
"Makanya cepat move on, setelah itu kamu bisa menikah lagi dengan wanita yang jauh lebih baik."ujar Natali.
"Jauh lebih baik bagaimana?."tanya Haidar.
"Ya jauh lebih baik yang cantik dan baik juga tulus menyayangi mu dan satu lagi dia yang benar-benar bisa mengerti kamu."jawab Natali.
"Itu semua adalah kamu Yank."ujar pria itu.
"Vero,,, jujur saja, aku belum siap untuk membangun hubungan baru dengan siapapun."ujar Natali.
"Nat, aku tau kamu mengalami trauma dengan semua itu, tapi semua tidak akan sama."ujar Haidar.
"Tidak akan sama,,, ya,,, itu yang selama ini aku pikirkan, tapi bagiku laki-laki manapun bisa melakukan hal itu, termasuk dirimu."ujar Natali.
"Natalia, aku sadar aku sudah pernah berbuat kesalahan dan aku akui aku sudah pernah melakukan hal yang kamu katakan, aku melakukan hal itu saat bersama dengan almarhum, tapi semua itu terjadi karena obsesi ku yang ingin memiliki keturunan, dan aku tidak berzina aku menikahi dia secara siri. meskipun itu aku lakukan secara diam-diam dan itulah kenapa?."
"Novita bunuh diri."ujar Natali memotong ucapan wanita itu.
"Heumm,,, kau benar aku masih meyakini hal itu, meskipun Novita berkali-kali menekankan bahwa semua yang ia lakukan murni karena beban deritanya yang tengah sakit parah."ujar Haidar jujur.
"Maaf, jika aku menyimpulkan seperti itu. tapi sebagai naluri seorang wanita, aku yakin perselingkuhan mu kala itu adalah penyebab utama dia bunuh diri. karena jika hanya karena sakit keras pasti akan mencoba untuk bertahan jika pegangan hidupnya bisa ia percaya."ucap Natali.
"Maksud ku pasangan, hidup kita benar-benar baik dan tidak pernah menghianati kepercayaan nya, mungkin dia akan berusaha untuk bertahan hidup. seenggaknya sampai saat dia tak sanggup lagi untuk bertahan."ujar Natali.
"Ya,,, kamu benar Nat, aku memang bajingan yang tidak pernah pantas untuk dimaafkan, dan aku pun tidak pernah pantas untuk mu, maafkan aku sudah terlalu berharap padamu, terimakasih sudah mau menemani ku selama ini."ujar pria tampan yang kini terlihat begitu kacau itu.
"V Vero tunggu,,, ini gak lucu ya V,,, Vero!"teriak Natali yang benar-benar tidak sadar telah menyinggung perasaan Haidar saat ini.
Wanita itu tanpa sadar telah menyakiti hati pria yang baru saja pulih dari duka atas kehilangan sang istri.
Dan kini luka itu kembali menganga lebar dan begitu perih.
Pria itu, sudah pergi dan entah kemana? yang jelas saat ini Natali dibuat dilema antara harus mencari pria itu atau kembali ke ruangan Agista.
Sampai saat Leon menghubunginya.
"ya sayang tunggu Mommy sebentar lagi, bilang pada Agis, untuk menunggu sebentar bersama dengan suster Mommy ada sedikit urusan."ujar Natali.
Wanita itu, kembali menarik nafas panjang lalu menghembuskan, tanpa Natali sadari cara bicaranya yang suka ceplas-ceplos itu. telah melukai hati seseorang yang memiliki arti khusus dalam hidupnya selama beberapa bulan ini.
"Maaf."lirih Natali.
Sampai saat, dia kembali ke ruang VIP rumah sakit tersebut. Natalia berhenti sejenak untuk berpikir lebih cepat untuk mengantisipasi jika Agis bertanya tentang Daddynya itu.
"Hi,,, lihat Mommy bawa apa? untuk kalian berdua."tunjuk Natali.
"Mom,,, katanya sebentar tapi kok lama."ujar gadis kecil itu.
"Heumm,,, tadi Daddy minta mommy untuk menemani dia makan dan mengobrol tapi setelah itu ada yang menghubungi Daddy, mungkin urusan bisnis entahlah yang jelas dia langsung pergi begitu saja."bohong Natali, yang sudah terbaca oleh Leon yang sangat cerdik itu.
"Owh,,, mungkin urusan pekerjaan karena sudah beberapa hari ini dia bersama Agis terus."ujar Agista.
Agis, langsung meraih puding coklat susu yang Natali bawa untuk mereka berdua.
Agis yang sudah akrab dengan Leon, kini dia duduk bersama dengan Leon di sofa meskipun Agis, geraknya sedikit terbatas karena infus yang masih terpasang.
"A."ucap Leon yang sudah menyendok puding miliknya untuk Agis.
Agis tersenyum malu, saat Leon menyodorkan sendok berisi puding itu.
"Agis punya tangan kak, Agis bisa makan sendiri."ucap gadis kecil itu.
Leon pun tersenyum kecil dia masih bersikeras untuk menyuapi adiknya yang sangat menggemaskan itu.
"Agis sayang kakak Leon sayang Agis jadi tidak perlu malu."ucap Natali dengan lembut sambil mengelus puncak kepala gadis kecil itu.
"Heumm,, terimakasih kak Leon."ujar Agista.
"Sama-sama sayang."ujar Leon.
__ADS_1
Mereka pun kembali makan eskrim bersama-sama, sementara Natali, sedari tadi terus menyembunyikan kegelisahan hatinya.
Sampai, menjelang malam Haidar tak kunjung kembali ke rumah sakit. entah di mana pria itu saat ini.
Natalia, akhirnya meminta seseorang untuk mengantarkan baju dan perlengkapan nya, karena saat ini dia yang akan menjaga Agis di rumah sakit bersama dengan Leon.
Wanita itu, masih terus gelisah Meskipun tidak memperlihatkan itu di depan kedua anaknya Natali berharap bahwa saat ini Haidar baik-baik saja.
Hingga saat, panggilan telepon masuk dari seseorang yang yang sedari tadi ia tunggu kehadirannya.
Natalia, langsung mengangkat panggilan telepon tersebut. lalu ia bertanya di mana Vero saat ini.
Namun, ternyata yang menghubungi wanita itu bukan pemilik handphone tersebut melainkan adalah seorang bartender di sebuah club malam.
"Maafkan saya nyonya suami anda tengah mabuk berat di club malam kami di jalan xx tolong segera di jemput karena tuan ini tidak mau orang lain yang mengantar nya."ujar pria itu.
"Baiklah tunggu beberapa saat lagi saya akan kesana tolong kirim lokasi nya kesini karena saya belum faham daerah sini."ujar Natalia jujur .
"Baiklah Nona."ujar pria itu.
"Natalia langsung menghubungi Agam, untuk menjemput Haidar, namun ternyata pria itu sedang tidak enak badan, dan kini dia masih harus istirahat.
Terpaksa Natali harus menghubungi berondong manis yang selama ini menjadi sopir pribadi nya.
Natalia, pun meminta baby sitter Agis untuk berjaga malam ini dan tentunya dia ijin pada Leon untuk pergi ke suatu tempat dan meminta Leon tetap bersama dengan Agis hingga dia kembali.
Leon langsung mengiyakan perkataan ibunya, setelah itu Natali langsung bergegas pergi, dia sudah dijemput oleh pria muda itu.
Sesampainya di parkiran rumah sakit, Natali melihat pemuda itu tersenyum padanya sambil mengangguk hormat.
"Jangan ge-er aku sebetulnya tidak membutuhkan berondong seperti dirimu untuk menemani ku pergi, atau pun berkencan. aku hanya butuh kau membantuku untuk menjemput seseorang aku tidak suka berondong."ujar Natali setiap kali dia bertemu dengan wanita lain.
"Heumm,,,"balas pria itu kalem.
Pemuda sudah mengenal Natali selama ini jadi dia sudah tau karakter Natali yang suka blak-blakan tapi dia baik.
Sesampainya, di alamat yang tadi pria itu kirim.
Natalia ditemani oleh pria muda itu, untuk masuk kedalam club' malam yang ternyata penuh dengan pengunjung, dan bau alkohol dan rokok juga campuran parfum dari setiap pengunjung membuat Natali merasa sangat mual, dan kadang ter-batuk.
Dulu dia memang sering mengunjungi tempat semacam itu, tapi tidak seperti tempat tersebut, karena club malam yang Natali kunjungi adalah sebuah club malam paling elit, dan semua tertata pada tempatnya, asap rokok pun tidak sampai memenuhi ruangan karena ada fentilasi udara yang akan menyerap semua asap rokok tersebut.
Natalia buru-buru masuk kedalam lebih dalam lagi, dimana letak meja bar yang kini ditempati oleh Haidar.
Dan, keadaan pria itu kini sudah sangat kacau, saat ini Haidar tak sadarkan diri dengan mulut yang terus meracou tentang semua hal yang membuat dia menjadi seperti saat ini.
"Vero,,, bangun ayo pulang, Agis pasti sangat kecewa melihat mu seperti ini."ujar Natali.
"Aku memang tidak pernah pantas untuk wanita manapun, aku manusia jahat."ujarnya.
"Vero ayo."ujar Natali yang kini meraih jas pria itu yang tergeletak begitu saja di lantai Natali pun mengecek semua barang pribadi Haidar termasuk dompet dan juga handphone dan kunci mobil sport miliknya.
Setelah dipastikan semuanya aman Natali pun langsung bergegas membawa pria itu bersama dengan diberondong menuju mobil milik Haidar, setelah Haidar di tempatkan di jok penumpang dan Natali sudah memasangkan sabuk pengaman. barulah wanita itu melaju kan kuda besi milik Haidar, sementara so berondong mengikuti mobil Haidar dari belakang dengan mobil yang tadi ia bawa.
Kedua kuda besi itu melesat membelah jalanan dengan kecepatan tinggi karena suasana jalanan yang cukup lengang .
Selama di perjalanan Haidar tak lagi bicara dia mungkin sudah benar-benar tidak sadarkan diri, hingga tiba di apartemen milik pria itu, Natali memarkirkan mobilnya di basement apartemen tersebut.
Sampai saat, diberondong tiba dia buru-buru turun dari mobilnya untuk membantu Natali.
Natalia sudah keluar lebih dulu dari dalam mobil dia pun dibantu pria muda itu untuk membawa Haidar ke unit apartemen milik Haidar, beruntung salah satu scurity yang berjaga di sana mengenal Haidar, dia pun langsung membantu membawa Haidar ke lantai lima belas gedung apartemen tersebut.
Sesampainya di sana, Natali langsung meraih akses card untuk masuk kedalam hunian tersebut, setelah pintu apartemen terbuka Natali langsung meminta mereka membawa Haidar kedalam kamar nya.
Haidar pun langsung dibaringkan di atas ranjang empuk miliknya itu.
"Terimakasih pak, ini untuk membeli rokok."ujar Natali, yang menyodorkan beberapa lembar uang berwana merah.
"Tidak usah Nona, sudah tugas saya membantu Anda."ujar pria itu.
__ADS_1
"Tidak apa? ini rejeki anda."ujar Natali.
"Heumm,,, baik'lah terkasih nona, jika butuh bantuan anda bisa langsung pencet bel di samping pintu masuk di sebelah bel pintu itu untuk keadaan darurat."ujar scurity tersebut.
"Iya pak terimakasih."ujar Natali.
Setelah scurity itu pergi Natali pun meminta si berondong untuk menjaga kedua anak nya di rumah sakit, sampai dia kembali.
Pria itu pun mengangguk hormat, dan langsung pergi meninggalkan wanita itu.
Setelah, kepergian si brondong hal yang pertama Natali lakukan adalah, melepaskan sepatu yang kini masih Haidar kenakan.
Lalu kemudian dia melepas dasi yang melekat di leher nya setelah itu dia langsung pergi menuju kamar mandi dengan membawa handuk kecil.
Natali membasahi handuk tersebut dengan air hangat, setelah di peras dia pun bergegas keluar dari dalam kamar mandi dan langsung menghampiri Haidar.
Natali menggunakan handuk itu untuk menyeka wajah dan bagian-bagian area leher dan dada, yang menurut dia terkena minuman tersebut.
Dengan sudah payah dia menelan ludah nya, saat melihat bagian otot dada dan perut Haidar yang sudah seperti roti sobek tersebut.
Wanita dewasa itu buru-buru menutup nya setelah ia membersihkan area itu dengan handuk basah itu.
"Maafkan aku."lirih wanita itu.
Natalia menarik selimut tebal itu hingga menutup bagian dada Haidar dia pun langsung mengatur suhu ruangan.
Setelah itu ia beranjak pergi meninggalkan Haidar yang kini tengah terlelap.
Wanita itu kembali setelah memastikan pintu terkunci secara otomatis.
Natalia langsung pergi meninggalkan apartemen tersebut dengan menggunakan taksi online, meskipun ini sudah larut malam.
Sampai di rumah sakit, Natali pun masuk kedalam ruangan VIP yang di tempati oleh Agis.
Si berondong masih terjaga disana. wanita itu langsung menghampiri pria muda itu.
"Berondong,,, kamu pulang saja sekarang sudah ada saya kamu bisa beristirahat."ucap Natali.
"Baiklah."jawab pria itu.
Natalie pun memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri, sampai selesai ia pun keluar dari dalam kamar mandi.
Natali langsung berbaring di samping Leon, di Agista.
Hingga pagi menjelang, Natali terbangun, dia langsung bersih-bersih dan bersiap untuk pulang karena hari ini adalah jadwal dia masuk kantor.
Natali pamit pulang pada Agista yang kini tengah disuapi oleh baby sitter nya, beruntung Agam datang karena pagi ini hingga siang nanti dia akan menunggu Agis untuk pulang.
Setelah semalam Agam mengeluh sedang tidak enak badan, tapi saat ini dia terlihat baik-baik saja, mungkinkah Agam berbohong agar Natali lebih dekat dengan pria itu.
Agis langsung terlihat gembira, saat melihat Daddy Agam.
Pria itu pun langsung menggendong Agis saat itu juga.
"Daddy rindu kamu princess."ujar Agam.
"Agis juga merindukan daddy."ucap gadis kecil itu.
Sementara itu Haidar langsung bergegas mengecek Cctv setelah sadar bahwa ia sudah terbaring telanjang dada meskipun masih menggunakan celana yang siang kemarin ia gunakan.
Dia terdiam saat Cctv itu menunjukkan wanita yang ia cintai berada di dalam unit apartemen nya membantu dan mengurus nya hingga dia tidur dengan nyaman.
Ada rasa yang tidak bisa ia jelaskan, namun saat ini ekspresi nya tetap datar hingga dia teringat dengan Agista yang akan pulang siang ini, dia langsung bergegas pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu, setelah selesai bersiap dia langsung pergi menuju rumah sakit.
Sementara itu Natali saat ini sudah disambut oleh ratusan karyawan yang berada di gedung tersebut.
Natali pun mulai berbicara dengan sangat serius dan sangat berwibawa seperti pemimpin perusahaan lainnya, dia begitu tegas dan tidak suka bertele-tele seperti saat ini.
Sampai pada saat ia mulai melakukan semua pekerjaan harian nya seperti dulu saat berada di Amerika memimpin perusahaan itu.
__ADS_1