
"Lain kali saja Kak,, sekarang aku mau istirahat, rasanya sudah sangat lelah"ucap Sherina sambil masuk ke dalam rumah besar itu.
Sementara, Agam mengikutinya dari belakang pria itu tidak mau jauh dari istrinya dia merasa bahagia.
Setelah sekian lama baru kali ini ia rasakan bisa berlibur bersama dengan istrinya dan juga seluruh keluarga membuat Agam semakin yakin jika sebentar lagi kebahagiaan itu akan segera hadir dalam kehidupan dia dan Sherina.
Dia berharap akan segera mendapatkan momongan.
Sesampainya di dalam kamar, Sherina langsung berbaring di atas ranjang empuk itu.
Agam mendekat dan ikut berbaring di samping istrinya, dia memeluk Sherina.
"Yang apa? kamu bahagia hari ini"tanya Agam.
"Ya,, bisa makan bersama dengan orang-orang yang bahkan tidak pernah aku kenal sebelumnya mereka begitu bersikap ramah dan seakan tak pernah ada perbedaan"ucap Sherina.
"Semua itu berkat kebaikan mommy dan almarhum Ambu"ucap Agam.
"Apa? Ambu tidak pernah marah kolam ikan nya dihabiskan begitu"ucap Sherina.
"Justru itu adalah ikan baru,, karena yang lama sudah sering dipanen oleh ku dan Anya jika datang kemari bahkan ikan itu tumbuh lebih besar dari yang tadi"ucap Agam.
"Heumm,, sepertinya lebih indah dulu"ucap Sherina sambil menerawang.
"Hidup serba pas-pasan dengan perabotan yang sederhana, membuat Anya mengeluh ingin ini dan itu bahkan dia tidak bisa tidur dengan kasur yang biasa sehingga semalaman dia meraung-raung minta diganti kasur."ucap Agam.
"Kakak,, hidup sederhana? bukanya dia juga anak orang berada."ucap Sherina.
"Dulu papah Dion mengira mommy sudah tiada setelah kecelakaan maut yang merenggut Mama Dinda ibu kandung mommy dan papah Dion juga koma, mereka terpisah sejak saat itu mereka hidup sederhana hanya ada Ambu dan mommy"ucap Agam.
"Lalu kapan mereka bertemu?"tanya Sherina.
"Setelah mommy tinggal bersama dengan kami kebetulan anak tiri papah Dion, adalah calon istri kak Rayan saat itu. tapi kak Rayan jatuh cinta pada mommy dan sejak saat itu dia sering mengikuti kami pulang ke desa bersama untuk menyusul mommy yang sering merindukan mending Ambu"jelas Agam.
Percakapan mereka terhenti saat Agam sadar istrinya itu tidak bersuara lagi.
"Kamu sudah benar-benar lelah sayang" ucap Agam sambil mengecup kening istrinya.
Agam pun ikut memejamkan mata, mungkin dia akan bangun saat waktu makan malam tiba.
Sementara itu di bawah Rayan dan Daisy kini baru istirahat setelah membagikan sembako dan berbagai kebutuhan anak sekolah di kampung tersebut.
Sampai saat Rayan mengeluh ingin segera istirahat Daisy pun membawa ketiga anak nya naik ke atas.
Ray dan Raya juga sudah sangat lelah dan ingin tidur sore hari.
Sampai saat saat waktu makan malam tiba Daisy kembali bangun dia melihat ketiga anak nya masih terlelap di ranjang yang sama bersama suaminya.
Wanita itu bangun lalu membersihkan diri terlebih dahulu dan kemudian turun setelah rapi tujuan utamanya adalah dapur.
Sesampainya di sana ternyata Sherina sudah siap untuk memasak saat ini dia tengah me marinasi ikan dengan bumbu yang tersedia di kulkas.
Tidak hanya itu ada ayam yang sudah siap di bakar.
"Heumm sudah siap rupanya tinggal eksekusi"ucap Daisy.
"Kak Agam ingin makan ini jadi Sherin buat ini saja tapi jika kakak mau masak yang lain juga boleh"ucap Sherina.
"Biasakan panggil suami dengan sebutan yang pas, agar enak didengar seperti mas atau Abang"ucap Daisy menasehati.
"Iya kak,, lain kali akan aku coba"ucap Sherina.
"Ya sudah, hanya tinggal siapkan tumis sayuran dan lalap serta sambil itu ayam nya ditambah lagi"ucap Daisy.
"Iya kak."jawab Sherina.
"Bagaimana,, apa? kamu betah tinggal di sini"tanya Daisy.
"Lumayan kak."jawab Sherina.
__ADS_1
"Syukurlah,, besok kamu bisa mengajak Agam keliling desa sini dan desa sebelah karena Agam sudah mengenal daerah sini"ucap Daisy.
"Kenapa? tidak bersama-sama saja pergi nya."ujar Sherina.
"Tidak sebaiknya kalian saja yang belum punya anak biar gak ribet."ucap Daisy.
Sherina terdiam sejenak.
"Kak, bagaimana jika aku ternyata tidak bisa memberikan kak Agam anak, apa? kalian akan meminta kak Agam untuk menikah lagi seperti saat bersama dengan Novita dulu"ucap Sherina.
"Kakak tidak pernah meminta itu, tapi."
"Cukup mom,, jangan diteruskan lagi semua tidak sama Yank,, kamu jangan berpikir sampai kesitu, karena situasi nya sangat berbeda"ucap Agam.
"Berbeda,,, berbeda bagaimana? saat itu kakak bahkan sudah menerima keadaan Novita dan kakak bahkan diam-diam mengajukan sarat padaku untuk melahirkan seorang anak untuk mu, saat itu kondisinya kakak masih sangat mencintai Novita"ucap Sherina.
"Sherin stop! semua sudah tidak perlu di ungkit lagi bukankah sudah aku jelaskan saat itu, jika kamu tidak mampu memberikan Agam keturunan sebaiknya pergi saja karena kami butuh penerus"
"Daddy!!"teriak Daisy.
Prang.....
Gelas itu pecah karena Agam lempar dengan keras.
"Sudah Stop, aku bilang berhenti kenapa? tidak ada yang mau dengar"ucap Agam.
Seketika itu semua orang diam.
"Ikut aku!."ucap Agam pada Sherina.
Wanita itu tidak menggubris Agam dia tetap melanjutkan pekerjaannya meskipun Air mata menetes deras di pipinya sesekali ia mengusap kasar wajah itu dengan lengan nya.
"Sherin,,, aku bilang ikut aku"ucap Agam.
"Agam,, sudah kalian berdua pergi biar kami melanjutkan pekerjaan kami"ucap Daisy.
"Bagaimana bisa bekerja dalam keadaan seperti"
Ricky yang baru tiba di dapur dia langsung menarik Agam membawa pria itu untuk menenangkan diri, sementara Rayan duduk diam setelah Daisy berteriak padanya dia tidak ingin istrinya benar-benar marah padanya.
Karena membujuk istri itu lebih sulit dibanding mengalahkan lawan bisnisnya.
"Sherin,, dengarkan kakak, jangan pernah berpikir tentang hal itu,, kamu hanya harus fokus pada kesehatan mu, jika pun yang maha kuasa nanti tidak menakdirkannya kamu hanya bisa pasrah, tapi mommy yakin Agam tidak akan pernah menghianati cinta mu"ucap Daisy.
"Kita butuh pewaris sayang"ucap Rayan menimpali.
"Daddy,, jika kamu butuh pewaris kenapa? tidak menikah lagi saja"ucap Daisy.
"Hi,, sayang itu bukan aku tapi Agam"ujar Rayan tegas.
"Agam tidak pernah memaksakan kehendak nya"ucap Daisy.
"Tapi itu kenyataan nya, dia menikah dengan Sherina karena butuh pewaris, jika tidak mungkin saat ini Agam masih bersama dengan Novita"
"Cukup!! sudah cukup aku memang tidak akan pernah bisa memberikan Agam anak sekarang terserah kalian aku akan segera mengurus perceraian ku dengan dia"ucap Sherina.
Gadis itu melepaskan apron dan langsung mencuci tangan nya, dia pergi dengan terburu-buru saat ini, meskipun Daisy terus memanggil nya.
"Sherina,, kakak bilang jangan dengar dia dia memang seperti itu"ucap Daisy yang kini menatap tajam kearah suaminya.
...................
"Stop,, Sherina aku bilang berhenti di situ"teriak Agam yang kini mencoba menghentikan Sherina yang hendak pergi dengan membawa koper nya.
*Kita akan bertemu di pengadilan"ucap Sherina.
"Sherina jangan pernah bermimpi,,," ucap Agam yang kini meraih lengan Sherina dengan kasar.
"Aku tidak akan pernah bisa memberikan mu keturunan dan kamu bisa menikah lagi secepatnya dengan wanita lain"ucap Sherina.
__ADS_1
"Siapa? yang akan mengijinkan mu untuk pergi dari hidupku jangan pernah bermimpi Sherina!"teriak Agam.
"Terserah kamu saja, yang jelas aku akan pergi lagipula aku tidak diharapkan ada di sini tuh wanita yang akan menjadi calon ibu bagi anak mu sudah datang"ucap Sherina sambil menunjuk ke arah Vivian yang datang bersama dengan ibu mertua Anya.
"Sherina jangan keterlaluan!."bentak Agam lagi yang kini merampas kunci mobil milik Sherina.
"Kamu tidak akan pernah bisa pergi kemanapun"ucap Agam.
Pria itu langsung pergi membawa kunci mobil tersebut, namun Rayan datang memberikan kunci mobil milik nya pada Sherina.
"Kamu ingin pergi bukan? pergilah sekarang juga kamu bisa bawa mobil ku dan kamu tau kemana harus mengembalikan mobil ini, dan satu lagi jangan pernah muncul di hadapan kami lagi karena kamu hanya membawa masalah dalam hidup kami"ucap Rayan.
Sakit...
Sudah tentu Sherina langsung menyambar kunci mobil tersebut, dan tidak sampai lima menit mobil itu melesat membelah jalanan hingga orang yang ada di sana menatap kagum pada kepiawaian Sherina dalam mengemudi sementara Agam yang kini berada di dalam dia kaget saat mendengar Vivian berceloteh bahwa Sherina pintar mengemudi mobil milik Rayan.
Agam langsung berlari menuju teras dan ternyata istrinya sudah pergi seketika itu Agam mengamuk semua orang hanya terdiam kecuali Daisy yang kini meminta Agam agar segera menyusul istrinya itu.
Agam langsung pergi menuju kamar nya dia meraih ponsel dan dompet nya setelah itu dia pun langsung berlari menuju mobilnya, dia tidak perduli jika mobilnya akan tertinggal jauh dari mobil Sherina yang penting Agam bisa menyusul istrinya itu.
"Sampai setengah perjalanan menuju pulang, langit sudah sangat gelap Sherina, menepikan mobilnya di sebuah pom bensin yang cukup sepi mungkin karena tempat itu jauh dari rumah penduduk.
Dia turun menuju toilet, gadis itu bahkan tidak tidak menghiraukan area sekitar tempat dia berada saat ini.
Gadis itu baru keluar dari dalam toilet setelah dia membasuh wajah nya, tangisnya sudah reda saat ini dia sudah tidak ingin menangis lagi, dia akan berusaha untuk tegar dan menerima kenyataan pahit itu, hidup sendiri baginya itu sudah pernah ia jalani jadi dia akan bisa melewati semua itu mulai saat ini.
Sherina menelpon Matteo dia meminta pria itu untuk menyediakan tiket pesawat dengan tujuan Italia, dia akan kembali ke tempat kelahiran sang mommy meskipun keluarga mereka masih bersikap ketus padanya atau Inggris adalah harapan terakhir nya.
Sampai saat Sherina keluar dari dalam toilet, dia mendapati suaminya sudah berada di hadapan nya.
"Kamu tega lakukan ini padaku Sherina,,, kamu tega!."Bentak Agam.
Pria itu meraih Sherina dan membawa nya kedalam dekapannya, Sherina hendak melepaskan diri tapi Agam tidak memberikan dia kesempatan.
Pria itu langsung membawa Sherina masuk kedalam mobil Ferarri milik Rayan dan Agam langsung tancap gas Setelah Sherina benar-benar tak bisa pergi lagi.
Sementara itu mobilnya akan diambil oleh asisten nya nanti.
Agam langsung membawa Sherina pulang ke rumah lamanya, dia yang sudah memperbaharui seluruh kunci rumah dan jendela dengan teknologi canggih, dia berharap Sherina tidak akan pernah bisa pergi sampai dia sadar bahwa yang ia lakukan saat ini adalah sebuah kesalahan.
Setibanya di rumah tersebut Agam langsung membawa Sherina, tanpa memberikan dia kesempatan untuk turun dari mobil.
"Sampai kamu kurung aku di menara pun kamu tetap tidak akan pernah mendapatkan yang kamu mau, hasil pemeriksaan sudah keluar ada kerusakan di bagian reproduksi ku hingga tidak akan bisa punya anak, dan kamu hanya akan mencari itu pada wanita lain setelah itu aku akan dibuang seperti Novita! tapi kenapa? tidak dari saat ini saja"ucap Sherina.
Agam tidak menyahut sedikit pun, pria itu bahkan membiarkan gadis itu terus berbicara.
Agam tau Sherina sedang frustasi saat ini hingga ia mengerti kenapa? Sherina minta untuk pergi ke villa karena pikirannya saat itu sedang kacau tapi Agam tidak pernah tahu jika Sherina memeriksakan kesehatan nya secara diam-diam.
Agam langsung pergi meninggalkan Sherina yang kini tengah duduk di tepi ranjang sambil mengusap air mata nya.
Bukanya Agam tidak peduli dengan keadaan Sherina saat ini tapi dia harus memastikan apa? yang Sherina katakan saat ini.
Agam langsung pergi meninggalkan rumah tersebut disana hanya ada pelayan itupun tinggal di rumah khusus yang ada di belakang.
Sesampainya di rumah sakit tempat dimana Sherina melakukan pemeriksaan seperti yang istrinya itu katakan Agam langsung meminta staf rumah sakit tersebut untuk mengecek data istri setelah itu dia membuat janji temu dengan dokter tersebut.
Tapi saat Agam bertemu dokter yang tak lain adalah sahabat nya sendiri. dokter itu mengatakan ada tiga nama yang sama dengan latar belakang yang berbeda.
Dan Agam menunjukkan foto istrinya dokter tersebut pun mengingat-ingat pasien yang dua Minggu lalu datang ke tempat nya.
Tidak hanya itu mereka juga mengecek Cctv yang ada di ruangan tersebut.
Sherina datang dan berkonsultasi dengan dokter tersebut, tapi saat akan keluar dari ruangan itu Sherina bertabrakan dengan seseorang dan hasil tes itu tertukar dengan milik wanita lain.
"Begini saja tuan Agam, besok bawa istri anda kesini kita akan melakukan pengecekan ulang"ucap dokter tersebut.
"Baiklah kalau begitu maaf sudah mengganggu waktu anda dokter, saya pamit pulang dulu"ujar Agam.
"Ya,, terimakasih tuan lain kali saya akan datang berkunjung"ucap pria itu sambil terkekeh, seakan tidak mengenal satu sama lain mereka yang bersahabat sejak SD itu berbicara dengan menggunakan bahasa formal.
__ADS_1
Setidaknya Agam sedikit punya harapan jika saat ini dia tau bahwa hasil tes itu bukan milik istrinya, tapi kenapa namanya begitu sama tiga-tiganya.
Hingga keesokan harinya nya, Agam datang bersama dengan Sherina, dan tanpa menunda waktu, dokter langsung melakukan USG pada gadis itu, dan betapa terkejutnya mereka berdua ternyata Sherina bahkan tengah mengandung janin yang diperkirakan adalah bayi kembar, dan itu adalah sebuah anugerah terindah dari yang maha kuasa.