Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa

Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa
#Berhenti berharap#


__ADS_3

Saat, acara perkenalan itu berlangsung, tiba-tiba Almira datang bersama dengan gadis dan Rayendra, mereka begitu murka pada Daisy, bahkan mereka mempermalukan Daisy, didepan orang banyak, bahkan mengatakan bahwa wanita itu adalah seorang pelayan yang tidak tau malu, dan dituduh telah mengguna-gunai Rayan.


Sementara Anya dan Agam, mati-matian membela Daisy, tiba-tiba seseorang datang menyapa mereka ditengah keributan, Daisy, sempat mematung, saat melihat wajah yang sama dengan wajah seorang lelaki, yang ada di foto masa kecil nya.


"Kalian sedang ada acara apa? berkumpul di sini"ucap pria itu dengan suara khas, yang selalu hadir di mimpi Daisy.


"Daddy, dia mengaku-ngaku sebagai istri Rayan, didepan mereka semua, padahal dia hanya seorang pelayan"ucap Almira.


Pria yang bernama Dion putra Atmaja itu, menoleh ke arah, Daisy, tapi bukan nya marah pria itu malah mematung, menatap nanar pada gadis muda, seusia putri keduanya, yang telah lama tiada bersama istri tercinta nya, saat kecelakaan itu terjadi.


Ada lagi kalung yang tidak pernah lepas dari leher Daisy, hingga saat ini menjadi pusat perhatian nya, kalung itu, kalung pemberian di hari ulang tahun anak nya itu tepat saat kecelakaan itu terjadi, dimana sang istri meninggal dunia dan dia mengalami koma, hingga satu tahun lamanya.


Daisy, langsung pergi meninggalkan kerumunan orang-orang yang ada di sana, dengan air mata yang meluncur tanpa bisa ditahan lagi, dia sudah tiba di depan jalan raya, saat Rayan, hendak meraih tangan nya, gadis itu pun langsung masuk kedalam taksi dan pergi entah kemana.


Daisy tidak tahu arah jalan pulang dengan taksi tersebut, dia hanya meminta diantar ke halte bus.


Sementara Rayan, menghubungi layanan taksi, dan menyebut kan no plat mobil taksi yang di tumpangi oleh Daisy, tidak lama Rayan, pun kembali mendapatkan informasi bahwa penumpang wanita itu, diturunkan di halte bus, dan dia membayar nya, dengan sebuah kalung permata, yang mungkin harganya sangat mahal, hingga Rayan, meminta sopir taksi itu menemuinya saat itu juga.


Tidak lama, sopir taksi itu datang, dan memberikan, kalung permata, yang Daisy gunakan untuk membayar taksi nya, sementara itu, Rayan membayar lebih banyak uang pada sopir tersebut dari ongkos yang harus di bayar oleh Daisy.


Sementara gadis yang dia cari saat ini tengah berada di dalam bis, setelah Daisy menjual anting-anting yang dia gunakan bus tersebut menuju ke desa yang Daisy maksud, dia menghubungi Riki, untuk menjemput nya di sebuah tempat pemberhentian pertama bus tersebut karena tidak punya ongkos, beruntung pria itu bisa dihubungi dari akun Facebook yang ia miliki.


sesampai di halte tersebut,di tengah hujan lebat, Daisy berhenti di sana sudah ada Riki, dengan motor yang dia gunakan, pria itu bahkan rela, kehujanan demi menjemput, sahabat masa kecilnya, meskipun Riki, tiga tahun lebih tua dari Daisy.


Pria itu, memang memiliki rasa cinta pada. Daisy, tapi dia tetap menyimpan nya, karena takut jika Daisy, malah akan menjauh darinya.


Daisy, langsung memeluk Riki, dia menangis sesenggukan di dada bidang pria itu, Riki pun pun memeluk nya erat, dia tidak tega melihat Daisy, menangis pilu, seperti saat ini, ditengah hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut, mereka berpelukan untuk pertama kalinya setelah mereka tumbuh dewasa.


Daisy, menghentikan tangisnya setelah beberapa saat.


"Ayo kita pulang, sebentar lagi larut malam"ucap Riki.


Daisy, pun mengangguk, dia mulai bersiap untuk pergi, bersama dengan Riki, yang kini memakai kan jas hujan di tubuh Daisy, yang hanya membawa tas ransel berisi baju yang tadi siang dia bawa.


Sudah pukul sepuluh malam, Daisy, baru naik ke atas motor sport milik Riki.


Daisy, dan Riki pun, pergi, bertepatan dengan mobil Rayan, yang baru sampai di sana, Rayan, melihat mereka berboncengan, hatinya terbakar cemburu, dia tidak menghentikan mereka, hingga tiba di tempat tujuan, Rayan, tiba lebih dahulu, dengan Ferarri milik nya, yang selalu dia gunakan untuk menuju rumah Daisy.


Sesampainya di rumah tersebut, suasana begitu sepi, Rayan, melihat ada banyak peralatan, yang entah apa? namanya, tersimpan di teras depan rumah Daisy.


Setelah setengah jam kemudian, dia melihat motor Riki, berhenti tepat di halaman depan rumah, Daisy, melihat pria yang kini berdiri menyambut nya, Riki, pun turun dan menghampiri Rayan, pria itu terlihat menatap sinis, pada Rayan.


"Jika anda, tidak bisa menjaganya, setidaknya jangan sakiti hatinya, seumur hidup, saya baru kali ini melihat dia terluka dalam, selain saat kepergian Ambu dan Abah, dia adalah kebanggaan kami semua, teh Daisy, tidak pernah mengecewakan siapapun, hatinya begitu lembut dan penyayang, andaikan saja saya tau saat Ida, membawa dia pergi untuk menjual nya, bukan untuk melanjutkan kuliah nya yang sempat tertunda itu, mungkin sampai saat ini dia tidak akan pernah terluka"ucap Riki, datar.


Rayan, kaget, saat mendengar bahwa Daisy, akan melanjutkan kuliah nya, saat itu, tapi Daisy, bilang dia akan bekerja, mungkin kah Daisy berbohong kepada Ambu, atau mungkin padanya, karena, nyatanya meskipun dia hidup sederhana uang dan perhiasan itu, begitu banyak, siapa? Daisy sebenarnya.


Daisy, hanya berlalu, begitu saja wanita itu tidak menghiraukan mereka berdua hingga selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, dia pun membuat teh buat mereka berdua, Daisy menyuguhkan nya di meja.


"A Riki, sebaiknya minum, teh dulu dan segera ganti baju, dan istirahat"ucap Daisy.


"Baik teh, sebentar lagi"ucap Riki, sambil tersenyum dan meraih cangkir teh panas itu, sedikit meniup lalu menyeruput nya.

__ADS_1


"Aku pamit, kedalam dulu, silahkan jika, kalian, masih mau ngobrol"ucap Daisy.


"Iya teh tutup saja, pintu nya, udara sangat dingin"ucap Riki.


Daisy, hanya mengangguk, lalu kemudian, pergi begitu saja.


Setelah beberapa menit, Riki pun, pamit pulang, setelah Rayan, mengatakan untuk menjauh dari istrinya, tapi Riki, hanya tersenyum sinis lalu pergi begitu saja.


Rayan, pun masuk kedalam rumah, dan ia mengunci pintu, dia mencari Daisy, yang ternyata sudah tertidur pulas di balik selimut tebal, dimana, rambut nya yang setengah basah tersebut, akibat kehujanan, Rayan pun kembali berbalik ke luar kamar dan berjalan keluar rumah, dia mengambil alat pengering rambut, milik Anya, yang sudah lama tertinggal di mobil nya.


Rayan, juga mengambil koper tersebut, dan bergegas mengunci mobil nya kembali, dan pria itu kembali masuk kedalam rumah Daisy, dengan koper yang ia seret di lantai.


Daisy pun membuka mata dan bangkit dari ranjang, saat melihat Rayan, berada di ambang pintu kamar nya.


.......................


"Untuk apa? kamu datang kemari lagi, sudah jelas diantara kita, tidak ada hubungan apapun.bahkan aku sudah membalas Budi baik mu, dengan cara mempermalukan diri ku, dihadapan orang banyak, dan mungkin, seluruh orang sudah menggunjing ku, sebagai pelakor"ucap Daisy.


"Dy, keringkan dulu rambut mu, setelah itu kita bicara"ujar Rayan, datar.


"Jangan pura-pura perhatian pada ku, stop sudah cukup, sudah cukup kau menghancurkan harga diri ku, didepan umum, aku tidak akan pernah melupakan semua penghinaan itu, bahkan hingga aku mati, sekalipun"ucap Daisy.


"Dy, kita bicara, nanti setelah kamu mengeringkan rambut mu"ucap Rayan.


"Tidak ada lagi, yang harus kita bicarakan tuan muda, pergilah, tidak baik berada di rumah seorang pelayan, bahkan rumor guna-guna itu akan dibenarkan dimana seorang pelayan, mengguna-gunai seorang Rayan Davidson, akan semakin besar bagai bom waktu, berhenti berharap jauh lebih baik, pergilah dan jangan pernah lagi kembali"ucap Daisy.


Rayan, langsung meraih bahu Daisy, dan menarik nya untuk mendekatkan menghadap dirinya.


Dia, bisa terima jika Daisy marah dan bahkan memukuli dirinya, tapi tidak untuk, membenci dirinya.


"Aku mohon Dy, maafkan aku, aku tidak pernah berniat untuk mempermalukan diri mu, aku sangat mencintaimu, dan aku tidak bisa kehilangan dirimu"ucap Rayan yang kini menangis sesenggukan sambil memeluk Daisy.


Gadis itu, hanya terdiam, dia tidak menyangka, seorang Rayan, yang begitu di hormati, oleh para karyawan dan rekan bisnis nya, saat ini tengah menangis.


"Dy, jangan pernah meminta ku, untuk pergi, tetap lah bertahan di sisi ku, apapun yang terjadi, karena aku sangat mencintaimu, aku sangat mencintaimu di, tapi aku tidak bisa membantah keinginan kedua orang tua ku, aku takut durhaka Dy, aku takut menyesal untuk yang kedua kalinya, saat mommy meminta ku, untuk mencari istri di usia muda, aku tidak sempat mewujudkan, keinginan terakhir nya, apa lagi, saat ini Daddy menginginkan ku, untuk menikah dengan Almira, aku tidak bisa menolak itu, meskipun hati ini, hanya mencintai mu"ucap Rayan, sambil menatap sendu.


"Pulang lah, lanjutkan apa? yang menjadi alasan utama mu, aku tidak akan menghalangi jalan mu"ucap Daisy.


"Aku akan pulang, tapi untuk kembali, tunggu aku disini, suatu hari nanti aku akan kembali, untuk meresmikan Pernikahan kita"ujar Rayan.


"Aku juga punya cita-cita untuk memiliki rumah tangga, tapi tidak dengan suami orang tidak juga dengan pria yang tidak sepadan dengan ku"ucap Daisy.


"Dy, keringkan dulu rambut mu, kita akan bicara setelah itu"ucap Rayan, tapi Daisy menolak dia tidak akan menerima perhatian apapun lagi dari Rayan.


"Dy, aku tau kamu marah, tapi please jangan siksa dirimu sendiri, biarkan aku, membantu untuk mengeringkan rambut mu"ucap Rayan, tapi Daisy, menepis tangan pria itu.


"Dy, kamu pukul saja aku, agar kamu puas sayang tapi aku mohon jangan benci aku, aku tidak sanggup jika harus seperti ini.


lagi-lagi Rayan, membawa Daisy, kedalam dekapannya,kali ini disertai kecupan hangat di puncak kepala nya.


Daisy, pun hanya bisa memejamkan mata nya, tidak ada kata yang terucap dari nya, karena, rasa sakit itu masih mendera batinnya.

__ADS_1


"Keluar lah, di kamar sebelah masih rapi, kamu bisa istirahat dulu, sebelum pagi, nanti"ucap Daisy.


"Aku tidak ingin kemanapun, sebelum kamu melakukan apa, yang aku, katakan."ujar Rayan.


"Aku akan mengeringkan rambut ku, setelah kamu pergi"ucap Daisy.


"Berjanjilah bahwa kamu, akan tetap berada di sisi ku, setelah hari esok"ucap Rayan.


"Aku, hanya manusia biasa, aku tidak bisa berjanji"ucap Daisy.


"Dy, jangan sampai membuat kesabaran ku, habis, katakan jika kamu akan selalu mencintai ku, dan tetap berada di sisi ku"ucap Rayan.


"Tidak Ray, aku tidak bisa"ucap Daisy.


"Dy, aku tidak ingin kehilangan mu"ucap pria itu, dia sudah tidak bisa mengontrol emosi, yang menimbulkan, rasa takut yang begitu besar, hingga dia,gelap mata, Rayan, berbuat diluar kendali, tapi beruntung, semua itu terhenti saat Daisy, mengucapkan janji.


"Berhenti, Ray, aku janji, aku janji tidak akan pernah, pergi, aku akan menunggu mu disini, hiks hiks hiks, aku berjanji aku mohon hentikan"ucap Daisy, Rayan pun melepaskan genggaman tangan nya pada Daisy, yang hampir saja terenggut kesucian nya, karena Daisy, keburu, mengucap janji.


Rayan pun, memeluk, tubuh Daisy yang kini tengah menangis karena syok , kenapa? Rayan sampai nekad ingin melakukan itu, untuk memiliki Daisy.


"Maafkan aku sayang, maafkan aku, aku hanya tidak ingin, kehilangan mu"ucap Rayan.


Mereka pun, tertidur pulas di ranjang yang sama, meskipun tidak ada yang terjadi, hingga pagi tiba, Daisy, tidak kunjung bangun, seperti biasanya, Rayan yang sudah membersihkan diri dan bersiap pun merasa heran, hingga ia kembali menyambangi kamar tersebut, ternyata Daisy, tengah duduk di tepi ranjang, dia memegangi kepalanya, seperti sedang merasakan sakit.


"Dy, kamu baik-baik saja kan sayang"ucap Rayan.


Daisy hanya mengangguk, tapi Rayan, tidak percaya, dia mendekat ke arah Daisy, menempel kan punggung tangan nya di dahi Daisy, Rayan, sudah bisa menebak semua itu, dia kembali berjalan keluar, untuk mengambil obat, yang ada di dalam koper.


Sementara Daisy berjalan keluar, sambil menuju dapur, tapi dicegah oleh Rayan.


"Sayang, mau kemana heumm, biar aku bantu"ucap Rayan.


"Aku, mau ke kamar mandi"ucap Daisy.


"Biar aku bantu"ucap Rayan, yang kini terlihat sangat khawatir.


"Tidak usah... biar aku, sendiri saja, kamu sudah siap kan, silahkan tunggu, sebentar aku buatkan sarapan pagi dulu"ucap Daisy.


"Jangan di, tidak usah, aku bisa sarapan pagi di jalan, tapi aku tidak mungkin pergi, jika keadaan mu, seperti ini sayang"ucap Rayan.


"Tidak, usah khawatir, Ray, aku akan baik-baik saja"ucap Daisy.


"Dy, sayang jangan keras kepala, ayo aku antar"ucap Rayan, yang langsung menggendong Daisy, ala bridal style, menuju kamar mandi, sementara Daisy, mengalungkan tangannya di leher Rayan.


Setelah selesai mandi, Daisy, pun berjalan keluar, dia hampir saja terjatuh jika saja Rayan tidak menunggu nya di belakang.


"Dy, hati-hati kenapa? kamu malah mandi, bukan kah kamu sedang demam"kata Rayan.


"Aku mandi dengan air hangat, Ray."jawab Daisy.


"Baiklah Sayang, minum' ini dulu, setelah itu istirahat, agar demam nya hilang"

__ADS_1


__ADS_2