggalkan, dan dia rela menjadi istri ku, meskipun kami tidak pernah bersatu itu semua karena dia ingin menunggu mu kembali, apa kamu masih belum puas Almira"ucap Gibran yang kini menatap tajam kearah Almira.