
David pun duduk di sofa, setelah merasa jauh lebih baik, sementara Agista menghubungi pelayanan hotel meminta diantarkan makan malam dengan menu yang dia sebutkan tadi.
Setelah menunggu hampir sepuluh menit tibalah satu orang pelayan dengan meja troli berisi makanan yang Agista pesan karena David sedang lelah dan memutuskan untuk beristirahat di kamar Agista sebelum mereka kembali pulang.
"Selamat menikmati makan malamnya tuan dan nyonya."ujar pelayan itu ramah.
Agista pun langsung memberikan tips untuk pelayan itu cukup besar mungkin satu juta karena terlihat tebal.
"Terimakasih tips nya nyonya semoga senang dengan pelayanan yang kami berikan."ujar pria itu yang langsung pamit setelah Agista mengangguk.
"Dia tampan juga ya tidak percuma meminta dia mengantar makan malam sekaligus cuci mata."ujar David datar.
"Yank, kamu cemburu."kata Agista yang kini mulai menyendok makanan itu untuk menyuapi David.
"Tidak,,, untuk apa? cemburu pada orang yang jelas-jelas tidak penting."ujar David berkilah.
"Ya sudah sekarang jangan bahas lagi ayo A."kata Agista sambil menyodorkan sendok berisi makanan tersebut.
Agista melakukan hal itu untuk menenangkan David yang gampang sekali marah, mungkin merasa kacau setelah banyak beban yang kini ia tanggung.
"Yank,,, lain kali jangan pergi sendiri minimal harus ada asisten pribadi yang menemani mu."ujar David.
"Aku bukan pengusaha besar seperti dirimu Yank, bahkan aku juga baru merintis usaha."ujar Agista.
"Agista sayang ku, kamu itu calon istri ku aku bisa membayar seratus orang sekaligus untuk menjadikan mereka sebagai asisten pribadi mu."ujar David.
"Heumm,,, aku percaya itu tuan muda, tapi aku tidak ingin orang lain mencampuri bisnis ku, akan lebih baik aku melakukan semua itu sendiri."ucap Agista.
"Aku bukan orang lain sayang."kata David penuh penekanan.
"Aku tau, sudah sekarang habiskan dulu makan malam mu nanti keburu dingin sayang."ujar Agista lembut.
"Baiklah sayang aku sudah menyiapkan sesuatu untuk kejutan nanti di hari spesial kita."ujar David.
Agis hanya mengangguk tanpa banyak bicara.
Sampai saat mereka kembali bersiap untuk pulang ke ibukota.
Agis Dudu di belakang bersama dengan Rayan sementara David bersama Agis duduk berdampingan di jok belakang.
Agista pun mulai memejamkan mata karena memang sudah pukul satu pagi dini hari.
"Aku ngantuk Yank."ujar Agista.
"Ya sudah ayo tidur."ujar David sambil meraih kepala Agista untuk disandarkan di dada bidang nya posisi mereka memang cukup dekat.
"mereka pun sama-sama memejamkan mata sampai mereka tiba di rumah Agista seperti pesan David saat sebelum tidurnya.
"Tuan muda sudah sampai."ucap asisten pribadinya.
"Heumm..."
David langsung membangunkan Agista yang tengah terlelap mungkin karena sedang sangat lelah, sementara mobil Agista yang tadi mengikuti mereka pun sudah sampai dia adalah sopir bayaran.
Asisten pribadi David mengurus pembayaran sopir tersebut lumayan besar seperti yang David janjikan maklum saja orang kaya.
David berjalan masuk menuju rumah Agista yang terlihat sepi setiap hari nya karena kebetulan kedua asisten rumah tengah pulang kampung kemarin.
"Sayang buka kunci nya dulu."ujar David yang melihat Agis malah terdiam di sampingnya.
"Sayang kamu saja aku ngantuk."ujar Agista padahal tinggal tempel kan sidik jarinya saja agar pintu itu terbuka.
David langsung meraih tangan kanan Agis dan menempel telapak tangan Agis pada layar kunci digital tersebut.
Pintu pun langsung terbuka saat bunyi BIP itu terdengar nyaring.
Setelah itu David mendorong pintu itu dan menggendong Agista ala bridal style menuju kedalam di ikuti oleh asisten pribadi nya yang kini membawakan koper kedalam rumah tersebut koper mereka berdua tentunya.
Sampai saat mereka tiba di kamar Agista, David membaringkan Agis di atas ranjangnya dan menyelimuti tubuh Agis setelah dia melepaskan sepatu yang Agista kenakan itu.
Agista pun memejamkan mata setelah David mengecup kening gadis itu lalu pergi ke kamar sebelah tempat dimana dia akan beristirahat.
Kamar itu terasa dingin dan sepi, maklum saja sudah puluhan tahun tidak pernah ditempati setelah Novita pergi dari rumah tersebut, ditambah saat dia menikah dan bolak-balik ke luar rumah itu terakhir setelah kematiannya kini Agista pun sudah berusia 24 tahun meskipun rumah itu sudah di renovasi tapi semua kenangan tentang masa kecil Novita dan seluruh keluarga masih terpampang jelas di sana.
__ADS_1
Lewat foto dan lukisan yang menggambarkan pertumbuhan ibunda Agista tersebut.
Agista dengan sengaja memperbaiki semuanya potret keluarganya disana bahkan ada foto syeh dari Novita, yang merupakan kakek kandung Agista.
Semua silsilah keluarga Agista ada di sana namun Agista menempatkan foto ketiga orang yang berarti dalam hidupnya.
Meskipun ada banyak orang yang menurut dia adalah yang tersayang namun di kamar nya dia memajang foto Agam dan Novita juga Haidar saling berdampingan.
Dan sebuah album foto yang begitu tebal disana ada tiga album saat dia lahir ke dunia dan Agam adalah orang pertama yang menggendong nya sambil mengumandangkan adzan di telinga Agista.
sejak saat itu banyak foto kebersamaan dirinya dengan ayah sambungnya itu, Agam begitu sangat menyayangi dirinya betapapun Novita pernah melakukan sebuah kesalahan besar dalam hidupnya.
Hingga saat Haidar datang menggantikan posisi Agam meskipun hanya sekitar satu tahun mereka bersama, Agis kembali hidup bersama dengan Agam sesuai amanah dari sang mommy yang sudah meninggal dunia karena sudah tidak sanggup hidup dalam derita lagi.
Agista pun dibesarkan oleh kedua keluarga yaitu keluarga Haidar dan Agam.
Di album kedua ada foto-foto kebersamaan Agista bersama dengan si kembar Argha dan Argan, juga Daddy nya Agam dan Sherina.
Sementara di album ketiga adalah foto kebersamaannya dengan keluarga Haidar terutama dengan Rayan, karena sejak kelahiran Vivian dan Vino, Agis sudah mulai menjauh dari Haidar karena dia merasa kedua anak itu tidak menyukai Agista.
Dan benar saja mereka bukan hanya tidak menyukai Agista, tapi juga tidak menyukai Leon, karena mereka merasa keduanya bukan anak kandung mommy dan Daddy nya, sementara Natali selalu menegaskan bahwa mereka adalah saudara kandung begitu juga Agista meskipun kenyataannya tidak seperti itu tapi Natali tidak ingin anak mereka memiliki sifat tidak baik dan serakah seperti Raya.
Sementara itu di dalam pesawat jet saat ini pria tampan itu sudah bersiap untuk landing .
Pria itu memenuhi permintaan sang mommy.
Sesampainya di bandara Leon sudah dijemput pagi-pagi sekali oleh kedua orang tuanya.
"Hi,,, Mom, Daddy."ujar pria tampan itu.
"Hi sayang."ujar keduanya yang kini kompak memeluk putranya itu.
"Aku sangat merindukan kalian."
.............................
Di hari berikutnya, tepatnya di Mension Natali, Rayan sudah datang sendiri disambut oleh Haidar dan Natali sementara Leon tengah sibuk mengobrol dengan Agista yang memang menginap di sana untuk menyambut kedatangan kakaknya itu.
Agista selalu menjadi pemenang dan Leon selalu berbuat curang hingga kini mereka berdua malah kejar-kejaran, dari lantai teratas hingga lantai bawah dimana kedua orang tua tengah mengobrol.
"Mommy selamatkan aku putri tidur sedang mengamuk."ucap pria tampan itu yang kini berlindung di belakang Natali.
"Owh ya ampun tidak kah kalian sadar bahwa kalian sudah dewasa."ujar Natali.
"Mommy kakak curang dia harus dipukul."ujar Agista yang membawa bantal guling.
"Sayang,,, sudah nanti Daddy bantu sekarang kita harus bicara serius dulu."ujar Haidar sambil membawa Agista duduk bersandar padanya.
Rayan pun menatap keluarga bahagia itu, meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah.
"Apa? semua baik-baik saja."tanya Leon.
"Ada sesuatu yang ingin kami bahas tentang mu sayang."ujar Natali sambil mengelus puncak kepala putra pertamanya itu.
"Apa? yang perlu dibahas Mom."tanya Leon.
"Tapi kamu harus mendengarkan ucapanan kami lebih dulu sebelumnya."ujar Natali.
Leon pun mengangguk.
"Begini Leon Daddy Rayan ingin Leon menolongnya untuk menikah dengan Raya yang kini tengah hamil."ujar Natali.
"Apa? mommy serius."ujar pria muda itu.
"Mommy sih tidak memaksa tapi setidaknya jika Leon ingin membantu ya mommy hanya bisa mendukung apapun keputusan Leon."ujar Natali.
"Leon,, daddy tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa lagi, sekarang kondisi mommy Dy tengah koma Daddy tidak ingin sampai terjadi apa-apa, tapi Daddy juga tidak bisa melakukan apapun setidaknya dengan adanya yang mau menikahi Raya beban berat mommy Dy akan sedikit berkurang."ujar Rayan sendu.
Sementara Agista kini hanya bisa menatap dengan tatapan mata yang sulit untuk diartikan.
"Heumm,,, bagaimana? ya,,, menikah dengan wanita yang sudah mengandung anak orang lain itu bukan keputusan yang mudah, dan belum tentu semua orang bisa melakukannya."ujar Leon sambil terlihat bingung dan garuk-garuk kepala tidak gatal.
"Leonardo,,, Daddy mohon setidaknya berikan pernikahan status saja untuk Raya sampai bayi itu lahir, dan setelah itu kamu bisa menceraikan Raya. Daddy mohon padamu Daddy janji akan memberikan setengah aset perusahaan milik Raya padamu."ujar Rayan.
__ADS_1
Agista hanya diam menunduk sambil meremas bantal guling tersebut.
Gadis itu rasanya ingin memaki pria yang saat ini tengah memohon kepada Leon untuk memberikan status pada kakanya itu, tanpa sadar dengan kesalahannya di masalalu.
Agis tidak bisa melakukan itu, karena dia tidak ingin menjadi manusia pendendam biarkan saja Tuhan yang akan membalas semua rasa sakit yang ia derita selama ini.
Agista juga berpikir bagaimana hubungan antara dirinya dengan David kedepannya karena dia tau Rayan tidak akan pernah menerima dirinya.
Semua orang tengah terdiam mencerna pembahasan tadi, sampai saat Leon kembali berkata.
"Tolong berikan aku waktu untuk berfikir setelah aku mengambil keputusan aku akan memberitahu keputusan ku itu pada kalian."ujar Leon.
"Tolong pikirkan lagi Leon Daddy hanya bisa berharap padamu."ujar Rayan.
Leon pun tidak menjawab pria itu malah pamit pergi ke kamar nya yang ada di lantai 3.
Agista pun menyusul Leon saat itu juga.
Sesampainya di sana gadis itu pun melihat Leon yang tegah berdiri menatap kearah lapangan luas .
"Kakak tidak usah lakukan itu jika hati kakak tidak inginkan itu."ujar Agista yang datang dari arah belakang.
"Aku tidak mungkin menolak Agis, biar bagaimanapun uncle Rayan adalah saudara mommy dan permohonan ini adalah kelemahan seorang Rayan Davidson, pria yang tidak pernah sekalipun menunjukkan kelemahannya sekalipun mengalami kesulitan. tapi kini aku melihat kerapuhan itu tampak jelas di wajahnya, bukan karena kehamilan Raya, tapi karena ia takut kehilangan wanita yang paling berharga didalam hidupnya itu."ujar Leon panjang lebar.
"Mommy Dy tidak hanya berharga untuk tuan sombong itu, tapi juga bagi kita semua."ujar Agista.
"Ya,,, kamu benar sayang, dia wanita yang teramat baik dan aku tidak pernah mengerti mengapa dia memiliki putri durdjana seperti dia."ujar Leon.
"Jangan bilang begitu nanti jatuh cinta baru tahu rasa."ujar Agis sambil terkekeh kecil.
"Amit-amit, oke baiklah demi membalas dendam kepada nya yang telah menyakiti adik cantik ku ini, aku akan menikahi dia."ujar pria itu.
"Heumm,,, apa? kakak yakin."ujar pria itu.
"Tentu saja."balas Leon.
Mereka pun akhirnya tertawa terbahak-bahak berdua karena rencananya Leon akan membawa Raya ke Amerika dan akan membuat gadis sombong itu tidak lagi bisa menunjukkan taringnya.
Saat Leon hendak pergi untuk menjenguk Daisy bersama dengan Agista, tiba-tiba di halaman Mension sudah terparkir mobil David yang akan menjemput Agista sepulangnya ia dari kantor.
"Ayo pulang."ucap David datar.
"Dia akan pulang denganku untuk menjenguk mommy Dy."ujar Leon.
"Tidak bisa, dia akan pergi dengan ku."ujar David.
"Aku pulang sendiri dengan mobil ku."ujar Agis yang pusing mendengar keributan itu.
Agis langsung masuk kedalam mobilnya dan pergi begitu saja.
David langsung menyusul diikuti oleh Leon.
Ketiganya saling mengejar karena saat ini Agista menggunakan mobil sport sama dengan mereka di jalur khusus, mereka bermain balap seakan film fast furious Tokyo.
"Agis pelan kan kecepatannya Yank."ujar David
Lewat alat komunikasi yang ada di mobil mereka bertiga.
"Tambah kecepatannya adikku sepertinya tidak sia-sia kakak mu ini mengajari mu balap liar."ujar Leon sambil tersenyum.
Dulu saat mereka masih SMA di sekolah yang sama Leon selalu mengajarkan Agis menyetir mobil dengan kecepatan tinggi seperti saat ini tentunya dengan mobil sport milik Leon karena Agista belum diijinkan untuk memiliki mobil sendiri dan mobil itupun adalah mobil yang Haidar berikan saat Agista berulang tahun yang ke dua puluh.
Namun sejak dia menjauh mobil itu tidak pernah ia gunakan baru beberapa kali saja.
Sampai saat mereka tiba di parkiran rumah sakit, ketiganya menjadi pusat perhatian.
David turun dan langsung menarik Agista kedalam dekapannya dia terlalu khawatir pada gadis yang sangat ia cintai itu.
Agis hanya tersenyum karena Leon menggodanya sambil berjoget dengan gerakan yang gokil saat orang-orang tidak melihat kearahnya.
"Kakak!!."teriak Agis saat Leon hampir tertabrak oleh pengendara yang baru tiba dan ugal-ugalan beruntung Leon langsung lompat ke arah mobil nya.
"Hati-hati dong kalau bawa mobil hampir saja kamu nabrak kakak saya."ujar Agis.
__ADS_1