
Sementara itu di kediaman Riki, ibu RT, tengah sibuk mengurus persiapan jamuan untuk Rayan dan calon menantu nya.
Anya, sudah mengabarkan bahwa dia akan berkunjung ke rumah mommy nya, yang ada di sana, dan Bu RT, sebagai calon mertua Anya, dia ingin melakukan yang terbaik untuk menyambut nya.
Sementara itu Rayan dan Daisy, masih menikmati makan malam bersama dengan putra semata wayangnya mereka.
"Yang, besok jadi pulang kampung, mas harus persiapkan apa? jika mau bertemu dengan calon besan"tanya Rayan.
Daisy, tersenyum geli, saat Rayan bilang kata besan, meskipun ia, secara tidak langsung mereka adalah pengganti mommy dan Daddy nya Anya.
"Mas, David, belum gede." goda Daisy.
"Tapi yang Anya, anak kamu otomatis dong mereka jadi besan kita"ujar Rayan, yang sudah duduk di jok kemudi sambil memasang sabuk pengaman.
"Iya sih mas, Anya otomatis menjadi adik sekaligus anak kita, karena mommy dan Daddy sudah tidak ada"ucap Daisy.
"Nah itu dia sayang, jadi kita bawa apa? ucap Rayan.
"Tidak perlu bawa apa-apa tinggal siapkan jamuan untuk mereka, yang datang di acara lamaran Anya, karena kita adalah pihak perempuan, bukan pihak laki-laki yang akan membawa barang seserahan"ucap Daisy.
"Heumm, yang bilang pada mereka, jangan memaksakan diri untuk semua barang-barang itu, karena belum tentu Anya, akan menggunakan semua nya, dia sudah memiliki semua yang dia butuh"ucap Rayan.
"Heumm, keluar sombong nya Daddy mu ini sayang, dimana-mana, barang seserahan itu, wajib Yang, sebagai pembuktian keseriusan mereka, itu sih urusan nanti, berguna atau tidak nya barang tersebut, setidaknya menghargai usaha mereka"ujar Daisy.
Rayan, pun tersenyum.
Kemudian pria itu langsung mengatakan hal yang tidak pernah Daisy duga.
"Yang, bagaimana jika kita nikah ulang, aku akan bawa barang seserahan yang banyak, yang paling berharga untuk mu, dulu aku melewatkan hal itu"ujar Rayan.
"Hahaha, Daddy.... Daddy, kamu itu lucu' Yang bagaimana bisa kepikiran hal itu, kita sudah jadi orang tua, yang ada David, akan mengira bahwa ia bukan putra kita"ucap Daisy, yang kini tengah memangku putra nya yang terlelap baru beberapa detik.
"Heumm, iya juga ya sayang, begini saja apa? yang kamu inginkan kan sayang, yang masih belum sempat aku berikan"tanya Rayan.
"Aku hanya ingin, mas jadi suami dan Daddy, yang baik untuk ku, dan putra-putri kita kelak, tidak ada yang lebih membuat ku bahagia adalah memiliki keluarga yang utuh, memiliki suami yang sangat menyayangi ku dan sangat bertanggung jawab atas keluarga nya"ucap Daisy.
"Mas akan selalu berusaha untuk mewujudkan semua itu, dan semoga kita selalu bersama diberikan umur panjang dan selalu diberikan kesehatan, Amiinn"kata Rayan.
"Owh, manisnya suami tampan ku, ini terimakasih sebelum dan sesudah nya, aku amiinn kan do'a nya semoga semua bisa terwujud"ucap Daisy, sambil tersenyum manis.
Daisy, mengecup puncak kepala David, bukti cinta mereka berdua, pria kecil yang tampan dan sangat cerdas itu, kini tengah terlelap dalam dekapan sang mommy, padahal tadi hampir seharian dia tidur dengan Daisy.
"Yang.... boleh aku tanya? seberapa besar rasa cinta mu, pada mas" ujar Rayan.
"Sebesar, rasa cinta mas ke aku." jawab Daisy singkat padat dan jelas.
"Terimakasih, Yang... aku sangat mencintaimu lebih dari apapun"ucap Rayan.
"Sama-sama mas, maaf jika selama ini Dy, belum bisa menjadi istri yang sempurna untuk mas, dan jika suatu hari nanti, mas menemukan cinta lainnya Dy, ikhlas melepaskan mas, asal jangan lupakan keberadaan anak kita"ucap Daisy, yang membuat mobil tiba-tiba mengerem mendadak.
__ADS_1
"Dy, stop Yang... tidak akan pernah ada hari itu, dan aku berdoa, semoga hari itu tidak akan terjadi, ingat Yang, ucapan Adam do'a, jadi jangan sembarangan berucap, aku yakin kamu lebih tau itu cinta"ucap Rayan.
"Mas, boleh Dy, bertanya?"tanya Daisy.
"Tanyakan saja semua nya sayang, mas akan berusaha untuk menjawab nya, sejujur mungkin"ucap Rayan.
"Noda lipstik di kerah kemeja mas itu, siapa? dia dan parfum yang selalu menempel di sana, setiap kali pulang dari luar kota, atau lembur, bau parfum itu selalu ada, maafkan Dy, mas jika di berprasangka buruk, tapi jika itu sebuah kenyataan, Dy, siap untuk mundur, mumpung David, masih kecil"ucap Daisy.
"Maafkan mas, Dy, mas tidak jujur, sudah beberapa hari ini, selain pekerjaan yang menumpuk, mas selalu didatangi oleh teman kuliah mas, dia punya masalah dengan keluarga nya, setiap sore dia datang dalam keadaan babak belur, mas salah mas telah memberikan pelukan, untuk memberikan rasa aman untuk Nora, yang sedang berputus asa, hingga terakhir, saat dia mendapatkan ancaman akan dibunuh oleh keluarga mertua nya sendiri, mas membawa dia keluar kota, untuk mengamankan nya, mas bahkan, sempat mencari tahu kronologi kejadian tersebut, hanya karena Nora, menolak dimadu keluarga suaminya, benar-benar murka, dan yang melakukan kekerasan fisik itu bukan suaminya melainkan keluarga nya, sampai mengancam akan dibunuh, mas tak tega, apalagi Nora, adalah sahabat dekat mas, saat sekolah dulu, dia juga kenal dengan mommy Dy, dan dia sempat meminta agar menyampaikan maaf kepada mu, karena mas sudah dia buat repot"ucap Rayan jujur.
Daisy, hanya mengangguk pelan.
"Yang, jika kamu masih tidak percaya, kamu bisa temui dia langsung, mas berikan alamatnya, atau kamu bisa menyewa orang untuk menyelidiki semua nya, mas bersumpah, diantara kami tidak ada hubungan apapun, dan noda lipstik itu, murni hanya kecelakaan bahkan mas tidak berusaha noda lipstik itu,agar kamu tau semua yang terjadi dan aku sudah menunggu pertanyaan itu dari jauh hari."ujar Rayan.
Tapi Daisy, terdiam, wanita itu tidak mau gegabah.
"Semua itu tidak perlu mas, aku kembalikan semua pada mas, jika mas ingin keluarga yang utuh, pasti mas tau apa? yang harus mas lakukan, karena mas bukan anak kecil lagi, dan satu lagi, jika pun itu terjadi, mas akan bisa membedakan yang terbaik dan yang lebih baik"ujar Daisy, bersikap se-elegan mungkin.
"Kamu, boleh kok, curiga atau cemburu sayang jangan ditahan keluarkan saja, justru dengan itu mas bahagia dan bangga bisa dicintai sebegitu besarnya oleh istri mas yang cantik ini"ucap Daisy.
Daisy, hanya tersenyum kecil, hingga perjalanan itu berlanjut sampai mereka tiba di Mension.
Setelah mereka tiba di dalam kamar David, dan menidurkan putra nya itu, Daisy langsung kembali ke dalam kamar nya, dan berjalan menuju kamar mandi.
...................
Pagi harinya, semua orang telah bersiap untuk pergi menuju desa tempat dimana Daisy, dibesarkan, oleh mertuanya Dion.
Rumah dan suasana pedesaan yang sangat ia rindukan, yang selalu terlihat di pelupuk mata Daisy, wanita itu, tetap cinta dengan rumah sederhana nya, meskipun sudah memiliki yang lebih dari itu.
Sementara Agam dan Anya, juga Aira, dan sopir, berada di dalam mobil Alphard, milik Anya, mereka dibantu oleh sopir untuk mengemudi kan mobil nya, sementara Rayan, tidak memberikan mobil kesayangan nya, dikendarai oleh orang lain, lagipula mobil itu hanya cukup untuk keluarga kecilnya saja.
"Mas, sepertinya Anya, sudah sampai duluan"ucap Daisy, sambil tersenyum, wanita yang kini menggunakan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung nya itu, sedang ingin membahas anak angkat sekaligus adik ipar nya itu.
"Mana ada, mereka jauh tertinggal di belakang, mobil mas lebih dulu"ucap Rayan.
"Ih gak peka deh"ucap Daisy, sambil memonyongkan bibirnya itu.
"Sayang kondisikan bibir nya, aku lagi nyetir jangan gara-gara aku itu aku jadi nabrak"ucap Rayan, yang sesekali melirik istrinya dari kaca spion.
"Habis sebel, masa mas gak tau sih, apa? yang aku maksudkan"ucap Daisy.
"Mas emang gak tau Sayang, apa? yang kamu maksud, sudah jelas bahwa mereka berada jauh di belakang kita, bisa duluan sampai bagaimana ceritanya"ucap Rayan.
"Mommy dan Daddy berisik David, lagi bobo"ucap bocah cadel itu.
"Eh, maaf sayang mommy, gak sengaja Bobo lagi ya cinta mommy"ucap Daisy, lembut.
"Iya, tapi janji jangan berisik lagi"ucap David.
__ADS_1
"Tentu saja Sayang mommy"ucap Daisy.
"Heumm" Rayan berdehem, sambil melirik, istrinya yang semakin cantik dan seksi itu, meskipun Daisy, menggunakan pakaian santai hanya dengan t-shirt dan celana jeans panjang berwarna abu, rambut nya, yang diceppol asal dan bibirnya yang seksi, dengan lipstik merah marun, semakin menambah kesan glamor dan seksi, meskipun ia hanya menggunakan skincare, saja tanpa bedak dan bulu mata palsu, wanita itu sudah memiliki bulu mata yang tebal dan lentik, alami tanpa polesan eyeliner.
"Sayang, aku semakin-semakin mencintai mu"ucap Rayan sambil mengecup punggung tangan istrinya itu, sambil tetap fokus jalanan, hingga mereka sampai lebih dulu.
Sesampainya di sana, sudah ada beberapa warga yang mengetahui kedatangan mereka, mereka adalah para orang tua, pelayan, dan pegawai yang Rayan, berikan pekerjaan di Mension, dan di hotel juga mall miliknya.
"Tuan Rayan, teteh juga sudah datang"teriak salah satu dari mereka saat Rayan, memarkirkan mobilnya di garasi yang luas, tanpa pagar tersebut, Rayan, turun terlebih dahulu, dengan stelan santai hanya menggunakan celana jeans panjang senada dengan anak dan istri nya, mereka bagaikan bintang, yang menjadi pusat perhatian semua yang ada di sana dan saat Daisy menggendong putra semata wayangnya yang tampan itu, menjadi ajang rebutan para ibu-ibu muda dan yang sudah paruh baya, seakan semua sengaja datang untuk menyambut mereka, entah siapa? yang memberitahu mereka bahwa Daisy dan keluarga akan datang.
"Yang, masuk dulu"ucap Rayan yang terlihat lelah, pada Daisy, yang sibuk menyapa mereka.
"Maaf ya semua nya, Daisy, masuk dulu mas Rayan, sudah sangat lelah" ucap Daisy, yang sedari tadi melihat pemandangan yang ada di hadapannya, bagaimana bisa, rumah nya, yang dulu teramat sangat sederhana, baginya kini sudah berubah menjadi rumah mewah, yang sangat nyaman dan asri apalagi disana, ada taman kecil, di rooftops, dan tempat berjemur sekaligus bersantai.
Daisy, masuk kedalam, suasana yang sama dan seperti dulu, letak perabot masih sama, benar kata Rayan, yang berubah hanya bangunan nya saja tapi bentuk bangunan itu sendiri masih sama seperti yang dulu, yang membedakan adalah lebih tertata rapi dan yang lainnya lagi adalah lantai dua, dimana di sana terdapat beberapa kamar yang cukup besar dan kamar utama yang paling luas, ada juga kamar milik David, semua tertata rapi dan bersih tanpa debu sedikit pun, karena Rayan, menempatkan pelayan Mension, yang dulu bekerja di sana untuk merawat rumah tersebut, tapi saat Daisy, datang Rayan meliburkan mereka, karena ratunya tidak ingin liburan nya, dikacaukan oleh suasana kaku seperti di Mension.
"Mommy I'm coming"ucap Anya, dan Agam.
Sementara Aira, dengan malasnya dengan malasnya mengikuti mereka.
"Kalian sudah datang"ucap Daisy yang kini duduk di ruang keluarga.
Rayan, terlihat memejamkan mata nya, sambil bersandar di sofa.
"Yang, istirahat di kamar, nanti aku buatkan teh"ucap Daisy.
Wanita itu langsung berjalan menuju dapur, kesayangan nya, yang lagi-lagi sudah berubah mewah, meskipun perabotan jadulnya masih tertata rapi di sana, demi cinta nya terhadap sang istri, Rayan, tidak membuang semua barang kenangan milik Daisy dan keluarga, justru sekarang semua nya, tertata rapi, meskipun Rayan, menambahkan barang-barang modern di sebagian ruangan tertentu.
"Terimakasih mas, untuk semua ini, mungkin Ibu, dan Ambu, juga Abah, akan bahagia jika mereka ada di sini"ujar Daisy.
"Semua ini, demi rasa cinta ku padamu, yang begitu besar, lihat semua barang-barang itu, masih berada di rumah ini, hanya lebih tertata rapi." jawab Rayan, yang ternyata mengikuti dirinya dari belakang.
"Mas"lirih Daisy, yang sudah berlinang air mata, dia memeluk erat suaminya, setelah itu memberikan kecupan di bibir suaminya, hingga mereka pun, memperdalam ciuman tersebut, dalam suasana dapur yang sepi.
Tanpa mereka sadari, saat ini sepasang mata, tengah menatap tajam kearah mereka, wanita yang sangat menginginkan Rayan, dalam diam.
"Aira, kamu disini yang, sedang apa? heumm"ucap Agam, yang sontak membuat wanita itu kaget, begitu juga Daisy yang masih mengalungkan tangannya di leher Rayan.
"K kalian di sini, sejak kapan?" tanya Daisy.
"Sayang sudah biarkan saja mereka sudah sama-sama dewasa"ucap Rayan.
"Iya mom, lanjutkan saja aktivitas nya." ujar Agam, sambil menarik Aira, pergi.
"Agam, please deh, gak usah tarik-tarik aku, bukan anak kecil lagi"ucap Aira.
"Tapi kau mengganggu aktifitas mommy dan kakak"ucap Agam.
"Alah, lebay kalian semua"ujar Aira, yang benar-benar terlihat kesal, Agam, baru melihat Aira di suasana seperti ini, seakan Aira, begitu marah.
__ADS_1
"Yang kamu kenapa? ucap Agam.