
Sesampainya di depan parkiran yang ada di tanah luas pinggir jalan itu, Daisy, kaget melihat mobil Ferrari milik Rayan.
Wanita itu langsung turun dari mobil, karena sudah sangat lelah, mereka yang ada di jok belakang pun berhamburan keluar, wanita itu para lelaki yang ikut serta di dalam mobil, itu satu persatu keluar dari dalam mobil dan pamit, pada Daisy, dengan mengendarai motor mereka yang terparkir di samping mobil Rayan, padahal rumah mereka tidak terlalu jauh dari tempat Daisy.
Hingga tanpa sadar, tatapan mata tajam, saat Riki, mengusap puncak kepala Daisy, tanpa sengaja.
Sementara Daisy, hanya tersenyum pada Riki, dan berbalik pergi sambil berjalan bersama dengan Anya, membawa sesuatu yang dia dapat di bukit tadi, dan sesampainya di depan rumah, Daisy, melihat pria yang terlihat menatap lekat wajah cantik yang terlihat lusuh dan baju mereka yang terlihat sedikit basah dan kotor.
"Kalian mandilah di sini, biar mommy, numpang mandi, di rumah Ambu, Armi"ucap Daisy yang mengambil pakaian ganti dan lainnya.
"Dy, mandi di sini, tidak baik numpang mandi di rumah tetangga"tegur Rayan, yang sedari tadi diam di kursi.
"Tapi kasihan mereka sudah kedinginan"ucap Daisy.
"Besok kita akan buat kamar mandi dan kamar baru"ucap Rayan, lagi.
"Kenapa? tidak bangun rumah saja sekalian"ucap Daisy.
"Jika kamu mau"ucap Rayan.
"Mom, aku mandi duluan"ucap Anya.
"Baiklah Sayang"jawab Daisy, yang masih terduduk dengan baju dan handuk di tangan.
"Mom, dibelakang ada saluran air juga kan, aku mandi disana saja biar cepat"ucap pria tampan yang masih sangat manja itu.
"Baiklah, jangan lupa bahwa ember dan gayung buat tampungan nya"ujar Daisy.
"Siap mom, tapi handuk aku taruh di mana"tanya nya lagi.
"Ada tali tempat jemuran, kamu taruh di sana saja"ucap Daisy.
"Asiappp..."ucap Agam, yang tidak pernah, repot, selagi ada yang bisa dia manfaat kan karena, dia seorang pria.
Sementara itu Rayan, tengah sibuk dengan ponselnya, berbalas pesan dengan calon istri nya, yang terus bertanya-tanya dia tengah berada di mana.
"Kamu berani selingkuh di belakang aku, Dy"ucap Rayan, setelah suasana sepi, karena posisi kedua adiknya, tengah berada di belakang.
"Apa? maksud nya, selingkuh, selingkuh... aku... selingkuh?"ucap Daisy, sambil geleng-geleng tidak percaya, dengan ucapan Rayan.
"jangan coba-coba ngeles"ujar Rayan.
"Apa? sih Rayan, kamu gak jelas banget, selingkuh apa...dan dari siapa? pacar juga tidak ada, terakhir kali dikhianati"ucap Daisy.
"Curhat, masih gak nyadar juga"ucap Rayan.
"Ray, mungkin kamu lelah dan, salah tujuan jadi ngawur begitu"ucap Daisy.
"Aku tidak salah tujuan, aku memang sedang ingin bertemu dengan istri dan adikku, tapi saat datang, sudah disuguhi dengan pemandangan, dia yang sedang berselingkuh"ucap Rayan, dingin, tapi Daisy tidak mau mendengar nya, dia langsung beranjak ke belakang, untuk membuat minuman.
"Dy, kamu pergi saat aku belum selesai bicara"ucap Rayan.
Sementara Anya, yang kini terlihat tengah berada di hadapan mereka, dengan baju piyama nya.
Daisy, pun terdiam dan melanjutkan langkahnya untuk membuat teh, setelah menyeduh teh, dari Air, di dispenser, yang Anya bawa, dia pun menyuguhkan nya di meja makan tersebut.
"Minum, lah mungkin kamu kedinginan"ucap Daisy.
"Dy, kamu tidak bisa mengalihkan pembicaraan, aku serius.
"Rayan, kita bicara sebentar lagi, setelah aku mandi"ucap Daisy.
"Ya, terus lah seperti itu"ucap Rayan, tapi wanita itu tidak menggubris nya.
Daisy langsung masuk kedalam kamar mandi, di sana dia langsung membersihkan tubuh nya, yang kotor, setelah main kotor-kotoran.
Sementara itu di ruang tengah, Anya ,Agam dan Rayan, tengah membahas sesuatu, yang terlihat serius.
__ADS_1
Sampai saat Daisy, yang baru keluar dari kamar mandi, dia langsung menghentikan langkahnya, saat mendengar, bahwa Rayan, akan langsung menikah satu Minggu lagi, dan mereka pun, diminta untuk pulang besok.
Daisy, melanjutkan langkahnya, berpura-pura tidak mendengar, itu jauh lebih baik, dari pada ikut bicara, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Mom, besok kita tidak jadi pergi, karena kakak, akan segera menikah"ucap gadis itu.
"Owh, selamat ya, semoga sakinah mawadah warahmah"ucap Daisy.
Raut, wajah Rayan langsung berubah merah padam, tapi Daisy, tidak mau peduli dia pun masuk, kedalam kamar nya, Daisy menggunakan pelembab wajah, dan losion tubuh.
Setelah selesai dia pun mengeringkan rambut, barulah keluar, saat suara ribut-ribut di luar terdengar nyaring.
"Teh, ini ayam sama beras nya, dan juga ada lalapan"ucap Riki, yang terlihat sudah rapi dan tampan, meskipun tinggal di desa dan hanya menggunakan T-shirt berwarna putih dan Jean berwarna hitam tersebut, tidak lupa sebuah kalung dengan liontin siung celeng.
"Eh, A Riki, anak buah nya mana, bisa bantu buat menyalakan api nya, di depan rumah saja ya, sekalian, ambil ikan juga di belakang, aku siapkan nasi liwet sama bumbu Bakaran nya"ucap Daisy.
"Baiklah itu hal gampang, apalagi si Yanwar jago, tangkap ikan"ucap Riki.
"Mom, jadi ya bikin nasi liwet nya"tanya Anya.
"Jadi dong, mereka memang tidak pernah ingkar janji"ucap Daisy.
Agam pun menemui mereka yang berjumlah sepuluh orang pria, tapi saat ini ada beberapa perempuan yang, ikut bersama dengan mereka.
"Kalian, datang segini banyak, cuma buat, makan doang, eh, mommy gue bukan robot kali bantuin"ujar Agam.
"Tentu saja, A Riki jago bikin nasi liwet, ini juga para gadis datang untuk membantu, dan itu juga A Yanwar, sama Dadan, mau tangkap ikan"ucap Ari.
"Baguslah"ucap Agam.
"Mau lihat, foto kita tadi gak "ujar Anya, yang membawa laptop di teras depan, mereka duduk lesehan di atas tikar yang sudah disediakan oleh Daisy, sebelum nya.
Anya pun membuka foto-foto yang mereka ambil tadi siang, sementara para gadis terlihat sangat iri, dengan kecantikan Anya, dan semua yang Anya miliki.
Setiap satu foto, mereka komentari, dengan penuh kekaguman, mereka sendiri tidak pernah melihat, keindahan yang ada di sana dari setiap sudut, tapi Anya, bisa melakukan itu, otaknya yang cerdas, begitu jeli dalam melihat sesuatu yang tidak semua orang sadari.
Agam dan Anya pun memperlihatkan foto ala-ala prewedding outdoor, milik mereka, termasuk milik Daisy, dan Riki, sontak Rayan, membulatkan matanya saat mendengar komentar kekaguman, mereka pada foto Daisy dan Riki, yang akan dijadikan sampul novel, oleh Riki.
..................................
Daisy dan Riki tengah sibuk membersihkan ikan-ikan besar dan ayam, yang akan mereka bakar, sementara, nasi liwet yang sudah diberikan bumbu rempah khas nasi liwet itu kini tengah di masak di atas kompor gas dan tungku karena, ada empat panci besar untuk puluhan orang tersebut, termasuk pak RT dan ibu RT, yang ikut gabung.
Rayan pun mulai memanfaatkan, kesempatan itu, untuk terus menempeli Daisy.
"Yang, kamu jangan terlalu cape-cape, nanti malam siapa? yang akan pijitin aku pegel loh setelah pulang kerja, langsung kesini"ucap Rayan, yang kini memeluk Daisy, yang sempat mematung sebelum kemudian mencoba tersenyum sambil menahan malu.
"Dy, kamu harus di hukum, karena berani berselingkuh di belakang ku"bisik Rayan, saat posisi mereka, sedikit menjauh.
"Aku tidak selingkuh, dari siapapun, dan aku punya hak untuk menentukan pilihan ku, seperti halnya tuan muda"ucap Daisy.
"Dy, tidak ada yang lain, hanya aku, hanya aku Dy"ucap Rayan, marah.
pria itu tidak bahkan sampai mencengkeram erat, pergelangan tangan Daisy.
Hingga seseorang datang membuat mereka sedikit berjauhan.
"Teh, diminta A Riki, suruh ngecek, ikan bakar nya."ujar Yanwar.
"Baiklah tunggu sebentar tanggung, lagi siapkan, lalapan dan tumis kangkung nya"ucap Daisy.
"Baik teh"ucap Yanwar yang kembali lagi ke luar.
"Heumm, bagus ya Dy, kamu sengaja memanfaatkan momen ini, untuk berselingkuh dengan nya,ingat Dy, semua bukti pernikahan kita ada di pak RT, dan aku tinggal minta dia, untuk mengurus semua nya"ucap Rayan.
"Tuan, aku tidak mengerti, apa? mau mu, bahkan satu Minggu lagi, kalian akan menikah, apa? jadinya jika mereka tahu semua nya, karena pernikahan itu bukan pernikahan kita melainkan, pernikahan kamu, dan dia, jadi tidak usah, over akting."ucap Daisy yang seketika itu membuat Rayan, terdiam di tempatnya.
Daisy, pergi dengan menahan, sakit dan perih, tapi bukan dari luar, melainkan di dalam dadanya.
__ADS_1
Gadis itu pun, sibuk mengurus ikan bakar bersama dengan Riki dan Yanwar sementara yang lain sibuk menata daun, dan juga menyusun nasi liwet, yang dilingkarkan di tengah, Daisy pun menyajikan liwet tersebut dan meriasnya secantik mungkin, dengan berbagai lauk diantara nya, ada jengkol goreng, tempe, dan juga tahu timun, dan masih banyak lagi lainnya, termasuk ikan dan ayam, dan ikan bakar.
Tepat pukul tujuh malam, semua muda-mudi berkumpul dan pak RT, memimpin do'a.
Rayan, dan Daisy belum bergabung karena pria itu tengah merajuk, akhirnya Daisy, bilang "Lain kali, tidak usah datang, jika tuan, seperti ini terus"ucap Daisy.
"Aku memang tidak akan pernah datang lagi"ucap Rayan tegas, pria itu langsung meraih kunci, mobil nya.
"Ya, kamu memang tidak akan pernah datang lagi kesini karena, setelah menikah tidak akan butuh pelayan seperti ku, lagi"ucap Daisy, yang hampir di dengar orang, jika saja diluar tidak gaduh dengan mereka yang tengah bercanda tawa, sambil menikmati nasi liwet.
Rayan, langsung menarik Daisy, dan mencium bibir, gadis itu dengan sangat kasar, dan dan rakus.
Daisy, mendorong dada bidang, Rayan, yang kini terlihat menatap tajam.
Daisy, berjalan keluar sambil merapihkan rambut nya dan langsung bergabung di samping Riki, Rayan, langsung pergi tanpa menoleh, tanpa menggunakan jaket, atau pun yang lainnya, hanya membawa ponsel dan juga kunci mobil.
"Teh itu, tamunya gak diajak makan"ucap beberapa gadis.
"Dia, bukan tamu tapi dia adalah suami Daisy, pak Rayan, namanya"ujar ibu RT.
"Owh, ya ampun, suaminya"ucap mereka.
"Dia, kakak kami, suaminya mommy"ucap Agam.
"Aku kok, bingung ya"ucap salah seorang gadis.
"Mommy, ini kembaran mendiang mommy kami, dan kakak, menikah dengan mommy Dy, agar kami tetap dekat, tapi, satu Minggu lagi, kakak, akan menikah lagi, dengan perempuan yang dijodohkan oleh Daddy"ucap Anya, keceplosan.
"Kak, jangan gosip deh, bagaimana bisa kakak, menghianati cinta mommy"ujar Agam, yang melihat pandangan mata mereka yang tertuju pada Daisy.
Daisy, hanya tersenyum, dipaksa"Jangan takut jadi janda, A Riki, juga masih sangat berharap pada teh, Daisy, andaikan saja dulu si PANDI, tidak nyerobot begitu"ujar, Yanwar, sambil tertawa terbahak-bahak.
Sementara Daisy, hanya terus menunduk, sambil makan ayam panggang kesukaan nya.
Tidak sampai sepuluh menit, Rayan pun datang dengan beberapa, kantong kresek berisi, buah-buahan segar, dan juga beberapa jenis. camilan, yang kini disodorkan ke hadapan mereka.
"Dy, aku makan nya, didalam saja ya, jangan lupa, disuapi"ucap Rayan.
"Mom, sepertinya, suasana hati, kakak kurang baik"bisik Agam.
"Aku ambil nampan dulu"ucap Daisy, dia masuk kedalam rumah dan mengambil nampan kayu, dan kembali lagi, ke teras rumah, Daisy, mengambil nasi liwet yang masih utuh di dalam wajan, dan juga beberapa lauk pauk, dan tidak lupa sambal dan kerupuk, sementara Daisy, masuk diluar tengah terjadi kehebohan, karena mereka menghukum orang-orang yang tidak menghabiskan porsi makanan milik mereka, selain di hukum untuk memakan nya, hingga habis.
Hukumannya adalah bermain alat musik dan bernyanyi juga berjoget.
"Dy, suapi"ucap Rayan.
"Tuan, aku masih makan, nanti kena hukuman"ucap Daisy mencoba bersabar, Daisy pun benar-benar , mendapatkan hukuman, gadis itu pun, mengambil gitar, dan
memainkan alat musik tersebut..
Tidak hanya menciptakan musik yang mengalun indah, gadis itu juga bernyanyi dengan suara, khas nya, yang bisa menghipnotis.
Daisy pun melanjutkan makannya.
sementara itu Rayan kembali duduk bersila di samping Daisy, dan membantu nya, menghabiskan makanan tersebut.
"Owh,so sweet"ujar semuanya kompak, sementara Riki, diam-diam, pamit pulang.
Daisy, sendiri sangat, senang karena Rayan saat ini tengah membantunya meringankan hukuman.
Malam pun semakin larut, jika Anya dan Agam, telah tertidur pulas saat ini,maka tidak dengan Rayan dan Daisy.
Mereka, masih berantem hebat, karena Rayan, memeriksa laptop Anya, dan ada beberapa foto yang menunjukkan kebersamaan Daisy, dengan Riki.
"Dy, kamu tega hianati aku, bahkan didepan mata mereka, adikku sendiri, kenapa? Dy, apa? kurang ku padamu"ujar Rayan.
"Rayan, sampai kapan? kamu terus membahas semua itu, aku tidak punya hubungan dengan siapapun, jadi tidak usah di besar-besarkan"ucap Daisy.
__ADS_1
Kecemburuan Rayan, membuat Daisy, berulang kali, mendapatkan hukuman dari Rayan, berupa, genggaman tangan sangat erat, dan berkali-kali Rayan, menggigit kecil bibir Daisy, alhasil Daisy, menangis, karena benar-benar dibuat, jengkel.
"Aku, pulang sekarang, jika kamu terus menangis Dy."