Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa

Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa
#Positif#


__ADS_3

Setelah berhenti berkali-kali di jalan, akhirnya Rayan beserta rombongan tiba di Mension, Rayan, langsung meminta Agam, untuk menghubungi dokter, karena melihat kondisi Daisy, yang sangat menghawatirkan, tapi istrinya tidak mau dibawa kerumah sakit, Rayan langsung disambut beberapa orang pelayan yang kini membukakan pintu, setelah mereka membersihkan seluruh ruangan Mension, tersebut.


Sementara itu Yanuar, Adi Ari dan Rudi juga dua orang gadis teman Anya, saat ini tengah dibuat melongo, bagaimana tidak, rumah yang sudah seperti lapangan bola itu benar-benar megah dan luas, dan ternyata mereka tidak bohong dengan semua yang mereka katakan, para pelayan pun, seakan sangat menghormati keempat nya.


"Kalian bisa langsung masuk disana ada pelayan yang akan mengurus kebutuhan kalian, kita mau melihat mommy dulu dan satu lagi kalian boleh keliling Mension, tapi tidak area sebelah kanan di lantai tiga, itu tempat mommy, dan kakak, tidak ada siapapun yang boleh masuk kesana tanpa seijin kakak meskipun, hanya sekedar lewat"ujar Anya.


"ya baik'lah"ucap keenam orang tersebut.


Anya dan Agam pun masuk diikuti oleh mereka.


"Pak tolong bawa mereka ke kamar tamu, untuk istirahat, sediakan juga makanan, atau kebutuhan mereka, selama disini saya mau keatas dulu"ucap Anya.


Tidak sampai lama Dokter pun sampai, tepat setelah Daisy dan Rayan, baru selesai membersihkan diri, sebenarnya Rayan ingin membantu Daisy, yang mandi tapi tanggung basah keduanya pun mandi bersama karena, harus segera memeriksakan kondisi Daisy.


Sesampainya dokter, yang kini menunggu di lantai bawah karena siapapun, dilarang memasuki lantai tiga, adalah ruangan privasi Rayan dan Daisy, jadi Daisy dan Rayan menempati kamar di lantai dua yang dekat dengan Anya dan Agam, agar orang lain bisa masuk ke sana, bukan apa-apa mereka menciptakan ruang privasi semua agar kegiatan mereka tidak terganggu disana juga ada ruangan kerja Rayan, tempat bersantai, dan ada beberapa kamar, milik mereka berempat.


Selain Anya dan Agam, tidak ada orang lain disana bahkan mereka juga harus ijin sebelum masuk kedalam kamar Daisy.


Dokter pun memeriksa kondisi Daisy, dan dan setelah selesai diperiksa, ternyata Daisy,tengah mengandung dan untuk lebih memastikan Rayan, disarankan untuk memeriksa nya di rumah sakit.


Dokter pun membuat kan janji dengan dokter kandungan, sampai dokter itu pergi diantar oleh Agam, Rayan langsung memeluk istri tercinta nya, dan saat ini, adalah saat yang dia inginkan.


Rayan, memang tidak pernah bermain-main dengan wanita, sekali nya dia punya hubungan serius, wanita itu pergi entah kemana, dan sekarang, saat dia menikah, dia sudah mendapatkan apa? yang dia inginkan Daisy, sudah memberikan apa yang dia inginkan selama ini.


Maka Rayan, harus menjaga anak dan istri nya dengan baik.


Rayan pun membawa Daisy, untuk istirahat karena besok pagi mereka baru akan kerumah sakit.


Daisy, pun terlelap, sementara Anya, turun untuk menyimpan berbagai macam menu makanan yang dia bawa dari kampung, yang dimasak oleh Daisy, untuk makan malam mereka.


Sementara itu, teman-teman Anya dan Agam kini tengah berenang di sore hari melihat kolam renang yang jernih membuat mereka langsung menceburkan diri, sementara Agam dan Anya hanya tersenyum melihat tingkah kocak merampok, yang seperti sedang berenang di sungai.


Rayan dan Daisy, masih tertidur pulas saling berpelukan, mungkin karena lelah, Rayan yang sudah menyetir berjam-jam lamanya dan Daisy, yang terus muntah.


Hingga jam makan malam tiba mereka sudah berkumpul di lantai bawah, sambil menunggu Rayan dan Daisy, saat ini.


Mereka yang datang dari kampung, kini tengah dilayani oleh pelayan, sementara Anya dan Agam, sudah duduk manis dengan menu khusus, tidak dicampur dengan milik mereka, karena lidah kedua nya, lebih suka makan makanan buatan Daisy.


Pintu lift, pun terbuka lebar menampakkan Rayan, yang tengah menggendong istrinya ala bridal style, hingga tiba di meja makan, Daisy langsung di bantu Agam, yang menarik kursi untuk mommy nya itu.


"Mom, sudah baikan"ujar Anya.


"Sudah, sayang "ucap Daisy yang kini duduk dan Rayan meminta seorang pelayan untuk melayani mereka berempat mengambil kan makanan untuk mereka meskipun itu semua sudah berada di hadapan mereka, dan semua orang yang dari kampung geleng-geleng kepala, ternyata Rayan, benar-benar sangat berkarisma dan sangat disegani.


"Kalian bisa minta apapun yang kalian inginkan," ucap Daisy.


"Iya teh, terimakasih ucap mereka mendadak canggung.


"Santai saja"ujar Rayan.


Saat mereka sedang makan tiba-tiba dua orang pria datang, dan mereka berempat pun tersenyum manis, pada mereka berdua.


"Daddy"ujar Rayan, kaget.


"Kalian masih ingat sama Daddy, bagaimana bisa kalian, pergi dari rumah lama, dan ternyata bersembunyi di rumah kalian ini"ucap Rayendra yang datang bersama dengan Dion, ingin memastikan kabar tentang kehamilan putri nya.


"Papah"ucap Daisy yang langsung mencium punggung tangan ayahnya.


"Bagaimana keadaan mu sayang, apa? sudah jauh lebih baik"ucap Dion.


"Sudah Pa" jawab Daisy.

__ADS_1


Dion pun mengelus puncak kepala putri nya dengan sayang.


Sementara Rayendra sudah duduk di sofa, yang tidak jauh dari sana.


"Makan dulu pa, Daddy" ujar Rayan,


"Daddy, sudah makan lebih awal, sebelum kesini"ucap Rayendra.


"Papah juga sudah"ucap Dion, sambil mendekat ke arah Rayendra.


"Andaikan saja, aku tau bahwa dia adalah putri mu, mungkin sudah dari dulu aku setuju"ujar Rayan, perbincangan hangat itu terdengar samar-samar, mereka berempat menyelesaikan makan malam nya sementara yang berenam masih menikmati menu yang seabreg itu.


"Kalian lanjut saja makan, kami, mau menemui orang tua kami"ucap Daisy.


"Baik teh"ucap Yanwar, sebagai ketua dari mereka.


"Wah ternyata tteh masih punya bapak, tapi bukan nya, mereka semua sudah meninggal dunia dulu, saat tth kecil, tapi wajah mereka begitu mirip"ucap Adi.


Daisy pun duduk di samping Rayan, yang tidak jauh dari Dion.


"Kenapa? apa rumah lama kalian sudah sempit"ucap Rayendra.


"Kami hanya tidak ingin privasi kami terganggu, karena sudah sangat banyak orang yang tau rumah kami"ucap Rayan.


"Siapa? mereka tidak datang setiap waktu bukan"ucap Rayendra.


"lain kali mungkin Daddy, tapi setidaknya dari sini lebih dekat ke perusahaan"ucap Rayan.


Sementara itu di meja makan semua orang tengah menjadi pendengar setia.


"Sayang, Daddy tidak tau bahwa kamu adalah putri dari Dion, maaf jika Daddy, pernah berkata buruk padamu"ucap Rayendra.


"Tidak masalah Daddy"ucap Daisy, sopan.


"Sepertinya Pap"jawab Daisy.


"Kok, sepertinya, bukan nya tadi dokter yang bilang"ucap Rayendra.


"Iya, Daddy tapi kami belum tau usia kandungan nya"ucap Anya.


"Besok, segeralah periksakan, dan jangan dulu di kabarkan pada publik, sebelum ketahuan jenis kelamin nya"ucap Rayendra, yang sudah pasti menginginkan cucu laki-laki


........................


"Kenapa? Daddy" tanya Rayan.


"Daddy, hanya ingin cucu laki-laki untuk meneruskan perusahaan"ucap Rayendra.


"Begini saja, sayang jika itu anak perempuan, maka papah yang pertama akan mengumumkan bahwa itu adalah cucu pertama Papah, karena Papah tidak peduli jika itu perempuan atau laki-laki, karena keduanya adalah rejeki dari tuhan"ucap Dion.


"Papah Dion, benar, tapi kenapa? Daddy, selalu berpikiran sempit, wanita bisa setara dengan laki-laki jika kita bisa mendidik nya dengan baik"ucap Anya.


Rayan, langsung menatap kearah Anya.


Anya, yang ditatap pun, langsung terdiam, karena apapun yang di katakan oleh Rayendra, tidak boleh dibantah.


Daisy, pun hanya menunduk pasrah, bila suaminya saja, tidak pernah bisa melawan mertua nya, maka dirinya juga tidak ada apa-apa nya.


"Jangan sedih sayang, Papah, akan selalu ada untuk mu, meskipun mereka membuang mu,satu hari nanti"ucap Dion, lirih


"Rayan, tidak akan pernah meninggalkan istri Rayan, Pa meskipun dia melahirkan anak perempuan"ucap Rayan.

__ADS_1


Mereka yang masih menempati meja makan, langsung geleng-geleng kepala, ternyata hidup menjadi orang kaya itu tidak lah mudah, mending mereka, meskipun sederhana tapi jauh dari pertengkaran dan perebutan kekuasaan.


Daisy pun beranjak dari duduknya, dia ingin mengambil sesuatu dari lemari pakaian nya untuk sang ayah, yang seharusnya ia berikan saat itu.


"Yang, kamu mau kemana?"ujar Rayan.


"Aku mau ngambil sesuatu, tunggu saja"ucap Daisy.


Wanita itu melanjutkan langkahnya,menuju pintu lift, dan langsung masuk kedalam nya, hingga sampai di lantai tiga, dia buru-buru masuk kedalam kamar dan mengambil sesuatu yang sudah dia simpan selama ini, sebuah kotak berisi barang-barang pribadi milik ibunya yang mungkin Dion, tidak ingat.


kotak itu berisi, buku harian ibunya, dan juga cincin kawin dan sebuah topi hitam yang akan ibunya persembahkan dihari ulang tahun sang ayah yang ke dua puluh lima tahun, saat itu, setelah Daisy berulang tahun tepatnya di hari kematian sang ibu.


Daisy, hanya menitikkan air mata nya, saat ini dia masih menggenggam kotak tersebut, sampai pintu lift terbuka, dia kembali berjalan menuju ke arah ruang keluarga yang tadi mereka tempati.


Terlihat Dion, menatap lekat wajah Putri nya yang tampak sembab, Daisy duduk, di. samping Dion.


"Ini barang milik almarhum mama, dia mungkin ingin papah tau, apa? yang mama alami selama ini, semua ada di sana, dan kado ulang tahun terakhir, untuk papah darinya"ucap Daisy.


"Sayang, kamu, mendapatkan ini semua dari mana, soalnya, sejak terakhir kali, papah ke kampung halaman, tidak ada satupun barang milik mama mu"ujar Dion.


"Semua, disimpan rapat-rapat oleh Ambu, bahkan Ambu, tidak memperbolehkan Daisy, memakai pakaian Mama, Ambu, bilang kalau takdir nya, akan sama dengan ku, jika aku melanggar nya, itulah kenapa?, Ambu menyimpan semua nya,di kamar nya yang tak pernah boleh ada yang memasuki nya,satu orang pun"ucap Daisy.


"Papah, yang bersalah sayang tidak bisa melindungi kalian berdua"ucap Dion.


"Maka dari itu, Daisy, sudah siap jika suatu hari nanti, mas Rayan, meninggalkan kami, jika anak ini adalah anak perempuan Dy, akan kembali ke kampung halaman"ucap Daisy.


"Sayang, kamu bicara apa? siapa, yang akan mencampakkan mu, aku lebih baik tidak memiliki apapun, daripada harus kehilangan mu, biarlah anak-anak Daddy, yang mewarisi semua nya, aku tidak keberatan jika tidak bisa memiliki apapun"ucap Rayan.


"Rayan, jangan salah paham, Daddy hanya ingin yang terbaik untuk kalian semua"ucap Rayendra.


"Tidak ada yang sempurna di dunia ini Daddy, karena kesempurnaan milik tuhan, yang terbaik menurut kita,belum tentu yang terbaik menurut tuhan, Daddy, harusnya belajar dari masalalu, Daddy, kehilangan mommy, bahkan setelah kak, Rayan lahir, apa? anak laki-laki bisa menjamin, sebuah keluarga akan utuh"ucap Anya.


Rayan, langsung memeluk istrinya, dia berjanji apapun yang terjadi, dia akan tetap mempertahankan Daisy,di sisinya.


"Sayang, kamu tidak boleh banyak pikiran bahaya untuk anak kita"ucap Rayan, yang langsung pergi membawa Daisy, masuk kedalam Pitu lift, pria itu bahkan tidak pamit pada orang yang ada di sana.


Sesampainya di dalam kamar, Daisy langsung berbicara"Batalkan saja, renovasi rumah ku yang ada di kampung, besok aku akan kembali ke sana"ucap Daisy.


"Dy, sayang please, jangan terbawa perasaan, anggap saja Daddy tidak pernah bicara apapun padamu, karena apapun yang terjadi nanti, aku tidak akan membiarkan mu, tersingkir dari hidup ku, Dy, sayang aku sangat mencintaimu, aku rela kehilangan apapun, tapi tidak dengan mu"ucap Rayan.


"Mas, sepertinya takdir kita hanya sampai di sini, aku tidak ingin mas, menderita gara-gara aku, aku masih bisa bertahan hidup di sana, dengan anak kita kelak"ucap Daisy.


"Tidak Dy, buang niatmu, atau akan ku buat semua nya lenyap, aku tidak main-main Dy, aku akan hancurkan semua tempat yang sudah menampung mu, di manapun itu,agar kamu tidak akan pernah berani pergi kemanapun"ucap Rayan.


" Mas, aku sakit hati, jika terus tidak bisa diterima di sini, lebih baik aku pergi saja"ujar Daisy.


"Sayang lihat aku, kamu cinta sama A aku tidak?"Tanya Rayan.


"Aku sayang dan cinta sama kamu, tapi aku tidak mungkin terus bertahan, jika hanya dianggap sebagai benalu di rumah ini"ujar Rayan.


"Dengarkan aku sayang, kamu hanya perlu melihat ku, jangan yang lain, aku sangat mencintaimu Dy, aku mungkin tidak akan pernah sanggup"ujar Rayan.


"Semua, hanya butuh waktu mas, suatu hari nanti kamu akan bisa melupakan ku, dan ada yang lain yang akan menggantikan ku, disini"tunjuk Daisy, pada dada kiri Rayan.


Tapi bukannya terima, Rayan, malah menarik Daisy, dan mengigit telunjuk dan bibir Daisy, hingga wanita itu kesakitan.


"Ah... sakit mas"ujar Daisy.


"Bagus, jika kamu sadar bahwa itu, sakit tapi ini lebih sakit Dy, disini lebih sakit"ucap Rayan, yang kini menunjuk dadanya.


Daisy hanya terdiam, wanita itu bahkan menahan tangisnya, dia tidak ingin semua itu, tapi kehadiran Rayan, sungguh membuat hati nya sakit.

__ADS_1


Hingga saat mereka akhirnya tidur bersama pun, Daisy tetap terjaga, pikiran nya terus melayang, entah kemana dia harus pergi,kelak jika mereka benar-benar harus berpisah.


__ADS_2