Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa

Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa
#Kolam cinta#


__ADS_3

Rayan, tidak menjawab dia, terus melangkah masuk kedalam kamar Daisy.


"Tuan, aku bilang kembalikan"ucap Daisy sambil meraih koper tersebut tapi, Rayan menarik tangan itu dan menggenggam erat.


"Dy, aku minta maaf, please maafkan aku, heumm , kamu mau kan maafkan aku"ucap Rayan.


"Tuan lepas"ucap Daisy.


"Tuan"ucap Daisy lagi, saat Rayan, semakin mendekat ke arah nya.


"Aku bilang minta maaf Dy, tapi kamu tidak mau memaafkan aku, kamu malah ingin pergi dari ku"ucap Rayan.


"Baik lah baik, aku maafkan tolong lepaskan sakit "ucap Daisy sambil mendongak ke atas, melihat kearah pergelangan tangan nya yang tengah di genggam oleh Rayan.


"Sayang , kamu sedang apa? ucap Almira yang tiba-tiba muncul di depan pintu kamar.


"Aku sedang ada perlu pada Dy"jawab Rayan.


"Dy, aku keluar dulu, ingat bereskan barang-barang mu, aku mau lihat tukang, yang sedang bekerja membuat kolam untuk Agam"ucap Rayan berbasa-basi.


Sementara itu Daisy, hanya mengangguk pelan, dia tidak membereskan barang-barang nya dia keluar, melihat apa, Anya dan Agam, sudah sarapan.


Tapi saat disana pemandangan, yang sungguh membuat mata Daisy, perih di sana ada adegan sepasang kekasih yang tengah makan dan saling menyuapi, Daisy pura-pura tidak melihat dia berjalan menuju taman belakang, bukan untuk melihat para tukang yang sudah mulai bekerja, tapi menghindari rasa yang sulit diterima akal sehat.


Daisy, pun kembali masuk, setelah mereka sudah tidak ada entah mungkin sudah pada berangkat , Daisy berjalan menuju kamar nya, dia pun berjalan membawa koper nya, saat di depan pintu, wanita itu terkejut, melihat Rayan, menghadang langkah nya.


"Dy, kamu masih tidak mau"


"Saya, sudah memaafkan tuan"ucap Daisy


"Kamu bohong! Dy"ucap Rayan membentak Daisy.


"Saya tidak bohong tuan, hanya saja"


"Hanya saja apa! hanya kamu tidak bisa maafkan aku, iya"ucap Rayan sambil menatap wajah Daisy.


Daisy, pun menunduk, wanita itu tidak pernah mau menatap wajah Rayan.


"Aku harus pulang"ucap Daisy.


"Itu tidak mungkin Dy, bagaimana jika mereka bertanya tentang kamu"ucap Rayan.


"Tuan"ucap Daisy


"Apa? di apa yang harus aku jelaskan,apa? aku harus bilang jika wanita itu pergi, setelah aku cium"ucap Rayan.


"Stop, tuan"ucap Daisy.


"Kenapa? Dy, apa? kamu malu"ucap Rayan.


Rayan pun, masuk sambil menarik tangan Daisy.


"Kamu boleh pergi, setelah menjelaskan pada mereka, tentang apa...yang terjadi pada mu, hingga kamu ingin pergi"ucap Rayan.


"Tuan, tidak bisa melakukan itu"teriak Daisy.


"Dy, apa?kamu tidak berani"ucap Rayan.


"Rayan, stop!"ucap Daisy.


Kemudian Rayan, tersenyum, karena Daisy, sudah bisa memanggil nama nya, seperti yang dia pinta, selama ini.


"Dy, bagaimana masih mau pergi, atau damai saja"ucap Rayan.


"Rayan please jangan bahas itu lagi, iya baik'lah aku tetap disini, tapi hanya sampai, waktu seratus hari itu tiba, dan setelah itu aku tidak kembali lagi kesini, Almira, mampu mengurus mu dan kedua adikmu, jadi aku bisa kembali ke kampung halaman ku, dengan tenang"ucap Daisy.


"Benar akan, tenang saat seseorang bertanya tentang, pernikahan kita"ujar Rayan.


"Apa? maksud mu"tanya Rayan.

__ADS_1


"Dy, kita akan segera menikah, untuk membungkam mulut mereka"ucap Rayan.


"Tidak terima kasih, tuan saya punya cara untuk membuat mereka bungkam, jadi tidak usah lakukan apapun untuk itu"ucap Daisy, tegas.


"Baiklah, tapi jika nanti terjadi sesuatu, aku tidak mau perduli lagi."ujar Rayan sambil masuk.


"Tidak usah peduli, tuan lagi pula kita tidak punya hubungan apapun, selain pelayan dan tuan nya"ucap Daisy, yang berhasil membuat langkah Rayan terhenti.


"Dy, sudah kubilang kamu bukan pelayan!"teriak Rayan yang benar-benar kesal.


"Apa? yang kamu inginkan Dy, katakan. sekarang juga"tanya Rayan.


"Aku akan tinggal bersama dengan mereka,di rumah belakang, kamu bisa, memanggil jika butuh sesuatu"ucap Daisy.


"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan, ayo kita pulang"ucap Rayan yang langsung menarik tangan Daisy, tapi wanita itu terdiam, karena tiba-tiba, seseorang datang.


"Ada apa? ini Ray, Daddy bilang kamu jangan buat Almira menangis, apa? ada hubungannya dengan dia"ucap Rayendra.


"Nangis, nangis apa? Daddy, dari tadi dia baik-baik saja"ucap Rayan.


"Dia bilang kamu ada main dengan dia"ujar Daisy.


"Tidak ada Daddy, Almira kenapa? seperti itu, Daisy tidak berbuat apa-apa"ucap Rayan.


"Tapi dia, bilang gadis ini menguasai seisi rumah"ujar Rayendra.


"Begini saja tuan, jika karena saya, nona Almira, merasa dirugikan biar saya yang pergi"ucap Daisy, sambil menyeret koper nya.


"Dy, jangan pergi, kamu tidak salah, Almira, hanya mengada-ada kamu harus tetap disini"ucap Rayan, tapi Daisy tetap pergi, dia melintasi pintu pagar yang menjulang tinggi.


Rayan yang menyusul nya tapi Daisy keburu naik taksi, yang mungkin sudah dia pesan sejak tadi.


Daisy pergi menuju halte bus, sesampainya di sana dia benar-benar bingung hanya punya uang lima puluh ribu lalu wanita itu meraih sesuatu di dalam dompet nya, sebuah kalung yang dia bawa dari kampung, Daisy pun pergi menuju sebuah toko perhiasan, dia menjual kalung itu seharga sepuluh juta rupiah, sesuai harga saat ini, padahal harganya bisa jauh lebih mahal lagi jika, dia membawa surat nya tapi dia kepepet saat ini.


Daisy pun pergi dari toko perhiasan tersebut dia langsung masuk ke dalam bus yang sudah akan berangkat, setelah membayar tiket bus tersebut.


Bus tersebut pun, akhirnya berangkat, meninggalkan ibu kota.


"Selamat tinggal semuanya, semoga kalian berbahagia"ucap Daisy.


Daisy kini memejamkan mata nya, hingga berkali-kali, merem melek, karena bus, berhenti di beberapa, tempat hingga tiba di desa Daisy pun, turun, dia melihat rumah nya yang terlihat gelap dan sepi.


Udara dingin begitu menusuk tulang, wanita itu buru-buru masuk kedalam rumah dan menyalakan saklar lampu, hingga seluruh ruangan itu terang kembali.


Daisy pun membersihkan tubuh yang terasa lengket itu, di malam yang dingin itu, Daisy tiba tepat setelah magrib.


Dia berjalan menuju, halaman belakang, dengan diterangi oleh lampu senter di tangan nya itu, Daisy, memeriksa ternak yang ia tinggalkan dan juga, Empang miliknya.


"Owh Alhamdulillah, kalian semua baik-baik saja"ucap Daisy sambil menghela nafas.


Gadis itu pun kembali ke dalam rumah.


...................................


Sementara itu di rumah besar milik Rayan, Anya dan Agam, tengah merajuk, bagaimana bisa mommy nya, pergi begitu saja, saat ini bahkan tidak ada pesan samasekali.


Agam bahkan mengeluh karena bahkan kolam nya, saja belum selesai, Daisy pun belum membantu dia untuk mencari bibit ikan yang terbaik.


"Apa? kalian bisa tenang heeuh kakak, pusing tau jika kalian hanya kehilangan dia, maka kakak akan kehilangan segalanya"ucap Rayan.


"Kakak bilang hanya, jika kakak ingin perusahaan, kakak bisa ambil semua bagian kita, tidak jadi masalah, tapi tolong kembalikan mommy"ucap Anya.


"Bukan hanya itu Agam, Anya kita juga akan kehilangan Daddy"ucap Rayan


Anya pun kembali terdiam, tapi kemudian dia berkata"kakak, takut kehilangan kak, Almira bukan, dilihat dari segi manapun dia memang sempurna tapi tidak dengan akhlak nya, buktinya jika dia baik dia tidak mungkin akan, membiarkan kakak mendapat masalah, tapi ini malah mengadu yang tidak-tidak"ucap Anya.


"Dia hanya salah paham"ucap Rayan.


"Ya bela, saja dia, sekaligus, buatkan dia kolam cinta, jangan hanya kolam ikan, Agam lebih baik kita pergi saja, kita kembali ke rumah mommy"ucap Anya.

__ADS_1


"Baiklah segera bersiap, kita akan buat kolam baru disana"ucap Agam.


Mereka pun berjalan meninggalkan, Rayan yang masih mematung hingga saat ini, tapi beberapa detik kemudian.


"Agam... Anya, jangan pergi, biar kakak yang akan menjemput mommy mu"ucap Rayan.


Tapi telat mereka keburu masuk kedalam kamar, dan bersiap malam itu juga, tidak hanya itu, Anya juga membawa sebuah kasur dalam box , bahkan tiga kotak kasur yang ingin dia bawa ke desa dengan cara ditaruh di atap mobil Alphard, dan beberapa koper, dia tidak menggubris ucapan sang kakak, yang telah membesarkan nya.


Rayan, benar-benar dibuat khawatir, bagaimana bisa, mereka begitu sayang nya, pada Daisy, hingga mereka nekad pergi di malam hari.


"Anya, kakak, janji akan membawa mommy Dy, kembali tapi kakak, mohon jangan pergi, apalagi ini sudah larut, bagaimana jika terjadi apa-apa pada kalian"ujar Rayan.


"Kakak tidak usah khawatir kan kami, khawatir kan saja, calon istri kakak, dan harta benda yang akan diwariskan sisanya yang tak seberapa itu, setelah Daddy kakak tiada nanti"ucap Anya, yang membuat hati Rayan merasa ter cubit .


"De, kakak sayang kalian, semua, mommy dan Daddy Vino, pasti akan marah besar pada kakak, jika kakak tidak benar-benar menjaga kalian"ujar Rayan.


"Tidak perlu, kami sudah besar"ucap Anya yang kini menyetir mobil tersebut, dan pergi meninggalkan rumah besar milik mereka itu.


"Agam, janji jangan tidur, dan jangan lupa pegang senjata takut jika terjadi sesuatu"ucap Anya.


"Iya, kak, bawel banget sih"ucap Agam.


Anya pun membawa mobil tersebut dengan kecepatan tinggi, beruntung tidak ada banyak kendaraan, gadis itu memang sudah mahir menyetir sejak masih SMP, saat itu Vino, selalu mengajarkan dia mengemudi, meskipun masih terus dibimbing oleh ahli nya.


Daisy, sang mommy, selalu melarang semua itu, karena takut putri nya kenapa-napa, tapi Vino, selalu meyakinkan istri kesayangan nya itu, untuk tidak khawatir karena, putri nya akan baik-baik saja.


Sepanjang perjalanan, keduanya terus mengobrol dan bahkan menyalakan music, mereka pun karaokean, sambil terus fokus menyetir, sebenarnya ada rasa sedih meninggalkan Rayan sendirian di rumah, tanpa mereka sadari, sang kakak sudah mengikuti dia dari belakang.


Hingga mereka tiba di pinggir jalan yang tak jauh dari rumah Daisy yang terlihat jelas dari jalan raya hanya terhalang tanah kosong, yang masih milik gadis itu.


Anya pun berteriak, "Mommy, aku datang"ucap Anya, sementara Agam meminta bantuan orang lain di tengah malam sunyi beruntung tidak jauh dari sana, ada para pemuda, yang tengah berkumpul mungkin sedang malam mingguan.


"Adik-adik, boleh saya minta bantuan, untuk mengangkat barang bawaan,ke rumah mommy kami"ucap Agam.


"Sepertinya ada orang kota yang akan baru pindahan ini teh ya A" ucap para pemuda kampung itu.


"Tidak juga sih tapi kami akan tinggal sementara dengan mommy disini"ucap Agam, sambil berjalan menuju mobil diikuti oleh mereka yang hendak membantu


"Eh, teh Daisy, saya kira yang dipanggil oleh mereka, bukan teteh cantik"ucap pemuda yang usianya masih sangat muda.


"Iya, mereka anak tth"ujar Daisy.


"Anak?... maksud nya anak buah apa? anak tiri"tanya mereka bersamaan.


"Sudah-sudah sebaiknya kalian bantu saja dulu, nanti tth buatkan minum, untuk kalian semua"ucap Daisy.


"Tenang saja th yang kaya gini sih, enteng"ucap mereka yang langsung membantu, ada yang membawa kasur dalam box,itu ada juga yang membawa koper Anya, dan juga koper Agam, dan barang-barang lainnya, Rayan, yang baru saja tiba dia menarik nafas panjang, sambil memarkirkan mobil Ferrari nya,di samping mobil Agam, yang ada di tanah depan halaman rumah Daisy.


"Kakak, juga datang"ucap Agam.


"Tentu, saja.. ini rumah istri kakak"ucap Rayan, yang kini terlihat cuek, dan berjalan menarik koper miliknya, sementara mereka melongo dibuat nya, tidak salah kah Rayan, menyebutkan bahwa rumah Daisy, adalah rumah istrinya, mereka bertanya-tanya dalam hati.


Hingga Rayan langsung masuk ke dapur menemui wanita, yang sedang membuat minuman tersebut.


"Kamu tega ninggalin Suamimu, sendiri ucap "ucap Rayan, sambil memasang cincin di tangan Daisy, tepat di jari manis nya.


"Rayan, apa? ini jangan sembarang, aku tidak punya hubungan apapun dengan mu"ujar Daisy, yang ingin melepaskan cincin tersebut, tapi kemudian.


"Maaf, Daisy ini ada apa? jam segini pada ribut, dan siapa? yang pindahan ini"ucap ketua RT dan istri yang selalu setia mendampingi.


"Ini, suaminya itu kan"ucap pak RT, sambil berjalan ke ruangan tengah yang melihat kedua pria dan wanita tengah sibuk membuka kasur, yang ada di sana.


"Mom... kakak, tidak bantuin aku, setelah kasur nya,siap" ucap Agam.


"Biar nanti saja, Agam, mommy, ada tamu, jadi tolong tunggu dulu ya ini, untuk kalian silahkan nikmati"ucap Daisy.


"Terimakasih teh, tapi apa? benar dia suami tth"tanya salah satu pemuda.


"Kalian bisa tanyakan langsung pada tuan Rayan Davidson"ucap, Daisy.

__ADS_1


"Ah, bila pak RT, saja bilang kakak, itu suami kakak" ucap salah satu pemuda itu.


Sementara itu, Rayan masih menatap kearah mereka semua, sementara Anya dan Agam sudah tertidur pulas di atas dua kasur yang Anya, tumpuk menjadi dua, bahkan tidak perduli dengan mereka yang sedang berkumpul di rumah itu, bersama.


__ADS_2