Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa

Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa
#Tidak pulang#


__ADS_3

Anya, kini tengah mengurus pakaian yang ia sediakan semua untuk Riki, dikamar utama yang ada di lantai bawah.


Sementara Riki, kini tengah membantu.


"Yang... pakaian segini banyak kamu beli di kapan" ucap Riki.


"Tadi tinggal online di butik langganan aku" ucap Anya.


"Sayang jangan buang-buang uang mu, AA bahkan tidak pernah memberikan uang padamu" ucap Riki.


"AA, jangan pikirkan tentang itu, pikirkan saja tentang masa depan kita, semua sudah seharusnya, saling berbagi"ucap Anya.


"Yang seharusnya aku yang menafkahi mu, bukan aku yang dinafkahi kamu"kata Riki.


"A, anggap saja ini sebagai hadiah, karena AA.. sudah membantu Anya, yang kini menghadapi masalah di perusahaan"ucap Anya.


"AA.. janji akan mengganti semua ini jika sudah ada rejeki" ucap Riki.


"Baiklah terserah AA, saja toh semuanya sudah AA memang tidak bisa dibantah" ucap Anya.


"Sayang AA, ini pria yang sudah seharusnya bertanggung jawab padamu"ucap Riki.


Anya hanya mengangguk setelah itu ia pun lanjut membereskan barang-barang milik Riki.


Setelah selesai, Anya duduk di samping Riki, pria itu kini tengah sibuk dengan laptop menggantikan posisi Anya, Riki yang juga memiliki ilmu bisnis, sesuai jurusan kuliah yang dia ambil saat tinggal sambil bekerja di sebuah negara yang merupakan kota pelajar bagi orang Indonesia.


"Yang, apa? ada yang sulit" ucap Anya.


"Tidak ada sayangku hanya saja aku merasa kesulitan" ujar Riki.


"Sulit apa? yang" ucap Anya.


"Sulit untuk bisa berpaling dari mu, meskipun itu hanya sekejap saja" ujar Riki.


"Heumm... aku sungguh sangat bahagia A" ucap Anya, yang kini berada di samping Riki memeluk pinggang Riki, membenamkan wajahnya di bahu pria itu.


"Sayang... aku sangat mencintaimu" ucap Riki.


"Aku tau itu yang" jawab Anya.


Disaat mereka tengah bahagia Agam, kini tengah dibuat galau pasalnya dia tidak bisa bertemu dengan wanita cantik yang diperkirakan baru akan masuk kuliah, wanita itu memiliki tinggi badan proporsional bak seorang model, namun sayang dia terlahir dari keluarga tidak mampu, sehingga mengharuskan dia untuk jadi pemulung.


"Aku akan mencari mu sampai kemanapun"lirih Agam.


Gadis itu bertemu Agam, saat Agam, hendak membuang botol plastik pada tong sampah yang ada di pinggir jalan.


Wanita, bahkan tidak malu untuk memungut botol tersebut dengan cueknya, wajah cantik yang terlihat menggunakan topi dan masker itu membawa keranjang rotan di punggung sebagai wadah untuk menampung barang yang dia pungut.


Agam mengambil foto tersebut saat gadis itu melihat ke arah nya.


"Kamu terlihat sangat cantik, meskipun wajah itu kau tutup dengan topi dan masker" lirih Agam.


Pria itu pun tertidur, dia larut dalam suasana hingga terbawa mimpi.


Sementara itu di desa, Daisy dan Rayan masih betah untuk tinggal di sana, dan kini mereka berempat sedang melihat orang-orang tengah berlomba-lomba untuk menangkap ikan dengan tangan kosong di kubangan lumpur yang begitu luas tersebut.


Daisy kini ingin sekali ikut bergabung tapi Rayan menahan nya.


"Yang....mau ikut" ucap Daisy.


"Tidak boleh...kotor-kotoran" ucap Rayan.


" Tapi baby nya mau gimana" ucap Daisy.


"No... mommy adik bayi tidak boleh main kotor-kotoran" ujar David.


"Ah!... gak seru" teriak Daisy.


Sementara itu Rayan langsung membujuk istrinya yang merajuk.


"Sudah biarkan saja dia ikut serta toh, hanya kotor-kotoran bisa bersih-bersih nanti" ucap Dion, tidak tidak ingin putri nya merajuk.


"Sayang baiklah tapi jangan ngambek gitu oke" ucap Rayan.


Rayan terus membujuk Daisy yang kini tengah merajuk.


Tapi sampai sore hari, setelah di rumah pun.daisy tetap saja ngambek dan tidak ingin makan siang atau makan malam.


"Sayang kalau kamu ngambek terus seperti ini, kita sebaiknya pulang ke ibukota" ujar Rayan, yang sudah tidak bisa bersabar lagi.


Tiba-tiba, Daisy membuka pintu, bumil itu langsung memeluk Rayan.


"Jangan marah aku takut" ucap Daisy yang kini terlihat sembab dan bahkan air mata itu mengalir deras.


"Sayang... aku tidak marah aku hanya khawatir dengan kalian berdua yang kini belum makan, dan ini mas tidak ingin kamu menangis" ucap Rayan sambil mengusap air mata nya.

__ADS_1


"Aku sedih tadi Daddy, ngelarang aku ingin main tangkap ikan" ucap Daisy.


"Iya...sayang maaf aku hanya khawatir dengan mu takut ada hewan lainnya di lumpur gigit kamu" ucap Rayan.


"Tapi tadi orang-orang baik-baik saja" ucap Daisy lagi.


"Masih mau main kotor-kotoran"ujar Rayan, sambil menatap tajam kearah Daisy.


Dan Daisy pun hanya menggeleng pelan, karena takut jika Rayan, sudah marah.


"Sekarang ikut mas, sayang harus makan mas tidak mau tau"ujar Rayan.


Daisy, terus memeluk erat leher Rayan, dan Rayan pun menggendong istrinya itu, ala bayi koala, hingga tiba di bawah.


"Mau makan apa? mas yang akan buat" ucap Rayan, selama mereka menikah baru kali ini Rayan menawarkan makanan yang dia buat sendiri.


*Mau makan capcay kuah, dan juga iga bakar saus madu" ucap Daisy.


"Baiklah aku minta mereka belanja ke pasar sebentar, sementara kamu makan yang lainnya dulu ya sayang"kata Rayan.


"Aku mau rujak buah"ujar Daisy.


"No, rujak salad baru oke" ucap Rayan.


" Terserah saja"jawab Daisy.


Rayan pun langsung mengambil buah-buahan segar yang dipetik langsung dari kebun buah milik pak RT, karena sudah tiga kali Yanwar mengirim buah-buahan tersebut.


Rayan, meminta sopir dan juga pelayan berbelanja bahan masakan yang Daisy inginkan.


Hingga akhirnya, ia selesai mengeksekusi salad buah, Daisy langsung di suguhi potongan buah segar yang sudah dicampur yogurt dan mayonaise juga susu itu yang kini terlihat sangat menggoda lidah.


Daisy, langsung menyuapkan makanan tersebut kedalam mulutnya, dan sejenak dia memejamkan mata nya, kenapa? dia baru sadar bahwa ternyata suami nya, jago memasak.


"Duh....suami siapa? sih ini ternyata dia begitu pandai memasak"ucap Daisy, sambil mencubit pipi Rayan dengan gemas.


"Suami siapa lagi... jika bukan suami nyonya Rayan." ucap Daisy.


"Heumm begitu kah?" tanya Daisy, yang kini tengah menggoda Rayan, senyum itu belum tulus meskipun wajah Daisy begitu sembab, tapi mood, wanita hamil memang selalu berubah-ubah.


Tidak sampai tiga puluh menit, pelayan datang membawa bahan makanan yang mereka beli dari pasar. entah bagaimana caranya mereka berbelanja dengan waktu sesingkat itu.


"Ini tuan, bahan makanan yang anda butuhkan"ucap pelayan tersebut.


Rayan, bangkit dan mengecup puncak kepala Daisy, dan diakhiri dengan mengusap puncak kepala istrinya itu dengan teramat sangat sayang.


....................


Setelah berkutat hampir satu jam lamanya, akhirnya Rayan selesai memasak makanan yang diminta oleh Daisy.


"Selamat menikmati cinta ku"ucap Rayan, yang kini terlihat bercucuran keringat mungkin dia merasa kepanasan setelah memanggang iga bakar tersebut.


"Heumm...sayang ku ini cape ya sini" ucap Daisy sambil mendekat memeluk suaminya setelah menyeka keringat di wajah dan leher Rayan.


"Dy...sayang makan lah dulu, nanti bisa peluk mas sepuasnya, mas mau mandi dulu, kotor ini keringat nya" ucap Rayan.


"Tidak apa-apa, masih wangi kok sayang" ucap Daisy.


"Heumm.. istri mas manja banget sekarang mas curiga baby kita yang sekarang ini perempuan" ujar Rayan.


"Tidak main tebak-tebakan aku maunya kejutan" ucap Daisy.


"Tentu saja yang, mau laki-laki atau perempuan sama saja mas akan sangat menyayangi anak-anak kita" ucap Rayan.


"David dimana mas kok, tidak kelihatan"tanya Daisy.


"Dia, pergi sama papah katanya mau mengunjungi rumah Ambu yang lama" ucap Rayan.


"Pasti papah kangen dengan Mama"ujar Daisy.


"Cinta memang tidak akan pernah bisa melupakan, masalalu meskipun waktu terkadang datang bergantian untuk mengikis semua itu, tapi cinta sejati tidak akan pernah mati meskipun dimakan oleh waktu.seperti itu pula cinta mas pada mu" ucap Rayan.


"Terimakasih cinta" balas Daisy.


"Heumm"gumam Rayan sambil menarik tangan Daisy dan memeluk erat istrinya itu.


"Sekarang nikmati apa? yang sudah ada, jangan sampai keburu dingin"ucap Rayan, sambil menyiapkan sendok dan garpu juga pisau.


"Mas suapi ya" ucap Rayan.


"Heumm tentu" ucap Daisy.


Mereka pun akhirnya makan bersama kebetulan masih ada sisa saat Dion dan David datang.


"Heumm, sepertinya ini sangat lezat" ucap Dion.

__ADS_1


"Ya, ini memang sangat lezat"ucap Daisy.


"Boleh papah minta sayang" ucap Dion, meminta izin pada putrinya itu.


"Tentu saja Pah, papah bisa makan bareng kita, David mau makan yang mommy makan gak"tanya Daisy.


"Boleh mom" jawab David yang kini duduk di samping Rayan.


"A... Sayang"ucap Daisy.


Sampai selesai makan, mereka kembali menuju ruang keluarga . David sibuk dengan mainan nya dan Dion juga Rayan dengan pekerjaan nya.


Di ibu kota Agam, kini tengah sibuk mencari gadis pemulung itu, dia tidak tau dimana keberadaan nya saat ini, tapi setelah Agam, bertanya kepada orang-orang yang lewat kawasan itu, ada seorang bapak, bilang bahwa gadis itu adalah korban kecelakaan yang sudah satu tahun ini dirawat oleh keluarga pemulung dia tidak ingat siapa? dirinya. dan pada akhirnya dia pun memutuskan untuk hidup bersama dengan kedua paruh baya tanpa anak itu.


Tidak hanya itu, bapak itu langsung mengantar Agam kerumah gadis itu yang tidak jauh dari kawasan pinggiran kota tersebut.


Sesampainya di sana, Agam melihat gadis itu kepayahan, membawa ayah angkatnya ke atas motor nya, karena hendak pergi ke rumah sakit.


"Sini saya bantu" ucap Agam yang langsung mengambil alih pria paruh baya itu dan mendudukkan nya di mobilnya, meskipun gadis itu terlihat kebingungan tapi akhirnya dia ikut masuk kedalam mobil.


"Rumah sakit mana nona"ucap Agam.


"Aku tidak tahu" ucap gadis itu dan pada akhirnya Agam, mendapatkan angin segar.


"Baiklah kamu tenang ya, aku tau apa? yang harus dilakukan" ucap Agam yang langsung membawa mereka ke rumah sakit milik Rayendra, meskipun sedikit lebih jauh dari area itu tapi setidaknya Agam, tidak perlu repot-repot untuk mengurus administrasi dan ini itu karena dia akan selalu mendapatkan pelayanan terbaik kapan pun, apalagi saat ini pengelola rumah sakit itu adalah Rayan.


Sesampainya di rumah sakit, Agam langsung disambut dengan sangat baik oleh para petugas medis, dan asisten pribadi Rayan, di rumah sakit tersebut dia langsung meminta dokter untuk menangani pasien yang Agam bawa.


"Ikut aku" ucap Agam pada gadis itu yang kini terlihat kebingungan.


"Mau kemana tuan, ayah saya di sana" tunjuk gadis itu.


"Tidak masalah ayahmu sedang ditangani oleh dokter, kamu tidak perlu cemas" ucap Agam.


Akhirnya, gadis itu pun mengikuti langkah Agam, saat tiba di cafetaria yang masih berada di dalam gedung rumah sakit tersebut, Agam meminta gadis itu untuk duduk.


"Duduk lah, setidaknya kamu harus menemani aku makan siang" ucap Agam.


"T tapi tuan uang saya bahkan tidak cukup untuk membayar biyaya rumah sakit. ini ditambah lagi dengan membayar makanan di sini, saya tidak sanggup" ucap gadis itu.


"Siapa? yang meminta mu mentraktir ku, aku hanya minta kamu untuk menemani ku makan kamu juga pasti belum makan"ucap Agam.


"Maafkan saya tuan" ucap nya lirih.


"Sudah jangan dibahas, kamu juga tidak perlu memikirkan biyaya rumah sakit"ucap Agam.


Agam duduk dengan santai memilih menu apa saja yang akan dia makan dengan wanita itu.


Agam langsung memanggil pelayan.


Pelayan pun datang menghampiri mereka mereka berdua.


"Ini pesan saya tolong lebih cepat ya" ucap Agam.


"Siap? tuan muda"ujar pelayan tersebut.


Si gadis cantik itu terbengong, saat mendengar pelayan memanggil Agam, dengan sebutan tuan muda.


Gadis itu berpikir, apa? pria dihadapannya adalah seorang tuan muda dari pemilik rumah sakit dan cafe tersebut, atau mereka mengenali pria itu sebagai penguasa, semua itu berkecamuk di dalam dirinya.


"Hi..kau melamun kan apa? sedari tadi diam terus" ucap Agam.


"Ah....i itu a anu t tuan muda, saya hanya sedang teringat ayah saya" ucap gadis.


"Dia baik-baik saja"ujar Agam.


"Heumm, terimakasih atas pertolongan tuan muda" ucap gadis itu.


Agam merasa tidak enak hati, saat mendengar ucapan tersebut di katakan oleh orang yang ia sukai.


"Kau bukan pelayan nona, jadi jangan panggil aku seperti itu.Kamu bisa panggil aku Abang, atau apa? lagipula aku lebih tua dari mu" ucap Agam.


.


"Heumm, baik'lah Abang" ucap gadis itu.


"Boleh tau siapa? namamu" ucap Agam.


"Winar, tuan bisa panggil win atau apapun, karena aku juga tidak tau namaku sendiri, aku hanya tau nama itu pemberian kedua orang tua angkat saya" ucap Winar.


"Nama ku Agam, kamu cukup panggil aku Abang saja, mana nomor handphone mu, aku tidak mungkin tinggal terus disini setidaknya aku bisa bertanya kabar tentang keadaan Ayah mu" ucap Agam.


"Ah...ini tuan, ini milik ayah saya anda bisa menghubungi saya di nomor ini" ucap Winar.


"Heumm baik'lah" ujar Agam yang langsung mencatat nomor handphone tersebut, setelah itu ia kembali fokus pada ponsel nya, dan tidak lama nomor tidak dikenal pun muncul di ponsel yang dipegang oleh Winar.

__ADS_1


"Itu nomor ku"


__ADS_2