
Di rumah sakit, setiap hari setelah pulang kantor, David akan langsung pulang ke sana, dia menjadikan ruang VVIP itu sebagai rumah keduanya.
Saat ini ada Weni yang datang berkunjung dan ingin melapor seperti perintah David saat Agista koma bisnis itu diurus oleh David dan diawasi oleh kedua adik Agista dari Agam.
"Semua laporan keuangan ada di sana, saya sudah mencatat semuanya."ujar Weni.
"Terimakasih, apa? tidak ada perkembangan baru beberapa hari ini."ujar David.
"Ada tuan di butik semakin ramai pengunjung dan kami selalu menyetok barang yang sudah dibuat berulang kali karena Agista tidak menyimpan design terbaru untuk di rancang tapi mereka pun masih memesan model lama."ujar gadis itu.
"Agis memiliki laptop terpisah di kamarnya mungkin disana ada beberapa karya baru yang belum sempat di buat."ujar David.
"Saya tidak berani mengganggu privasi orang meskipun itu adalah teman saya sendiri."ujar Weni.
"Heumm,, doakan saja semoga Agista cepat sembuh."ucap David.
Sampai saat Weni pergi, David pun baru selesai mandi dan berganti pakaian di toilet di ruangan VVIP itu.
Pria itu akan memesan makanan secara online, sesekali Daisy akan meminta sopir untuk mengantarkan makanan untuk putra pertamanya itu.
David yang sudah rapih dan wangi juga sangat tampan dengan pakaian santainya itu, kini dia duduk di sebuah kursi tepat di samping Agista yang masih terlelap dibawah alam sadarnya itu.
"Sayang,,, aku disini akan terus menunggu sampai kamu kembali, maaf tadi ada rapat penting dan tidak bisa diwakilkan jadi aku pergi ninggalin kamu."ujar David.
"Tidak apa-apa, tadi ada aunty di sini."ujar Agam yang baru saja tiba dia membawa selimut baru untuk Agista.
"Kapan dia akan sembuh uncle."ujar David.
"Berdoalah semoga semuanya cepat membaik."ujar Agam.
Pria itu mengambil selimut yang Agis gunakan dan menggantinya dengan yang baru.
"Sayang,,, Daddy sudah mengganti selimutnya, tapi Daddy harap kamu tidak terus-terusan malas bangun seperti ini sayang... cepatlah bangun tidakkah kamu rindu Daddy."ujar Agam sambil mengecup puncak kepala Agista saat itu juga.
"Daddy, sangat menyayangi Agista putri Daddy satu-satunya, bangun sayang jangan buat Daddy sedih. Daddy mohon setidaknya Agis bangun dan katakan pada Daddy dimana saja bagian yang sakit agar Daddy bisa mengobati Agista."ucap Agam sambil mengusap air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.
Sementara David pun memalingkan wajahnya, saat itu juga karena dia sendiri tidak kuasa melihat itu.
"Agis putri Agam, Daddy menunggumu kembali sayang bangun."ucap pria baik hati itu.
Dia terus terkenang putri kecilnya yang selalu bersikap ceria dan sangat menyenangkan saat masih bersama dengan almarhum Novita tapi setelah kepergian ibunya itu, Agista sudah jarang terlihat ceria lagi, justru sifatnya seolah dirinya sudah dewasa.
Agista bahkan sering mengingatkan tentang hal-hal yang berbau kebaikan, dia sudah tidak lagi cengeng atau pun mengeluh ingin ini dan itu, dia akan menerima apapun itu pemberian sang Daddy atau Mommy angkatnya.
Mungkin dia akan manja ketika dia tengah sakit ataupun saat akan tidur.
Agam yang akan menemani dia tidur hingga Agista terlelap.
Selebihnya Gadis itu akan bersikap seolah dia sudah dewasa dan menjadi kakak yang baik untuk kedua adiknya itu, hingga dia remaja dan akan kuliah, saat itu pukulan terhebat dia dapatkan dari anak Anya dan Rayan yang selalu membuli Agista dimanapun dia berada.
Namun Agis tidak pernah mengadukan hal itu pada siapapun, gadis itu hanya akan menahan rasa sakit yang ia alami selama ini.
Agista bahkan sering menangis sendiri, hingga puncaknya saat dia disebut anak haram dan benalu bagi kehidupan keluarga angkatnya itu. tak hanya sampai disitu bahkan luka lama tentang rahasia yang Agam dan semuanya pendam pun mereka mengatakan itu dengan lantangnya di hadapan semua orang.
Agista pun akhirnya memutuskan untuk menjauh dari Agam atau keluarga Haidar, karena ia tau diri setelah dia beritahu oleh kedua gadis itu termasuk Raya palsu itu.
Kini semua itu telah berlalu begitu lama dan sudah hampir empat tahun berlalu, namun luka di hati Agis belum juga mengering.
__ADS_1
Ditambah sikap Rayan yang selalu diam-diam mendatangi gadis itu di rumahnya untuk memaki gadis itu dan mengulang perkataan yang sama dengan yang Raya katakan.
Agis hanya bisa menjerit keras di dalam hatinya meratapi rasa sakit itu sendiri, dia hanya berharap yang maha kuasa mengampuni ibunya yang sudah berada disana.
Selebihnya Agista hanya meminta agar mereka disadarkan dari kesalahannya, karena biar bagaimanapun Agista tidak berhak untuk menghukum mereka.
Apalagi saat ini David juga selalu gencar mendekati dirinya meskipun selalu memaksa dan Agista terpaksa, tapi justru dengan begitu benih-benih cinta itu tumbuh subur di dalam benak mereka.
David terduduk di sofa setelah kepergian Agam yang menitipkan Agis padanya.
Sementara itu di kediaman Rayan saat ini Kimberly tengah berada di dalam kamar setelah berusaha untuk menyelesaikan rancangan bangunan yang tengah ia buat itu kini gadis itu pun tertidur pulas di sana.
Sementara Rayan dan Daisy sudah tertidur pulas sejak tadi meskipun tidak saling berpelukan.
Sejak pertengkaran hebat itu, Daisy meminta Rayan untuk tidak lagi seperti dulu bersikap layaknya seorang suami pada pada umumnya, bukan karena Daisy benci tapi dia ingin pria itu instrospeksi diri.
Daisy akan tidur lebih awal sebelum Rayan mendekatinya.
Pria itu pun sudah mengerti bahwa istrinya kini tengah menjaga jarak meskipun tidak secara terang-terangan menyatakan hal itu.
Rayan akan mengelus puncak kepala Daisy dan mengecup kening istrinya yang sudah terlelap lebih dulu, setelah itu dia pun akan berbaring di samping Daisy meskipun jujur itu sangat menyiksanya.
Namun Rayan sedang berusaha untuk mengerti keputusan istrinya itu yang kini tengah mengasah kesabarannya.
Rayan berharap semua kebenaran segera terbit agar Daisy segera mengambil keputusan, meskipun itu berakhir menyakitkan.
Diam-diam Rayan melakukan tes DNA secara diam-diam antara dirinya dengan Raya palsu dan juga dengan Kimberly.
Rayan bukan tidak percaya pada kenyataan bahwa Kimberly begitu mirip dengan mendiang sang mommy dan juga Daisy istrinya mereka seperti pinang dibelah dua.
Rayan hanya ingin membuktikan jika Kimberly memang putrinya maka dia akan mengalihkan warisan yang tadinya tertulis untuk Raya di dalam surat wasiat yang sudah ia buat.
.............................
Tepat pukul sebelas malam, David yang ketiduran di samping ranjang pasien tersebut dengan posisi duduk itu kini dirinya terbangun saat mendengar suara seseorang memanggil namanya.
"David sayang."lirih gadis itu.
"Sayang kamu sudah sadar Yank,,, aku tidak mimpi kan?."tanya Rayan sambil mengucek matanya.
"Sayang."lirih Agista.
"Owh,,,, syukur lah sayang kamu benar-benar sudah siuman, tunggu aku panggil dokter terlebih dahulu."ujar pria tampan itu.
David langsung memencet tombol emergensi tersebut hingga tidak lama seorang perawat muncul, David langsung meminta dokter untuk memeriksa Agista.
"Tunggu sebentar biar biar saya panggil dokter dulu."ujar perawat tersebut.
"Heumm."ucap David singkat sambil menggenggam tangan Agista.
"Sayang sabar sebentar ya, tunggu dokter."ujar gadis itu.
"Aku baik-baik saja jangan khawatir."lirih Agista yang kini menatap lekat wajah tampan yang terlihat tirus itu.
Mungkin David selama ini lelah fisik dan juga batin karena dia sendiri yang selama ini menjaga Agista di rumah sakit.
Bukan tidak ada orang yang sayang pada Agista tapi David tidak ingin orang lain mengganggu privasinya dengan Agista.
__ADS_1
Sementara baru disiang hari mereka baru boleh datang untuk menemani Agista saat dirinya tengah bekerja.
Sementara itu di dalam penjara, Raya tengah merintih kedinginan meskipun disana terdapat selimut dan juga kasur seperti layaknya di sebuah kamar, namun tetap saja itu jauh dari kata nyaman.
Gadis itu tidur di atas kasur lantai dengan menggunakan selimut yang tipis, itupun dipinjamkan oleh temannya yang sudah lama menghuni sel tersebut.
Sementara ibunya saat ini tidak datang untuk membesuk sejak pertama kali dia masuk sel tersebut Almira datang satu kali untuk membebaskan putrinya itu, namun dia tidak bisa melakukan hal itu, karena Rayan bahkan mengancam pengacara wanita itu.
Almira pun akan dijebloskan kedalam penjara jika terbukti bahwa Raya bukan putri Rayan.
Sampai saat ini wanita itu tidak lagi terlihat batang hidungnya, bahkan dia seakan tidak memperdulikan putrinya lagi.
"Mommy, Daddy kakak maafkan raya."lirih gadis yang kini tengah mengigau memanggil ketiganya.
Jauh di lubuk hati terdalamnya gadis itu tidak pernah ingin berada di posisi seperti ini, tapi keadaan yang selalu memaksa dia untuk berbuat kejahatan.
Raya juga baru mengalami keguguran, gadis itu pun kehilangan bayi yang ia pertahankan dari pria yang sangat ia cintai itu.
Namun Tuhan berkehendak lain, setidaknya Raya harus berterimakasih kepada yang maha kuasa. karena jika dia mengandung dan melahirkan anak tersebut pasti anak itu akan menderita bersamanya.
Sampai keesokan harinya, Raya yang dilarikan ke rumah sakit karena demam tinggi dan selalu mimisan banyak dari hidungnya dia pun harus segera mendapatkan perawatan intensif.
Seseorang datang menjenguk gadis itu, dia adalah Ray putra dari Rayan Davidson yaitu Ray Davidson.
Raya hanya terdiam saat melihat Ray datang menghampiri dirinya.
Pria itu membawa buket bunga mawar dan juga parsel buah dan satu koper besar barang-barang milik Raya yang terlewat Daisy buang karena ada di apartemen miliknya.
"Untuk apa? kamu datang Ray, bukannya kamu doakan agar aku cepat mati."ujar Raya yang terlihat sangat putus asa.
"Raya,,, selama dua puluh tiga tahun kita bersama dan kita dibesarkan oleh kedua orang tua kita, apa? tidak sedikitpun ada cinta kasih yang kamu rasakan untuk kami semua, setidaknya untuk ku yang selalu berada di sisimu."ucap pria tampan itu.
"Ray,,,, jangan bicara omong kosong, jika saja mommy mu tak merebut Daddy dari mommy ku, mungkin saat ini aku adalah putri yang paling berbahagia karena memiliki keluarga kandung yang benar-benar utuh."ujar gadis itu.
"Aku tidak tau harus berbicara apa lagi padamu, mungkin hatimu sudah terlanjur mengeras seperti batu tapi satu hal yang harus kamu tahu Daddy bukanlah ayah kandungmu, dan mommy yang selama ini mengatakan bahwa ia adalah ibumu dia hanya memanfaatkan dirimu nyatanya kalian tidak ada hubungan darah, begitu juga dengan kami."
"Tapi disini aku ingin menegaskan bahwa aku masih menganggap mu sebagai saudara, jika kamu mau berubah dan kembali menjadi raya belia yang penurut aku akan membuka diri untuk menerima mu kembali."
"Tapi jika tidak pun anggap saja ini adalah pertolongan dari seseorang yang pernah mengenal mu. sekarang kamu bisa pergi bebas dan aku yang akan menjamin kebebasan mu."
"Tapi ingat Raya jangan pernah kembali melakukan kesalahan yang sama saat nanti kita tidak bertemu lagi hiduplah dengan baik."ujar Ray yang kini menatap sendu pada saudara angkatnya itu. begitulah kira-kira perumpamaan nya saat ini karena mereka tidak memiliki hubungan darah sama sekali.
Ada fakta yang tidak bisa Ray ungkapan saat ini pada siapapun mengenai hal ini, Ray sudah berusaha mengumpulkan bukti kongkrit dari semua yang terjadi selama beberapa minggu kebelakang sejak Raya dinyatakan hamil.
Ray, akan berpergian ke luar kota sebagai salah satu cara iya untuk mencari bukti, dan saat mengetahui fakta bahwa Raya bukanlah adik kandungnya pemuda itu benar-benar dibuat syok, bagaimana tidak gadis yang selama ini selalu dia sayangi sebagai seorang kakak karena Raya bersikukuh ingin dipanggil begitu nyatanya dia bukan siapa-siapa Ray.
Pemuda itu pun memberikan bukti-bukti yang dia dapatkan termasuk hasil tes DNA yang ia dapatkan, dan kini bersama barang-barang milik Raya, Ray memberikan sebuah ATM dengan uang yang cukup besar di dalamnya tanpa sepengetahuan siapapun, dia ingin Raya hidup dengan baik di luar sana.
Ray menjamin kebebasan Raya, tidak hanya itu dia juga sudah membelikan Raya sebuah rumah sederhana dan mobil, meskipun bukan mobil sport atau yang termahal.
Yang paling penting saat ini adalah Raya tidak terlantar dan menderita di dalam bui.
Ray hendak pergi setelah seorang polwan membuka borgol yang terpasang di tangan Raya.
"Terimakasih Ray, maafkan aku yang sudah keliru selama ini, terimakasih sudah menjadi saudara yang terbaik yang pernah aku miliki, tolong sampaikan maaf ku pada mommy dan Daddy. Aku janji tidak akan pernah mengulangi kesalahan itu lagi."ujar gadis itu.
"Semua sudah ada di dalam sana hiduplah dengan baik dan jika kamu butuh aku kamu tau nomor ku."ujar Ray.
__ADS_1
"Tidak Ray aku sangat malu pada dunia ini pada kalian orang-orang baik yang telah aku sakiti tolong sampaikan maaf ku juga pada Agista, dia sungguh gadis yang baik bahkan sangat baik jika ada kehidupan mendatang untukku aku ingin menjadi saudaranya."ujar Raya.
"Tentu ingatlah jika kamu pun tidak sendiri."ujar Ray.