Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa

Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa
#Hujan Air mata#


__ADS_3

"Pergilah, Ray, kamu pasti sudah terlambat, untuk pergi bekerja, maafkan aku tidak sempat membuatkan sarapan pagi untuk mu"ucap Daisy yang kini memegangi kepalanya, yang semakin terasa sakit.


"Tapi sayang, kamu disini sendirian, tidak apa? terlambat dan jangan pikirkan tentang aku, yang lebih penting saat ini adalah kamu"ucap Rayan.


"Terimakasih Ray, tapi tidak usah khawatir, aku akan baik-baik saja, pergilah, bukan kah, saat ini adalah waktunya mengurus pernikahan kalian"ucap Daisy, sambil mencoba untuk melepas rangkulan Rayan,di bahunya.


"Dy, maafkan aku"ucap Rayan.


"Untuk apa?"ucap Daisy.


"Untuk, semua rasa sakit ini"ucap Rayan.


"Tidak, jangan katakan itu, ini adalah hari bahagia untuk kalian, berdua dan tidak boleh ada hujan air mata, semoga pernikahan nya, langgeng sampai akhir hayat nanti, semoga Anya dan Agam, tidak kesepian lagi setelah hari-hari mereka, ditemani oleh Almira."ucap Daisy, sambil tersenyum dipaksakan.


Daisy, tidak melihat wajah Rayan, yang menahan marah, dan air mata, saat ini pria itu langsung pergi tanpa pamit, membawa koper dengan langkah cepat nya, tidak ada yang tau betapa, sakit nya hati keduanya.


Daisy, pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang nya, tubuhnya menggigil kedinginan, dia demam, sampai, ibu RT datang untuk membantu mereka seperti kegiatan kemarin.


Hari ini mereka akan membuat, berbagai macam kue kering, Daisy, dibantu oleh Riki, yang kini memberikan teh panas agar cepat pulih.


Daisy pun duduk, di bangku yang ada di teras sambil melihat mereka semua bekerja, membuat berbagai adonan kue kering, muda-mudi ibu-ibu, sedari hari pertama, Ambu, sakit dan meninggal dunia, mereka selalu ada, karena Ambu, selalu membantu mereka semua.


Daisy, pun tersenyum kala Yanwar datang membawa daun kelapa? muda yang dibentuk menyerupai bunga, dan memberikan nya pada, Daisy, sontak semua orang tertawa terbahak-bahak melihat Yanwar, berlutut di hadapan nya.


Daisy, bahkan menerimanya dengan senang hati.


"Terimakasih Yanwar, jika begitu, Carikan aku ikan yang besar-besar, aku ingin makan semur ikan, tapi bukan di Empang ku, di Empang mu ya"ucap Daisy.


"Teh, mau ikan, itu di Empang Abah banyak ambilkan saja Yanwar, sekalian, bawa ayam yang tadi di bawa mmng untuk buat ayam panggang, dan tth yang lain buat nasi liwet ya"ucap Daisy.


Daisy, langsung mengangguk, dia hendak pergi ke dapur tapi Riki, melarang Riki mengambil tempat bumbu milik Daisy, sekaligus dengan cobeknya, Riki bersila di hadapan Daisy, dia mengupas bawang merah bawang putih, lalu menambahkan kemiri dan cabai merah besar yang sudah di buang bijinya, satu jari kunyit, dan lada, setelah itu, dia mengulek nya, untuk bumbu semur ikan mas, ala Riki, Daisy yang melihat itu merasa kagum, ternyata pria itu, selalu bisa melakukan segala hal termasuk mengurus pekerjaan wanita.


Sementara itu di ibukota, Rayan, yang tadi sudah sampai di kantor, dia sibuk berkutat dengan pekerjaan nya, sesekali ia melirik ke arah handphone nya, dia ingin tau, apa? Daisy mengirimkan pesan pada nya, atau tidak, tapi sampai saat, Almira, datang pria itu tidak kunjung mendapatkan pesan apapun dari Daisy.


"Sayang, ayo kita lihat,jas yang akan kamu gunakan untuk pernikahan kita, sudah selesai, tadi pemilik butik, sudah menghubungi mommy gadis"ucap wanita yang kini duduk di tepi kursi Rayan.


"Aku sedang banyak pekerjaan, lagipula,kalau sudah selesai tinggal kirim ke sini atau kerumah"ucap Rayan, sedikit menegaskan kata-kata nya.


Rayan, tidak pernah mau untuk menikah dengan Almira, jika dia bisa menolak kehendak Rayendra, dan andaikan saja mommy nya, masih ada, mungkin, saat ini Daisy tidak akan sesulit ini.


Rayan pun memutuskan untuk pulang ke rumah nya, rasanya, dia ingin merilekskan otot tubuh nya, setelah perjalanan panjang ditambah dengan pikiran melayang memikirkan kondisi Daisy, saat ini.


Rayan, pun pulang bersama dengan Almira, yang sedari tadi terus berada di samping nya, mungkin jika itu Daisy, Rayan, akan sangat senang hati, tapi rasanya sangat sulit.


Rayan, langsung masuk ke dalam rumah, dia memberikan kunci mobil, pada sopir pribadi nya yang tengah menyambut kedatangan nya, untuk memasukkan mobil kedalam garansi.


"Yang, tunggu"ujar Almira.


"Aku mau langsung mandi, kau bisa melihat-lihat kolam ikan bersama dengan Anya dan Agam, bukan kah, sudah tugas mu untuk menemani mereka, seperti mommy nya mereka"ucap Rayan.


"Iya, tapi tidak di kolam ikan juga"ucap Almira, yang kini terlihat tak suka, saat melihat kedua anak kembar yang sudah bukan anak kecil lagi itu, tengah duduk termenung, memancing ikan, yang tidak mau memakan kailnya, karena, si bibi, pagi-pagi sekali, sudah memberikan makna pada ikan-ikan itu.

__ADS_1


Almira, masih mematung, hingga suara bariton Rayan, terdengar memecah keheningan.


"Tunggu apalagi, buat mereka senang, agar kamu bisa diterima oleh mereka"ucap Rayan.


"Tapi bagaimana caranya, mereka sudah bukan anak kecil yang bisa dibujuk dengan mudah"ucap Almira, mulai tidak tahan, dengan sikap yang mereka tunjukkan, meskipun dirinya, tidak setiap hari berada di rumah tersebut.


"Kamu, bisa memasak, untuk makan malam mereka, seperti yang sering mommy nya lakukan, bukan nya, kamu jago"ucap Rayan, mengingatkan akan kesombongan nya Almira.


"Ya, baiklah-baiklah, aku akan buatkan makan malam untuk kalian bertiga, itu soal mudah"ucap Almira, sambil pergi menuju dapur, sesampainya di sana, dia berteriak pada, para pelayan, untuk membantu dirinya menyiapkan bahan-bahan, dan tak jarang, Almira, bertanya pada, mereka, menu dan bumbu apa saja yang sering di buat oleh Daisy.


"Almira, terus memerintahkan ini dan itu, sesuai, arahan yang ada di buku, yang dibuat oleh Daisy, dia pikir, Rayan tidak tau tentang semua itu, saat ini Rayan, melihat gerak-gerik nya di ponsel, tidak seperti Daisy, yang selalu mengerjakan semua itu, sendiri, dan jika pun, ada yang membantu, Daisy, akan memberikan sedikit pekerjaan, yaitu saat, dia menghidangkan makanan tersebut.


Tapi Almira, semua yang mengerjakan adalah pembantu, dan dirinya, hanya tinggal tunjuk, bahkan salah satu dari mereka, tidak suka dengan sikap otoriter, dari Almira, sampai Rayan mematikan ponsel nya dan mendengus pelan, Rayan pun menyimpan handphone nya, di samping bathtub.


Rayan pun menyudahi, acara berendam nya, karena, sudah tidak bersemangat lagi.


Setelah selesai membersihkan tubuh nya dari sisa sabun, Rayan pun kembali ke dalam kamar nya, saat hendak, memasuki, walk-in closed, Rayan melihat, gelang, yang pernah dia berikan kepada Daisy, dibawa kolong meja nakas, tepat disamping ranjang nya.


..........................


"Dy, Bahkan semua barang-barang mu pun, terus mengingatkan rasa rindu ku ini padamu"lirih Rayan.


"Sayang, aku sudah selesai, masak, beruntung, tidak membekas tadi aku hampir kecipratan minyak panas"ucap nya, keceplosan.


"Ya, hampir kan belum tentu iya, Almira,ya gak bakalan berbekas, karena tidak jadi kecipratan minyak"ucap Rayan, yang langsung masuk kedalam walk-in closed, pria itu hendak meraih, baju, tapi tiba-tiba Almira, memeluk nya, dari belakang hingga Rayan, mematung dan terkejut, dia langsung melepas kasar tangan Almira, saat itu juga.


"Apa-apaan kau Almira, apa? kau tidak punya rasa malu sedikit pun, kenapa? memeluk pria, yang bahkan belum resmi menjadi suami mu, atau jangan-jangan kau sering melakukan itu pada pria lain"ucap Rayan, dengan nada sinis.


Sementara Rayan, pria itu menghela nafas kasar.


"Dy, aku sendiri tidak yakin jika wanita itu, akan benar-benar menjadi istri ku, karena aku tidak akan pernah tahan hidup dengan nya"ucap Rayan lirih.


Daisy, sendiri saat ini tengah berada di dapur, setelah membuat makan malam untuk dirinya sendiri, sebenarnya hanya menghangatkan sisa ikan yang tadi pagi Riki, masak.


Besok, adalah seratus hari nya, Ambu nya Daisy, meninggal, gadis itu, sudah menyiapkan banyak kudapan lezat, untuk mereka yang datang mendoakan sang nenek, nantinya, disana juga, akan berbagi nasi kotak dengan daging, sapi yang dijadikan akikah untuk orang yang sudah meninggal, yaitu Ambu, Daisy, besok pagi-pagi sekali, akan sangat sibuk, dengan beberapa warga, dan muda-mudi yang membantu, berjalannya acara tersebut.


Saat, akan memasukkan, sendok kedalam mulutnya, tiba-tiba beberapa, anak muda datang, membawa, beberapa koper dan juga berbagai macam sembako, dari mobil box, yang kini terparkir tak jauh dari rumah Daisy.


Terlihat, dua orang muda-mudi tersenyum manis pada sang mommy.


"Mommy Dy!... hiks hiks hiks hiks"Anya, dan Agam, berlari memeluk Daisy, dengan sangat mereka rindukan, meskipun dua hari yang lalu mereka masih sempat bertemu, saat ini terjadi hujan air mata, karena, keduanya.


"Mom, kami kelaparan, hiks hiks hiks, bahkan ikan-ikan itu, menolak untuk makan kail pancing kita, mereka juga tidak bisa memasak seperti mommy, bahkan jablay nakal itu, seperti Nyonya di rumah kita, memerintah semua pelayan di rumah kita"ucap Agam dan Anya.


"Kalian, untuk apa? bawa semua itu, disini juga masih banyak bahan makanan"ucap Daisy.


"Itu, untuk acara besok mommy, barter sama masakan mommy"ucap Anya, Daisy hanya menggelengkan kepalanya, dan membawa mereka semua ke dapur.


Sesampainya di dapur, Daisy, meminta mereka, duduk di kursi depan meja makan tersebut, dia langsung berjalan mengambil nasi, dan semur ikan mas, yang masih tersisa banyak, dan dia pun menyuguhkan itu, dihadapan keduanya yang benar-benar terlihat seperti, orang yang sedang kelaparan, Daisy, pun sempat menitikkan air mata nya, bagaimana bisa, mereka bisa kelaparan, hanya karena tidak ada yang bisa memasak seenak masakan sang mommy, mungkinkah benar yang diucapkan oleh Rayan, mereka berdua benar-benar belum bisa bersikap dewasa, untuk hal yang berkaitan dengan orang tuanya.


"Sudah berapa? hari kalian tidak makan"ucap Daisy.

__ADS_1


"Sejak kembali Mom, hanya makan, roti dan susu"ucap keduanya kompak.


Daisy pun menangis sesenggukan sambil memeluk keduanya.


"Kalian bisa makan sepuasnya, di sini"ucap Daisy.


"Tentu, mom, kami tidak akan kembali, jika mommy tidak kembali bersama kami"ucap Agam.


"Mommy, tidak mungkin kembali, sayang kalian, harus belajar mandiri"ucap Daisy.


"Tidak mom, biarkan saja kami kelaparan, mommy juga tidak usah peduli, biarkan saja kami mati kelaparan"ucap Anya.


"Tapi, sebentar lagi, akan ada Almira yang akan, mengurus kalian berdua"ucap Daisy.


"Jangankan, jablay nakal itu, koki profesional pun, tidak ada yang menyamai masakan mommy Dy"ucap Agam dan Anya.


"Ya sudah kalian, sebaiknya makan dulu, setelah itu, kita bicarakan yang lainnya lagi"ucap Daisy.


Mereka pun akhirnya makan malam bersama, sebenarnya, sudah terlewat pukul sepuluh malam.


Saat mereka sedang makan, tiba-tiba Handpone milik Daisy berbunyi nyaring, gadis itu langsung beranjak pergi dan meminta Agam, dan Anya, melanjutkan makan malam nya.


📱"Ada apa? tuan"ucap Daisy sopan.


📱"Hey, kau apa? yang kamu lakukan, pada kedua adik ipar ku, apa... kau juga mengguna-gunai mereka berdua, hingga bisa langsung pergi, saat ingat kau"ucap Almira, tanpa jeda.


Daisy, melihat Rayan, hanya diam membisu,di samping wanita itu, seakan semua telah diwakili oleh Almira.


"Kenapa? tidak tanya saja pada mereka berdua, apa? aku yang menyuruhnya kesini, atau mereka yang hadir dengan sukarela, ingat ya, tuan dan nyonya, saya tidak pernah, punya pikiran, untuk melakukan hal, yang tidak seharusnya saya lakukan, saya masih bisa berpikir jernih dan agama saya pun melarang perbuatan musyrik, begini saja, kalian bisa menjemputnya, jika kalian, merasa tidak suka, jika keduanya ada di sini.


"Dy, jangan dengarkan dia, dia hanya sedang cemburu buta"ucap Rayan tegas.


"Tidak ada yang harus, jadi bahan kecemburuan, biar bagaimanapun juga, tidak ada hubungan apapun, diantara kita, aku hanya kasihan, melihat mereka berdua yang masih sangat membutuhkan sosok ibu di keseharian mereka, dan jika, nona, mampu, berikan itu, agar anda bisa tenang, karena tidak akan ada lagi alasan untuk mereka mencari saya"ujar Daisy yang langsung mematikan sambungan video call, tersebut.


"Tolong, jangan jadikan mommy, alasan untuk kalian, pergi, Kakak mu, kalian tidak suka dengan ku, dia bilang ada Almira, yang akan menggantikan tugas mommy, dalam mengurus kalian berdua"ucap Daisy.


"Tidak mungkin mom, kakak, hanya bilang harus hati-hati dijalan, tidak bilang seperti itu juga, pasti akal-akalan wanita licik itu"ucap Anya.


"Mereka, adalah suami istri, sudah pasti mereka akan senantiasa kompak, dan kalian, harus menuruti keinginan mereka kelak"ucap Daisy.


"My, kami akan kelaparan"ujar Agam.


"Tidak Agam, kalian, hanya rindu dengan mommy, kalian bukan dengan ku, atau masakan ku, yang biasa saja, bahkan orang lain pun, akan dengan sangat mudah membuat itu"ucap Daisy.


"Apa? mommy, tidak mau kami disini"ucap Anya.


"Jangan salah paham, Anya, mommy senang kalian semua berada di sini, tapi tidak baik mengabaikan dia yang lebih berhak atas kalian berdua"jawab Daisy.


"Mom, aku mohon, jangan usir kami, kami tidak punya siapa-siapa lagi, sementara kak, Rayan memiliki semua nya, dia punya Daddy dan mommy lain, sementara kami, hanya sebatang kara"ucap Agam, yang membuat Daisy kembali menangis dan memeluk mereka.


Daisy, sendiri kini tengah duduk santai di

__ADS_1


__ADS_2