Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa

Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa
#Belum bisa kembali#


__ADS_3

Satu Minggu sudah berlalu Daisy terus mendapatkan telpon, dari Anya, wanita itu memiliki banyak sekali keluhan, saat ini karena, Daisy belum kembali.


Daisy, bukan tidak ingin kembali tapi baru sepuluh hari Ambu, meninggal rasanya sedikit sulit untuk pergi meninggalkan rumah tercinta, dengan segala kenangan yang ada.


Daisy, bahkan hanya bisa menghela nafas, saat Anya, menangis karena gadis itu kelaparan di tengah malam dia, tidak ingin makan masakan orang lain.


"Ya Allah, bagaimana ini, aku tidak mungkin meninggalkan rumah ini, sementara Ambu, masih belum lama ini pergi"ucap Daisy.


Hingga empat puluh hari berlalu, gadis itu masih betah tinggal di rumah, masa kecil nya itu, dan handpone Daisy, hilang tanpa jejak saat wanita itu tengah berada di pasar tradisional.


Rayan yang merasa khawatir, mencoba mencari tahu lewat sopir yang sudah mengetahui rumah Daisy.


Sampai, sopir utusan Rayan tiba, tepat disaat beberapa orang warga tengah, mengamuk di hadapan rumah Daisy, karena mantan kekasih Daisy, PANDI, kabur dihari pernikahan nya bersama dengan Ida, kedua orang tua wanita itu, beserta calon besan nya, mengamuk menuduh Daisy, yang telah menghasut pria itu hingga dia pergi, padahal Daisy tidak tahu menahu tentang itu.


Ketua RT, yang datang mengamankan Daisy kini tengah bersitegang dengan keempat orang warga dari dari RT, lain yang sengaja ingin melukai Daisy.


"Saya tidak punya urusan dengan kalian,anak kalian batal menikah semua tidak ada kaitannya dengan saya"ucap Daisy, membela diri.


"Jelas ada kaitannya, kau sudah mencelakai putri ku, hingga dia kehilangan kegadisan nya, tidak hanya itu kau, juga memfitnah, putri ku adalah seorang kupu-kupu malam, karena alasan itulah PANDI, kabur dari pernikahan nya, sekarang juga saya tuntut kamu di pengadilan"teriak wanita itu.


"Tunggu, ada ini"ucap seseorang dari belakang, pria yang menggunakan jas serba hitam itu, menyela pembicaraan mereka.


"Anda siapa?"tanya ayah Ida.


"Saya, sopir, dari suami nona Daisy, saya diperintahkan untuk menjemput nya"ucap pak Edi, supir pribadi Rayan.


"Hah, jadi wanita ****** pembawa sial ini punya suami kaya rupanya, bilang pada nya, jangan mau berhubungan dengan wanita licik, mantan kupu-kupu malam ini"teriak ibu Ida.


"Tenang, Bu, tenang itu semua belum terbukti, kita bisa bicara baik-baik, sekarang tolong hubungi majikan anda, jika benar Daisy memang sudah menikah"ucap ketua RT tersebut.


"Daisy, kamu punya bukti pernikahan mu"tanya pak RT.


Daisy pun hanya menggeleng kan kepala.


"Tuh kan apa? saya bilang jika wanita itu benar-benar kupu-kupu malam" ucap orang tua PANDI.


📱"Siapa? yang berani bilang bahwa istri ku seorang kupu-kupu malam"ucap Rayan dibalik panggilan video.


📱"Tuan, maaf mereka tidak bisa di biarkan, dia telah menghina Nyonya"ucap pak Edi berakting, seolah dia serius.


📱"Saya akan segera mengirimkan pengacara untuk menuntut kalian semua"ucap Rayan.


Sontak semua orang terdiam ketakutan saat melihat Rayan, yang tengah duduk di kursi kebesaran nya mengamuk, pria tampan, yang wajahnya hampir mirip dengan Daisy itu, benar-benar murka.


"Bagaimana ini pak"ucap keduanya kompak.


"Kalian tunggu saja pengacara tuan datang"ucap Edi.


"Tuan tolong jangan sampai ini menjadi urusan pidana, biarkan kami bermusyawarah dulu"ucap pak RT mengambil jalan tengah.


"Tidak bisa pak mereka bahkan hampir melukai istri tuan saya"ucap Edi lagi, sementara Daisy hanya terdiam.


"Bagaimana jika kita bicara dulu"ucap kedua orang tua PANDI, mereka sekarang terlihat ketakutan.


"Kalian harus minta maaf, pada nyonya muda, jika tidak tuan tidak akan mengampuni kalian yang bermulut kotor itu"ucap Edi.


"Tidak perlu, kalian akan mengetahui mana yang salah, dan mana yang benar,suatu saat nanti, saya tidak akan membuat pembelaan, biarlah semua tuhan, yang akan menunjukkan semua kebenaran itu, dan, satu lagi jika kalian tidak ingin berakhir menyedihkan, sebaiknya jaga anak kalian semua dengan baik, dan jangan pernah menyalahkan orang lain untuk sesuatu yang belum pasti, saya lelah, dan saya juga ada tamu, jika pak RT, ingin menjadi saksi obrolan kami silahkan tunggu disini bersama dengan Bu RT"ucap Daisy.


"Tidak Daisy, saya percaya pada kamu, karena saya mengenal kalian bukan baru kali ini, tapi sudah dari sejak ibumu masih kecil"ucap ketua RT, yang kini berusia lima puluh lima tahun itu.


"Baiklah pak,tamu saya datang dari ibukota yang jauh saya harus masak dulu"ucap Daisy.


"Silahkan Daisy"ucap pak RT dan ibu RT, setelah warga tadi bubar.


Pak Edi pun duduk di kursi depan teras rumah, dia sedikit merebahkan diri mungkin karena terlalu lama diperjalanan, hingga pria berusia empat puluh tahun itu, terlihat sangat lelah.


"Pak diminum dulu"ucap Daisy yang menyodorkan segelas kopi dan segelas air putih, tersebut


"Nona, maksud kedatangan saya kesini tuan muda, khawatir dengan keadaan anda, dan Handpone anda tidak bisa dihubungi, dan firasat tuan muda benar bahwa anda, dalam bahaya"ucap pak Edi.


"Handphone, saya hilang, saat saya sedang di pasar tradisional, pak sudah lebih dari dua Minggu, saya tidak menggunakan handphone"jelas Daisy.

__ADS_1


"Tuan bilang, anda harus ikut saya, biar nanti saat seratus hari, meninggal nya, nenek anda kalian bisa kembali ke rumah ini"ucap Edi.


"Baiklah, jika begitu tolong tunggu disini saya harus menitipkan rumah dan ternak pada seseorang"ucap Daisy.


Daisy pun pergi ke sebuah rumah, dimana seorang wanita berusia, sekitar enam puluh tahun itu, adalah sahabat Dalit, Ambu nya, Daisy akan menitipkan ternak peliharaan nya ikan dan ayam , juga rumah nya pada wanita itu.


Setelah selesai bersiap dia pun berangkat menuju rumah Rayan, sepanjang perjalanan pak Edi, sibuk mengobrol tentang rencana pertunangan Rayan, dengan gadis bernama Almira, anak dari tuan Tedy Atmaja.


Daisy hanya menanggapi hal itu dengan senyuman sesekali ia akan mengangguk pelan, gadis itu tidak tau harus bicara apa? karena dia tidak mengenal wanita itu, hanya pernah bertemu satu kali saja saat ulang tahun Anya dan Agam.


Daisy sendiri saat ini, bahkan memejamkan mata karena sangat mengantuk hingga tiba di rumah Rayan, tepat pukul sebelas malam, Daisy, pun masuk bersama pak Edi, yang membawa kan koper milik nya.


Sesampainya di dalam, Daisy, disuguhi pemandangan yang membuat hati nya terasa ngilu, wanita itu ternyata tengah duduk berdua bersama dengan Rayan, yang kini langsung berdiri menyambut kedatangan nya.


"Dy, kamu sudah kembali, owh syukur lah rasanya aku sudah bertahun-tahun lamanya menderita karena rengekan kedua anak mu itu"ucap Rayan yang memeluk Daisy, entah sengaja atau tidak tapi Daisy hanya nyengir kuda.


"Tuan, dimana mereka"tanya Daisy, sambil melepaskan diri.


"Anya.... Agam... lihat siapa? yang datang"panggil Rayan, sambil mendongak ke lantai atas.


"kakak, berisik tau aku lagi belajar"ucap Anya di susul oleh Agam .


"Lihat siapa? yang datang"ucap Rayan yang melihat kearah Daisy.


"Mommy!!"jerit Anya yang langsung turun bersama Agam berlarian keduanya memeluk Daisy, dengan sangat erat.


"Mommy kemana saja kami rindu"ucap Anya dan Agam, bergantian.


"Mommy, jangan pergi lagi"ucap Daisy.


"Mom, bawa ikan gak, aku mau dimasakin ikan lagi"ucap Agam.


"Kamu ini bocah, mommy kalian baru datang"ucap Rayan.


Sementara Almira, sedari tadi dia hanya diam menatap tak suka pada, Daisy.


"Kalau mau ikan kalian buat Empang di halaman belakang saja lagipula itu luas"ucap Daisy.


"Agam, beli saja jika pengen makan ikan, kakak juga bisa masak"ucap Almira.


"Tidak ada masakan seenak masakan mommy, di lidah kami, iyakan mom" ucap Agam minta persetujuan.


"Tuan muda, jangan berlebihan, selama ini kalian makan masakan orang lain"jawab Daisy.


"Terpaksa mommy..."jawab Anya.


"Pokoknya besok cari tukang buat bikin kolam ikan"ucap, Anya.


"Baiklah Sayang, sekarang kalian biarkan, mommy Dy, istirahat, mungkin dia sangat lelah setelah perjalanan jauh"ucap Rayan.


"Tunggu, besok pagi kita akan beraksi ok"ucap Daisy, yang kini berjalan menyeret koper nya, kedalam kamar nya.


"Dy, Ray, dia itu namanya Daisy bukan"ujar Almira, tak terima.


"Iya memang nya kenapa heumm, dia adalah ibu bagi Anya dan Agam, dia yang bisa menjinakkan keduanya, dia tau selera mereka berdua, dia juga selalu memilih apapun yang terbaik untuk kita bertiga"jelas Rayan.


"Semua pelayan juga gitu"ucap Almira.


"Dia bukan pelayan, Mir, dia ibu nya Anya dan Agam"ucap Rayan tegas.


"Tapi dia tugas nya melayani kalian bukan"ucap Almira.


"Itu bukan tugas nya, tapi dia merasa senang melakukan semua itu, dia wanita yang baik"ucap Rayan.


"Giliran dia kelihatan nya, kamu puji-puji" ucap wanita itu yang kini berjalan meninggalkan Daisy.


"Mir!"teriak Rayan yang memanggil Almira karena wanita itu ingin pergi dalam keadaan emosi.


"Apa, aku pulang saja daripada mendengarkan mu memuji dirinya, panas tau rasanya kupingku"ucap Almira, bertepatan saat Daisy, keluar kamar.


"Nona, tidak perlu marah, tuan memang kadang berlebihan, tidak masalah saya dibilang pelayan, ya karena memang tugas saya melayani kebutuhan ketiga nya, bahkan jika nona mau saya melayani anda juga, saya bersedia"ucap, Daisy.

__ADS_1


"Dy, jangan diambil hati berapa kali aku tegaskan kamu bukan pelayan"ucap Rayan.


"Tidak apa-apa tuan, di sebut pelayan juga, karena itu bukan aib, yang harus ditakuti, saya senang bisa melayani anda"ucap Daisy.


Daisy pun berlalu meninggalkan mereka berdua yang kini menatap kepergian nya.


Hingga keesokan paginya nya, Daisy melakukan rutinitas seperti biasanya, dia tengah memasak untuk sarapan pagi untuk mereka berlima, karena ternyata Almira menginap di rumah besar itu.


Daisy, tengah berkutat dengan peralatan masak, saat beberapa orang pelayan tengah membersihkan seluruh bagian rumah besar itu, kedua wanita yang pernah membantu Daisy saat di kampung mereka ikut merasa senang saat Daisy, kembali, itu artinya mereka akan terbebas dari omelan kedua tuan rumah mereka.


"Syukurlah nona Daisy sudah kembali"ucap Bening dan Juju,


"Apa? kalian juga merindukan saya"ucap Daisy.


"Heumm, selain itu kami, juga terhindar dari omelan mereka setiap hari nya"ucap BI Bening dan Bi Juju.


"Heumm, sebaiknya sekarang bibi berdua pergi siapkan kopi dan camilan untuk mereka yang akan membuat kolam ikan"ucap Daisy.


"Kolam ikan"ucap keduanya kaget'.


"Tentu saja" ucap Daisy.


"heumm, bisa makan pepes ikan buatan nona pasti kita, akan makan banyak terus ya ucap keduanya.


"Iya nanti jika ada saya akan buat untuk kalian berdua"ucap Daisy yang kini menata sarapan pagi di atas meja makan, dengan berbagai menu yang Daisy masak, saat ini karena Daisy ingin menebus rasa bersalah nya karena telah meninggalkan mereka, yang terlihat sangat kacau selera makan nya saat dia tinggal.


Setelah selesai menata makan tersebut akhirnya Daisy menyiapkan keperluan mereka bertiga, mulai dari air untuk mandi dan juga baju, terkadang juga membangunkan nya.


Agam sudah bangun, Anya juga, tapi pas masuk ke dalam kamar Rayan dan pria itu terlihat masih tertidur pulas.


"Tuan, bangun baju kerja nya sudah saya siapkan"ucap Daisy.


"Dy, maafkan dia, soal semalam"ucap Rayan.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan kok, tuan, saya memang pelayan"ucap Daisy sambil tersenyum.


"Dy, kamu itu sudah seperti keluarga ku, ya kita adalah keluarga, satu lagi Dy, mungkin dia akan tinggal di sini, setelah kami bertunangan, jadi aku harap kamu bisa memaklumi nya"ucap Rayan.


"Tuan, tenang saja, semua akan baik-baik saja, apalagi dia calon istri tuan, saya akan menghormati dia, seperti saya menghormati anda" ucap Daisy.


"Dy, tidak bisa kah kau mengabulkan satu permintaan ku, yang satu itu"ucap Rayan sambil menatap wajah cantik yang terlihat sudah sangat segar itu.


"Yang mana tuan?"tanya Daisy.


"Panggil aku Rayan, tidak ada kata tuan, dan jangan berbicara formal pada ku, lagi Dy, aku mohon"ucap Rayan.


Tapi Daisy menggeleng kan kepala nya, saat itu juga.


"Dy,"Rayan tiba-tiba mendekat ke arah Daisy, yang kini sedikit mundur kebelakang.


"Dy, kamu itu ternyata sangat keras kepala, kenapa? Dy, kamu bukan pelayan disini, kamu itu sudah aku anggap,,,, ahhh sudah lah, pokonya kamu harus panggil aku Rayan,titik"ucap Rayan.


"Tidak bisa tuan"ucap Daisy.


"Kamu harus di hukum Dy"ucap nya.


"Hukum lah, asal tuan tak lagi meminta itu pada saya"ujar Daisy.


Cuph...


Sontak Daisy membulatkan matanya.


Plak...


Satu tamparan keras mendarat di pipi Rayan, tanpa bicara Daisy, pergi.


"Dy, maafkan aku, tapi aku jatuh cinta padamu Dy" gumam nya lirih.


Sementara itu Daisy berlari lalu masuk kedalam kamar, nya Daisy menitikkan air mata, dia tidak ingin itu terjadi, jika semua hanya akan membawa luka lebih baik tidak usah kembali.


Daisy pun memasukkan sebagian barang nya lalu, menyeret koper nya, tapi Rayan yang sudah selesai mandi, dia langsung merebut koper, yang dipegang oleh Daisy, Rayan menyeretnya kembali ke kamar Daisy.

__ADS_1


"Tuan, berikan koper itu pada saya"


__ADS_2