Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa

Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa
#Kesabaran di uji"


__ADS_3

Saat ini Anya hanya bisa diam, karena melihat tingkat Vivian yang semakin menjadi. ia tidak bisa protes karena tidak mungkin itu dilakukan mengingat Ricky adalah keluarganya, Anya tidak mau menyinggung hati Ricky hanya karena masalah sepele, meskipun kelakuan Vivian sudah kelewat batas.


Anya, langsung keluar dari kamar tersebut karena dia tidak ingin terjadi keributan biarlah pipian berlaku seenak hati untuk saat ini karena dia tidak ingin Ricky merasa terbebani dengan tingkah laku saudara sepupunya itu.


Sesampainya di kamar pribadinya Anya langsung berbaring di ranjang empuk miliknya.


Sampai pagi menjelang gadis itu belum juga turun untuk sarapan pagi mungkin karena semalam tidak bisa tidur nyenyak, karena kepikiran tentang kejadian semalam atas perbuatan Vivian.


Sementara Vivian sendiri kini tengah asik menikmati sarapan dengan keluarga besar, termasuk Agam, yang sedari semalam sebal melihat tingkah laku Vivian. kini dia terlihat mendelikkan matanya terhadap gadis itu.


Agam, langsung menyelesaikan sarapan paginya karena sudah tidak tahan melihat tingkah laku gadis itu yang sungguh bikin gemas tangan Agam, ingin menarik nya dan melemparnya dari lantai atas.


Kini Agam, langsung berangkat menuju kantor. karena tak mau lama-lama di rumah, buat kepalanya pusing saja, saat melihat gadis tak tahu sopan santun itu berkeliaran di mention hingga memberanikan diri naik ke lantai 2 dan 3 yang jelas-jelas dilarang oleh Rayan dan mereka bertiga.


Sampai sarapan pagi berakhir Vivian, masih merajalela kini dia meminta Rayan, untuk mengantarnya ke kantor Agam, sementara Rayan sendiri pun jelas-jelas menolaknya. karena tidak ingin membuat Agam marah lebih lebih karena adiknya tidak suka diganggu oleh siapapun kecuali, saudara mau keluarganya sendiri dan orang yang ia cintai.


Sementara itu Agam, kini telah menghubungi Winar.


Winar sudah kembali dari rumah sakit, kini dia tengah bekerja di sebuah toko perhiasan, yang baru ia dapatkan dari seorang teman.


^^^" Winar kamu sedang apa?"Agam.^^^


"Sedang bekerja kak" Winar.


^^^"Bisa kita makan siang bersama?"Agam.^^^


"Baiklah, tapi aku tidak janji akan datang tepat waktu, karena pekerjaan ku masih baru"Winar.


^^^"Aku bisa memberikan mu pekerjaan jika kamu mau" Agam.^^^


"Aku tidak mau merepotkan kak Agam terus"Winar.


Panggilan pun berakhir kini Agam melanjutkan pekerjaannya yang sempat ter jeda karena panggilan hati nya.


Agam, bergidik ngeri saat membayangkan jika Vivian berjodoh dengan nya, mungkin kini tengah merajalela menguasai semua nya termasuk dirinya.


Agam, tidak akan bisa bernafas lega.


Sampai akhirnya dia selesai bekerja dia menelpon Rayan, meminta dikirim makanan ke rumah lama dan meminta Rayan, untuk mencegah Vivian naik ke kamar atas.


Agam, tidak akan pulang ke mention karena Vivian ada di sana, hingga Riki menyadari hal itu, dia langsung berbicara pada Anya, yang kini baru datang bersama dengan dirinya dari kantor.


"Yang, sebaiknya AA, antar Vivian pulang bersama dengan ayah dan ibu, agar dia tidak semakin membuat kegaduhan di mention ini"Ricky .


"A...ibu dan ayah sedang berlibur disini biarkan saja, kasihan jika harus buru-buru, lagipula aku masih kangen dengan mereka, jika Vivian bikin ulah anggap saja ada anak kecil disini"ucap Anya, mencoba untuk bersikap biasa bisa agar calon suaminya itu tidak merasa bersalah.


Agam sudah tiba di rumah besar itu, dia langsung masuk kedalam kamar nya, tapi sebelum itu dia berpesan bahwa akan ada yang mengantar makanan untuk nya.


Agam melucuti pakaiannya dan langsung masuk kedalam kamar mandi, sampai dia selesai berendam dia masih memikirkan kekacauan yang terjadi di mention.


Agam, kembali bergidik ngeri saat membayangkan wanita itu, benar-benar merajalela saat ini.


Dia langsung meraih ponselnya, dan menghubungi Winar.


Hanya wanita itu yang bisa mengobati rasa gundah dalam dirinya.


^^^"Winar"Agam.^^^


"Kak Agam" winar.

__ADS_1


^^^"Bisa minta tolong temui aku di rumah, atau aku jemput kamu sekarang juga"Agam.^^^


"Tapi kak, aku besok kerja"Winar.


"Aku akan memberikan mu perkejaan sebagai asisten pribadi ku"ucap Agam.


"Baiklah silahkan datang kesini, tapi bukan sekarang melainkan besok, sekarang aku ngantuk"Winar.


"Ya baiklah"Agam.


Agam, pun mengakhiri sambungan telepon tersebut.


Sementara itu di mention, Anya kini tengah duduk di samping Ricky yang sedari tadi terdiam karena merasa malu dengan tingkah laku Vivian.


"Yang... kamu kenapa? sedari tadi diam terus" ucap Anya.


"Tidak ada apa-apa Yang"ucap Ricky.


"Tidak mungkin, tidak biasanya AA diam seperti ini" ucap Anya.


"Yang beneran AA, tidak apa-apa, hanya sedang lelah saja"ucap Ricky.


"Baiklah jika AA lelah sebaiknya AA berhenti bekerja saja tidak apa? Anya bisa menghandle perusahaan sendirian kok, lagipula saat ini tidak ada yang terlalu serius" ujar Anya yang membuat Ricky semakin merasa bersalah.


"Yang bukan itu"


"Lalu apa? jika AA lelah untuk bantu Anya di perusahaan tidak apa-apa Anya, bisa minta asisten Agam bergabung seperti dulu, tapi harus nya AA bilang lebih awal"ucapnya sambil pergi.


"Yang... sumpah demi apapun AA tidak pernah punya pikiran seperti itu,AA nyaman bekerja di kantor, yang buat aa lelah adalah kelakuan Vivi, AA merasa malu dengan kalian semua"ucap Ricky.


"A, disini tidak ada yang mempermasalahkan hal itu, lagipula itu bukan salah AA, semua hanya kebetulan, dan soal Vivian memasuki lantai yang tidak seharusnya itu dimaafkan.


Jadi tidak ada alasan lagi untuk kamu mendiamkan aku"ujar Anya.


Ricky, langsung memeluk Anya, sementara Anya berusaha melepaskan pelukan Riki.


"Yang please, jangan begini AA minta maaf"ucap Riki.


"AA, nggak sayang Anya"ucap Anya.


"AA...sayang kamu Yang... jangan begini oke atau AA pulang jika kamu seperti ini, AA malu tinggal di sini jika kamu marah"ucap Ricky.


Anya terdiam mematung di tempatnya saat Ricky bilang begitu.


"Aku tulus mengajak AA, tinggal di sini karena selain Anya butuh asisten pribadi, AA juga calon suami Anya. dan sebentar lagi kita akan menikah" ucap Anya.


"AA tau Yang tapi, kelakuan Vivian sudah kelewat batas"ucap Riki.


"Aku sudah memaafkan dia karena aku menghargai AA, sebagai calon suami Anya"ucap Anya.


Riki tidak banyak kata lagi dia langsung mencium bibir Anya dengan lembut saat itu juga, Anya pun memejamkan mata.


Keduanya larut dalam suasana romantis tersebut, Anya merasa beban berat yang selama beberapa hari ini lepas begitu saja, begitu juga dengan Ricky.


"Anya, kamu dimana!"teriak Vivian, yang kini terlihat mondar mandir seperti setrikaan, gadis itu bahkan tidak menggunakan embel-embel kakak atau apa? padahal usia mereka jauh berbeda.


.................


Daisy, yang melihat itu membuat darah nya bergolak bagaimana bisa ada manusia tidak bandel melebihi kelakuan manusia pada umumnya.

__ADS_1


"Hi... Vivian bisa tidak kamu sopan sedikit putri ku jauh lebih tua dari mu, setidaknya kamu bisa panggil dia teteh atau kakak, yang sopan jika manggil orang"ucap Daisy.


"Halah sopan pada wanita perebut pacar orang, asal kamu tau dia sudah merebut A Ricky, dari bintang desa, teteh Ida yang kamu jual"ucap Vivian.


"Vivian! kamu jangan kurang ajar terhadap istriku, beberapa hari ini aku diam bukan berarti aku mengijinkan mu berbuat seenaknya di mention ini, tapi demi menghargai keluarga calon suami adikku, tapi sekarang kau sudah kelewat batas, sekarang juga bereskan barang-barang mu dan pergi dari rumah ini, jika perlu putus kan persaudaraan kalian, aku tidak akan pernah mentolerir siapapun yang berani menghina keluarga ku! tegas Rayan yang kini membawa Daisy kedalam dekapannya.


"Alah sama-sama dari kampung juga belagu lagaknya kaya orang kaya, padahal dia hanya numpang tenar dari mu mas Rayan" ucap Vivian, yang tidak tau malu.


"Dia memegang kaya sedari lahir, apa? kau tidak melihat pria yang kemarin mobilnya kau tumpangi dia adalah ayah dari istri ku. dia adalah konglomerat yang memiliki perusahaan di dua negara"ucap Rayan.


"Tapi dia tetap saja wanita kampung" ucap Vivian.


Plak....


Satu tamparan keras mendarat di pipi Vivian, dari tangan pak RT, sebagai paman nya Vivian, harga diri pak RT sudah tercoreng.


"Paman!"teriak Vivian.


Plak...


Pipi sebelah nya lagi mendapatkan bagian.


"Kenapa? paman tega lakukan ini pada Vivi, almarhum ibu pasti sedih karena paman lebih membela orang lain ketimbang aku... sebagai keponakan paman"ucap Vivian, yang selalu menjadikan almarhum sang ibu sebagai perisai diri sendiri.


"Justru adikku akan sedih dan meminta tuhan untuk mengembalikan dia ke dunia agar dia bisa mengajarkan sopan santun, agar kau tidak bertindak kurang ajar seperti ini!"teriak pak Rt, yang kini sudah habis kesabaran karena kelakuan keponakan nya itu.


Saat itu juga Vivian, ditarik oleh pak RT menuju mobilnya dia sudah bersiap sedari tadi untuk kembali ke desa karena malu dengan calon besan nya, sementara Riki dan Anya membujuk kedua orang tua Ricky tersebut agar tidak buru-buru pulang karena Ricky, ingin menikah dengan Anya, esok pagi nya.


"Baiklah sayang ibu dan bapak tidak akan pergi, biar Vivian pulang diantar oleh sopir"ucap Bu Mira.


"Semua orang pun setuju, dan pada akhirnya wanita itu pun pulang diantar sopir hingga kampung halaman nya.


Sementara itu, kedua orang tua Riki, dengan rasa bersalah nya meminta maaf kepada Rayan sekeluarga, meskipun Rayan tidak pernah melimpahkan kesalahan orang lain pada salah satu diantara mereka, Rayan memaafkan semua nya.


Sementara itu untuk pernikahan adiknya itu, Rayan langsung menelpon pihak Wedding organizer yang sudah di pesan sejak lama dan mereka harus siap, untuk melakukan pekerjaannya kapan pun.


Setelah itu ia menelpon manager hotel untuk menyiapkan semua yang sudah di diskusikan sebelumnya, sementara Rayan sibuk menelpon kesana-kemari pak RT dan ibu RT, memberikan sejumlah tabungan milik Riki, pada Daisy.


Meskipun uang itu hanya cukup untuk, membayar seperempat katering makanan tersebut tapi Daisy, menghargai pemberian pihak laki-laki karena biar bagaimanapun, Riki sudah bekerja keras.


Hari ini mereka sama-sama' di pingit tidak ada yang boleh bertemu hingga esok saat ijab qobul di gelar.


Sementara itu kini Rayan tengah mengobrol dengan pak RT dan ibu.


Anya, sendiri dibawa oleh Daisy ke lantai empat untuk melakukan perawatan.


Sampai di sana pihak salon kecantikan sudah datang begitu juga dengan Riki Yanuar melakukan perawatan di dalam kamar nya ditemani oleh ibunya yang juga melakukan hal yang sama.


Setelah semua rangkaian acara tersebut kini Anya, tengah duduk santai di balkon kamar nya sambil menatap langit malam tanpa bintang, buliran air mata jatuh di pelupuk mata nya.


"Mommy Daddy, tinggal nunggu jam Anya, akan menikah dengan A Ricky, saat masih kecil Anya, selalu bermimpi jika kelak Anya menikah Anya ingin mommy dan Daddy ada di pesta pernikahan kita Anya dan Agam, tapi semua tidak sesuai harapan Anya begitu merindukan mommy dan Daddy setiap hari setiap menit detik silih berganti jika orang lain bilang semua akan hilang dimakan waktu tapi rasa rindu Anya, pada mommy dan Daddy semakin besar, Anya rindu Mommy dan Anya juga merindukan Daddy, jika saja waktu bisa diputar aku akan memilih hidup sederhana daripada harus kehilangan mommy dan Daddy, atau kami berdua ikut mommy dan Daddy pergi, rasanya sangat menyakitkan saat hari yang paling berharga dalam hidup kami hanya bisa kami lewati bersama dengan kakak, dan apa mommy tau sekarang kakak sudah punya dua anak. ternyata telah begitu lama rasa rindu yang menyakitkan ini terus berlanjut, semoga mommy dan Daddy bersatu di surga saat Anya dan Agam kembali nanti semoga kita dipersatukan kembali." lirih Anya yang mengeluarkan isi hati nya.


Sementara Rayan pun melakukan hal yang sama, dia juga menatap lekat foto besar yang terpajang di dinding ruang kerja nya, pria itu juga menitikkan air mata nya, tidak terasa sudah hampir dua belas tahun lamanya, dirinya berjuang untuk menjadi ayah sekaligus ibu bagi kedua adiknya itu.


Saat usianya duapululuh tahun, dia sudah harus mengemban tugas berat, yaitu mengurus perusahaan dan kedua adiknya yang masih sangat membutuhkan kasih sayang kedua orang tua nya, yang kadang tidak mau mendengar nasihat Rayan dan bahkan terkadang mereka sakit akibat kehujanan saat sedang berada di pemakaman.


Dan jika itu terjadi Rayan, harus ekstra menjaga mereka siang dan malam hingga menyerahkan perusahaan terhadap asisten pribadi Vino yang selalu setia hingga akhirnya pria itu juga meninggal dunia saat Anya dan Agam berusia dua puluh tahun.


Semua ke jagalan yang terjadi pada kematian kedua orang tua Anya dan Agam juga Rayan saat itu terjadi juga pada asisten pribadi Vino yang setia itu.

__ADS_1


Dan tanpa bisa ditebak wanita yang selama ini menjelma menjadi ibu sambung yang baik ternyata wanita itu lah otak dari semua kematian yang menimpa keluarga Rayan.


Sementara itu di rumah lama Agam kini tengah menangis sesenggukan sambil memeluk foto kedua orang tua nya, karena setelah Anya menikah otomatis dia akan tinggal sendiri jika Anya, dibawa pergi oleh Ricky.


__ADS_2