
Sementara Agam, sudah mendapatkan apa? yang dia mau.
Anya sendiri tengah kebingungan karena Riki tiba-tiba demam tinggi, pria itu baru saja menggantikan dirinya menangani klien, saat siang tadi tapi saat pulang ke rumah tubuh Riki terlihat memerah dan panas dia menggigil.
"Sayang kamu salah makan atau bagaimana tubuhmu demam tinggi" ucap Anya.
"Tidak sayang, hanya saja, AA tadi minum jus tapi rasanya ada yang aneh" ucap Riki.
"Apa? AA keracunan"tanya Anya.
"Tidak mungkin Yang, AA juga bukan baru pertama kali nya"jawab Riki.
"Sebentar, aku panggil dokter dulu." ucap Anya, tapi tangan Riki menahan nya, dan itu terasa sangat panas.
"Yang... kamu sakit harus panggil dokter" ucap Anya.
"Tidak Yang... aku tidak sakit please tolong AA, sayang isikan air dingin di bathtub saja " ucap Riki, yang mulai merasakan keanehan.
"Baiklah Yang...eh! tunggu bentar air dingin, bukan nya jika demam tinggi rendaman pakai air hangat ya"tanya Anya bingung.
"Ini beda kasus nya, yang ucap Riki, yang tiba-tiba menyambar bibir Anya, gadis itu terkesiap karena Riki, bahkan tidak memberikan tanda itu.
"Yang cepat tolong aku"ucap Riki, sambil meraba punggung Anya.
"AA lepas dulu Anya tidak bisa bergerak jika seperti ini adalah.
"Kita sambil berjalan ke dalam ya sayang please." mohon Riki.
Anya pun mulai berjalan tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
Sesampainya di dalam kamar mandi, akhirnya meraih keran tersebut dan mengisi bathub tapi tautan bibir itu tidak lepas.
Anya kaget saat Riki langsung menceburkan diri ke dalam bathtub.
"Yang buruan keluar, AA tidak ingin berakhir menyedihkan, cepat tolong kunci pintu nya dari luar" ucap Riki.
Anya, hanya bisa mengikuti apa kata Riki. setelah itu dia duduk menunggu hingga beberapa lama nya Riki, tidak kunjung minta dibukakan pintu, Anya yang khawatir dia menggedor pintu kamar mandi dan ternyata tidak ada jawaban.
"A...AA baik-baik saja kan" ucap Anya.
"A, Anya masuk ya"ucap Anya lagi tapi pria itu tidak sedikit pun, menjawab Anya.
Gadis itu semakin khawatir dia langsung membuka pintu, saat pintu terbuka tampak Riki, tidak sadarkan diri di samping bathub.
"AA!" teriak Anya.
Agam yang saat itu baru kembali dia mendengar jerit tangis Anya, awalnya dia ragu untuk masuk kedalam kamar tersebut tapi setelah dia berpikir Kakak nya terus memanggil Riki akhirnya dia masuk dan tampak suara jerit tangis dari dalam kamar mandi yang pintunya kebuka.
"A bangun AA!"teriak Anya, sambil nangis histeris.
"Ada apa? ini kak" ucap Agam.
"Agam! tolong cepat bawa dia cepat" ucap Anya.
Agam langsung menelpon ambulance dan berusaha mengganti pakaian Riki, terlebih dahulu, setelah itu dia meminta Anya, mengangkat tubuh Riki menuju ranjang.
Hingga ambulans tiba di depan rumah mereka yang megah itu, Agam langsung meminta satpam untuk segera membawa tim medis kedalam kamar utama tersebut.
Sampai saat Riki, bangun setelah ditangani oleh dokter dua jam kemudian, Anya, tidak pernah jauh dari Riki, matanya sembab karena terus menangis.
Anya langsung memeluk Riki membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu.
"Sayang, jangan menangis heumm AA baik-baik saja kok" ucap Riki menenangkan.
"Tidak AA tadi pingsan, aku takut AA kenapa-napa" ucap Anya.
"Tidak sayang, AA baik-baik saja kok, hanya saja AA, tidak ingin menyakiti Anya, sebelum kita resmi menikah" ucap Riki.
" Maksudnya?"AA.
"Dokter, pasti tau" jawab Riki.
"Anya mau panggil dokter dulu a" ucap Anya.
"Nanti saja sayang AA, sudah agak baik kan kok" ujar Riki.
Pria itu mendekap Anya dalam keadaan berbaring.
"Yang, kita menikah secepatnya saja ya, agar jika aku kembali terkena seperti itu lagi, aku punya kamu yang akan menolong ku"ucap Riki.
"Kita belum menikah pun, tadi aku tolong A, mana mungkin aku membiarkan AA, kenapa-napa"ucap Anya.
"Sayang bukan itu yang aku maksudkan"ucap Riki.
"Baiklah jika seperti itu, aku ikut saja, lagipula Anya, juga tidak mungkin tinggal satu rumah dengan AA, terus" ucap Anya.
"Ya sayang, AA tahu itu" ucap Riki.
Sampai keesokan paginya, Anya meminta asisten pribadi nya itu untuk menghandle perusahaan, selama mereka berdua berada di rumah sakit.
Anya, yang baru keluar dari dalam kamar mandi, kini sudah terlihat fresh, dan cantik.
"Sayang... apa? semalam Bobonya nyenyak"tanya Riki.
"Nyenyak mungkin karena AA peluk" ucap Anya.
"AA sendiri bagaimana keadaannya.
"Baik yang sudah tidak ada demam lagi"ucap Riki.
__ADS_1
"Syukurlah, tapi sayang masih harus istirahat untuk memulihkan kondisi tubuh nya." ucap Anya.
"Ya, sayang" jawab Riki singkat.
Sementara itu di kampung halaman Daisy, kini tengah bersiap untuk kembali, karena Agam, sempat mengabarinya, tidak hanya itu ibu RT dan pak RT ikut serta setelah mendengar kabar bahwa ternyata putra masuk rumah sakit.
Tidak hanya itu, rombongan Yanwar, Ari dan para gadis pun ikut kembali ke Mension, untuk bekerja kembali di sana.
Sesampainya di kediaman Rayan, ibu RT dan pak RT, kini terbengong di depan gerbang masuk, tepat saat satpam membuka pintu gerbang tersebut, tampaklah bangunan megah dan sangat mewah itu, seakan seperti di negeri dongeng.
"Sepertinya calon mantu dan besan kita itu adalah konglomerat pak"ucap Bu RT, yang kini merasa minder.
Hingga bunyi ketukan pintu dari satpam menyadarkan mereka.
"Tuan dan nyonya, tuan muda Rayan, menunggu anda di dalam" ucap satpam tersebut.
Pak RT, pun tersenyum dia langsung melajukan mobilnya untuk masuk kedalam rumah tersebut.
Daisy, menyambut mereka di depan teras, dan membawa Bu RT, yang kebingungan itu masuk, Daisy mengerti dengan keadaan itu.
"Ayo masuk, jangan sungkan anggap saja ini rumah sendiri" ucap Daisy dan Rayan.
"Mereka pun masuk, keduanya masih melongo melihat rumah yang dua kali lipat lapangan bola tersebut.
Daisy mempersilahkan mereka duduk di ruang keluarga, terlihat David dan Dion, yang lebih dulu sampai, kini tengah menikmati camilan favorit nya bocah laki-laki itu.
"Opah, A lagi" ucap David, tunggu dulu sayang ku, ini masih panas"ujar Dion.
"Aku sudah tidak sabar opah habis itu enak banget"ucap David.
"Siapa? dulu yang buat Opah gitu loh"ucap Dion, bangga.
Sementara pak RT dan ibu, kini hanya tersenyum.
"Papah kapan papah kembali"tanya Daisy.
"Mungkin sore ini sayang, papah sudah lama meninggal perusahaan" ucap Daisy.
"Heumm, David sama mommy ya jangan ikut Opah" ucap Daisy.
"Sekolah mommy" ucap David.
"Lagi pula, sekolah bisa disini kan sayang" bujuk Rayan.
"Daddy, David tidak mau pindah-pindah sekolah nanti kalau David, bodoh gimana? lagipula adik bayi kan ada di perut mommy, jadi kalian tidak akan kesepian" ucap bocah berusia empat tahun itu.
"Dia pintar ya Dy" ucap pak RT.
"Heumm, bukan lagi anak-anak yang dua saja selalu dibuat kalang kabut"ucap Daisy.
....................
Setelah menghubungi Anya, ternyata mereka akan pulang sebentar lagi, jadi mereka tidak perlu datang ke rumah sakit.
"Agam, apa? kabar sayang" ucap Daisy.
"Iya mom, laper"ucap Agam yang kini mengusap perut.
"Stok makanan habis ya"tanya Daisy.
"Tau Agam tinggal di rumah mommy dan Daddy" ucap Agam.
"Kemarilah mommy masak dulu"ucap Daisy.
Agam, menyimpan tas kerja nya di sofa karena dia benar-benar lapar.
Daisy sendiri langsung mengambil bahan-bahan masakan dan langsung ia eksekusi.
Setelah hampir sepuluh menit kemudian nasi goreng seafood kesukaan Agam, jadi wanita itu menghidangkan makanan nya di meja tempat di piring Agam, pemuda itu langsung menyantap nya dengan lahap.
Agam, bahkan menghabiskan satu piring penuh nasi goreng tersebut, hingga akhirnya ia kekenyangan dan juga bersendawa.
"Makasih mommy" ucap nya.
"Sama-sama sayang" ucap Daisy.
Sementara itu Rayan kini tengah sibuk mengobrol dengan keluarga pak RT, dan tidak lama setelah itu Anya, datang bersama dengan Riki, disambut oleh ibu dan bapak nya Riki.
Mereka berdua bergabung dengan keluarga tapi tidak lama Anya, pamit untuk mandi dan berganti pakaian.
Sementara Riki, kini masih bersandar di sofa, ditemani oleh ibunya.
"Kenapa? bisa sampai masuk rumah sakit" ucap pak RT.
"Dia meminum minuman yang sudah dicampur dengan obat perangsang" ucap Agam.
"Kok, bisa begitu A" ucap Bu RT.
"Di dunia bisnis tidak ada yang tidak mungkin Bu, yang terjadi pada Riki, adalah buktinya dia ingin menggunakan cara licik untuk menjatuhkan perusahaan kami" ucap Rayan.
"Lain kali hati-hati nak jangan sampai itu terulang lagi, mau jadi apa? nanti jika itu terjadi, kamu akan buat kerugian besar, dan itu tidak akan bisa di ganti meskipun ayahmu menjual kebun dan lainnya."ucap Bu Mira.
"Ibu tidak usah berlebihan begitu, AA.. selalu waspada kok" ucap Riki.
"Iya ibu tidak usah khawatir dengan semua itu, kita bisa urus semua bersama-sama" ucap Agam.
Tidak lama Anya, turun Gadis itu sudah terlihat segar meskipun kini terlihat mengantuk.
"Mommy, aku ingin makan" ucap Anya.
__ADS_1
"Ada di meja makan sayang mommy sudah buat nasi goreng seafood kesukaan mu" ucap Daisy.
"Makasih mommy, pak Bu A makan"tawar Anya.
"Sudah kamu duluan saja sayang nanti pelayan lagi menyiapkan makan untuk kami semua" ucap Daisy.
"Terimakasih mom"ucap Anya.
"Sama-sama sayang"ujar Daisy.
Daisy pun duduk di samping Rayan, pria itu kini membeli kepala istrinya dengan sayang.
"Dy, papah sama David istirahat dulu ya, biar nanti tidak terlalu kelelahan"ujar Dion.
"Ya Pah... David gak mau sama mommy beneran nih"tanya Daisy.
"Tidak mau mau sama opah saja" ujar David.
"Ya sudah hati-hati ingat jangan nakal nanti Opah, gak sayang David lagi" ucap Daisy.
"Mommy tentang aja opah baik kok" ucap David.
Tadinya Daisy ingin putra nya, tinggal bersama dengan nya, tapi berhubung putranya itu tidak mau ya, dia mengalah saja.
Sampai akhirnya para pelayan mengatakan bahwa makan malam sudah siap, akhirnya Rayan, Daisy, pak RT dan istri juga Dion, David dan Riki duduk bersama di ruang makan. sambil menikmati hidangan.
Mereka makan dengan lahap nya, karena semua makanan itu memang lezat adanya, Rayan memanggil koki terbaik hanya untuk mengurus kebutuhan gizi istrinya yang kini tengah hamil anak kedua.
"Heumm, ini enak teh" ucap Riki.
"Syukurlah jika AA, suka mereka hanya akan bekerja sesekali, karena tidak berguna untuk Anya dan Agam" ujar Daisy.
Heumm pantas saja mereka jarang terlihat ucap Yanwar.
"Mereka dipanggil jika rumah ini membutuhkan mereka, biasanya mereka stay di hotel" ucap Rayan.
"Aku mau belajar masak dari teteh saja, siapa? tau a Agam kecantol sama aku" ujar Vivian, sepupunya Riki yang ikut serta bersama dengan Rayan.
"Boleh juga, kalau mau jadi yang kesepuluh" tantang Agam.
Semua orang tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi Vivian,terlonjak kaget.
"Buset, yang kesepuluh, terus yang sembilan mana" ucap Vivian.
"Ada di rumah lama" ucap Agam.
"Apa? mereka semua melayani AA" tanya Vivian.
"Tentu saja, mereka memang pelayan, dan tugas nya melayani aku" ucap Agam.
"Kau ini keterlaluan aku disamakan dengan pelayan"ucap Vivian merajuk.
"Tadi katanya ingin jadi pelayan, aku gak salah dengar bukan"ucap Agam.
"Ah... bukan itu"ucap Vivian.
"Vivi berisik tau apapun itu, kamu tidak akan sanggup membuat makanan untuk Agam" ucap Riki.
"Itu perut atau tempat berlian parah amat" ucap Vivian.
"Terserah kamu mau bilang apa? tapi aku alergi makan makanan buatan orang lain" ucap Agam.
"Sampai segitunya"ucap Vivian, tidak percaya.
Agam hanya menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir bertemu dengan gadis yang tidak tau sopan santun tersebut.
"Mommy, aku ke kamar dulu"ucap Agam.
"Istirahat lah" ucap Daisy.
"Aku ikut, mau lihat kamar A Agam" ujar Vivian.
"Tidak ada yang boleh naik ke lantai dua"ucap Yanwar yang tau tentang semua peraturan Mension tersebut.
"Mau ikut boleh tapi turun sambil jungkir balik" ucap Agam.
"Vivian"
"Maafkan Agam ya, Vivi, dia tidak suka privasi nya terganggu" ucap Rayan.
"Tidak masalah tuan" ucap Vivian.
"Kami punya peraturan kalian boleh menempati lantai satu, dan empat tapi tidak dua dan tiga karena itu tempat privasi kami" ucap Rayan.
"Ya tuan Rayan, maafkan keponakan saya" ucap pak RT.
"Jangan sungkan pak, panggil saja Rayan"ucap Rayan.
"Iya nak Rayan"kata pak RT lagi, sementara Riki kini sudah masuk kedalam kamar bersalin dengan Anya, yang membantu dia berbaring.
"Wow, kamar kak Riki luas banget dan ini perabotan nya komplit, ada kulkas juga di dalam nya" ucap gadis itu yang kini membuka kulkas dan mengambil apel premium milik Anya.
"Jangan!"teriak Riki.
"Kenapa? ini hanya buah apel di kebun kita juga banyak" ucap Vivian.
Sementara Anya, hanya menghela nafas, sambil mengelus pundak Riki.
"Kau tidak punya sopan santun, itu apel paling mahal milik kakak ipar mu" tegur Riki.
__ADS_1
Anya, hanya mengelus dada.
"Apel saja paling mahal cuma empat puluh ribu, apanya yang tidak mampu beli" ucap gadis itu sambil terus menggigit dan mengunyah apel tersebut.