
Pria berusia tiga puluh lima tahun itu menoleh, kearah mobil yang berhenti di hadapan nya.
"Maaf, apa kamu mengenal ku"ucap Gibran, yang merasa heran karena ada yang memanggil dirinya, karena di jalanan itu tidak ada siapapun lagi selain dirinya.
"Owh, om tidak mengenalku"ucap vino.
"Saya tidak tau siapa anda, jika anda benar-benar mengenal ku, tolong sebutkan semua tentang saya"ucap Gibran yang menatap wajah vino.
"Masuk lah"ucap vino yang kini tengah membuka pintu mobil.
dengan ragu Gibran,masuk kedalam mobil, setelah vino, berhasil memberikan dia pengertian.
"Aku tidak tau apa?... penyebab om bisa lupa ingatan Om, tapi yang pasti saya kenal om dan juga mantan istri Om"ucap vino, sambil menuju sebuah cafetaria.
sesampainya di sana mereka langsung duduk bertiga.
"Ini foto Om, dan Tante cantik yang sangat aku kagumi"ucap vino menunjukkan foto Gibran yang terlihat gagah saat itu.
"Aku,ini tidak mungkin"ucap Gibran.
"Om, boleh buktikan aku bisa menghubungi wanita ini"ucap vino.
"Ayo saya ingin lihat"ucap Gibran lagi.
vino langsung menghubungi Daisy, yang sudah lama tidak pernah ia hubungi satu ,dua tiga kali belum di angkat tapi kemudian, seorang wanita yang terlihat baru bangun tidur nampak kebingungan.
"Hay.... Tante, apa kabar maaf saya sedang buru-buru, tapi lihat lah siapa yang aku temui saat ini"ucap vino langsung mengarah kan handphone nya ke arah seseorang yang lama ia rindukan.
"Mas Gibran,hiks hiks hiks mas kamu masih hidup mas kamu dimana aku sudah meminta bantuan orang-orang yang ahli untuk mencari mu tapi kamu tidak pernah ditemukan,kamu dimana mas cepat pulang mommy sudah sangat tua, dia sangat terpukul atas kepergian mu saat itu"ucap Daisy jujur.
"Aku tidak tau aku dimana, tapi yang aku tau kalian semua pasti orang baik, jika aku kembali apa kalian tidak akan malu, karena untuk saat ini untuk berjalan pun aku kesulitan"ucap Gibran.
"Tidak masalah mas kembali lah kita akan berjuang untuk kesembuhan mu"ucap Daisy.
Gibran sempat menitikkan air mata, setelah itu dia mengangguk pada vino, untuk menyudahi panggilan video tersebut.
"Vino,aku janji akan mengganti semua biyaya yang kamu keluarkan saat ini tapi tolong bawa mas Gibran, kembali,atau jika tidak tolong bilang pada mas Gibran, untuk menunggu ku disana,aku akan menjemput nya"ucap Daisy.
"Tidak usah khawatir Tante cantik, aku akan membantumu meskipun,aku tidak pernah bisa memiliki mu"ucap vino, dengan tatapan sendu.
sementara itu di kamar yang sama, seseorang tengah menatap tajam kearah nya, bagaimana tidak dua saingan nya akan, kembali ke sisi istrinya kini.
"Yang kalau mau bercanda itu, kira-kira dong, kamu itu sudah memiliki suami dan tidak mungkin kamu mengajak mantan mu kembali ke rumah ini, kamu hargai aku gak sih??..."ucap Rayendra berapi-api.
"Abang.... kamu itu kenapa sih, tiba-tiba kamu marah-marah nggak jelas wajarlah jika aku menolong nya, dia adalah orang baik dan juga padaku di masa lalu ku"ucap Daisy menjawab.
"Bukan tidak boleh menolong tapi aku tidak ingin dia tinggal di sini, aku bisa suruh orang untuk mengurus nya "ucap Rayendra.
"Abang please kali ini saja, tolong ngertiin aku"ucap Daisy, pada Rayendra yang tetap menggeleng kan kepala nya tanda tidak pernah setuju.
Daisy pun hanya bisa menghela nafas panjang, dia tau Rayendra, tetap lah Rayendra yang sangat keras kepala, tidak pernah berubah.
setelah itu Daisy, kembali berbaring di atas ranjang dengan selimut tebal tersebut, tanpa menoleh pada Rayendra yang terlihat sangat kesal karena Daisy, tidak mendiamkan diri nya.
Rayendra langsung naik ke atas ranjang nya dia langsung memeluk Daisy yang kini meminta nya untuk pergi.
__ADS_1
"Mas pergi kamar kalian ada di bawah nanti istri mu salah paham"ucap Daisy.
"Maksud kamu salah paham?..."ucap Rayendra tidak mau kalah.
"Istri mu"ucap Rayendra.
"Istri ku, hanya kamu "ucap Rayendra pelan tapi penuh penekanan.
"kamu salah mas ada dia sebelum diriku"ucap Daisy.
"Kamu tidak akan pernah tergantikan dimana pun dan kapan pun, Daisy.
akhirnya mereka tidur bersama meskipun tidak melakukan apa-apa, Daisy sendiri terus gelisah memikirkan bagaimana cara nya untuk bisa membantu Gibran, saat ini.
Daisy pun bangun dari ranjang hendak pergi untuk membersihkan diri tapi Rayendra langsung menarik nya kedalam pelukan nya.
"Abang aku mau mandi, sebentar lagi siang aku mau buat sarapan dulu"ucap Daisy.
"Biarkan si bibi yang bekerja kamu belum tidur dari semalam, sekarang tidur lah kalau tidak aku tidak akan membiarkan mu beraktifitas"ucap Rayendra.
Daisy, tidak ingin berdebat lagi dia berbaring di pelukan Rayendra,tapi mata nya tak dapat terpejam,sama sekali dan akhirnya Rayendra marah besar.
"Yang kamu sampai tidak tidur gara-gara mikirin dia yang sudah tidak ada hubungannya dengan mu"ucap Rayendra.
"Abang aku hanya kasihan, dia pasti sangat menderita,kamu tidak melihat nya, dia begitu memprihatinkan,aku benar-benar tidak tega melihat nya, please ijinkan aku untuk merawat nya, setidaknya sampai dia kembali pulih dan dia bisa kembali mengurus perusahaan nya"ucap Daisy.
"Baiklah jika itu mau mu berarti kamu ingin kita berpisah , kamu"ucapan Rayendra terhenti saat Daisy beranjak pergi dari ranjang tersebut , Daisy tidak mengira bahwa Rayendra bisa mengucapkan kata pisah itu dengan begitu gamblang nya.
"Daisy,aku belum selesai bicara!"ucap Rayendra yang juga terbakar emosi.
Daisy kamu dimana kita belum selesai bicara,mau sampai kapan kamu keras kepala begini sayang aku sangat mencintaimu itulah kenapa aku tidak bisa memberi mu ijin.
tapi tidak ada jawaban sama sekali hingga beberapa kali Rayendra bicara , wanita itu tidak kunjung keluar dari kamar tersebut.
sementara itu Gibran dan vino juga istri dia telah berada di dalam pesawat, setelah vino meminta di jemput menggunakan jet pribadi, karena tidak mungkin untuk membuat paspor, dan lain sebagainya, Gibran bahkan tidak memiliki kartu identitas.
Vino mungkin sempat membenci Gibran tapi dia tidak mungkin tidak menolong sesamanya,jiwa sosial nya begitu tinggi meskipun sang istri tidak pernah suka vino terlalu baik dengan orang lain yang bahkan tidak dia kenal.
setelah beberapa jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba di ibukota,vino langsung menghubungi Daisy, tapi tidak tersambung handphone nya mati, Gibran pun dibawa ke kediaman nya untuk sementara sampai Daisy bisa dihubungi karena hanya dia yang tau semua nya tentang Gibran.
🌹💖💖💖🌹
sementara Daisy, sudah dua hari ini mogok makan, dia tetap kekeuh ingin membantu Gibran hingga akhirnya Rayendra mau mengalah dan mengurus semuanya untuk keberangkatan nya ke ibukota.
Daisy, minta cuti pada Rio, saat ini meskipun dia tidak perlu terjun langsung ke lapangan, tapi Daisy, terus melakukan itu dengan penuh tanggung jawab.
akhirnya Daisy tiba di rumah Rayendra salah satu nya, Daisy langsung bergegas menuju rumah vino, sesuai dengan alamat yang vino berikan, dia bahkan diantar oleh Rayendra yang kini selalu menempel dengan nya.
Rayendra tidak ingin kehilangan wanita yang selama hidupnya menjadi cinta pertama dan terakhir nya, dia bahkan banyak jatuh bangun untuk bisa menaklukkan hati wanita itu.
seperti yang di ketahui Daisy, dan Rayendra, terus menerus putus nyambung karena sikap egois keduanya, dan kini mereka telah resmi menikah jadi Daisy tidak ingin kehilangan wanita yang sangat berharga dalam hidup nya itu.
sesampainya di rumah vino tengah berada di kantor, dan dan hanya ada pelayan di rumah nya.
Daisy pun mengirimkan pesan kepada vino, mengabarkan bahwa ia sudah berada di dalam rumah nya.
__ADS_1
tapi vino belum juga membalas nya, dan akhirnya Daisy menelpon vino saat itu juga karena Rayendra terus meminta nya untuk pergi, pria itu berubah pikiran dia tidak ingin istrinya bertemu dengan mantan suaminya itu.
"Sayang ayo pulang kita akan menyuruh orang untuk melakukan itu, percaya lah aku akan melakukan yang terbaik untuk mantan mu itu"ucap Rayendra.
"Tidak mas aku ingin memastikan bahwa mas Gibran baik-baik saja mas, dia itu orang baik ,aku tidak tega membiarkan nya terlantar di saat dia sedang tidak berdaya"ucap Daisy.
Rayendra menarik nafas kasar dia langsung membawa Daisy ke dalam mobil nya.
"Yang kamu mau dengarkan aku atau aku buat dia menghilang untuk selamanya"ucap Rayendra.
sorot mata penuh kemarahan Rayendra tunjukkan saat ini, dia sudah tidak bisa memberikan toleransi lagi menurutnya dia sudah sangat keterlaluan jadi Rayendra tidak akan mengijinkan istrinya mendekat ke Gibran lagi apapun alasannya.
kepergian Rayendra dan Daisy, dari rumah itu membuat seseorang begitu penasaran saat ini dia yang tidak bisa bergerak bebas tanpa tongkat yang biasa nya iya gunakan untuk berjalan.
ya dialah Gibran, rumah tersebut memang hanya ada Gibran dan pelayan, sementara vino di kantor sang istri sibuk sosialita, itulah yang membuat vino, mencintai wanita seperti Daisy, wanita itu tidak suka bergabung dengan sosialita, meskipun Gibran adalah orang kaya, saat itu bahkan wanita itu lebih memilih hidup sederhana ketimbang menghamburkan uang, bukan karena vino takut kehabisan uang, tapi seperti yang dia tau pergaulan sosialita itu menurut nya mendorong orang untuk terjerumus ke dalam kesesatan.
vino bisa bicara seperti itu karena dia sering melihat contoh yang sering banyak terjadi, ketika bertemu dengan teman sesama nya, mereka akan memamerkan semua yang mereka punya yang baru maupun yang lama, sementara mereka tidak pernah berpikir bahwa, perusahaan itu tidak selamanya akan ada di tahap kejayaan, dan bahkan mengalami Pase naik turun .
jika sang istri menuntut harus tetap memberikan apa yang dia mau, dan mau tidak mau sang suami harus memenuhi nya, akhirnya mereka pun lambat laun akan menuju kebangkrutan.
sesampainya di rumah Daisy langsung naik ke dalam kamar nya lalu berbaring di tempat tidur Daisy tidak ingin bicara dengan Rayendra yang kini berdiri di ambang pintu menatap dirinya, Rayendra terus menatap pada Daisy yang bahkan tidak pernah peduli pada nya saat ini.
"Yang kamu ini kenapa?... heumm apa?...aku salah jika aku tidak memberikan mu ijin untuk merawat nya,aku bukan tidak mau menolong nya, tapi aku tidak ingin kamu turun langsung, aku punya orang-orang terpercaya untuk itu"ujar nya sambil mendekat.
"Aku mau tidur, tolong jangan ganggu"ucap Daisy.
"Baiklah kita tidur saja tidak usah pedulikan perut yang sudah sangat laper"ucap Rayendra sambil berbaring di samping Daisy.
Daisy, yang mendengar kata laper dari mulut suaminya dia baru sadar bahwa selama ini dia sudah mengabaikan kewajiban nya.
Daisy bangkit dan turun ke bawah dia langsung mencari dimana letak dapur nya saat ini maklum rumah itu adalah rumah Rayendra, yang sengaja di bangun untuk Daisy, meskipun bertahun-tahun lamanya tidak di tempati oleh Rayendra, tapi masih terawat dan di sana juga ada pelayan untuk menyiapkan semua kebutuhan seperti biasanya.
"Maaf, apa??.. ada bahan makanan di sini saya ingin buat makan siang untuk Abang"ucap Daisy sopan.
"Semua tersedia Nyona muda, karena tuan sudah meminta kami untuk membeli semua kebutuhan dapur dua hari yang lalu,biar saya buatkan Nyona mau masak apa?..." jawab sang pelayan.
"Aku sendiri saja tolong bantu siapkan semua nya"ucap Daisy sambil meminta bahan makanan tersebut, Daisy ingin membuat semur ayam dengan minyak bawang, tumis daging sapi manis pedas, dan juga tumis kangkung.
setelah semua bahan terkumpul Daisy, mulai berkutat dengan itu dibantu oleh pelayan tadi untuk mencuci sayuran dan menyiapkan peralatan Daisy dengan begitu lihai nya memasak semua itu tidak sampai satu jam semu sudah selesai dan matang sempurna setelah itu dia menghidangkan nya di piring beserta nasi di wadah yang sedang lalu di tata di meja makan.
setelah itu dia kembali berjalan menuju lantai dua dimana kamar mereka berada.
"Abang bangun ayo makan katanya laper"ucap Daisy lembut, tapi Rayendra malah balik badan membelakangi Daisy.
"Makan saja sendiri tidak usah peduli dengan ku, bukan nya aku tidak berharga seperti mantan mu itu"Rayendra ngambek berat.
"Abang aku minta maaf, tanpa sadar aku sudah membuat Abang terabaikan,ayo sekarang makan dulu "ucap Daisy.
"Aku tidak laper"ucap Rayendra.
"Baiklah aku akan memberikan semua masakan itu untuk vino, dan mas"ucapan Daisy terhenti saat Rayendra langsung menarik nya hingga terjatuh di samping Rayendra.
"Jangan berani melakukan hal itu, atau aku akan buat mereka semua menghilang dari kehidupan nya"ucap Rayendra tegas.
"Ya siapa suruh ngambek gitu pura-pura gak laper juga,kan dari pada mubahdjir lebih baik di kasih o, eum..."ucapan Daisy kembali terhenti saat Rayendra membungkam bibir nya dengan bibir milik nya hingga Daisy tidak sempat bicara dan akhirnya mereka pun berciuman sangat lama hingga Daisy langsung mengajak nya untuk makan.
__ADS_1
mereka pun akhirnya makan berdua di meja makan dengan lahap nya, Rayendra, seperti biasa mampu menghabiskan masakan Daisy, yang memang porsi kecil dari setiap menu yang dia masak.