
"Tapi kak, untuk apa? kesana"ujar Sherina.
"Sherina aku tidak bisa menjelaskan sekarang tapi intinya kita harus pergi ke sana"ucap Agam.
"Baiklah"Balas Sherina.
Sherina kini tengah tengah menatap kearah jendela, sepanjang perjalanan selama tiga puluh menit hanya dihabiskan untuk berdiam diri tanpa kata.
Agam yang sudah merasa kesal kini dia sudah menghentikan mobilnya di tepi jalan yang sepi.
"Kak,,, untuk apa? kita berhenti di sini"tanya Sherina.
"Kau tanya pada diri sendiri kenapa? aku menghentikan laju mobil ku"ucap Agam.
"Kakak lelah dan ingin bergantian mengemudi, baik'lah"ucap Sherina.
"Kau pikir aku selemah itu heuuhh!"ucap Agam dengan nada tinggi.
"Lalu apa? maunya bicara dengan jelas"ucap Sherina.
"Ingin bercinta, apa? kau mau"ujar Agam sengaja.
"Kak!"teriak Sherina.
"Kenapa? Sherina,,, kita bahkan sudah sama-sama dewasa"ucap Agam.
"Buka pintu nya, aku rasa kamu sudah tidak waras"ucap Sherina.
"Kau tau aku tidak waras gara-gara siapa?"tanya Agam.
"Enggak mau tau"ucap Sherina yang hendak menekan tombol untuk membuka pintu.
Namun tangan Agam malah meraih tengkuk Sherina.
Pria itu mencium bibir Sherina, yang kini tengah berontak dengan sangat kasar, hingga berkali-kali gigitan itu mereka lakukan penuh nafsu, bukan karena keduanya saling suka tapi karena keduanya tenggelam dalam kesedihan.
Sedih karena tidak bisa memiliki satu sama lain, kecewa atas diri mereka masing-masing dan marah karena merasa tidak dianggap itulah perasaan yang sulit untuk dikabarkan saat ini.
Sherina tidak bisa berkata apa-apa lagi dia langsung kembali duduk terdiam dengan posisi semula sambil berkali-kali mengusap air mata yang keluar dengan deras nya.
Agam yang masih merasa emosi pun hanya bisa memukul stir mobil nya itu.
Dia merasa marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengontrol diri saat berada di samping Sherina.
"Jangan menangis!"ucap Agam dengan nada tinggi.
"Aku tidak ingin pergi turunkan aku"ucap Agam.
"Aku tengah berjuang merampas semua hak yang seharusnya kamu miliki demi dirimu"ucap Agam.
"Untuk apa? kakak melakukan ini semua, aku sudah mengikhlaskan semua nya"ucap Agam.
"Ikhlas itu jika kamu menyumbangkan semua itu pada orang yang tepat, tapi ini di rampas Sherina jangan lupa itu"ucap Agam.
"Iya tapi untuk apa? kakak melakukan semua ini"tanya Sherina.
"Tanyakan itu semua pada hatimu"ucap Agam.
"Kak"lirih Sherina.
"Kenapa? apa masih belum jelas Sherina"tanya Agam sambil menatap kearah Sherina.
Agam yang kini sudah melajukan mobilnya, sesekali menatap ke arah Sherina, dengan tatapan mata penuh arti.
Sherina hanya bisa membalas lirikan itu lalu kembali fokus menatap kearah jendela.
"Sherina, jika kita menikah nanti, apa? kamu bersedia mengandung benih dariku"ucap Agam .
Sherina yang mendengar hal itu sontak menatap kearah Agam, mencari jawaban apa? dirinya tidak salah mendengar perkataan tersebut.
"Aku serius Sherina"ujar Agam.
"Kenapa? tidak mi bertanya pada istri mu saja, aku bukan siapa-siapa"ucap Sherina yang masih sangat syok.
"Aku kasihan pada istri ku, dia sudah trauma dengan kehamilan dan kelahiran Agista yang hampir merenggut nyawa nya"ucap Agam.
"Dan kau ingin aku membalasbudi untuk perbuatan mu saat ini begitu?"tanya Sherina.
__ADS_1
"Apa? tidak melihat hal lain selain kata balas Budi"ucap Agam yang kini melirik sekilas ke arah Sherina.
Sherina hanya terdiam beberapa menit kemudian"Aku tidak yakin jika seorang pria beristri akan memiliki perasaan cinta pada wanita lain dengan tulus kecuali hanya dengan nafsu"ucap gadis itu.
"Terserah kamu saja Sherina, aku lelah untuk memberikan penjelasan terhadap mu"ucap Agam.
"Baguslah lebih baik kamu menyerah saja karena semua itu percuma kak"ucap Sherina.
"Siapa? yang bilang menyerah"tanya Agam.
pernah
"Kakak"ucap Sherina.
"Aku tidak akan pernah menyerah"ucap Agam tegas.
Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah villa yang masih terlihat sangat terawat dan asri dengan di tanami pohon rindang dan juga bunga-bunga dengan berbagai jenis.
"Siapa? yang menempati villa ini sekarang"tanya Agam.
"Tidak ada hanya mang Ujang dan istri"jawab Sherina.
"Heumm"ucap Agam sambil turun, mereka disambut oleh penjaga villa setelah itu mereka pun dipersilahkan untuk masuk kedalam villa yang indah tersebut, seakan membawa suasana bulan madu di sana bahkan sangat nyaman hingga Agam langsung merebahkan diri di sofa yang menghadap ke arah jendela kaca yang menjulang tinggi itu, dengan pemandangan alam yang sangat indah.
"Sherina aku akan membeli villa ini secepatnya untuk kita berbulan madu"ucap Agam yang kini memindahkan kepala Agam.
"Tidak akan di jual"ucap Sherina.
"Heumm, benarkah"ucap Agam yang kini tangan nya menelusup ke dalam rambut Sherina yang kini tergerai indah di sana.
Seakan mereka adalah pasangan kekasih lagi-lagi Agam hendak mencium bibir Sherina tapi gadis itu sebisa mungkin menghindarinya.
"Kenapa? Yank"ucap Agam lembut.
"Tidak kak itu tidak boleh terjadi"ucap Sherina.
"Sudah berulang kali Yank"ucap Agam dengan tatapan berkabut gairah.
Sherina malah memalingkan wajahnya ke arah lain.
Tapi Agam, tidak bisa menerima penolakan itu, dia langsung menarik lengan Sherina hingga gadis itu sedikit membungkuk dan satu kecupan tersebut.
Sherina langsung pamit untuk pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamar utama yang dia pilih saat ini.
Sementara Agam masih terduduk di sofa tersebut, dan menunggu Sherina sambil menikmati secangkir kopi hitam yang memiliki ciri khas tersendiri, ada juga camilan khas dari daerah kota tersebut.
Sampai satu jam lebih Agam menunggu Sherina tidak kunjung keluar dari dalam kamar tersebut.
Agam yang penasaran dia langsung menyusul masuk kedalam sana dan dia pun tersenyum manis, saat melihat gadis yang ia tunggu tengah berbaring di atas ranjang empuk berukuran king size tersebut, itu adalah kamar utama di villa modern tersebut.
"Kau nakal Sherina, kau bilang ingin ke kamar mandi, tapi nyatanya malah terlelap di sini"ucap Agam yang menghampiri Sherina.
"Tapi Agam, langsung mematung di tempatnya, saat melihat bulir air mata gadis itu.
"Apa? kau menghindar hanya untuk mengeluarkan air mata mu honey"ucap Agam.
Pria itu naik perlahan ke atas ranjang dan berbaring menyamping dia mengusap puncak kepala, gadis itu.
Agam pun ikut terlelap di atas ranjang yang sama dengan Gadis itu.
Hingga malam tiba, Agam terjaga karena mendengar Sherina muntah-muntah dari dalam kamar mandi.
Pria itu langsung bangkit dan berjalan menuju pintu kamar mandi, dilihatnya gadis yang kini sudah sangat pucat itu.
"Sherina" Agam langsung mendekat.
"Perut ku sangat sakit kak"ucap gadis itu.
"Owh ya ampun,,, kamu pasti tidak makan seharian penuh"ucap Agam yang langsung menggendong Sherina ala bridal style menuju kamar tidur yang tadi mereka tempati.
"Tunggu disini, aku akan turun dan meminta bibi membuat bubur untuk mu, sementara aku akan mengambil obat di mobil"ucap Agam.
.........................
Setelah menyuapi Sherina makan bubur dan minum obat, Agam kini tengah berada di dalam kamar mandi, dia sedang membersihkan diri, sementara Sherina masih berbaring di dalam selimut, Agam melarang Sherina untuk kemana-mana, sementara dirinya menumpang mandi di kamar mandi tersebut.
Tidak sampai lima belas menit, Agam keluar dengan menggunakan bathrobe.
__ADS_1
"Sayang tolong ambilkan pakaian ku di dalam koper"ucap nya tanpa sadar.
"Sementara Sherina tidak bergeming dari posisi nya saat ini dia menatap wajah tampan yang kini tampak jauh lebih tampan dari penampilan nya sehari-hari, dengan rambut setengah basah yang tampak berantakan, dengan wajah yang tampan tidak lupa hidung mancung serta bibir seksi nya itu sungguh menggoda iman.
Saat itu juga Sherina memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Maaf kak tapi dia berada di rumah mu"ucap Sherina tanpa menoleh sedikit pun.
"Tidak masalah , aku yang seharusnya minta maaf"ucap Agam yang langsung mendekat ke arah koper miliknya.
"Kakak bisa berpakaian di kamar sebelah"ucap Sherina.
"Kenapa? jika berpakaian disini"ucap Agam.
"Tidak kak, jangan sampai timbul fitnah"ucap Sherina.
"Kamu pikir wanita dan pria dewasa pergi berdua tidak menimbulkan fitnah"ucap Agam.
"Itu sudah pasti, tapi jangan dibuat sengaja, aku tidak"ucapan Sherina terhenti saat Agam tiba-tiba menarik kopernya saat itu juga.
"Kak"lirih Sherina tapi Agam sudah pergi begitu saja, hingga malam berganti pagi yang cerah dan menyejukkan, keduanya tidak bertegur sapa, dan itu karena Agam, masih setia terdiam setelah mereka selesai sarapan pagi.
Hingga akhirnya Agam menghubungi seseorang, dan ditambah lagi panggilan video dari sang istri karena terlalu rindu.
"Ada apa? honey, bagaimana ku babar kalian" ucap Agam.
Sementara Sherina pergi meninggalkan villa tersebut menuju sebuah tempat yang dulu pernah ia kunjungi dia ingin melihat pohon keabadian milik nya dengan ibunya saat dia kecil tidak jauh dari area villa tersebut.
Sherina kecil yang selalu ingin tau saat berada di villa dan ibunya yang selalu mengajarkan kebaikan padanya, saat itu ibunya mengajak Sherina kecil menanam pohon, di area villa dengan sangat riang gembira bersama dengan sang ibu yang selalu menyemangati nya, setiap datang ke villa gadis cantik itu selalu mengurus pohon tersebut entah memberikan dia minum bahasa Sherina saat kecil menyiram tanaman adalah memberikan dia minum.
Sherina duduk di tengah-tengah kedua pohon rindang itu seakan kedua orang tua nya ada di sana.
Hampir tiga puluh menit berlalu kini gadis itu bersandar di salah satu pohon tersebut.
Sementara Agam dia kelabakan mencari Sherina, setelah lama mencari Agam pun menemui mang Ujang yang baru saja kembali dari pasar mang Ujang langsung mengecek ke arah garasi tersebut dan dia pun tau kemana Sherina pergi.
"Nona muda Pergi ke area pohon abadi dia selalu menggunakan sepeda menuju tempat tersebut"ucap mang Ujang.
"Bisa tunjukkan jalan nya"pinta Agam.
"Tentu Aden bisa pergi dengan sepeda milik tuan besar yang ada di garasi lewat jalan sebelah kiri"ucap mang Ujang.
Agam pun langsung mengambil sepeda tersebut beruntung saat ini dia tengah menggunakan pakaian santai, hanya celana pendek dengan t-shirt .
Pria itu buru-buru menggunakan sneaker dan pergi ke area tersebut dengan menggunakan sepeda, tidak sampai lima menit dia sudah bisa melihat sebuah sepeda yang terparkir tak jauh dari dua buah pohon besar yang rindang, dan tubuh Sherina terlihat sangat kecil diantara kedua pohon tersebut.
Agam, berjalan perlahan sampai saat dia tiba di belakang Sherina yang masih anteng dengan lamunan nya, pria itu berdehem.
"Heumm... aku kira kamu kemana? aku sudah mencari mu seharian"ucap Agam.
"Untuk apa? mencari ku, bukan kah kau merindukan anak istri mu, lalu kenapa? tidak pulang dan mencari dirinya"ucap Sherina.
"Ya lalu membiarkan dirimu kehilangan semua ini,,, ya baik'lah lagipula tidak ada untungnya bagiku menolong wanita yang bahkan tidak bisa menerima keberadaan ku di sisinya"ucap Agam.
"Pergilah tidak ada yang menyuruhmu datang kesini, aku mungkin akan kehilangan semuanya tapi setidaknya aku tidak mengambil hak orang lain"ucap Sherina menggebu-gebu ada rasa sakit yang tidak bisa digambarkan dalam diri Sherina, saat mendengar bahwa semua kenangan itu akan hilang begitu saja.
Agam menarik Sherina dan menekan Sherina di pohon besar itu, hingga punggung gadis itu menempel sempurna dengan pohon besar itu, lalu dia berkata" Lahir kan satu anak untukku setelah itu kamu bisa mendapatkan semuanya ini kembali ke tangan mu, dan kamu bisa bebas pergi dari ku setelah anak itu lahir"ucap Agam.
Tapi Sherina lagi-lagi menggeleng pelan.
"Sherina,,, aku hanya minta itu dan itu bukan hal yang sulit bahkan setiap wanita menginginkan itu dariku, dan kau yang beruntung mendapatkan penawaran itu"ucap Agam.
"Apa? kau pikir aku akan segila itu! menukarkan anak ku dengan semua ini, kau salah besar tuan aku lebih baik kehilangan semua ini daripada kehilangan darah daging ku sendiri"ucap Sherina tegas.
Agam menatap lekat wajah cantik yang kini terlihat kecewa.
"Aku mencintaimu Sherina"ucap Agam.
"Tidak ada cinta untuk hal itu, semua karena ambisi bukan cinta"ucap Sherina.
"Kita bisa menikah sebelum semua nya terjadi dan kita bisa tinggal bersama di manapun kamu mau"ucap Agam.
"Cukup! tuan Agam yang terhormat, silahkan pergi dari sini aku tidak perduli meskipun semuanya menghilang"ucap Sherina tegas dia mendorong dada Agam dengan kasar dia pergi berlari dengan tangis nya, rasanya hati nya sangat sakit seakan semua sudah berakhir hingga dia tiba di villa tersebut.
"Mang BI, aku pamit...Mamang dan bibi masih bisa bekerja disini siapapun pemilik baru tempat ini"ucap Sherina yang kini Melangkah pergi menuju kamar utama dia memasukkan baju lama milik sang mommy kedalam koper untuk iya kenakan sebelum pemilik baru menyingkirkan semua kenangan yang tertinggal di sana.
Dia tidak menghiraukan Agam yang kini menghiraukan Agam yang meminta dia berhenti mengemas semua itu.
__ADS_1
"Sherina! berhenti"