Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa

Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa
#David#


__ADS_3

"Sayang tunggu mommy"ucap seorang wanita yang kini sedikit kesulitan antara barang-barang dan putra tampan nya itu.


"Aku sudah tidak sabar ingin melihat ikan mommy"ucap anak laki-laki yang benar-benar menjadi pusat perhatian di bandara.


"Sayang awas!"ucap sang mommy.


"Aduh Cakit mommy, hiks hiks hiks"ujar David.


"Oh, sayang mommy, kamu tidak apa-apa nak, sudah mommy bilang, jika ditempat ramai jangan lari-larian, ayo kita duduk dulu, kaki mu sepertinya lecet sayang"ujarnya.


Sementara itu, pandangan seorang pria yang sedari tadi mematung melihat, semua interaksi itu, sambil berderai air mata.


"Sementara wanita itu, terus meniup-niup lutut putra nya yang lecet akibat terjatuh karena tersandung sesuatu.


"Sayang sudah selesai diobati ayo jalan lagi"ucap wanita yang tidak lain adalah Daisy, wanita itu kembali setelah sekian lama pergi, hampir empat tahun berlalu, dan kini putra semata wayangnya itu, sudah berusia tiga tahun.


"Maafkan aku sayang hiks"ujar seseorang yang tiba-tiba, menghambur memeluk Daisy yang kini tengah menggendong putra semata wayangnya itu.


Pria tampan yang kini telah berusia tiga puluh tiga tahun itu, memeluk erat sang istri yang telah lama ia cari dan ia rindukan, Daisy, benar saat ini takdir telah kembali mempertemukan mereka.


Rayan, yang kini menggunakan kacamata hitam, dia memudarkan pelukan nya, dia juga melepas kacamata hitam yang sedari tadi bertengger di hidung mancung nya itu.


Sontak David, menoleh ke arah Rayan.


"Daddy"ucap nya jelas.


Rayan pun langsung mematung di tempat, air mata nya kembali menetes semakin deras, dia langsung meraih putra nya, dan memeluk nya erat.


"Hiks hiks hiks, maafkan Daddy, sayang maafkan Daddy, yang bahkan tidak pernah bisa menemukan kalian, Daddy selama ini selalu mencari kalian berdua kalian hidup dan mati Daddy, kalian kemana? saja selama ini heeuh, kalian boleh hukum aku, tapi tidak dengan cara itu, aku hampir mati, karena putus asa Dy, aku tidak pernah mengkhianati cinta kita, aku "ucapan Rayan, terhenti saat Daisy, memeluk erat dirinya Daisy, menangis sesenggukan, andaikan saja waktu itu Daisy tidak bertindak gegabah mungkin Daisy dan Rayan, akan sangat berbahagia selama ini.


Tapi takdir berkata lain, mereka harus melewati berbagai macam ujian hidup sampai mereka harus berpisah.


"Aku minta maaf, karena kebodohan ku, kita pun menderita"ujar Daisy.


"Aku yang seharusnya minta maaf sayang, ayo kita kembali"ucap Rayan, yang langsung di bantu oleh kedua asisten pribadi nya,dia yang awalnya hendak pergi, ke luar kota, semua acara dia batalkan, bahkan dengan kembalinya wanita yang sangat ia cintai, dan putra semata wayangnya mereka, Rayan, akan langsung membuat pesta penyambutan.


Setelah mereka masuk kedalam mobil Ferrari, yang masih sama, milik Rayan yang dulu, dan masih sangat terawat, Daisy, memangku putra nya, dan setelah itu mereka pun pulang dengan hati bahagia, hingga tiba di rumah, Anya, dan Agam yang sedang berada di rumah, karena lagi-lagi mereka mogok kertas karena ini adalah tahun keempat Rayan, tidak kunjung menemukan mommy mereka.


Sesampainya di depan pintu utama, Mension, tersebut Rayan, yang kini menggendong putra nya, dia langsung berteriak.


"Anya... Agam! lihat siapa? yang aku bawa"ujar Rayan.


Agam seolah tak perduli, karena dia tidak percaya lagi pada keajaiban, pria yang kini berusia 26 tahun itu, sudah putus asa.


"Agam.... Anya, kalian tidak menyambut mommy dan adik kalian"ujar Daisy, yang kini mematung di tempatnya.


Anya, tidak bergeming posisi mereka saat ini tengah berada di sofa, sedang sibuk mengurus pekerjaan nya, hingga keduanya berbalik kompak.


"Mommy!"jerit keduanya.


Mereka berlari bahkan tanpa menggunakan alas kaki, dan langsung berhambur memeluk Daisy, tangis pilu keduanya pecah, meskipun mereka saat ini sudah jauh lebih dewasa tapi bagi mereka, Daisy, tetap ibunya dan mereka, adalah anak kecil bagi Daisy.


"No, no no, jangan jangan peluk mommy David, kalian tidak boleh peluk mommy!"tangis sikecil pun pecah, karena dia tidak suka jika ada yang memeluk mommy nya, kecuali Daddy nya.


"Hi, sayang jangan menangis, mereka uncle dan aunty, David, adik Daddy"ujar Rayan.


"Aunty and uncle"ujar bocah itu.


"No, kakak"ucap mereka.


"Uncle, aunty"ujar David.


"Mommy....kakak"ucap Anya, manja.


"Mommy"ujar David.

__ADS_1


Daisy, dilema "Mommy belum istirahat, kita bisa urus itu nanti"ucap Daisy.


"Ayo sayang kita, langsung ke kamar saja"ujar Rayan, yang juga masih menggendong David.


"Kami ikut"ucap Agam dan Anya, yang lebih dulu masuk ke dalam lift.


"Mommy, mereka nakal"ujar David, sambil memasang wajah marah.


"Waduh, adikku ini memang gemesin banget"ucap Agam.


"Keponakan"ucap David.


"Ya sudah kalau mau jadi keponakan nanti kita gak ajak jalan-jalan"ucap Anya.


"Mommy, harus hukum mereka, mereka nakal ayo suruh berdiri dengan satu kaki, dan suruh berhitung sampai seratus kaya aku, kalau nakal"ucap sang putra, yang langsung membuat ketiganya bengong.


Daisy, langsung tersenyum.


"Mommy, dia anak kecil"ucap Anya, tidak terima.


"Ya, mommy tau tapi semua itu harus diajarkan sejak dini"ujar Daisy.


"Sekarang ikut, kemauan adik kalian"ujar Rayan.


"Ya Baiklah"ujar keduanya kompak seakan memelas minta di ampuni.


"Aku yang hitung"ucap bocah tampan yang kini tidak terlihat lelah sama sekali, saat Daisy sedang pergi masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, seakan sudah terbiasa di kamar yang sudah empat tahun ia tinggalkan.


"Daddy, turun, aku mau berhitung"ucap David.


"Baiklah sayang Daddy"ujar Rayan sementara kedua nya, tengah menunggu Rayan.


"Kapan? berhitung nya, sudah pegal ini"ujar Anya.


"Ampun, pangeran"ucap Anya.


"Hukuman di tambah karena berusaha merayu"ujar David.


Rayan, langsung mematung bagaimana bisa putranya yang baru, seusia tiga tahun, sudah begitu cerdas.


"David sayang sebaiknya David mandi dulu, mommy sudah mandi"ucap Daisy.


"Belum berhitung mommy"ucap David, kekeuh.


Sementara Agam, masih santai meskipun sama-sama pegal.


"Satu" ucap pria kecil itu, sambil membuka kancing jas nya sendiri, meskipun Rayan, sudah berusaha membantu.


Setelah lepas, jas baru David, bilang dua , sementara Rayan dan Daisy saling tatap, karena tingkah putra nya itu.


"Sayang, buruan menghitung nya"ujar Daisy.


"Bentar mom, belum selesai makan melepas baju"ucap nya serius.


"Owh ya ampun, bisa-bisa aku mati berdiri, jika dia seperti itu"ujar Agam.


"Sayang, kasihan kakak kamu"ucap Daisy.


"Tapi mereka nakal jika tidak di hukum, pasti akan mengulangi lagi"ujar nya.


.........................


Baru salam perkenalan David, sudah membuat kedua aunty dan uncle nya, kapok mereka bahkan hampir setengah jam lebih, berdiri dengan satu kaki, setelah Rayan dan David, pergi Daisy meminta mereka istirahat, tapi saat David, keluar mereka langsung berdiri lagi, hingga anak itu selesai berpakaian dan menyisir rambut nya sendiri, mereka masih berdiri, Rayan pun, geleng-geleng kepala, tapi dia begitu bahagia dari dalam lubuk hati yang terdalam, karena kini putra nya, benar-benar nyata, ada di hadapannya.


"Hukuman sudah selesai, sekarang kalian bisa kembali ke rumah masing-masing"ucap David, semua orang menarik nafas lega.

__ADS_1


"Mom... pegel"ucap Anya, manja.


"Nanti mommy pijat"ucap Daisy.


"Tidak boleh, biar aunty, pijat sendiri, atau bayar orang"ujar David.


Sontak semua orang membulatkan matanya, kecuali Daisy.


"Owh my God, Agam, begini amat rasanya punya adik yang IQ nya terlalu tinggi"ucap Anya.


Ayo kita pergi dulu, sebentar lagi kita akan cari orang untuk memijat kaki kakak"ucap Agam, yang menuntun Anya, Agam, tidak terlalu berpengaruh karena fisik nya kuat, sementara Anya, gadis itu bahkan jarang dan hampir tak suka berolahraga.


"Sayang, kita akan makan siang bersama, apa? mas perlu menghubungi papah"ucap Rayan.


"Tentu, aku sangat merindukan nya, bagaimana kabar nya, saat ini"ucap Daisy terlihat sendu.


"Papah, sehat, bahkan setelah dia berpisah empat tahun lalu, papah semakin terlihat awet muda, meskipun dia sering menangis, karena merindukan kalian sama seperti ku"ujar Rayan.


"Mommy, dimana kamarku mom"ucap David.


"Sementara di"


"Kamar kamu di sebelah sayang Daddy, bahkan sudah sering membereskan barang-barang mu"Ucap Rayan, jujur.


"Bukan berarti Rayan, tidak pernah berkhayal tentang putra nya itu, bahkan Rayan, seakan sudah seperti orang tak waras, yang akan membersihkan kamar anak mereka yang dia siapkan, tepat saat bulan pertama Daisy, hilang sejak saat itu, dia berbelanja sendiri, dan semua yang berkaitan dengan anak laki-laki , seperti mimpi nya, selama ini.


"Bahkan Anya dan Agam,sering dibuat menangis kala, sang kakak, selalu berteriak, mencari Daisy, saat bangun tidur, hingga setiap ruangan yang sering Daisy kunjungi itu, dia datangi dengan muka bantal, dia berharap semua itu, hanya mimpi buruk, dan disaat dia bangun tidur dia berharap Daisy, ada di salah satu ruangan, jika memang tidak mungkin harus berada di dalam kamar, hingga Anya dan Agam, memohon dan berteriak agar Rayan, sadar tapi sepertinya semua itu adalah mustahil.


Sampai bertahun-tahun lamanya setiap dia berpergian, pulang nya, akan membawa mainan dari yang mahal hingga yang termahal, selalu dia beli, sampai dia ingat satu persatu mainan apa saja yang dia masukkan kedalam rak dinding kaca tersebut yang menjulang tinggi, bahkan sudah seperti museum sengaja dia rapihkan, agar jika putra nya kembali dengan istrinya, mereka akan melihat betapa cintanya Rayan, pada mereka berdua.


Sementara itu di kamar David, Daisy dibuat terharu, bagaimana bisa, Rayan, punya filing sekuat itu, dia bahkan bisa sangat yakin.


"Mas, siapkan semua ini sendiri"ucap Daisy.


"Tentu saja Sayang"jawab Rayan jujur.


"Terimakasih mas, atas semua kesetiaan mas, aku sungguh sangat bodoh telah percaya dengan apa? yang aku lihat, padahal jika saja aku tau bahwa itu adalah jebakan sedari awal, harusnya kita tidak akan terpisah, dan kita tidak perlu menderita, dan aku tidak akan pernah membenci mas, dan maafkan aku, aku sudah membuat mas, menjalani hukuman untuk kesalahan yang tidak pernah diperbuat"ujar Daisy.


"Sudah lah sayang , semua sudah berlalu dan kita bisa menjadikan itu, sebagai sebuah pelajaran yang tidak akan pernah kita lupakan, kedepannya apapun yang terjadi, selagi kita bisa memperbaiki nya, kita akan tetap bersama dan, membahas setiap masalah dengan kepala dingin"ucap Rayan.


"Mas benar untuk itu"ucap Daisy.


Mereka berdua pun mencium pipi putra nya di kedua belah sisi, dan setelah itu mereka pun, pergi meninggalkan kamar sang putra yang bisa di di pantau setiap kali mereka ingin melihat nya, selain dari Cctv, juga dari pintu yang ada di kamar mereka, Rayan, sengaja membuat pintu tersebut.


Sementara putra nya tidur siang, mereka berempat melepas rindu, di ruang santai, sambil, membahas tentang, David, yang memang memiliki kecerdasan di atas rata-rata Daisy, sudah terbiasa dengan sikap nya, tapi Anya, dan Agam, merasa dibuat kewalahan, jika saja Daisy, bertahan dan melahirkan di sana mungkin, adik sekaligus keponakan mereka tidak akan tumbuh menjadi seperti, laki-laki dewasa pada umumnya.


"Mom, apa? makanan favorit nya"tanya Agam.


"Dia pemakaman segalanya, dan tidak pernah membeda-bedakan makanan, apapun yang disuguhkan adalah rezeki baginya, dan saat itu tidak boleh ada satu orang pun yang bicara, bisa dibayangkan ketika mereka yang hidup di negara barat, yang biasa makan sambil berbincang ketika, dia lahir dan tumbuh besar seperti saat dia menghukum nya, dengan dilarang bicara saat sedang makan, dan jika tidak hukuman itu, seperti tadi"ujar Daisy.


"Benarkah itu, aku tidak tau seberapa? sayang mereka pada David, tapi melihat kakak dan David, baik-baik saja dan sangat baik, sudah bisa menjawab semua nya, tapi bagaimana caranya, buat naklukkin tuh bocah Mom, aku tidak mau dia terus menghukum kami"ucap Anya.


"Putra ku, bukan monster Anya, coba perlakukan dia dengan baik, pasti dia akan baik padamu"ujar Rayan.


Rayan, kini duduk di samping Daisy, dia membaringkan kepalanya di pangkuan sang istri, sambil sesekali mengecup tangan Daisy, yang kini tengah mengobrol dengan Agam dan Anya.


Mereka sibuk, berbicara pandangan lebar hingga akhirnya Rayan pun, tertidur pulas di pangkuan Daisy.


"Mom, tolong jangan tinggalkan kami lagi, kami hampir gila, apalagi kakak, pernah suatu hari kakak, hampir mengakhiri hidupnya, jika saja dia tidak teringat pesan mommy, untuk tetap tegar dan menunggu takdir membawa kita untuk bertemu kembali" ucap Agam.


"Maafkan mommy sayang, mommy sendiri saat itu begitu terluka, tapi mommy, selalu berdoa untuk yang terbaik untuk kalian bertiga terutama kakak, kalian, yang mommy, selalu berdoa, semoga mas, Rayan, selalu bahagia dengan nya, jika itu, memang benar-benar pilihannya, tapi nyatanya mommy keliru, ternyata mommy yang salah disini, karena telah percaya pada perempuan iblis itu"ucap Daisy jujur.


"Tidak masalah mom, sekarang kita, sudah kembali bersama kita, akan sama-sama belajar, dari semua itu"ucap Anya.


Mereka pun akhirnya makan bersama dengan seluruh keluarga, Rayendra, pun mendadak sehat saat melihat cucunya yang bak pinang dibelah dua dengan putra, juga dirinya.

__ADS_1


__ADS_2