
Karena menjadi DPO, saat ini Almira sudah melakukan operasi wajah untuk mengelabuhi polisi. Rayan dan Haidar.
Namun setelah satu minggu melakukan operasi ternyata operasi itu berefek buruk terhadap wajahnya yang kini terlihat seperti monster .
Selain bengkak bekas sayatan itu ternyata mengeluarkan nanah dan bau amis.
Kini wanita paruh baya itu tengah kembali ke rumah sakit untuk melakukan pengobatan, namun dokter hanya memberikan resep obat untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang mengenai wajahnya itu.
Mungkin karena dia kurang hati-hati saat tinggal di kontrakan barunya yang memang sangat jauh dari kata nyaman.
Sementara itu di sebuah restaurant, Raya dan Ray bertemu karena sudah membuat janji disana setelah pria muda itu menyelesaikan meeting penting di restaurant tersebut.
"Bagaimana? kabarmu."tanya Rayan.
"Heumm,,, kabar ku baik."jawab Raya.
"Maaf tidak bisa membuat mu kembali ke rumah, bukan karena kami membenci mu justru Kimberly menyarankan agar kamu tinggal di sana bersama dengan kami dan dia akan kembali ke Amerika jika kamu tidak ingin ada dia disana."ujar Ray.
"Tidak apa-apa,,, aku memang sudah seharusnya pergi dari rumah itu selain karena aku bukan anggota keluarga, aku juga sudah berbuat jahat terhadap keluarga kalian, maaf."ujar Raya sambil menunduk.
"Ah sudahlah sekarang jangan pikirkan tentang masa yang sudah berlalu tapi pikiran masadepan mu akan bagaimana? kedepannya nanti."ujar wanita itu.
"Heumm,,, ya kamu benar, sekarang aku hanya ingin tau darimana aku berasal dan siapa? orang tuaku."ujar gadis itu.
"Heumm,,, baik'lah Raya, aku harap kamu bisa menerima kenyataan ini."ujar Ray men jeda ucapannya.
"Apa? Yang kamu maksud Ray."tanya gadis itu.
"Kedua orang tua mu sudah tiada, dia adalah sopir dan pembantu di rumah Almira saat itu. saat mommy melahirkan, aku dan Kimberly, kebetulan di rumah sakit yang sama juga ibumu melahirkan, namun sayang Almira menukar mu dengan bayi yang sudah meninggal dunia yang ia ambil dari orang bayarnya semeantara kamu ditukar dengan Kimberly dan adikku dia buang di tengah jalan sepi tepat saat malam hari."ujar Ray begitu spesifik.
"Lalu dimana makam kedua orang tua ku itu Ray,,,"ujar gadis itu yang kini terlihat dibanjiri oleh air mata.
"Dia dimakamkan tidak jauh dari rumah mu, di pemakaman umum. mereka korban tabrak lari dan hingga saat ini tidak ada satupun yang mengetahui titik terang kasus itu. kamu yang sabar ya,,,, masih ada aku yang akan tetap menjadi saudara mu."ujar gadis itu.
"Heumm,,, apa? Aku masih pantas untuk itu."tanya gadis itu.
Dia semakin terisak saat dia ingat selalu merendahkan pelayan Mension dimana dia tinggal dulu, tanpa tau bahwa sesungguhnya dia juga hanya seorang anak pelayan.
"Raya,,, kamu adalah adikku sampai kapanpun juga tentu saja kamu pantas untuk itu, meskipun kita tidak bisa tinggal bersama setidaknya aku akan selalu ada untukmu."ucap Ray tulus.
"Aku merasa tak pantas Ray, biar bagaimanapun aku sudah menjadi duri dalam keluarga mu."ucap gadis itu sendu.
"Tidak Raya mommy sudah memaafkan mu, dia bahkan ingin bertemu dengan mu, jika ada waktu luang datanglah ke rumah. itu masih rumahmu."ujar pria itu.
"Heumm,,, terimakasih, apa? Aku bisa melamar pekerjaan dengan status ku yang pernah dipenjara."ujar gadis itu lagi.
"Status itu tidak akan pernah ada karena Daddy tidak pernah mempublikasikan semua itu, Daddy juga berpikir bahwa kamu adalah darah dagingnya waktu itu sampai hasil tes DNA keluar baru-baru ini, setelah kau sudah bebas jadi lupakan masa lalu yang pahit itu."ujar gadis itu.
"Ya,,, kamu mungkin bisa begitu karena kamu tidak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi diriku, tapi aku akan mencoba seperti semua yang kamu katakan itu."ujar gadis itu.
"Heumm,,, itu jauh lebih baik."ujar Ray sambil terus mengusap puncak kepala gadis itu.
Setelah tangis pilu itu reda akhirnya gadis itu pun memutuskan untuk berziarah ke makam kedua orang tuanya.
Di dampingi oleh Ray, yang kini ikut berjongkok di makam kedua orang tua gadis itu.
Terlihat wajah gadis cantik yang kini basah dengan air mata, tidak terbayang oleh Ray bagaimana? perasaan Raya saat ini, kehidupannya yang terjungkir balik seratus delapan puluh derajat.
Gadis super manja dan selalu hidup glamor itu, kini kehidupan yang harus dia jalani adalah kehidupan yang cukup sederhana meskipun tidak yang terlalu sederhana.
"Sudah doakan saja semoga kedua orang tuamu masuk surga, sekarang hiduplah dengan baik, aku akan mengosongkan posisi pegawai di kantor untuk mu."ujar Ray.
"Terimakasih Ray,,, hanya itu yang bisa aku katakan aku tidak bisa membalas Budi baik mu."ucap gadis itu.
Ray pun pergi bersama dengan Raya menuju rumah tempat dimana Raya tinggal.
Dia melihat rumah yang kini Raya tempati sedikit berdebu mungkin karena gadis itu tidak pandai bersih-bersih.
"Di lemari penyimpanan ada robot pembersih debu atau Vakum cleaner, dengan alat itu kamu bisa bersih-bersih rumah."ucap Ray.
"Maaf aku tidak tau kegunaan semua itu, nanti aku akan lebih giat lagi untuk belajar bersih-bersih."ujar gadis itu.
__ADS_1
"Heumm,,, apa? perlu seorang asisten untuk itu, aku bisa Carikan."ujar gadis itu.
"Tidak perlu aku tidak punya penghasilan, darimana? Aku bisa membayar orang lain aku saja masih bergantung padamu. mungkin besok aku akan segera mencari pekerjaan."ujar Raya.
"Bekerjalah di kantor, aku akan menempatkan mu di device perencanaan."ucap pria itu.
"Tidak Ray, sudah terlalu banyak bantuan yang kamu berikan, aku tidak ingin menyusahkan mu lagi, suatu saat nanti jika aku benar-benar tidak lagi bisa berdiri dengan kaki ku sendiri mungkin aku akan kembali meminta bantuan darimu."ucap Raya.
"Lalu kamu kamu mau bekerja dimana."ujar Ray.
"Aku mungkin bisa membuka les privat untuk anak-anak usia dini, setidaknya aku bisa mengamalkan ilmu yang ku miliki."ujar Raya.
"Aku akan bantu untuk menyediakan tempat."ujar Ray.
"Tidak perlu Ray, rumah ini memiliki halaman yang cukup luas dan juga taman kecil, aku tinggal menambahkan bangku dan meja untuk mereka, agar mereka lebih nyaman."ujar Raya.
"Itu jauh lebih baik jika butuh bantuan kamu bisa panggil aku."ujar pria tampan itu.
"Heumm, baik'lah tuan muda Ray yang baik hati."ujar Raya.
Akhirnya mereka pun tertawa kecil.
"Aku pamit dulu ingat jangan merasa sendiri lagi ada aku yang selalu ada untukmu."ujar gadis itu.
Sampai saat mereka berpisah.
...........................
Sementara itu di kediaman Agista, saat ini dia tengah kedatangan tamu yang sangat penting.
Rayan dan Daisy juga Kimberly datang menjenguk gadis itu.
Agista baru keluar dari dalam kamarnya setelah selesai mandi.
Sampai saat dia berhadapan dengan ketiga orang itu.
"Sayang kamu apa? kabar bagaimana? keadaan kaki mu."ujar ucap Daisy yang langsung menghampiri Daisy.
"Heumm syukurlah, apa? mau mommy bantu untuk duduk di sofa."ujar Daisy lagi.
"Tidak usah Mom, disini saja."ucap Agista.
"Kim,,,ini kak Agis usianya hanya beda beberapa bulan saja dengan mu."ujar Daisy.
"Salam kenal aku Kimberly."ujar gadis itu sopan.
"Agis, kamu sungguh cantik dan sangat mirip dengan mommy."ucap Agis.
"Heumm..."jawab Kimberly sambil tersenyum.
"Daddy datang untuk melihat keadaa mu, sekaligus meminta bantuan mu, tolong suruh pulang David karena dia sangat sibuk dan lagi dia bukan Baby sitter mu."ujar Rayan tanpa basa-basi.
"Daddy..."lirih Daisy.
"Iya akan Agis lakukan."ujar Agista.
"Agis,,, David bisa datang kapanpun untuk menjenguk mu, tidak baik tinggal bersama kamu pasti mengerti."ucap Daisy lembut.
"Saya mengerti mommy, dan kalian juga bisa melarang dia untuk tidak datang lagi kemari."ujar Agis sambil tersenyum kecut.
Gadis itu kini mengerti bahwa diantara dirinya dengan David masih ada tembok yang menjulang tinggi dan tidak bisa dihancurkan.
"Bukan begitu maksud mommy Agis, tolong jangan tersinggung."ucap Daisy.
"Tidak perlu menjelaskan lagi mommy Agis mengerti semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya dan David berhak untuk mendapatkan semua itu."ucap Agista.
"Agista sayang."ucap Daisy yang kini mengerti perasaan gadis itu.
"Agis sadar diri mom,,, posisi Agis dimana dan Agis tidak pernah meminta David untuk bersama dengan Agis sejak dulu aku sudah menolaknya."ujar gadis itu.
"Syukurlah jika kamu memang tahu posisi mu dimana?."ujar Rayan.
__ADS_1
"Daddy..."ucap Daisy lagi.
"Tidak apa-apa mommy semua memang seharusnya."ucap Agis.
Gadis itu hanya menunduk, lalu kembali menoleh.
Agista langsung kembali berkata."Mommy bisa bawa barang-barang David semua ada di sana Agis akan minta Bibi untuk merapihkan semuanya."ucap Agis.
Agista pun pergi meninggalkan mereka menuju kamar yang ia tunjuk tadi.
Agis langsung meraih barang-barang David meskipun sedikit kesulitan dia memasukkan satu persatu, sampai asisten rumah datang membantu, semua sudah di kemas kedalam koper, dia pun meminta bibi untuk mengantar koper itu kepada Daisy dan juga Rayan semeantara dia berkata bahwa ia sedang berada di dalam kamar mandi.
Agista langsung masuk kedalam kamar mandi, gadis itu meraih shower dan menyalakannya saat itu juga derai air mata nya tidak kunjung berhenti.
Gadis itu sudah hampir satu jam didalam kamar mandi, sampai saat dia keluar dia meminta bibi untuk membereskan barang-barang kedalam koper semeantara Agis menghubungi seseorang saat itu juga.
Daisy dan suami juga putrinya itu kini sudah di perjalanan pulang begitu juga dengan Agista yang baru keluar rumah dengan membawa kedua kopernya dibantu oleh asisten pribadi Leon yang ada di sana.
Agista pun pergi menuju bandara, kali ini tujuannya bukan Amerika melainkan tempat tinggal ayahnya Agista yang baru-baru ini tahu tentang keberadaan ayah kandungnya di sebuah negara itu dia akan mencoba untuk menemui pria itu.
Bertepatan saat Agista akan terbang dengan jet pribadi milik Leon yang kebetulan ada di sana, David datang ke kediaman Agista.
Pria itu mengamuk saat tau Agista pergi, dia bahkan mengamuk di Mension.
Rayan sendiri tidak mampu menghentikan amukan putra sulungnya itu, bahkan David mengancam akan meninggalkan keluarga dan seluruh aset yang diberikan padanya termasuk dari keluarga ibunya.
David langsung pergi menuju kamarnya membawa kembali barang-barang yang tadi kedua orang tua nya bawa.
David pun pergi meninggalkan Mension tersebut dia tidak menghiraukan panggilan dari ibunya.
David sudah berada di sebuah tempat dia tengah dibantu sahabatnya yang hacker itu untuk melacak keberadaan Agista.
Lagi-lagi dia menemukan kenyataan bahwa Agista pergi dengan asisten pribadinya Leon.
Pria itu langsung menghubungi Leon namun pria itu tidak menggubris panggilan telepon dari David, sungguh dia sangat marah saat adiknya lagi-lagi direndahkan oleh keluarga David.
Pria itu ingin rasanya menghancurkan satu persatu bisnis milik keluarga Rayan agar tidak lagi bersikap sombong seperti saat ini.
Sementara itu di kediaman Rayan kini Daisy masih menangis dalam dekapan putrinya.
Dia kembali marah pada Rayan, yang suka berbuat sesuka hati dan akibatnya putranya itu pergi.
Para wanita itu pun langsung bergegas pergi menuju kamarnya Kimberly sementara Rayan kini tengah duduk sambil memijat keningnya.
Gadis itu pun mencoba membuat ibunya tenang agar tidak lagi bersedih dia yakin bahwa saat ini David hanya terbawa emosi.
Sementara Agista saat ini dia sudah tiba di sebuah pulau tempat dimana ayah kandungnya berada.
Dia disambut cukup baik oleh keluarga ayahnya itu yang terdiri dari Tantenya dan juga ada dua orang pria muda yang merupakan anak dari pria yang kini tengah duduk di kursi roda.
Pria itu menangis sesenggukan saat melihat Agista, dia begitu mirip dengan wanita cantik yang menjadi cinta pertamanya itu.
Bukan dia tidak berniat untuk mengambil Agista dari Agam saat mendengar kabar bahwa Novita meninggal dunia karena bunuh diri saat itu pula dirinya terkena stroke karena dia begitu bersedih.
Sampai saat ini dia pun baru bisa berbicara dan berjalan tertatih.
Agista langsung berjongkok di hadapan pria yang seharusnya melindungi dirinya merawat dan menjaganya, tapi saat ini dia mulai mengerti kenapa? Pria itu tidak kunjung menampakkan dirinya.
Agis langsung memeluk pria itu tangisnya pecah saat ini dia tidak pernah mengira akan dipertemukan dengan sosok pria yang menjadi ayahnya itu.
Agista tidak ingin apapun dia hanya ingin diakui sebagai putri dari pria yang sampai saat ini masih terlihat tampan meskipun keadaannya tidak seperti dulu lagi seperti foto yang ia temukan di buku diary milik sang mommy.
Disana dijelaskan bahwa sosok pria itu adalah ayahnya, Agista menemukan itu baru-baru ini ada di lemari pakaian yang lama milik sang mommy.
"Daddy." lirih Agista.
Pria itu pun mempererat pelukannya pada putrinya itu tangisnya pecah dan tidak lagi hanya isak kan kecil.
Agista pun melakukan hal yang sama, gadis itu bahkan seakan enggan untuk melepaskan pelukan dari sang daddy.
"Maaf kan Daddy sayang, bukan Daddy tidak menyayangi mu, tapi pria itu bahkan tidak memperbolehkan Daddy untuk menjenguk mu Daddy mengerti mungkin dia juga sangat menyayangi mu."
__ADS_1