
"Kak, aku serius"ucap Anya ngeyel.
"Begini saja nona tidak jauh dari sini ada penginapan Anda dan semua nya bisa menginap di sana, insyaallah nyaman"ucap Daisy, yang merasa tidak enak hati, karena Anya terus mengeluh tidak nyaman.
"Tidak biarkan dia disini, jangan terlalu dimanjakan sesekali ia harus tau bagaimana rasanya jadi kamu, agar dia lebih bersyukur"ujar Rayan.
"Kak, aku benar-benar sudah bersyukur punya kakak ada mommy juga tapi ini sakit lo" ucap Anya lagi.
"Tuan biar saya antar ke penginapan saja ya"ucap Daisy.
"Dy, jangan terus manjakan dia biarkan saja jangan didengar"ujar Rayan.
Daisy benar-benar tidak enak hati.
"Dy, toilet nya di sebelah mana"ucap Rayan.
"Biar saya antar"ucap Daisy.
Gadis itu benar-benar sudah was-was karena di sana hanya ada kloset jongkok dan juga bak penampungan air, kamar mandi Daisy juga cukup sederhana hingga, Daisy merasa malu apalagi jika Rayan seperti Anya yang akan mengomel gadis itu bahkan terlihat ragu untuk melangkah.
"Dy, aku minta maaf jika kedatangan ku, membuat kamu tidak nyaman karena kelakuan Anya"ucap Rayan.
"Tidak kok, tuan saya benar-benar berterima kasih atas kepedulian anda hanya saja, saya minta maaf belum bisa menjamu ada dengan baik maklum keadaan saya penuh keterbatasan" ucap Daisy.
"Dy, kamu tidak usah merasa tak enak, lagi pula hidup sederhana itu bukan aib, dulu mommy juga pernah membawa ku ke kampung halamannya, yang sangat jauh, bahkan lebih jauh dari ini, kami tinggal di kampung setelah Daddy dan mommy berpisah tepat nya, mommy yang meninggalkan Daddy Rayendra, dan pertemuan mommy dengan Daddy Vino juga di kampung, saat Daddy Vino libur kuliah, mereka akan tinggal di kampung tersebut, tempat yang sejuk dan asri, tapi mungkin sekarang sudah jauh berbeda karena pembangunan gedung pertokoan perkantoran hotel sudah di bangun di sana, sejak mommy dan Daddy membangun hotel dan gedung sekolah"ucap Rayan, pria itu tidak jadi masuk kedalam kamar mandi karena rasa kantuknya hilang oleh wajah teduh yang sembab itu.
"Tuan, saya buatkan Teh mau"tawar Daisy.
"Boleh seperti nya udara sangat dingin di sini"ucap Rayan.
"Maklum tuan, masih banyak pepohonan"ucap Daisy.
"Dy, kamu tidak apa-apa kan aku malah merepotkan"ucap Rayan.
"Tidak Tuan, saya tidak apa-apa dan tidak repot juga"jawab Daisy.
Rayan pun Daisy persilahkan untuk duduk di kursi antik yang ada di bagian dapur, sama seperti yang ada di depan tapi ini lebih mirip tempat bersantai para sosialita, karena bentuknya sangat mirip .
"Dy, siapa yang membuat kursi santai ini"ucap Rayan penasaran.
"Almarhum Abah tuan, itu diperuntukkan untuk Ambu, untuk tempat istirahat, tapi tenang tuan semua sudah saya bersihkan"ucap Daisy.
"Dy, kamu tenang saja aku tidak seperti itu, aku juga bisa lihat rumah ini begitu bersih"ucap Rayan.
"Ambu adalah orang yang suka kebersihan" ucap Daisy.
"Kamu betul, bisa dilihat dari rumah yang bersih ini"ucap Rayan.
Mereka pun menghabiskan malam dengan mengobrol di belakang, di sana memang ada ruang untuk bersantai.
Daisy pun memberikan selimut tebal untuk pria yang kini terlihat kedinginan, sementara itu Agam pria itu tidak sedikit pun bergeming, dia terlelap dalam mimpi nya, Agam memang suka berpetualang bersama dengan teman pencinta alam, jadi dia tidak seperti Anya, yang tidak kuat dengan kondisi pas-pasan.
Sampai pagi tiba, Anya pun akhirnya terlelap begitu juga dengan Rayan, kini hanya Agam yang bangun dia minta handuk dan sabun pada Daisy, beruntung Daisy tau bahwa mereka membawa perlengkapan mereka sendiri, hingga Daisy hanya mengambil dan memberikan itu pada Agam, sementara Daisy tengah memasak Rayan yang tidak jauh dari dapur tidur nya kini terusik karena bau wangi masakan yang Daisy buat sementara kedua orang pelayan membersihkan rumah, dan halaman yang nanti akan diadakan acara tahlil.
Daisy, memasak, nila goreng sambal lalapan nasi dan juga telur ceplok dan sayur bening, beruntung semua itu, ada di halaman belakang rumah nya, ada Empang dan kebun sayur kecil-kecilan, tapi semua nya tubuh subur, Ambu nya, jarang mengambil ikan, makanya ikan di Empang sangat banyak.
Agam pun mandi setelah itu dia berjalan-jalan di pinggir Empang dia begitu senang melihat ikan, yang kini tengah makan sayuran yang Daisy berikan, sisa panen tadi.
"Mom! ikan nya banyak banget aku mau belajar mancing boleh?"tanya Agam sambil berteriak-teriak.
"Boleh tapi alat pancing nya benar-benar sederhana"jawab Daisy yang menyahut dari jendela dapur.
"Dimana alat pancing nya"ucap Agam.
"Ada di samping rumah, tuan muda bisa lihat sendiri sudah ada kailnya juga"ucap Daisy.
"Terus umpan nya mana?" tanya Agam yang tengah memegang alat pancing.
"Sarapan dulu, setelah itu tuan muda bisa mancing sepuasnya"ucap Daisy.
"Heumm baiklah-baiklah, rindu juga dengan masakan mommy"ucap Agam.
"Bangun kan, Tuan besar dan nona muda "perintah Daisy pada kedua pelayan tersebut.
"Baik lah, nona"jawab keduanya.
__ADS_1
Daisy pun menyimpan sarapan pagi untuk kedua asisten dan dua sopir tersebut, di tempat terpisah karena takut Anya, protes lagi.
Daisy sendiri kini menghidangkan makanan tersebut di meja makan sederhana yang bentuknya sangat unik, itu sama-sama dari kayu jati tapi terlihat alami, bukan ukuran tapi tercipta sangat indah.
"Daisy, pun selesai makan tersebut, yang di tata se rapih mungkin, dia pun duduk menunggu ketiga nya, sementara dia minum teh hijau.
Rayan sendiri saat ini tengah mandi, sengaja mandi dengan air dingin, rasanya sangat sejuk di badan dan rasanya seperti mendapatkan energi baru.
Daisy melihat Agam, yang melintas ke arah nya masuk menggunakan baju santai nya terlihat semakin tampan dengan rambut setengah basah yang ia acak-acak, tanpa menyisir nya.
"Boleh? aku duduk di sini Dy"tanya Agam.
"Agam datang siap sarapan"ucap nya, yang sedari tadi bolak-balik ke Empang.
"Kamu sedang apa? di luar"tanya Rayan.
"Mau mancing di Empang"jawab Agam.
"Memang nya ada Empang?"Tanya Rayan.
Daisy hanya mengangguk sambil mengisi piring milik Rayan dan Agam, sementara Anya sepertinya dia tidak mandi hanya cuci muka saja dan merapihkan rambut nya.
"Aku mau sarapan sama ikan dan sayur bening "ucap Daisy.
Daisy, pun langsung mengambil kan apa? yang Anya butuhkan.
"Mom, apa? disini tidak ada bathtub"tanya Anya.
"Ada nohh Empang"jawab Agam.
"Agam"ucap Anya.
"Habis, kamu gak mikir nya, di desa mana ada fasilitas lengkap seperti di kota, kalo mau berendam sana di Empang"ucap Agam.
"Sudah-sudah ayo sarapan"potong Rayan.
..................................
Mereka pun selesai sarapan pagi, seperti rencana Agam, pria muda itu, kini tengah duduk di tepi Empang , sambil menikmati camilan yang Daisy buat, dan Anya yang sibuk mengambil foto dirinya dengan berbagai latar pemandangan menakjubkan yang baru dia lihat, sementara Agam bersorak kegirangan saat kailnya di makan ikan dan itu ikan besar, sekitar tiga kilo, berat dari ikan mas tersebut.
"Ada-ada saja tingkah tuan muda"ucap Daisy yang tidak aneh dengan semua itu.
"Dy, itu pengalaman pertama nya, dan bahkan kami belum pernah melakukan itu"ucap Rayan.
"Heumm, pantas saja"ucap Daisy.
"Dy, apa? ikan itu ikan dibeli pas sudah gede atau memang gede disana"tanya Rayan.
"Itu ikan peliharaan, sejak Abah tidak ada, untuk mengobati rasa sepi Ambu, semasa hidupnya Abah memang sudah membuat Empang itu"ucap Daisy.
"Heumm, sepertinya masa tua itu memang harus dihabiskan dalam ketenangan"ujar Rayan yang meraih gelas minum milik Daisy dan langsung meminum nya.
Daisy pun menatap tak percaya, pada Rayan yang dengan cueknya, minum air miliknya bahkan bekas bibir Daisy pun masih ke bibir Rayan.
Sampai Agam masuk membawa tiga ekor ikan besar itu dengan bobot mencapai sembilan kilo lebih, dan daging ikan nila tadi saja sudah sangat enak apalagi itu.
"Tuan muda, apa? tidak salah, bagaimana anda akan memakan nya"ujar Daisy.
"Gampang mommy, buatkan semur ikan yang dua ini, dan yang ini, aku mau bakar untuk makan siang, dan makan malam nya dengan semur ikan, atau di pepes saja"jawab Agam.
"Baiklah sini saya bersihkan dulu"ucap Daisy.
"Dy, biarkan pelayan saja yang bersihkan kamu duduk saja, sedari tadi ngeladenin mereka tidak akan ada habisnya"ucap Rayan.
"Tidak apa, tuan saya senang kok, dengan adanya kalian setidaknya saya tidak terlalu memikirkan Ambu, meskipun sulit untuk dilupakan"ucap Daisy.
"Kamu kuat aku yakin itu"ucap Rayan.
"Heumm, saya bersihkan ini dulu" ucap Daisy yang membawa ikan itu sedikit kesusahan.
"Agam, kamu tidak lihat mommy mu sedang berduka, tapi kamu malah menyusahkan nya" ujar Rayan marah.
"Tapi mommy, mau tuh, kan aku juga sudah niat mau minta pelayan yang bersihkan"ucap Agam, enteng.
Agam pun mengikuti Daisy ke dalam dapur terlihat gadis itu tengah sibuk berbicara dengan ketiga ikan hiu.
__ADS_1
"Kalian sudah pada besar, ikhlas kah kalian jika aku menjadikan kalian menu makanan untuk semua tamu ku, semoga kalian tidak marah"ucap Daisy.
"Serem amat mom, ikan kok diajak bicara"ujar Agam, yang hampir saja membuat wanita itu menjatuhkan pisau tersebut kebawah saking kagetnya.
"Oh ya ampun tuan muda, bikin kaget saja, mereka juga mahluk hidup, jadi harus di pinta keikhlasan nya"ucap Daisy.
"Mom, perlu bantuan"tanya Agam.
"Tidak usah, tuan muda, tunggu saja di sana"ujar Daisy.
Daisy pun melanjutkan kegiatan memasak nya ia membuat pepes ikan dan semur ikan juga ikan bakar semua di olah oleh nya, sementara pelayan hanya membantu lainnya seperti menyiapkan daun pisang untuk pepes, dan menyiapkan bahan yang Daisy tunjukkan, tak terasa waktu makan siang pun tiba, semua sudah siap hanya ditemani tumis kangkung dan sambal kecap yang sangat menggoda lidah.
"Aku disini"ucap Anya yang akhirnya mau mandi dengan kamar mandi yang tak sesuai harapan nya itu, tapi terjadi kehebohan di dalam kamar mandi, saat Anya berteriak-teriak karena air itu masih terasa sangat dingin, meskipun di tengah hari bolong.
"Sudah mandinya, gak pingsan kan karena tidak berendam"ucap Rayan, yang masih kesal sama adiknya yang selalu protes dengan keadaan di sana.
Rayan, yang sedari tadi sibuk bekerja dengan laptop nya, kini terlihat melirik ke arah Daisy.
Wanita itu sedang sibuk menata hidangan di meja tersebut, dengan menu seadanya yang tadi dia buat.
Daisy pun kembali membawa nampan besar yang berisi ikan bakar, dengan hiasan cantik di atas nya dan dialasi dengan daun pisang, juga terlihat sangat lezat dengan tampilan nya.
"Mommy, tangan mommy super ajaib"ucap Anya.
"Makanan kampung biasa"ucap Daisy.
Daisy pun kembali membawa mangkuk berukuran besar, berisi semur ikan, dan di nampan satunya berisi pepes ikan.
"Dy, apa? ini tidak kebanyakan"ucap Rayan.
"Ini keinginan tuan muda"ucap Daisy.
"Mom, aku nasinya sedikit saja mau nyoba makan semua nya" ucap Anya.
"Tuan besar"ucap Daisy.
"Aku coba semua, samakan saja seperti Anya"jawab Rayan.
"Aku ambil sendiri mommy mau nyoba ikan bakar dulu"ucap Agam.
Daisy pun mulai memasukkan, nasi dan tumis kangkung, tapi dia tidak menyentuh ikan itu sedikit pun, karena dia tidak terlalu suka, dan ada rasa kasihan dengan semua ikan itu, yang sedari kecil dia urus.
"Dy, kamu makan pake apa?"tanya Rayan.
"Aku ada ikan asin tempe goreng dan lalapan juga sambal"ucap nya yang tak sadar menjawab Rayan, dengan bahasa nya yang santai, tapi kemudian wanita wanita itu langsung mematung.
"Maafkan saya tuan, jika saya, bicara kurang sopan.
"Tidak Dy, kamu sudah seharusnya seperti itu, aku bukan tuan mu, kita adalah keluarga"ucap Rayan tegas.
"Tapi"
"Iya mommy jangan terus kaku gitu, kedengaran kurang pantas di telinga"ucap Anya.
Daisy hanya tersenyum.
"Dy, aku mau nyoba menu yang kamu makan sepertinya itu enak"ucap Rayan.
Daisy, terdiam sejenak lalu berkata
"Biar aku ambilkan lagi tuan"ucap Daisy.
"Aku mau nyoba satu, suap saja, tapi yang seperti kamu tadi"ujar Rayan.
"Baiklah saya cuci tangan dulu"ucap Daisy.
"Dy, aku minta nya sekarang"ujar Rayan.
"Baik"jawab Daisy ragu.
Wanita itu pun mulai mengambil setiap lauk yang ada di piringnya sedikit demi sedikit, kemudian, menyuapi Rayan, dan itu membuat kedua adiknya Rayan, menatap tak percaya, hingga Rayan merasakan makanan tersebut.
"Ini sih lebih dari nikmat Dy, kenapa? tidak sedari tadi, saja"ucap Rayan.
"Ini bukan menu sehat tuan, jadi tidak mungkin saya biarkan anda makan seperti ini"sementara mereka mengobrol di sela suapan nya, Agam bahkan sudah menghabiskan separuh ikan panggang tersebut dan saat mereka sadar Agam langsung mengusap perut nya, kekenyangan bagaimana tidak sebelah ikan itu hampir satu kilo setengah.
__ADS_1
"Ahh...kenyang lezat sekali mom, bisa-bisa aku gendut"ucap nya.