Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa

Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa
#Agis hilang#


__ADS_3

...Setelah selesai membuat rujak buah tersebut David langsung menghidangkan makanan tersebut di hadapan Agista....


Pandangan mata wanita itu langsung berbinar saat melihat makanan favoritnya yang asam pedas manis tersebut.


"Terimakasih honey kamu memang daddy yang baik sekali."kata Agista memuji.


"Sama-sama sayang ."balas David.


David yang kini tengah duduk menyaksikan istrinya itu tengah makan rujak seperti biasanya dia hanya akan menelan ludah karena sudah bisa membayangkan bagaimana rasanya rujak buah itu.


Sampai istrinya selesai makan rujak David masih belum beranjak dari duduknya saat ini.


Pria itu pun mengusap sudut bibir istrinya itu dengan sangat lembut.


"Sudah selesai?."ucap David bertanya.


Agis menjawab dengan anggukan dia sedang terharu melihat kelembutan yang selalu David tujukan lewat perhatian dan kasih sayangnya selama ini.


David yang dulu selalu bertindak arogan, kini dia selalu membuat Agista merasa sangat dicintai.


Mungkin dulu David sering bersikap arogan seperti itu karena penolakan Agista yang membuat David selalu merasa putusasa.


David langsung memeluk istrinya yang kini tengah menatap dirinya.


"Ada apa? heumm, katakan jangan dipendam sendiri jika ada masalah."ucap David.


"Tidak ada, aku hanya sedang bahagia karena memiliki suami yang sangat perhatian sepertimu ."ucap Agista.


David kembali memeluk istrinya itu."Aku sangat mencintaimu dan sudah seharusnya aku melakukan tanggung jawab ku sebagai seorang suami meskipun terkadang masih banyak salah dan khilaf ku."ucap David.


"Tidak Yank.. semua yang kamu berikan itu sudah yang terbaik. hidup bersama mu memiliki keluarga yang utuh bersama anak-anak aku sudah cukup bahagia."ucap Agista.


"Tidakkah kamu merasa bahwa tugas aku sebagai seorang suami masih banyak yang kurang."ucap David.


"Apa? Aku rasa sudah lebih dari cukup bertanggung jawab."ucap Agis.


Agista pun mengusap rahang milik suaminya itu.


Setelah beberapa saat kemudian mereka berdua pun berbaring di atas ranjang empuk milik mereka.


Agista pun mulai memejamkan mata di dalam dekapan hangat suaminya itu.


Sementara itu hal yang sama juga terjadi pada Raya dan Ray, setelah selesai bercinta keduanya kini terlelap dalam tidurnya.


Dirumah baru mereka, sudah satu minggu lebih Raya dan Ray hidup dalam kebahagiaan, saat ini setiap hari ray akan datang ke rumah untuk makan siang.


Setiap pagi mereka sarapan pagi bersama, siang juga begitu dan begitu juga saat jam makan malam tiba.


Ray sudah menjual rumah pribadi milik raya, termasuk rumah pemberiannya itu, dan hasil uang penjualan tersebut disimpan dalam tabungan istrinya, cukup satu rumah yang kini ia tempati, dan satu buah apartemen miliknya.


Ray tidak ingin ada tempat yang akan membuat mereka terpisah satu sama lain seperti sebelumnya.


Sementara itu di kediaman Ray dipagi hari keduanya selalu mandi bersama setelah itu mereka juga bersiap berdua Raya akan membantu suaminya berpakaian dari mulai menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya pakai hingga membantu suaminya merapihkan penampilannya itu.


Seperti yang ini Ray merangkul pinggang istrinya saat wanita itu tengah merapihkan kancing kemeja bagian atas lalu memasang dasi .


Raya sedari tadi dihujani kecupan mesra dari Ray yang ternyata kini tengah memperhatikan dirinya.


"Sayang jangan pandangi aku seperti itu, malu tau."ucap Raya yang langsung membuat Ray terkekeh.


"Kenapa? harus malu... kamu itu sangat cantik dan seksi tidak lupa hot dan aku suka sekali."ucap gadis itu sambil tersenyum manis.


"Diborong."ucap Raya.


"Ya karena kamu adalah paket lengkap."ucap Ray.


"Jangan ngarang kaya barang saja dipaket."ucap Raya sambil tersenyum.


Ray langsung menyambar bibir Raya yang sampai saat ini menjadi candu baginya.


Wanita itu pun mulai memejamkan mata menikmati ciuman yang memabukkan itu, Ray selalu bisa membuat Raya melayang meskipun hanya sekedar ciuman.


"Sudah nanti terlambat."ucap Raya sambil melepaskan ciuman tersebut.


"Tidak masalah lagipula aku bosnya memang siapa?yang bisa marah sama aku honey aku bosnya."ucap Ray sambil tersenyum bangga.


"Sombong kamu ya."ucap Raya.


"Bukan sombong sayang tapi memang kenyataannya begitu."ucap Ray membela diri.


Sudah-sudah ayo turun untuk sarapan."ucap Raya.

__ADS_1


Ray, langsung bergegas menuju keluar kamar sambil merangkul pinggang istrinya itu dia masuk kedalam pintu lift, setelah itu dia kembali memberikan kecupan hangat di kening istrinya itu.


Aku akan sangat merindukan dirimu saat sedang bekerja."ucap pria itu.


"Makanya jangan suka menunda pekerjaan agar kamu bisa lebih cepat pulang ke rumah."ucap Raya.


"Yank, kamu ikut aku kekantor ya, kamu bisa jadi sekertaris pribadi ku sesekali disana."kata Ray.


"Tidak bisa sayang kamu tau sendiri aku punya pekerjaan sendiri meskipun tidak sebesar dirimu penghasilannya."ucap Raya.


"Berhenti bekerja sayang kita tidak akan pernah kekurangan uang, aku masih bisa menghidupi mu dan anak kita kelak."ucap Ray.


"Tidak Ray, saat ini aku masih harus mengajar mereka yang baru masuk beberapa hari ini."ucap Raya.


"Hanya mereka jangan tambah lagi, setelah mereka pandai... kamu harus fokus pada kesehatan mu. Aku ingin memiliki buah cinta kita berdua jika Tuhan merestui."ucap Ray.


"Baiklah aku akan berusaha, tapi jika tidak bisa! kamu boleh mencari yang lain untuk itu dan aku siap untuk."


"Tidak akan pernah aku lakukan itu, mulai saat ini dan seterusnya kita akan tetap bersama meskipun tanpa hadirnya mereka di sisi kita."ucap Ray tegas.


Pria itu mulai menyantap sarapan paginya suasana menjadi hening setelah semua pembicaraan mereka diakhiri oleh pria itu.


Setelah selesai sarapan pagi, Ray langsung berpamitan pada istrinya.


Raya pun hanya bisa mengangguk pelan.


Sampai saat suaminya berlalu dengan mobil yang dikendarai oleh sopir. kini Raya tengah bersiap untuk membersihkan kamar terlebih dahulu setelah itu dia sudah siap untuk mengajar secara online.


Sementara untuk yang datang mereka akan datang saat setelah pulang sekolah.


Raya, sedikit bisa melupakan masalah yang dia hadapi saat dirinya tengah mengajar.


Dia bisa melupakan masa lalunya dan juga tentang masalah kesehatan rahimnya yang didiagnosis tidak bisa hamil kembali.


Sementara Ray saat ini sudah mulai membahas tentang masalah anak, Raya terus memikirkan hal itu.


Dia merasa dirinya tidak sempurna, terkadang dia juga berpikir bahwa dirinya terkena karma karena dulu dirinya sempat mengugurkan kandungannya itu, dan saat dia hamil yang kedua janin itu juga pergi karena tekanan batin saat dia berada di dalam penjara.


Raya menitikkan air mata, dia teringat dengan janin yang bahkan sudah sempat bernyawa di dalam rahimnya itu, tapi hanya bertahan sampai beberapa bulan saja, saat dia terjatuh di toilet yang ada di dalam penjara itu membuat dirinya harus kehilangan anaknya.


......................


Sementara itu di desa tempat dimana Daisy dibesarkan kini perempuan paruh baya itu tengah duduk di tepi Empang miliknya.


Mereka berdua memutuskan untuk tinggal sementara di desa sampai Kimberly menikah dengan Azka nanti.


Keduanya ingin menghabiskan masa tuanya di tempat tersebut.


Di rumah penuh kenangan dimana ketiga generasi itu dibesarkan, Daisy kini tengah menitikkan air mata, saat mengingat sang nenek begitu telaten merawat rumah dan hewan peliharaan di tanah miliknya yang lumayan luas itu.


Tidak hanya itu, Daisy juga masih mengingat tubuh renta sang nenek yang masih bisa bekerja di sawah dan ladang miliknya untuk menghidupi dirinya setelah kepergian sang kakek.


Daisy juga masih bisa kuliah dengan uang yang selalu dikumpulkan oleh neneknya itu.


Sampai saat Ida menjual dirinya pada mucikari yang hampir saja membuat dirinya kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupnya jika dia tidak bisa berusaha untuk kabur dan saat itu dia bertemu dengan Rayan yang telah menyelamatkan dirinya.


Daisy tidak sadar jika saat ini Rayan sudah berada di hadapannya.


"Honey kenapa? menangis heumm, apa? ada yang sakit."ucap Rayan sambil mengusap air mata istrinya itu.


"Aku rindu Ambu Yank, aku teringat semua gerak-gerik Ambu tentang kesehariannya dulu, semua masih terkenang jelas dalam ingatan ku."ucap Daisy.


"Aku tau sayang kamu pasti akan selalu mengingat beliau tapi tidak baik bersedih seperti ini, sebaiknya kamu berdoa semoga Ambu berada di surga."ucap Rayan.


"Ya, Yank kamu benar."ucap Daisy yang kembali tersenyum.


"Yank, sepertinya memancing ikan sendiri itu jauh lebih nikmat saat kita makan ikan itu."ucap Rayan.


"Tidak di pancing sayang kasihan bibir ikannya."ucap Daisy.


"Terus di gores pisau dan di masak tidak kasihan gitu."ucap Rayan.


"Kasihan juga, tapi itu semua sudah seharusnya seperti itu."ucap Daisy.


"Heumm, kamu benar sayang, ayo ajarkan aku membuat olahan ikan."ucap Rayan.


"Heumm,,, benarkah?mau belajar."ucap Daisy.


"Tentu saja."jawab Rayan.


"Baiklah ayo tangkap ikan dengan itu dengan alat itu."ujar Daisy sambil menunjukkan sebuah alat penangkap ikan yang terbuat dari kain saringan.

__ADS_1


Rayan langsung mengambil alat tersebut lalu turun dan mulai menangkap ikan dengan antusias yang tinggi karena dia berpikir bisa menangkap ikan tersebut yang bergerak lincah didalam air bercampur lumpur tersebut.


"Sayang sulit kenapa? tidak di pancing saja."ucap Rayan.


"Berusahalah sebentar lagi pasti dapat, atau kita berlomba saja."ucap Daisy.


"Heumm... aku pasti kalah."ucap Rayan.


"Masa belum dicoba sudah nyerah."ucap Daisy.


Seorang pelayan pun datang membawa wadah untuk ikan yang akan mereka tangkap.


"Tuan ini wadah untuk ikan."ucap pelayan itu.


"Taruh saja disana."ucap Rayan sedikit sensi karena sedari tadi belum juga mendapatkan ikan.


Sementara istrinya baru juga dia turun, Daisy sudah mendapatkan ikan yang besar saat ini Rayan dibuat geleng-geleng kepala.


"Sayang aku bilang juga apa? kamu pasti bisa ngalahin aku."ucap Rayan.


"Jangan menyerah daddy sayang kamu pasti bisa."ucap Daisy.


Sampai saat Daisy mendapatkan ikan yang berukuran empat kilo akhirnya Daisy menyudahi tangkapan ikan itu.


Pelayan langsung beranjak membersihkan ikan tersebut sementara Daisy dan Rayan mandi bersama di kamar mandi utama yang ada di dalam kamarnya itu.


Hanya sampai tiga puluh menit, keduanya sudah kembali ke bawah untuk memasak ikan yang sudah dibersihkan oleh pelayan rumah itu.


Rayan membantu istrinya itu memasak ikan dengan beraneka ragam menu lainnya.


Sampai saat mereka selesai memasak mereka berdua sudah duduk di meja makan legendaris, peninggalan Ambu saat masih hidup.


Sebuah meja dengan bentuk yang unik dan tanpa polesan chat tersebut hingga saat ini masih utuh bahkan tidak sedikit pun dimakan rayap.


"Sayang kamu mau makan yang mana dulu."ucap Daisy.


"Ikan bakar yang aku mau."jawab Rayan.


"Baiklah ini spesial untuk suamiku tercinta ini habiskanlah."ucap Daisy.


"Terimakasih honey."ucap Rayan.


Rayan pun langsung menyantap ikan bakar yang sungguh menggugah selera tersebut.


Daisy pun langsung sama, keduanya begitu lahap seakan tak pernah makan menu yang satu itu.


Rayan pun minta di suapi seperti biasanya, pria itu ingin mengenang masalalu mereka dulu.


"Yank aku sangat mencintaimu."ucap Rayan.


"Aku tahu itu mas."balas Daisy.


"Aku ingin menutup mata di pangkuan mu jika kelak maut itu datang."ucap Rayan.


"Berdoalah semoga kita bisa sehidup semati dan tidak akan terpisahkan sampai di akhirat kelak."ucap Daisy.


"Aku harap juga begitu sayang."ucap Rayan.


Sementara mereka tengah mengobrol dengan tenang sambil menikmati makanan, di kediaman David kini tengah dibuat panik pasalnya sejak subuh Agista sudah menghilang dari kamarnya hingga siang hari David sudah berusaha untuk mencari dimana keberadaan istrinya itu.


Sudah dua tempat ia datangi namun tidak ada jejak istrinya sama sekali.


Bahkan anehnya Cctv hanya menangkap keberadaan Agista sampai keluar dari pintu kamar selebihnya tidak ada lagi.


David bahkan sudah melaporkan kehilangan istrinya itu tapi polisi belum bisa melakukan pencarian karena kehilangan itu belum sampai 24 jam.


David pun meminta asisten pribadinya untuk melacak jejak istrinya dari cincin yang dia gunakan.


Namun ternyata cincin tersebut juga berada di sekitar area rumah tersebut tepatnya di halaman rumah itu.


Perhiasan Agista yang selama ini dia gunakan dan tidak pernah ia lepaskan hanya cincin pernikahan itu.


David semakin merasa khawatir saat ini, mungkin karena kondisi istrinya kini tengah mengandung.


David pun meminta bantuan Haidar dan Agam, semuanya sudah pasti akan bergerak karena anak cucu mereka saat ini sudah pasti berada di dalam bahaya.


Agam pun langsung melakukan pencarian lewat orang-orang kepercayaannya saat ini.


Dan tidak sampai dua jam mereka sudah menemukan jejak putrinya itu.


Sebuah mobil sedan berwarna hitam terlihat keluar dari dalam pagar rumah mewah itu.

__ADS_1


Rekaman Cctv rumah David saat kejadian memang tengah diretas oleh orang lain, dan rekaman Cctv dari sebrang jalan milik tetangga satu kompleks yang berhadapan dengan rumah David menunjukkan jika mobil tersebut sudah sering mondar-mandir di luar pagar dan saat itu tepat pada pagi dini hari disaat semua sepi tiba-tiba saja pintu pagar terbuka dan seseorang terlihat menyeret orang yang diduga Agista kedalam mobilnya saat mobil itu berada di ambang pintu pagar yang menjulang tinggi itu.


"Agis sayang bertahanlah, anak daddy kalian juga harus bertahan."


__ADS_2