
Sampai di kamar Anya, Riki bergegas membantu Anya memilih baju yang Anya perlihatkan di lemari pakaian.
"Ini lebih baik lebih tertutup juga"ucap Riki saat memilih sebuah long dress semata kaki dengan motif bunga meskipun berlengan pendek, itu sebenarnya bukan milik Anya, tapi ada di sana mungkin mommy nya yang belikan.
"A boleh tanya"ujar Anya.
"Ya sayang"jawab Riki.
"Kriteria wanita yang AA suka itu seperti apa? sih" tanya Anya.
"Jujur ya Yang AA suka wanita yang pintar menjaga harga diri nya seperti yang menutup aurat dan juga pintar memasak, tapi mungkin khayalan AA terlalu jauh, tapi tidak apa? kita bisa sama-sama belajar"ucap Riki, yang sedikit merasa bersalah karena kini Anya, terlihat murung.
"Maaf ya A, mungkin kamu tidak beruntung untuk itu, tapi kamu bisa pertimbangkan lagi sebelum semua nya terlanjur" ucap Anya, yang kini malah duduk tak bersemangat sama sekali.
"Yang kamu kok, bicaranya seperti itu... aku terima kamu apa adanya Yang... justru mungkin aku yang terlalu banyak kekurangan disini aku hanya orang biasa"ucap Riki.
"A harta tidak selalu menjadi ukuran untuk hidup bahagia meskipun terkadang perlu semua itu, tapi keinginan mu itu bahkan tidak akan pernah bisa aku penuhi aku tidak mungkin bisa seperti yang AA harapkan"ucap Anya.
"Yang please... AA bilang itu hanya keinginan tapi jika tidak terwujud semua bukan salah mu"ucap Riki yang kini duduk di samping Anya.
"Ayo bersiap, mamah sudah menunggu mu" ucap Riki.
"Tidak A sebaiknya AA batalkan saja semua nya Anya.. bisa pulang sekarang juga mungkin kita benar-benar"ucapan Anya terhenti saat Riki menempel kan jari telunjuk nya di bibir Anya.
"Yang.... please jangan katakan itu kamu ingat perjuangan kita untuk sampai disini itu tidaklah mudah"ucap Riki.
Anya pun berurai air mata, saat mengingat dirinya hampir tewas di tangan dukun santet gara-gara hubungan mereka.
"Yang hey... jangan menangis AA minta maaf jika AA salah sama teteh AA tidak bermaksud untuk menyakiti teteh dengan perkataan AA tadi"ucap Riki yang kini terlihat sangat serius dari sebelumnya.
Anya, hanya menggeleng kemudian kembali berkata" AA pulang saja Anya... ingin sendiri dulu"ucap Anya.
"Yang AA benar-benar minta maaf, AA benar-benar menyesal sudah membuat teteh sedih andaikan waktu bisa diputar kembali, AA tidak akan menjawab pertanyaan teteh tadi"ucap Riki.
"Tidak apa... AA memang sudah seharusnya berkata jujur justru disini aku yang salah AA tidak salah AA boleh pergi Anya mohon.
Cuph...
Bibir Riki tiba-tiba menempel di bibir Anya, dan untuk pertama kalinya, setelah tiga tahun lamanya mereka menjalin hubungan.
Anya dan Riki memejamkan mata mereka sejenak lalu kemudian bergerak lembut ciuman yang berdurasi beberapa detik itupun berakhir Anya menatap sendu pada Riki begitu pun sebaliknya.
"Please jangan marah lagi apalagi meminta pisah AA tidak ingin semua ini berakhir, kita bisa belajar bersama-sama dan sayang tidak usah menjadikan semua itu sebagai beban, AA ridho jika seumpama teteh tidak bisa memenuhi kewajiban teteh dalam urusan memasak, karena AA tidak mencari asisten rumah tangga, tapi jika sayang mau belajar AA dengan senang hati akan mengajarkan itu"ucap Riki.
Anya pun mengangguk dan akhirnya Riki kembali meminta Anya, untuk segera bersiap.
Sampai Anya selesai bersiap dan mereka berdua berangkat dengan berjalan kaki karena jarang rumah mereka tidak lah jauh, saat mereka sedang berjalan tiba-tiba saja sebuah balok kayu hampir mengenai wajah Anya, jika saja Riki tidak menangkis dengan tangan nya .
Seseorang dengan tatapan tajam penuh kemarahan terhadap gadis yang kini terlihat syok itu.
"Apa-apaan kamu Ida"ucap Riki marah besar hingga mendorong Ida dengan kasar.
"Dia sudah merebut mu dariku A sekarang dia juga sudah menyantet nenek ku dan ibu juga menjadi gila gara-gara dia aku hancur, dia juga harus hancur!"teriak Ida, lantang sampai-sampai para warga yang melihat kejadian itu langsung mendekat mengamankan Ida, yang kini mengamuk seperti orang kesurupan.
Sementara Riki langsung mendekap Anya, yang kini masih terlihat syok dan ketakutan.
Jika saja balok kayu yang cukup besar itu menghantam wajah nya mungkin akan hancur dan mungkin juga Anya geger otak.
"Sayang...hey lihat kamu aman...AA tidak akan pernah membiarkan mu terluka sedikitpun, tidak akan pernah ayo itu rumah kita sudah dekat"ucap Riki, sambil menahan sakit di bagian tangan kirinya.
"Tangan AA, berdarah dan ini tolong!" teriak Anya meminta seseorang untuk menolong tangan Riki, yang kini terlihat memar parah.
"Tidak apa-apa sayang bisa diobati di rumah oke jangan panik"ucap Riki, masih mencoba untuk tidak memperhatikan rasa sakit nya itu karena dia tidak ingin Anya, semakin ketakutan.
"Pak RT, yang melihat putranya itu sedang berada di dalam keributan dia langsung bergegas.
"Ada apa? ini"tanya pak RT.
"Ini pak RT, A Riki terluka gara-gara si Ida, menyerang neng Anya"ucap salah satu warga.
"Kebangetan wanita itu, dimana dia saya akan laporkan pada polisi"ucap pak RT.
"Tidak usah pak biarkan saja dia sudah tidak waras sepertinya"ucap Riki yang kini tidak bisa lagi menahan rasa nyeri yang teramat pak RT langsung meminta salah satu warga untuk mengurut tangan Riki, yang sepertinya mengalami retak tulang dan gangguan otot tangan nya.
Anya sendiri menangis di dalam balik punggung Riki yang kini tengah diurut oleh tukang urut yang profesional yang ada di kampung. tersebut.
"Sayang jangan menangis AA akan baik-baik saja, teteh jangan takut ya"ucap Riki lembut.
__ADS_1
"Baik-baik gimana? lihat tangan as sampai bengkak begitu, hiks hiks hiks"Anya masih terisak Gadis dewasa yang teramat manja itu sangat ketakutan saat melihat pria yang ia cintai kesakitan.
"Tidak apa-apa...neng AA kuat kok, dulu pernah lebih parah dari ini kok saat kecelakaan motor"ucap Bu Mira yang kini mengelus punggung calon mantunya itu dengan sayang.
Bu RT, menyayangi Anya, seperti ia menyayangi putri nya sendiri, apalagi setelah mendengar cerita dari Daisy, bahwa Anya, adalah seorang yatim Piatu, ibu Mira merasa iba, meskipun Anya hidup berkecukupan tapi dia kesepian tanpa kehadiran seorang ibu, dan Daisy, yang kini menjadi ibu angkat sekaligus kakak ipar nya itu.
"Mah AA begini karena nolongin aku"ucap Anya lagi.
"Tidak apa-apa Neng... sudah seharusnya laki-laki melindungi wanita dari bahaya apalagi ini calon istri nya...sudah ya jangan menangis nanti cantiknya berkurang bagaimana?"goda Bu RT.
............................
"Tidak apa-apa aku hanya tidak tega melihat AA seperti ini"jawab Anya.
Sementara Riki yang mendengar itu merasa teramat dicintai.
Dia mengelus puncak kepala Anya, dengan tangan kanannya dan mendekap nya.
"Aku baik-baik saja Yang lihat sebentar lagi juga sembuh iya kan bah?"tanya Riki pada tukang urut tersebut.
"Iya neng ini cuma gangguan urat dan sedikit retak sebentar lagi juga baikan asal diistirahatkan"ucap si Abah.
Anya pun mulai tenang Bu RT, sedari tadi menyodorkan tisu pada Anya untuk mengusap air mata nya beserta ingus yang keluar tanpa sadar sudah menghabiskan hampir setengah kotak tisu yang kini terkumpul di bawah sofa, beruntung camer dan pamer nya begitu perhatian hingga Anya, merasa nyaman itu juga karena dia belum sadar dengan perbuatannya.
"Sayang, sudah jangan menangis ya, nanti selain air mata nya kering pabrik tisu juga kehabisan bahan"canda Riki, sontak Anya melirik ke arah kotak tisu dia membulatkan matanya saat melihat puluhan tisu itu ber haburan di lantai.
"Owh ya ampun...m maafkan Anya"ucap Anya lirih.
Gadis itu hendak berdiri untuk memunguti tisu tersebut tapi seseorang keburu datang membawa pengki dan sapu untuk membersihkan sampah tisu tersebut, orang itu adalah pak RT.
"Pak biar Anya saja"ucap Anya.
"Tidak usah sayang "jawab Riki yang kini menahan tangan Anya.
"Tapi A mommy bilang harus tanggung jawab jika berbuat kesalahan"ucap Anya.
"Iya tapi itu tidak sengaja bapak juga selalu bersih-bersih"ucap Riki.
"Tidak usah neng tapi besok-besok boleh kok bantu bersih-bersih"canda pak RT sambil tersenyum.
"Pak Anya saja yang bersihkan"ucap nya merasa tidak enak.
"Hahaha..."si Abah tertawa lepas.
"Sudah selesai tiga hari lagi di urut kembali "ucap si Abah.
"Iya bah makasih ini ada sedikit rejeki untuk Abah"ucap Anya, yang mengeluarkan uang berwarna merah ada hampir sepuluh lembar, dan Bu RT, membulatkan matanya.
"Yang tidak usah biar AA saja"ucap Riki.
"Gak apa-apa... ambil ya bah"ucap Anya.
"Terimakasih Neng semoga rejeki nya tambah lancar"ucap si Abah mendoakan.
"Sama-sama bah amiinn yrbl alamin"jawab Anya.
"Yang makan dulu ya sudah larut kamu pasti belum makan siang"ucap Riki.
"Aku bawa roti A"ucap Anya.
"Neng ibu masak banyak loh"ucap Bu Mira.
"A "ucap Anya bingung minta tolong dijelaskan.
"Sudah Riki bilang mah jangan masak banyak-banyak calon mantu mamah tidak suka makan jadi tidak dimakan deh"ucap Riki.
"Makan... kok, mah bentar lagi, tidak mungkin tidak dimakan" ucap Anya.
"Yang... gak usah dipaksain"ucap Riki yang khawatir.
Anya memang tidak pernah makan- makanan yang disajikan oleh orang lain, kecuali kedua orang tua nya dan juga Rayan, selama ini hingga Daisy, hadir Daisy lah yang berhasil membuat lidahnya kembali merasakan hidangan nikmat yang selalu dibuat sang mommy dulu.
Sementara jika Daisy, tidak ada Anya hanya makan roti buah salad juga jus.
Sesekali ia pergi ke restaurant bintang lima yang dia pesan sama saja seperti itu.
"Ayo kita makan dulu sayang tapi kalau tidak suka jangan dipaksa"ucap Riki.
__ADS_1
"Baiklah" ucap Anya, sedikit ragu.
Setelah selesai diurut akhirnya Riki dan Anya diikuti pak RT, setelah Bu Mira terlebih dahulu.
Sesampainya di sana, Anya dipersilahkan duduk oleh Riki, dengan menarik kursi dengan tangan kanan nya, beruntung tangan kiri yang cedera.
Manusia sudah celaka selalu masih ada untungnya.
"A tidak usah Anya, bisa sendiri"ucap Anya.
"Tidak mengapa...ayo duduk yang" ucap Riki yang kembali menarik kursi untuk nya.
Anya pun duduk di hadapan pak RT dan ibu RT, Anya membalikkan piring yang sudah ada di hadapannya, dia menyendok nasi sama ayam goreng karena itu adalah menu paling aman di perut Anya, meskipun tetap tidak sama dengan buatan Daisy.
"Yang hanya itu, yang lainnya bagaimana apa? ada yang kamu inginkan"ucap Riki.
"Ini saja A... setidaknya Anya makan menghargai mamah yang sudah masak, maafkan Anya...mah jika Anya mengecewakan mamah sungguh tidak ada niatan tapi perut Anya beda dari yang lain"ucap Anya.
"Tidak apa-apa yang penting kamu makan" jawab Bu Mira.
"Iya mah makasih sudah susah payah lain kali Anya belajar masak kesukaan AA"ucap Anya.
"Bagus bapak suka dengan orang yang mau belajar meskipun tidak mudah"ucap pak RT.
"Iya pak"ucap Anya.
Anya pun mulai menyuapkan makanan ayam goreng dan nasi tersebut.
Gadis itu mengunyah makanan tersebut perlahan dan sangat lama bahkan satu banding empat suapan.
Tapi makanan tersebut berhasil Anya habiskan.
Hingga akhirnya selesai makan malam Anya, kembali mengobrol dengan kedua orang tua Riki.
Riki sendiri entah pergi kemana, karena dia pamit ke apotek yang ada di kampung tersebut mungkin beli obat untuk penghilang rasa sakit.
Sampai Anya, pamit pulang dan pak RT yang mengantar Anya, sampai ke depan rumah nya.
Sementara Riki yang baru tiba di rumah dia buru-buru nyusul Anya, membawa pulang satu keranjang buah-buahan segar yang baru dia petik.
Malam-malam Riki memetik buah di kebun sayur milik pak RT, yang terlewat dari di pinggir jalan kebetulan buah-buahan segar itu ada beberapa macam.
ada kiwi anggur dan juga sawo rambutan dan mangga mengkkel itu.
Dia memetik itu ditemani oleh Yanwar, yang juga melintasi jalan tersebut.
"Sayang buka pintu nya" ucap Riki.
Tapi yang membuka pintu bukan Anya, tapi pelayan.
"Dimana Anya"ucap Riki.
sambil meminta pelayan mencuci buah-buahan.
"Nona diatas mungkin sedang istirahat"ucap pelayan tadi.
"Baiklah saya naik tolong bersihkan buah-buahan itu dan simpan di kulkas untuk Anya"ucap Riki.
"Baik tuan"ucap pelayan itu sopan.
"Sayang kamu dimana"ucap Riki lagi.
"A aku disini"ucap Anya, yang terlihat sedang menahan sakit.
"Sayang kamu kenapa?"tanya Riki panik.
"Tidak tau A... saat pulang dari rumah AA, tiba-tiba saja perut Anya sakit"ucap Anya.
"Jangan-jangan karena tadi kamu maksain makan ya"ujar Riki.
"Tidak mungkin A.... tadi aku baik-baik saja"ucap Anya.
"Apa? ada obat"ucap gadis itu.
"Ada A, di tas"jawab Anya.
"Yang ini obat apa?" ucap Riki.
__ADS_1
"Penahan rasa sakit A" ucap Anya.
"Heumm"