
"David! please jangan lakukan itu David."tangis Agista pecah saat melihat darah mengalir deras.
Gadis itu menjerit keras meminta bantuan pada Weni untuk memanggil dokter.
"Jangan menangis atau pun memanggil dokter, aku lebih baik mati saja daripada harus terus seperti ini. kamu juga sudah menjauhi aku."ucap David.
David yang kini terus menolak saat Agis ingin menghentikan pendarahan tapi David terus menghindar dan menepis tangan gadis itu.
"Ayolah David bersikap dewasalah kita sudah bukan anak kecil lagi!."ucap Agis.
"Agista kamu bilang aku kekanakan heuhhhhh."ucap David.
"Kemarikan tangan mu jika kamu memang dewasa."ucap Agista.
"Tidak,,, lebih baik aku mati saja."kata David sambil kembali hendak menggoreskan pisau yang masih ia pegang.
"Baiklah-baiklah kita tidak berpisah sekarang hentikan jangan lakukan itu kamu bisa mati."ucap Agis yang kini menggenggam pisau tersebut tepat di bagian yang tajam itu.
"Apa-apaan kamu honey lepas."ucap pria itu.
"Tidak sebelum kamu janji padaku untuk tidak melakukan itu lagi."ucap Agista.
"Iya aku janji."ucap David.
Pria itu pun melepaskan pisau tersebut.
Dokter datang bersama dengan asisten David yang diam-diam mendengarkan teriak dan jeritan saat dia masih menunggu di kursi setelah tadi masuk.
David langsung diobati oleh dokter beruntung tidak sampai harus di operasi karena luka itu belum sempai melukai urat nadi.
David pun selesai di obati kini dokter memberikan resep obat yang harus di tebus untuk mempercepat kesembuhan luka tersebut.
Agista sendiri kini tengah duduk di sofa gadis itu menyembunyikan tangan kirinya yang ternyata terluka akibat goresan pisau tersebut tepat di telapak tangan dan jemarinya meskipun hanya luka goresan tapi itu cukup perih dan banyak.
"Sekarang kamu sudah selesai diobati sebaiknya segera kembali, jangan buat mommy Dy menangis."ucap Agista.
"Aku tidak akan pulang sebelum kita menikah."ucap David tegas.
"Aku heran sama kamu,,,, apa? tidak terpikir sedikitpun tentang kehidupan ku dimasa lalu, aku adalah anak yang terlahir akibat pengkhianatan, bagaimana? jika itu kembali terulang."ucap Agis.
"Diam kamu yang, jangan pernah berfikir buruk seperti itu, aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi karena kamu hanya milikku."ucap David.
"Apa? bisa kamu melawan takdir demi masadepan yang belum pernah pasti akan bagaimana nantinya."ucap gadis itu.
"Aku sudah katakan aku bisa melakukan apa saja untuk bisa memiliki dirimu."ucap David.
"Itu bukan cinta tapi obsesi."ucap Agista.
"Terserah kamu mau bilang apa? yang jelas aku hanya ingin kamu yang menjadi istriku.
"Sekarang juga aku akan mempersiapkan semuanya."ujar David.
Sementara Agista hanya menggelengkan kepalanya dia tidak habis pikir dengan pria yang ada di hadapannya itu.
Agis tidak tau apa? dia harus bangga dengan cinta yang David berikan atau marah karena cinta itu begitu menyiksa kalbunya.
Agis buka tidak mencintai David, tapi dia tidak ingin mendapatkan rasa sakit yang terus ia dapat dari keluarga David.
Cukup dengan hinaan sebagai anak haram yang melekat di hatinya hingga saat ini, dia tidak ingin lagi ibunya terhina gara-gara cinta yang salah itu.
Sebenarnya bukan cinta yang salah tapi keadaan yang tidak tepat, Agista hanya wanita biasa, sementara David adalah putra Sultan.
Sampai saat Agista meninggalkan David yang kini tengah menelpon seseorang untuk mengurus pernikahan mereka yang akan digelar di apartemen tersebut.
Agista pun meraih tasnya dan hendak pergi, tapi David yang melihat itu dari pantulan kaca dia langsung meraih tangan Agista ditariknya ke atas pangkuannya.
"Kamu tidak diizinkan untuk pergi sebelum semuanya selesai, sekarang tunggu pegawai butik mengantarkan kebaya pengantin yang akan kamu kenakan."ucap David yang kini memeluk erat perut Agista agar tidak bergerak.
"Kamu tidak bisa melakukan ini David, kita tidak bisa menikah tanpa wali atau pun saksi."ucap Agista.
"Kita bisa tetap menikah meskipun walinya hanya lewat Video call."ucap David.
"Tidak, tanpa adanya ketiga Daddy ku dan kedua orang tuamu."ucap Agista tegas.
"Terserah kamu, tapi harus kamu tahu aku bisa melakukan apapun."ucap David.
"Lakukan saja."ucap gadis itu.
Agis hendak bangkit, tapi tetap saja tidak bisa karena David semakin mempererat pelukannya itu.
"Mau sampai kapan kamu begini? aku harus melakukan sesuatu, ini sudah terlalu larut."ucap gadis itu.
"Tidurlah besok pagi kita akan segera menikah."ucap David tegas.
David pun membawa Agista keatas ranjang empuk milik gadis itu.
Agista pun mulai memejamkan matanya tanpa ingin menengok ke arah samping dimana David tengah memperhatikan gadis itu.
Agista pun terlelap, sementara David langsung menyelimuti tubuh Agista, sementara dirinya pergi meninggalkan apartemen menuju sebuah tempat yang sudah dia persiapkan sejak lama saat dia mengejar Agista.
Tepat di sebuah rumah yang cukup megah, meskipun tidak sebesar Mension, namun mampu memberikan rasa yang sangat nyaman.
David pun mulai memejamkan matanya, dia menunggu pagi untuk segera datang agar bisa secepatnya mewujudkan impiannya itu.
Sampai keesokan paginya, David sudah bersiap untuk menjemput Agista menjadi istrinya.
Pria itu sudah tampil dengan sangat mempesona dengan menggunakan tuksedo di balut jas yang serasi dengan semua yang kini ia kenakan.
David didampingi beberapa orang asisten pribadi dan juga teman kuliahnya dulu,selain Jesika.
David dengan iring-iringan mobil sport mewah tersebut berangkat menuju apartemen yang sudah disulap sedemikian rupa, untuk hari pernikahan kedua sejoli itu.
Sementara Agista sendiri kini tengah dirias oleh MUA yang kini diawasi oleh Weni yang bekerja untuk David saat ini saja dengan bayaran yang cukup fantastis.
David menjanjikan sebuah mobil keluaran terbaru meskipun itu bukan mobil sport seperti milik David,
Sampai saat David datang langsung menemui Agista yang baru selesai dirias dan itu membuat David mematung di tempatnya, gadis itu tampak seperti seorang ratu kerajaan yang sangat cantik.
"Honey,,, kamu sungguh sangat cantik."ucap pria itu.
Agista hanya menunduk, sungguh ini bukan yang dia mau, dia ingin kedua orang tua keduanya datang dan menyambut dia dengan uluran tangan keduanya.
"Jangan menangis sayang, kita bisa melewati semuanya."ucap pria itu yang juga merasakan hal yang sama, namun dia tidak bisa memberitahu tentang semua ini sekarang pada mereka.
"Aku, sudah tidak punya siapa-siapa lagi kecuali mereka, tapi saat ini mereka pun tidak datang."ujar Agista.
"Tidak apa-apa yang kita bisa bangun keluarga baru, mulai saat ini."ucap David.
__ADS_1
"Tuan muda bisa pergi duluan tunggu Agista dibawah karena memang seharusnya seperti itu."ucap Weni.
"Baiklah Weni, tolong bawa istriku dengan hati-hati."ucap David.
Agista pun kembali terduduk di kursi sambil menatap wajah nya dicermin.
Agis masih menitikkan air mata.
"Sudahlah semua akan baik-baik saja percayalah karena tuan muda tidak akan pernah membiarkan mu menderita."ucap Weni.
"Apa? putri mommy sudah siap."ucap kedua wanita paruh baya yang kini tampak berdiri di ambang pintu.
"Mommy...!."ucap Agista yang semakin menangis sesenggukan di hari bahagianya itu.
Agista pun menghambur memeluk keduanya.
"Darimana mommy tau semua ini sedang aku bahkan tidak sedikit pun diberikan waktu untuk berpikir tentang semua ini."ucap gadis itu.
"Dari David sejak satu bulan yang lalu sebelum kamu keluar dari rumah sakit."ucap Sherina.
"Tapi mom, bagaimana? bisa."ucap Agista tidak percaya.
"Itu betul sayang, mommy yang membantu David mewujudkan semua ini, dan soal Daddy kandung mu itu bisa ditemukan karena Daddy Agam yang sengaja memberi petunjuk pada Leon tentang keberadaan pria itu, bagaimana sayang apa? kamu senang dengan surprise yang kami berikan."ucap Natali.
"Mommy,,, hiks,,,hiks,,, hiks Agis tidak tahu harus mengatakan apa? Pada kalian semua, kalian adalah yang terbaik."ucap Agista.
"Kami tahu itu sayangku, setelah ini kamu tidak perlu berpikir bahwa kamu sendiri, kamu punya kami dan kamu jauh lebih beruntung dari mommy."ucap Natali.
"Mommy juga punya aku."ucap Agista.
"Hi,,, bocah kecil apa? kau lupa dengan kakak mu yang tampan ini."ucap Leon yang tiba-tiba ada di sana.
"Kakak!."teriak Agis yang langsung menghambur memeluk Leon begitu erat tangisnya kembali pecah.
"Sudah-sudah jangan menangis kakak disini jika dia tidak bisa menjagamu atau membuat mu menangis jangan lupa kamu katakan padaku maka aku akan menghajar dia hingga benar-benar tidak berbentuk lagi."ucap Leon.
"Kakak."Agis kembali memeluk Leon.
"Kamu satu-satunya gadis yang membuat aku jatuh cinta pada pandangan pertama, entah itu sebuah jodoh yang ditakdirkan yang maha untuk menjadi saudara yang jelas aku tidak akan pernah menyia-nyiakan hubungan ini."ucap gadis itu.
"Heumm,,, baiklah-baiklah sayang mommy ayo kita segera berangkat waktu akan terus berjalan."ucap Sherina.
"Berangkat, maksud mommy?."tanya Agista heran.
"Pernikahan mu bukan disini honey, tapi di hotel milik Daddy Agam."ucap Sherina dan dijawab anggukan oleh Natali.
"Agis tidak percaya rasanya Agis ingin pingsan saja mommy."ucap Agista.
"Nanti saja pingsannya, saat malam pertama mu, agar si David tahu rasa."ucap Leon yang kini menggendong gadis itu ala bridal style keluar menuju lobby apartemen.
Sementara David kini tengah menitikkan air mata, karena tidak ada kedua orang tua yang hadir di ballroom hotel tempat diadakannya acara ijab qobul.
Hanya ada Anya dan Agam yang sedaritadi mendampinginya.
Sementara itu di kediaman Rayan, pria itu hanya meminta Daisy yang menghadiri acara penting dari pernikahan putra pertamanya itu.
Rayan sendiri saat ini terlihat tidak bisa menerima kenyataan bahwa putranya itu akan segera bersatu dengan Agista yang jelas-jelas hanya anak haram.
Rayan merasa sudah tidak dihargai oleh putranya itu, sekalipun dia terus berusaha untuk yang terbaik bagi David tapi putranya seakan dibutakan oleh cintanya itu terhadap Agista.
Gadis itu bahkan tidak pernah masuk sebagai kriteria calon menantu idaman bagi Rayan.
Bertepatan dengan kedatangan Agista dan rombongan, Daisy pun tiba dan menyusul masuk.
Agista langsung dituntun ke tempat yang sudah disediakan untuk melakukan ijab qobul, sementara Daisy berlari menghampiri putranya yang kini sudah duduk di samping Agista.
Wanita paruh baya itu memeluk erat putranya dan berkali-kali mencium seluruh wajah David dengan air mata penuh kepedihan dan haru.
Berulang kali Daisy mengucapkan kata maaf dan semua orang terlihat ikut menitikkan air mata.
Setelah puas berpelukan dengan putra pertamanya sambil memberikan wejangan Daisy kini kembali beralih memeluk Agista melakukan hal yang sama, kata maaf itu terlontar terus menerus dari bibir manis itu.
"Agista sayang,,, mulai saat ini mommy titip putra mommy padamu sepenuhnya tolong ingatkan dia saat dia tersesat atau lupa jalan pulang, tegur dia jika dia salah. mommy tau kalian saling mencintai dan do'a retu mommy akan selalu ada untuk kalian berdua, sekarang mulailah."ucap Daisy .
Akhirnya acara yang sakral itu pun dimulai, penghulu mulai membaca do'a awalan dan setelah itu langsung menuntun David untuk mengucapkan ijab qobul.
"Saya terima nikah dan kawinnya Agista putri Agam dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
"Sah!."
"Sah..."
Kata itu menggema di seluruh ruangan ballroom hotel yang sangat luas itu, dengan satu tarikan nafas David berhasil mempersunting gadis yang sangat ia cintai sejak gadis itu tumbuh dewasa.
...David pun memeluk Agista dengan sangat erat meskipun semua orang melarang pria itu karena rentetan acara belum selesai dan pada akhirnya semua orang tertawa terbahak-bahak sambil menggoda kedua mempelai itu....
Agista langsung mencubit perut pria tampan itu saat itu juga karena sudah berani membuat dia malu dengan semua yang dilakukan oleh David.
Mereka pun kembali fokus dan melakukan rangkaian setelah ijab qobul tersebut.
Agista pun mencium punggung tangan David dan David pun melakukan hal yang sama dengan mencium kening Agista setelah dia selesai memasangkan cincin di jari Agis.
Semua begitu mwngharu biru saat kedatangan pria berjas abu yang kini duduk di kursi roda, dan dibelakangnya di kawal oleh kedua pria yang selama ini berada di dalam hidupnya.
"Daddy."ucap Agista.
Pria itu langsung merentangkan kedua tangannya saat itu juga, namun Agis sempat menatap kedua pria yang selama ini telah berjasa dalam hidupnya.
Agam yang mengangguk lebih dulu disusul oleh Haidar.
Akhirnya Agista langsung menghambur memeluk Daddynya itu dan menangis di dalam pelukan erat sang ayah yang juga tidak bisa menjadi walinya karena statusnya itu.
Sementara kedua pria itu mengusap punggung putrinya itu secara bersamaan.
Setelah itu acara lanjut makan bersama dengan seluruh keluarga dan kerabat yang hadir termasuk para karyawan dari lima perusahaan yang kini hadir di sana.
Mereka sengaja tidak melakukan acara jabat tangan dengan pengantin hanya mengucapkan selamat, karena pengantin baru itu juga kini tengah duduk bersantai dengan seluruh keluarga.
David yang tidak membiarkan acara itu karena tidak ingin istrinya tersiksa karena harus berdiri sehari semalam di atas pelaminan.
Agista dan David hanya berbaur bersama mereka meskipun tidak menyalami mereka satu persatu.
Agis masih betah duduk bersama dengan keluarga sambil melihat tamu berlalu lalang kesana kemari.
Sampai saat mereka tiba di penghujung acara, bukan penghujung sih lebih tepatnya kedua mempelai itu kabur karena tidak ingin terus berada di antara puluhan ribu karyawan yang datang bergantian.
Sementara kedua mempelai itu kini tengah saling memeluk erat ada lelehan air mata diantara keduanya.
__ADS_1
"Maafkan aku yang tidak bisa memberikan pesta pernikahan impian mu, aku bahkan tidak bertanya lebih dulu tentang itu padamu, tapi percayalah aku melakukan ini semua demi kebaikan kita."ucap David.
"Tidak apa-apa? meskipun kamu bertanya pun, kamu tetap tidak akan pernah bisa memenuhi keinginan ku jadi lupakanlah."ucap gadis itu.
"Boleh aku tau apa? yang kamu inginkan, siapa tau aku bisa mewujudkan keinginan mu itu."ucap David.
"Aku ingin mommy ada di hari pernikahan ku."ucap Agis.
David langsung merangkul pinggang istrinya dan menatap lekat wajah cantik itu yang kini terlihat basah dengan air mata.
Pria itu langsung mengusap lembut wajah cantik Agista, dan mengecup bibir istrinya itu.
Agis memberikan itu terjadi karena kini keduanya sudah resmi menjadi suami istri.
Sampai saat beberapa detik kemudian tautan bibir itu terus terjadi berulang-ulang, hingga akhirnya malam pertama mereka pun terjadi, Agista tidak bisa menolak rasa sakit dari penyatuan itu.
Sementara David terus berusaha membuat Agista nyaman hingga percintaan itu usai dilakukan tepat pukul empat pagi.
Dan mereka pun tertidur pulas hingga pukul tujuh pagi.
Mereka dibangunkan oleh suara kedua orang wanita yang datang mengantarkan perbekalan mereka saat ini.
Karan rencananya mereka akan mengirim keduanya untuk berbulan madu di pulau pribadi milik Natalia yang super wow itu.
Agis yang pertama kali membuka mata pun langsung kaget melihat keadaannya saat ini dia berusaha untuk membangunkan David.
"Yank,,, bangun itu sedaritadi ada yang mengetuk pintu, tapi aku tidak bisa bergerak."ucap Agis yang kini mencoba menggunakan lingerie yang ada di samping ranjang tersebut.
David pun membuka matanya dan pria itu meraih kimono tidurnya dan berjalan dengan buka bantal itu meskipun tidak memiliki belek dimatanya saat ini David masih tetap terlihat sangat tampan meskipun keadaannya berantakan.
Pria itu membuka pintu itu sedikit sambil bersandar di samping dan berkata."Ada apa? jam segini sudah mengganggu."ucap David tanpa melihat siapa? yang datang.
"Heumm,,, apa? saat ini sudah jam dua belas malam, kenapa? masih merasa terganggu."ucap Natali yang langsung membuat David terperanjat kaget.
"Mommy."ucap David.
"Ya,,, apa? sekarang sudah pagi."ucap Natali yang nyelonong masuk, sementara David langsung menyusul masuk karena takut Agista belum siap.
"Mommy pelan-pelan nanti istriku bangun."ucap David.
"Memangnya habis berapa ronde semalam hingga jam segini belum bangun."tanya Leon yang juga ikut masuk.
"Kau!."teriak David yang kesal.
"Apa?,,, masih ingin membantah dengan kakak ipar mu ini. jangan lupa disini aku yang pegang kendali."ucap Leon sambil tersenyum licik.
"Euhh awas saja jika nanti kau benar-benar menginginkan adikku, aku tidak akan pernah mengijinkan itu."ujar David.
David pun melihat ke arah ranjang, dia mengelus dada saat melihat istrinya sudah tidak ada di atas ranjang, akhirnya David mengusap dadanya.
Agis sendiri kini tengah berada di dalam kamar mandi, gadis itu langsung mandi meskipun dia kesulitan untuk berjalan.
Dia langsung bergegas menuju kamar mandi saat David membuka pintu.
Wanita itu kini tengah mengguyur tubuhnya di ruangan shower.
Sampai saat ia keluar dan sudah menggunakan dress selutut berwarna marun dengan tali spaghetti yang memperlihatkan leher jenjang yang kini dipenuhi bekas jejak kepemilikan sontak membuat Leon menelan ludahnya, dia tidak menyangka bahwa David yang pemula bisa segila itu.
David pun langsung menutupi itu dengan jas yang sedari tadi ada di sofa.
"Sayang,,, jangan muncul di hadapan orang dalam keadaan seperti ini."bisik David di kuping istrinya.
"Maaf tidak tau."ucap Agis.
Agista pun langsung bergegas duduk di samping Natali meskipun saat ini dia berusaha untuk berjalan secara normal.
"Mommy datang jam segini."ucap Agista.
"Ya sayang mommy Sherina juga ikut, tapi barusan dia bertemu dengan koleganya jadi saat ini tengah mengobrol."ucap Natali.
"Heumm,,, padahal mommy tidak perlu repot, Agis akan pulang kok."ucap Agista.
"Heumm,,, kami datang ingin memberi kado honeymoon untuk mu sayang."ucap Natali.
"Makasih mommy."ucap gadis itu.
"Sama-sama sayang, semoga saat kembali dari sana sudah ada kabar baik."ucap Natali.
"Heumm,,, doakan saja mom."ucap David.
"Ingat kau harus benar-benar membahagiakan adikku, jika tidak kau akan menyesal." David.
Mereka masih larut dalam obrolan mereka saat ini, sementara Sherina kini tengah merasa ketakutan dan begitu gemetar saat memergoki seseorang yang benar-benar mirip dengan Novita tengah berdiri di atas kolam renang.
Wanita itu bahkan menggunakan pakaian yang sama, dengan almarhum saat dia datang ke rumah Sherina untuk menitipkan Agista.
Hingga wanita itu tersenyum padanya, Sherina benar-benar merasa takut.
"Anda tidak apa-apa?."ucap pria yang ada di hadapannya itu.
"T tidak apa-apa, m maaf tuan apa? Anda melihat wanita itu."ucap Sherina.
"Tentu saja, dia istri saya Nova."ucap pria itu.
"Nova."ucap Sherina,,, seakan masih tidak percaya.
Sementara wanita yang Sherina lihat benar-benar Novita, bahkan dia melihat tanda lahir itu ada di pergelangan tangannya.
"Mas apa? masih lama."ucap wanita itu yang membuat Sherina mematung di tempatnya.
Suara itu benar-benar mirip dengan almarhum Novita.
"Maafkan saya nyonya saya tidak bisa lama-lama disini saya ada keperluan lain dengan istri saya."ucap pria itu.
Setelah mereka pergi Sherina langsung pergi dengan terburu-buru hingga tiba di kamar hotel milik Agista, sampai di sana dia langsung terjatuh seperti orang yang benar-benar sedang ketakutan.
Semua orang tengah menatap kearahnya tanpa bertanya tapi malah menatap heran.
Sampai saat Sherina menangis sesenggukan tanpa berkata apapun itu langsung membuat semua orang panik.
Agis langsung merangkul bahu mommy nya itu.
"Hi,,, Mom ada apa?."ucap Agista.
Namun Sherina tidak berhenti menangis hingga beberapa menit kemudian.
"Aku melihat Novita dengan jelas tapi nama dia berbeda, bahkan baju yang dia kenakan saat menemui ku dulu untuk menitipkan Agista masih dia kenakan tadi.
__ADS_1
Agista pun langsung mematung dan berderai air mata dia tidak tahu apa? benar yang dikatakan oleh Novita saat ini.
Jika mungkin benar Novita ada apa? tuhan menjawab doa dan keinginannya untuk bertatap dan berpelukan dengan sang bunda.