Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa

Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa
#Tidak ingin pulang#


__ADS_3

Sementara, Daisy masih anteng makan dengan menu yang ia suap kan pada Rayan.


Sementara Rayan sedari tadi dia hanya dia hanya memakan, makanan yang Daisy buat.


"Mommy, ikan bakar nya tidak mau,ini enak loh"ucap Anya.


"Syukurlah jika kamu suka nona"ucap Daisy.


"Mau nyoba gak"ucap Rayan yang langsung menyodorkan garpu berisi ikan panggang, tapi Daisy langsung menggelengkan kepalanya.


"Saya tidak terlalu suka tuan"ucap Daisy yang kembali bicara formal.


"Rayan Dy"ujar Rayan mengingatkan.


"Dy, kamu mau berapa lama tinggal di sini"tanya Rayan lagi.


"Mungkin, selamanya"ucap Daisy.


"Mom..."tiba-tiba Anya sewot.


"Aku tidak mungkin meninggalkan kampung halaman ku terlalu lama nona, lagipula aku juga masih punya urusan di sini"ucap Daisy.


"Dy, urusan nya hanya sampai empat puluh hari saja iya kan, setelah itu kamu bisa kembali ke rumah kita"ucap Rayan.


"Seratus hari, rumah ini tidak mungkin aku tinggalkan"ujarnya.


"Tapi Mommy, itu terlalu lama, jika begitu aku tidak mau pulang , aku tinggal di sini saja"ucap Anya.


Daisy pun menghela nafasnya lalu kembali berkata"Aku mohon beri aku waktu, sampai aku benar-benar ikhlas, dan benar-benar sadar jika Ambu, telah tiada, akupun masih tak percaya tapi aku, masih merasakan bahwa Ambu, masih ada di rumah ini.


"Dy, aku tau tidak apa-apa, jika kamu masih ingin disini tapi aku mohon, jangan lupa mengabari kami dan tolong beritahu pelayan tentang semua resep makanan yang selalu kamu buat kan untuk kita, setidaknya kamu bisa tenang dulu di sini aku akan segera kembali dengan bocah ini"ucap Rayan.


"Aku sudah memberikan takaran yang pas untuk semua masakan yang aku buat" resep nya ada di dalam lemari penyimpan"ucap Daisy.


Daisy, pun kembali membereskan peralatan dan ikan yang masih utuh, di pindah ke dalam wadah tertutup dan di simpan di sana.


Agam hanya menyimak obrolan mereka, sambil sesekali memainkan Handpone nya.


Anya sendiri masih cemberut karena Daisy, tidak ikut pulang dengan nya sore nanti.


"Agam apa? masih ingin disini kakak masih punya banyak pekerjaan" ucap Rayan.


"Kita pulang saja kak, biar mommy, menenangkan diri dulu, sambil mengurus semua nya di sini"ucap Agam.


"Aku tidak mau pulang titik" ucap Anya tegas.


"Masih mau tidur di kasur yang keras"ucap Rayan, sengaja menakuti Anya.


"Aku.... Ahhhhhh... kakak, setidaknya kakak kirim kasur dan perabotan lainnya, buat kita agar bisa liburan terus disini?"ucap Anya.


"Tanya mommy kalian apa? mau menerima itu semua, kakak rasa tidak"ujar Rayan .


"Kirim saja jika nona muda tidak ingin pulang"ucap Daisy.


"Rayan pun tersenyum, kini dia sudah mulai mengerti bagaimana cara untuk menaklukkan Daisy, yaitu dengan, menyebutkan sebuah penolakan maka, Daisy, akan berbuat kebalikan nya, karena dirinya merasa tertantang.


"Barang, apa? saja yang kamu mau Nya"tanya Rayan.


"Perlengkapan tidur, perlengkapan mandi, dan perlengkapan dapur, tidak dan juga sofa"ucap Anya.


"Tidak boleh, semua itu jika nona ingin tetanggaan dengan saya di rumah lain mungkin, karena saya tidak akan pernah mengubah rumah ini sedikit pun, dan sebagainya Nona, menginap di penginapan saja"ucap Anya, menolak tegas.


"Tuh kan apa? kakak bilang, mommy Dy, tidak mau barang moderen hingga di sini"ucap Rayan.


"Aku ijinkan hanya tempat tidur untuk nona muda saja tidak dengan fasilitas lainnya, rumah ini akan tetap seperti ini"ucap Daisy.


"Ya sudah aku pulang saja, tapi mommy janji ya, balik lagi"ucap Anya.

__ADS_1


"Tentu saja"ucap Daisy.


"Baiklah bersiap lah sebentar lagi kita pulang "ucap Rayan.


"Tunggu sebentar tuan saya ambil dulu"ucap Daisy yang membuat Rayan, menatap heran.


"Dy, apa? maksud mu"ucap Rayan yang mengikuti langkah Daisy.


Gadis itu tidak menjawab, hingga tiba di kamar, Rayan berdiri mematung di depan kamar Daisy yang terlihat sangat rapi meskipun sederhana dengan ranjang dari kayu jati pilihan, terlihat nyaman.


"Dy, apa? ini kamar mu"Tanya Rayan yang melihat foto-foto yang dipajang di dinding kamar , memperlihatkan foto Daisy, saat seusia ABG dan saat kecil sekitar usia tiga tahun dia terlihat menggunakan pakaian adat tradisional, dan sangat menggemaskan, tapi dia melihat wajah seseorang di samping Daisy.


Seseorang yang Rayan kenal sebagai rekan bisnis nya saat ini, dia adalah pria yang anaknya akan dijodohkan dengan nya, dan itu artinya, ayah Daisy masih hidup.


"Dy, ini siapa?"tanya Rayan.


"Itu ayah, tapi Ambu, bilang dia sudah meninggal, saat aku masih kecil, bersama dengan ibu"ujar Daisy.


"Apa? makam nya disini juga"tanya Rayan lagi.


"Tidak kata Ambu, almarhum Ayah dibawa pulang oleh keluarganya ke luar kota, karena pernikahan, antara ayah dan ibu, tidak direstui oleh kedua orang tua nya"jawab Daisy.


"Ada, apa? memang nya tuan"tanya Daisy.


"Tidak, hanya saja kamu ternyata mirip dengan nya"ucap Rayan.


"Ini tuan, untuk sementara Anda bisa membawa ini kembali setelah saya kembali nanti baru saya pegang lagi, tapi seharusnya sih, tidak perlu lagi ya, tuan sebentar lagi kan akan menikah jadi ada istri anda yang akan mengurus semuanya"ucap Daisy.


"Aku tidak mau terima jika kamu bicara seperti itu, Dy, seolah kamu tidak ingin lagi bertemu dengan ku"ucap Rayan.


"Tuan umur tidak ada yang tau, saya melakukan itu untuk antisipasi, jika suatu saat nanti saya tidak ada umur lagi, dan semua ini masih ada di tangan saya, saya akan berdosa"ucap Daisy.


"Tidak akan jadi dosa Dy, aku memberikan mu semua itu dengan ikhlas, seharusnya kamu gunakan untuk semua kebutuhan mu, apalagi untuk acara tahlilan nanti, kamu butuh uang banyak"ucap Rayan.


"Tidak, tuan Ambu, juga memiliki sedikit simpanan dan bisa dijual, ini koleksi Ambu"ucap Daisy, yang menunjukkan bahwa sebuah kotak perhiasan ada satu buah kalung emas, gelang dan cincin, dan terlihat dari emas murni, jika diuangkan cukup lumayan.


"Simpan semua itu, sebagai kenang-kenangan lebih baik kamu , gunakan ini"ucap Rayan.


"Baiklah ini aku ambil tapi yang ini simpan ok" ucap Rayan.


"Simpan dimana"tanya Daisy dengan sengaja.


"Di hatimu"ucap Rayan, sambil tersenyum manis.


Deg....


Tiba-tiba debaran jantung itu, sungguh membuat nya, sulit untuk menyembunyikan, rasa yang aneh, pipi Daisy merah merona.


"T tidak tuan simpan saja semua itu"ucap Daisy.


"Dy, aku mohon aku hanya ingin kamu yang pegang bukan orang lain, sekalipun aku menikah suatu hari nanti"ucap Rayan.


...............................


Setelah acara tahlilan selesai di gelar, semua orang sudah bersiap untuk pergi termasuk Rayan, setelah Anya dan Agam, masuk mobil Rayan masih berdiri di ambang pintu, rasanya tidak ingin pulang, jika mengingat Daisy, berada di rumah itu sendirian.


"Dy, jangan lupa hubungi kami, jika ada apa-apa, jangan lupa janji kamu hanya seratus hari, tapi mungkin kamu bisa berkunjung dengan cara minta dijemput oleh sopir"ucap Rayan.


"Lihat nanti saja tuan"ucap Rayan.


Rayan pun pamit.


"Mommy! pulang aku sedih mommy tidak pulang"teriak Anya.


"Anya"ucap Rayan.


"Dy, aku pulang dulu ya, jaga diri baik-baik"ucap Rayan.

__ADS_1


"Iya tuan hati-hati di jalan, jangan lupa beritahu saya jika sudah sampai, agar saya tidak cemas"ucap Daisy.


"Tentu Dy, masuklah ini sudah malam"ucap Rayan.


"Tunggu kalian pergi dulu, biar saya tenang"ucap Daisy.


"Baiklah, hati-hati di rumah"ucap Rayan.


"Heumm" Daisy pun melihat punggung pria itu berlalu pergi meninggalkan rumah sederhana itu.


Daisy, pun menutup pintu, setelah mobil mereka pergi, Daisy kembali menangis, sesenggukan, rasa sepi itu ternyata begitu terasa menyakitkan ketika semua orang pergi Daisy, pun terduduk di belakang dimana tempat Ambu nya, selalu bersantai sambil melihat pemandangan yang mengarah ke kolam ikan dan juga halaman super hijau yang ada di sana.


Hingga pukul sebelas malam, Daisy pun masuk kedalam kamar nya, dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang saat akan memejamkan mata, tiba-tiba Handpone milik Daisy berdering dan menampilkan panggilan video.


"Apa? kamu merindukan ku"ucap Rayan sambil tersenyum manis.


"Tuan"ucap Daisy, tanpa sadar dengan wajah sembab nya itu.


"Aku tau kamu habis menangis, Dy, semua akan baik-baik saja, percaya lah, Ambu sudah pergi dengan tenang, jadi jangan terlalu larut"ucap Rayan.


"S saya hanya sedih tuan, saya tidak bisa menemui dia lebih awal, Ambu, pasti menunggu ku, selama ini, jika saja wanita gila itu, tidak membawa ku, kesana mungkin saat ini kami masih bersama-sama dan aku tidak akan menyesali semua ini"ujar Daisy.


"Dy, mungkin kamu tidak ingin kejadian itu terjadi, tapi itu berarti kamu pun menyesali pertemuan kita semua"ucap Rayan.


"Tuan, mungkin benar, tapi percayalah saya tidak menyesal bertemu dengan kalian yang baik hati, justru saya, merasa sangat beruntung, ya... tuan benar seharusnya saya tidak mengeluh"ucap Daisy.


"Beruntung lah dirimu Dy, tidak punya tanggung jawab yang harus kamu pikul, tidak seperti ku, sejak itu usia ku dua puluh tahun, aku harus mengurus perusahaan milik Daddy Vino, dan kedua adikku, yang masih kelas tiga SMP, bisa kamu bayangkan Dy, betapa hancurnya hati ku, saat melihat mereka yang setiap hari dan setiap malam menangis, sesenggukan karena merindukan mommy dan Daddy, beruntung masih ada Daddy Rayan, dia yang membantu ku mengatasi kesulitan, meskipun tidak semua nya, aku sendiri dituntut untuk tegar, disaat hatiku hancur atas kepergian mereka, hanya demi kedua adikku"ucap Rayan.


"Iya tuan, aku akan belajar untuk bisa tegar dan menerima semua kenyataan ini"ucap Daisy.


"Dy, kamu harus tegar, lihat kami disini masih sangat membutuhkan mu, dan mungkin ikan yang kamu masak besok juga akan habis"ujar Rayan.


"Minta chefs untuk masak di rumah, mereka ahli, tuan yang saya masak tidak ada apa-apa nya, hanya masakan biasa, semua orang juga tahu caranya masak ucap Daisy.


"Aku tau tapi tidak seperti masakan mommy"ucap Rayan.


"Tuan, masakan saya mungkin tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan masakan nyonya besar"ucap Daisy.


"Aku tidak mengada-ada Dy, mereka juga merasakan hal yang sama, dan Daddy juga bilang seperti itu, Daddy bilang jika saja kamu, seusia mommy, mungkin dia tidak akan pernah percaya bahwa, kamu bukan mommy, dan Daddy akan menikah dengan mu"ucap Rayan jujur.


"Tuan"ucap dia.


Daisy pun pergi menutup sambungan telepon nya, Daisy, pun kembali memeluk bantal guling, dan berusaha memejamkan mata nya, saat itu juga.


Hingga pagi menjelma, mentari telah menampakkan diri nya, Daisy tengah berdiri di tepi Empang menyapa para ikan, sambil memberi pakan ikan, dia pun tersenyum setelah itu dia juga memberikan ayam peliharaan nya makan.


"Kalian sudah pada besar, sejak aku tinggal waktu itu, apa? Ambu pernah bercerita kemana aku pergi, apa? Ambu pernah mengeluh sakit"pertanyaan demi pertanyaan, membuat dada Daisy, terasa begitu sesak.


Gadis itu berjongkok, dia tak kuasa menahan kepedihan, saat ini sudah ditinggal kedua orang tua nya sejak usia tiga tahun, sekarang kedua orang yang paling berjasa, kakek, neneknya pun pergi.


Daisy baru bangkit, saat seseorang mengetuk pintu depan, terdengar nyaring.


"Ida" ucap Daisy terkejut, karena melihat wanita yang telah menjual nya, pada germo di kota kini sudah berada di hadapan nya, tidak hanya Ida, PANDI juga ada di sana di belakang Ida.


"Saat melihat wajah cantik Daisy, yang lebih beda dari biasanya, pria itu pun semakin yakin bahwa Daisy, saat Daisy pergi ke kota, wanita itu menjadi seorang kupu-kupu malam.


" Aku datang untuk memberikan ini, aku dan kang PANDI, akan segera bertunangan"ucap Ida.


"Oya, jika begitu aku, ucapkan selamat"ucap Daisy.


"Aku tidak menyangka Daisy, yang terlihat sangat bersahaja, ternyata dibelakang kelakuan nya, tidak jauh beda dengan wanita malam, dulu kamu tidak seperti ini, sadar Daisy, ingat dosa"ucap PANDI.


Sementara itu, Daisy hanya mengulas senyum, dia tidak akan pernah membela diri, karena percuma saja, meskipun di jelaskan hingga keluar asap pun, pria itu tidak akan pernah percaya, dan satu lagi, yang dia tau saat ini adalah, Ida mengadu bahwa dirinya menjadi korban pemerkosaan, saat ingin mengajak Sanum, untuk keluar dari tempat maksiat itu, padahal wanita itu lah yang sebenarnya kupu-kupu malam dan menjajakan diri setiap malam pada pria yang berbeda-beda, dan dia juga yang menjual Daisy, hingga Daisy hampir menjadi wanita malam seperti nya.


"Tidak usah, ceramah kang, Allah lebih tau dimana letak kebenaran dan kesalahan, tapi disini aku tidak akan menjelaskan apapun, biarkan tuhan yang memperlihatkan semua nya" ucap Daisy.


"Heumm, kamu masih tetap angkuh seperti dulu"ucap PANDI.

__ADS_1


" Terimakasih mas, atas pujiannya, insya Allah saya akan datang"ucap Daisy.


"Jangan lupa bawa pria langganan nya,siap? tau kamu butuh dia saat melihat kami berduaan nantinya"ujar PANDI.


__ADS_2