Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa

Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa
#perhatian#


__ADS_3

Agam tersenyum setelah gadis itu bangkit dan makan coklat tadi.


"Mulai sekarang kamu bisa masak untukku"ucap Agam.


"Tidak mau aku takut"ucap Sherina.


"Takut apa? lihat aku masih hidup dan lagi tadi aku menang tender yang super besar"ucap Agam.


"Benarkah!"teriak Sherina senang.


"Ya kamu tidak salah dengar"ucap Agam.


"Syukurlah"ujar Sherina.


Sherina dia langsung memeluk Agam tanpa sadar sambil loncat-loncat mengucapkan selamat, sementara istrinya menatap sambil tersenyum saat melihat tingkah Sherina yang lebih tua darinya seperti tingkah anak kecil.


"Kalian sepertinya baru menang lotre"ucap Novita.


"Yang, dia senang saat masakan nya tidak buat aku sakit dan tadi rapat berjalan lancar aku dapat tender besar dia langsung semakin senang"ucap Agam sambil mengelus puncak kepala gadis itu.


Agam langsung menghampiri istrinya dan merangkul pinggang istri nya juga mengecup bibir nya begitu juga Novita yang membalas kecupan itu.


Sementara Sherina kini berjalan menuju kamar mandi dia ingin mandi dan berganti pakaian setelah seharian menangis.


Setelah semua selesai ritual mandi dan bersiap untuk makan malam termasuk Sherina, gadis itu membuat capcay goreng dengan taburan daging sapi yang menggoda lidah, kali ini dia masak untuk mereka bertiga.


"Selamat makan malam semoga tuan dan nyonya suka"ucap Sherina.


"Kau memasak ini sendirian"ucap Novita.


"Ya Nona"ucap Sherina.


"Apa? tangan mu tidak sakit"ucap Agam.


"Sakit sih tapi tidak apa-apa, masih bisa di tahan"ucap Sherina.


"Sherin"ucap Novita.


"Ya Nona"jawab Sherina.


"Kau itu bukan pembantu rumah ini disini kamu tamu"ucap Novita tegas.


"Ya, nona saya tau tapi setidaknya saya bisa membalas kalian setelah kalian memberikan tumpangan gratis"ucap Sherina.


"Tidak ada yang menuntut untuk itu Sherina, aku tulus menolong mu"ucap Agam.


"Ya kak, tapi setidaknya aku bisa berterimakasih untuk semua itu"ucap Sherina.


"Tapi bisa nanti lagi setelah kamu sembuh"ucap Agam.


"Setelah sembuh saya berencana untuk pulang ke luar negeri, ke rumah Oma"ucap Sherina.


"Dimana Oma mu berada tanya Novita terlihat antusias.


"Di Italia"ucap Sherina.


"Wah jauh juga"ucap Agam.


"Ya maka dari itu setelah kondisi aman saya akan mengambil barang-barang saya dan beberapa barang berharga milik mommy saya, setelah itu saya akan pergi ke luar negeri"ucap Novita.


"Tidak perlu menunggu nanti sekarang pun bisa,aku sudah menyusup kan orang ku kedalam kediaman mu dan sewaktu-waktu bisa diperintahkan untuk membawa barang-barang mu jika perlu semua"ucap Agam.


"Terimakasih kak jika begitu aku akan meminta bantuan kepada orang kakak saja"ucap Sherina.


"Sama-sama ngomong-ngomong masakan mu lezat, apa? kau pernah sekolah memasak"ucap Novita.


"Mommy ku jago masak aku selalu belajar dari resep masakan yang ia tulis sendiri."jawab Sherina.


Mereka pun makan malam dengan lahap.


Satu Minggu berlalu kini Sherina sudah jauh lebih baik, Agam sedang mengantar dia ke bandara, gadis itu sudah bertekad untuk pergi ke luar negeri yaitu Italia.


Bukan karena dia tidak betah tinggal bersama Agam, tapi dia tidak ingin menjadi parasit yang hidup menempel di rumah tangga orang lain karena biar bagaimanapun dia tidak punya hubungan apapun dengan mereka.


Sebenarnya Agam, sedikit berat melepaskan dia pergi bukan karena Agam cinta pada gadis itu tapi dia takut Sherina, celaka jika berada di luar sana, gadis itu sudah merelakan harta kekayaan kedua orang tua nya jatuh ke tangan ibu tirinya itu, dari pada hidup tanpa adanya ketenangan.


"Sherina apakah kamu yakin disana aman"ucap Agam.


"Kakak tenang saja disana hanya ada keluarga dari ibuku tidak ada yang jahat seperti disini, semoga tuhan membalas kebaikan kalian, aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena kakak mau menyelamatkan ku"ucap Sherina sambil tersenyum tulus.


"Sudah kewajiban ku Sherina, sesama manusia harus saling tolong menolong"ucap Agam.


"Boleh peluk untuk yang terakhir kali"ucap Sherina sambil menatap kearah Agam.


"Tentu saja, hati-hati di sana jangan lupa kasih kabar pada ku atau Novita"ucap Agam.


"Ya kak, semoga tuhan segera menganugerahi momongan pada kalian berdua"ucap Sherina.


Gadis itu juga memeluk Novita.

__ADS_1


"Maafkan Sherina nona sudah menyusahkan kalian berdua terutama nona, suaminya sudah membagi waktu untuk mengurus keperluan saya"ucap Sherina tulus.


"Tidak masalah yang penting kamu baik-baik saja disana"ucap Novita.


Tibalah saatnya Sherina masuk kedalam pesawat, gadis itu menitikkan air mata, sesungguhnya berat meninggalkan negara kelahiran nya, apalagi sang mommy dimakamkan di negara ini, dia tidak akan pernah bisa menemui ibunya lagi.


"Kak boleh aku minta tolong satu hal lagi"ujar Sherina.


"Apa? itu"tanya Agam.


"Tolong kunjungi makam mommy ku bilang padanya kalau aku baik-baik saja dan sudah kembali ke negaranya seperti yang dia inginkan sejak aku masih kecil, sekarang mommy tidak perlu khawatir lagi"ucap Sherina.


"Nama ibumu"ucap Agam.


"Alena Dimitri"ucap Sherina.


"Baiklah aku akan sampaikan"ucap Agam.


Sherina berjalan membawa dua buah koper besar, dia sempat melirik dan melambaikan tangan nya, pada mereka berdua tapi tidak lama gadis itu langsung berbalik sambil menghapus air mata yang bercucuran hingga ia menghilang, saat itu juga.


"Selamat jalan gadis malang"lirih Agam, ada rasa sakit yang tidak bisa diungkapkan dalam benak Agam, saat melihat takdir kehidupan seorang gadis malang yang hampir terbunuh itu.


"Ayo pulang sayang bukannya saat ini ada meeting."ujar Agam.


"Ya sayang"jawab Novita.


Pesawat yang ditumpangi Sherina pun lepas landas, Agam sempat menatap kearah langit luas itu dalam hatinya terus berdoa semoga gadis itu tiba dengan selamat.


Hingga mereka tiba di kantor masing-masing Agam masih menatap data diri Sherina beserta foto-foto gadis berprestasi itu, dan satu lagi foto seorang lelaki yang sangat ia kenal sebagai rekan bisnisnya.


"Pria ini kah yang kau cintai"ucap Agam.


"Maaf tuan, ada tamu"ucap sekertaris Agam.


"Siapa, suruh masuk saja langsung"ucap Agam.


"Ya tuan"ujar nya yang langsung kembali.


"Apa? kabar tuan Agam"ucap seseorang yang baru saja Agam gumam kan.


"Owh tuan Rama, kabar baik bagaimana kabar sebaliknya"ucap Agam yang langsung buru-buru menyimpan data diri Sherina, kedalam laci yang ada di hadapannya, tanpa sadar dia telah menjatuhkan satu buah foto.


Rama lantas mengambil foto tersebut dan betapa? kagetnya melihat foto wanita yang sangat ia cintai yang iya khianati cinta nya dalam sekejap mata, dan kini entah dimana.


..........................


"Darimana anda dapat foto ini"ucap Rama, tiba-tiba.


"Dia teman saya di luar negeri, baru saja kembali tadi"ucap Agam dengan tenang nya.


"Benarkah, tapi dia adalah tunangan saya"ucap Rama, saya tidak tau tentang itu, apa? mungkin mereka mirip soalnya dia keturunan Italia"ucap Agam.


"Tunangan ku juga"ucap pria itu.


"Siapa? nama teman anda"tanya Rama.


"Sherina Mahendra"jawab Agam jujur.


"Dia tunangan saya, dimana anda bertemu dengan nya"ucap Rama.


"Saat dia hendak dianiaya dan di perkosa atas suruhan ibu tirinya, mungkin jika aku tidak ada di sana dia sudah tiada"ucap Agam.


Rama begitu kaget saat, saat mendengar penuturan Agam.


"Dimana dia berada?"tanya Rama.


"Dia sudah kembali ke luar negeri"jawab Agam.


"Katakan dia di negara mana, aku akan menyusul nya."ucap Rama.


"Dia tidak mengatakan negara tujuan nya hanya saja ia berpesan jika dia tidak kembali dia ingin aku mendatangi makam ibunya untuk memberitahukan bahwa dia baik-baik saja"ucap Agam jujur.


Agam langsung membawa foto tersebut dan menyimpan nya.


"Apa? maksud dan tujuan anda kemari"tanya Agam.


"Saya ingin menawarkan sebuah proyek pembangunan yang hampir saja rampung tapi tiba-tiba perusahaan itu mengalami kebangkrutan permanen"ucap Rama.


"Saya tidak suka melanjutkan perjalanan orang lain, jadi intinya saya tidak setuju silahkan anda sendiri saja"ucap Agam.


Sementara itu di kediaman Rayan, pria itu kini tengah bermanja-manja pada istrinya Daisy, karena pria itu tengah demam setelah seharian meeting penting di luar.


"Sayang makan dulu ya bubur nya agar bisa minum obat, ini demamnya tinggi aku kepanasan"ucap Daisy yang masih dipeluk oleh Rayan.


"Tidak mau mulut mas pahit"ucap Rayan.


"Sedikit saja ya, tidak pahit kok, setelah ini pasti sembuh"ucap Daisy seperti sedang membujuk David.


"Pahit, dari mulut kamu saja yang suapi nya" ucap Rayan.

__ADS_1


Daisy pun menghela nafas panjang setelah itu dia meraih mangkuk bubur lalu di suap kan kedalam mulutnya, lalu mendekati Rayan menyuapi suaminya seperti saat itu juga.


"Eum..."


Daisy, tidak bisa melepaskan diri dari Rayan yang kini terus mencumbu bibir nya itu.


"Yang... kamu ini gimana sih bukan nya makan"ucap Daisy.


Daisy, langsung menyuapi Rayan dengan sendok meskipun pria itu sempat menolak, tapi Daisy memaksanya dengan mengancam akan meninggalkan pria itu jika tidak mau makan.


Dan pada akhirnya Rayan mau makan hingga habis, setengah mangkuk, dan meminum obat yang Dokter berikan tadi.


Setelah Rayan meminum obat nya, Daisy kembali menyelimuti tubuh mereka karena Rayan tidak ingin ditinggalkan pergi oleh Daisy.


Hingga beberapa jam kemudian demam itu mereda Rayan sudah mulai berkeringat, meskipun suhu udara ruangan masih dingin seperti tadi.


"Honey...haus"ucap Rayan parau.


"Sebentar ya mas aku ambilkan dulu"ucap Daisy, yang kini keluar dari dalam kamar karena hanya beberapa langkah dari kamar tersedia pantry di lantai tiga itu, Daisy mengambil air disana karena stok air putih di kamar habis.


Tidak lama kemudian, Daisy datang dengan segelas air mineral di tangan nya.


"Daddy... bangun dulu ini minum nya"ucap Daisy.


"Iya sayang mas bangun"ucap nya yang kini bangkit duduk sambil bersandar di headbord.


"Terimakasih Yang"ucap Rayan.


"Sama-sama sayang"ucap Daisy.


"Sini bobo lagi"ucap Rayan.


"Sudah malam mas, aku buat makan malam dulu"ucap Daisy.


"Sayang kamu itu sedang hamil besar, jadi jangan terlalu banyak naik turun biar mereka saja yang masak mahal-mahal aku bayar koki profesional tidak ada gunanya jika kamu terus yang masak, kecuali jika mereka ada di sini"ucap Rayan.


"Heumm baik'lah"jawab Daisy.


Rayan langsung menelpon koki restoran hotel milik nya meminta dibuatkan makan malam dan di antar ke mention nya.


Sementara sambil menunggu koki datang mengantar makanan mereka melepas rindu di udara yang cukup dingin itu, mereka bertukar peluh.


"Sayang laper"ucap Daisy yang baru selesai beraktifitas.


"Rayan pun turun mengambil makanan yang sudah ada di depan pintu kamar sedari tadi, mungkin karena dia terlalu fokus dengan kegiatan tersebut hingga tidak mendengar suara bel pintu berbunyi.


Asisten pribadi dalam mention itu yang sesekali mendapatkan izin dari Daisy. jika terlalu penting dia bisa naik ke lantai tiga.


"Sayang ini makan malam sudah siap"ucap Rayan.


"Terimakasih Daddy"ucap Daisy.


Daisy langsung bangkit dan berjalan menuju kamar mandi setelah itu ia langsung membasuh wajah dan langsung mengeringkan nya lalu kembali menuju meja makan yang ada di luar kamar depan pantry.


"Yang makan yang banyak agar si kecil cepat tumbuh dan aku sudah tidak sabar ingin melihat putri kita segera lahir"ucap Rayan.


"Sabar daddy"ucap Daisy.


Daisy mulai menyuapkan makanan tersebut, dan terlihat begitu lahap mungkin karena tenaganya terkuras setelah percintaan mereka tadi.


Sampai makanan itu habis tak bersisa Rayan tersenyum dan memberikan segelas susu khusus ibu hamil yang dia buat sendiri.


"Sayang ini susu nya"ucap Rayan.


"Terimakasih Yang"ucap Daisy sambil tersenyum manis.


"Sama-sama sayang"jawab Rayan.


Setelah sedikit duduk bersantai sambil mengecek pekerjaan nya, Rayan merangkul bahu Daisy.


"Sayang jika suatu hari nanti aku sudah tidak ada lagi di dunia ini, apa? kamu akan menggantikan posisi ku dengan wanita lain"tanya Daisy gamblang.


"Kita akan hidup dan mati bersama-sama, jadi tidak akan pernah ada pengganti, sekalipun kamu pergi lebih dulu, aku tidak akan pernah menggantikan posisi mu di sini"tunjuk Rayan pada Daisy.


"Heumm benarkah"ujar Daisy.


"Sayang kamu lihat Daddy Rayan, dia mungkin menikah dengan wanita itu, tapi anak-anak mereka bukan darah daging Daddy, dan itu artinya Daddy tidak pernah mencintai istrinya pertama yang menjadi istri terakhirnya itu, karena daddy hanya mencintai mommy mas, tidak dengan yang ia nikahi secara terpaksa"ucap Rayan.


"Heumm berarti mas akan kembali pada istri pertama mas"ucap Daisy.


"Jangan ngarang kamu yang...mas yakin kita akan menua bersama dan akan meninggal sama-sama"ucap Rayan.


"Heumm aku kalau mas pergi lebih dulu mau nikah lagi"canda Daisy, yang langsung membuat Rayan membulatkan matanya, melotot tajam kearah istrinya yang kini nyengir kuda.


"Jika berani seperti itu mas akan bangkit dari kubur untuk membalas dendam dan akan mencekik pria bajingan itu"ucap Rayan marah.


"Hahaha...mas Rayan ada-ada saja bagaimana bisa"ucap Daisy, yang kini terbengong karena Rayan langsung pergi meninggalkan nya karena marah.


"Mas ampun mas hanya bercanda, mas"ucap Rayan.

__ADS_1


__ADS_2