
Daisy, hanya mengangguk pasrah saat Rayan, meminta maaf.
Lalu keduanya duduk di sofa kamar nya, Rayan, kembali memangku laptop nya, bukan hanya alasan ulang tahun Daisy, saat ini adalah dia, tengah mengerjakan proyek yang sangat besar.
Dia ingin membuka cabang perusahaan baru,agar jika kelak, mereka memiliki anak, Rayan, sudah memiliki perusahaan baru untuk putra putrinya kelak, meskipun selama ini Rayan, sudah memiliki perusahaan sendiri yang di kendalikan, oleh asisten pribadi nya.
Daisy, hanya terdiam sesekali menatap kearah suaminya yang tengah sibuk berkutat dengan laptop nya.
"Mas, apa? Agam sudah bisa membantumu di perusahaan, maafkan aku jika aku lancang bertanya seperti ini, tapi aku tak tega melihat kamu capek sendiri"ujar Daisy.
"Dia masih sibuk dengan kuliahnya, sayang aku tak ingin mengganggu dan membebani nya, dengan pekerjaan, dulu dia sempat membantu ku, tapi aku tidak tega melihat mereka pulang larut, bahkan kami benar-benar seperti anak yatim-piatu, pergi pagi pulang larut malam, aku tidak mau itu sayang, cukup aku saja, sekarang Anya dan Agam ada Dy, yang menggantikan peran mommy, sekaligus kakak, aku bahkan bisa tenang jika suatu saat harus pergi melakukan perjalanan bisnis"ucap Rayan.
Daisy, pun terdiam, dia mencerna, sesuatu, dari ucapan Rayan, yang terasa mencubit hati nya, seakan Rayan, menjadikan nya, sebagai pengasuh bagi kedua adiknya.
Daisy, pun pergi meninggalkan Rayan, yang kini melirik ke arah nya, tapi wanita itu tidak tau itu.
Ingin rasanya Daisy, pulang ke kampung halaman, dimana disana tidak akan ada beban dari berbagai keributan rumah tangganya, Daisy, tidak sanggup menghadapi ini, mungkin karena baru pertama kali nya bagi Daisy.
Daisy, melihat ke arah luar, dimana halaman tersebut terbentang luas, terdengar suara teriakan Anya dan Agam mencari keberadaan nya.
"Mommy....! kami pulang"ucap Anya dan Agam.
"My, mommy dimana?"ucap Agam.
Daisy, pun menghela nafas nya, dan langsung pergi menghampiri keduanya dengan tersenyum, jujur Daisy, masih sedih tapi tidak bisa berlarut-larut jika sedang bersama dengan mereka.
"Mom, apa? ada masalah"tanya Agam.
__ADS_1
"Tidak ada, ayo mommy siapkan kalian makan"ucap Daisy.
"Kakak, dimana?"tanya Agam.
"Ada, sedang sibuk bekerja di kamar"ucap Daisy.
"Mom, sepertinya mommy lelah biar aku minta bibi goreng kan, ikan atau daging yang sudah mommy siapkan"ucap Anya.
"Tidak apa, sayang lagi pula, mas Rayan juga belum makan malam"ucap Daisy yang langsung beranjak pergi ke dapur.
Agam, melihat Daisy, berjalan gontai, seakan sedang memikirkan sesuatu yang berat tapi entah apa?.
Sesampainya di dapur, Daisy, langsung bergegas mengambil bahan-bahan dan mengumpulkan semua itu di atas meja, yang terletak di tengah dapur tempat khusus untuk memotong sayuran sambil bersantai.
Daisy, mengiris sayur, dia ingin membuat SOP daging dan telur puyuh balado saat akan mengiris wortel jari telunjuk Daisy, tergores pisau wanita itu, sedikit memekik tapi kemudian wanita itu pun langsung pergi menuju wastafel, hendak mencucinya sendiri, tapi tiba-tiba Agam, langsung meraih tangan Daisy, dan memasukan jari telunjuk Daisy kedalam mulutnya, hingga Daisy, menatap tak percaya.
"Agam!"ucap Rayan.
"Yang, apa? benar itu"ucap Rayan.
Daisy hanya menggeleng pelan, dia langsung pergi menuju wastafel seperti tempat tujuan nya tadi.
"BI, tolong lanjutkan semua nya, istri saya istirahat dulu" ucap Rayan yang langsung membawa Daisy, pergi menuju kamar nya.
"Mas, aku masih bisa masak"ucap Daisy.
"Dy, menurut lah, sesekali biarkan mereka yang menyelesaikan pekerjaan itu, jangan memaksakan diri"ucap Rayan
__ADS_1
"Aku hanya kasihan pada mereka, yang tidak suka dengan masakan orang lain, meskipun aku tau masakan ku, jauh dari sempurna seperti mereka, tapi aku, tetap berusaha untuk melakukan apapun untuk kalian"ucap Daisy.
"Dy, sayang aku tau niat baik, tapi tidak seharusnya kamu memaksakan diri disaat kamu sedang banyak pikiran, lihat kan, tangan mu tergores"ucap Rayan.
"Mereka masih hidup meskipun tanpa kamu masakin mereka, makanan jadi tidak usah khawatir dengan itu" ujar Rayan lagi.
"Baiklah jika seperti itu, aku tenang untuk mendinginkan mereka berdua, aku bisa kembali ke kampung, besok dan untuk selamanya, karena memang aku sudah tidak dibutuhkan lagi di sini"ucap Daisy.
"Sayang kamu salah paham, aku bilang seperti itu, karena aku tidak ingin kamu bersikap seolah semua itu adalah kewajiban yang harus kamu penuhi setiap waktu, kamu bukan pelayan sayang kamu istri ku"ucap Rayan.
"Aku hanya ingin melayani kalian, dengan tangan ku sendiri apa? aku salah"ujar Daisy, wanita itu, hendak berjalan mendahului Rayan, tapi Rayan menarik pinggang istri nya itu, hingga menempel dengan dirinya, dan Rayan pun mengangkat tubuh Daisy, membawa dia pergi menuju kamar nya menggendong ala bridal style.
"Mas, turunkan aku....aku, bisa jalan sendiri mas"ucap Daisy.
Tapi Rayan, tidak menggubris perkataan Daisy, hingga tiba di samping ranjang, Rayan, mendudukkan Daisy di tepi ranjang, saat itu juga dia mengambil kotak p3k, dan melihat jari telunjuk Daisy, yang ternyata masih mengeluarkan darah.
"Sayang, kamu lihat bukan aku sudah bilang bahwa kamu tidak perlu memaksakan diri, lihat ini bukan"ucap Rayan, sambil mengangkat jari telunjuk Daisy, agar istrinya tidak terus salah paham.
Daisy, kini tertunduk bukan karena malu, tapi karena, terharu, ternyata Rayan, sangat mencintai nya
"Mas, maafkan aku, mungkin karena aku baru beradaptasi dengan semua ini, dan aku bukan wanita yang dewasa, meskipun mungkin usia ku, sudah dewasa tapi nyatanya aku tidak se-dewasa itu"ujar Daisy dengan bulir air mata.
Rayan, yang baru selesai membalut luka di telunjuk Daisy, dia langsung bangkit dan memeluk istrinya, yang tengah menangis.
"Dy, Sayang.... jangan sedih disini kita masih sama-sama harus belajar mendewasakan diri, dan kita akan belajar untuk itu, sampai kita bisa, dan nanti, kita akan memiliki anak dan kita juga akan kembali belajar untuk mengurus mereka, jadi intinya kita hidup untuk belajar, dan mempelajari semua yang berhubungan dengan hidup juga adalah kewajiban kita"ucap Rayan.
"Dy"ujar Rayan lagi, yang tidak mendapatkan jawaban atau respon dari istrinya itu dan, Rayan yang penasaran pun, mulai melirik dan dia , hanya tersenyum karena melihat istrinya tengah terlelap, tanpa kata.
__ADS_1
"Selamat malam sayang ku*ucap Rayan.
Rayan, pun membantu istrinya berbaring di atas ranjang empuk nya itu, lalu menyelimuti nya, dan kemudian mengecup puncak kepala istrinya.