Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa

Sugar Daddy Ku Seorang Mahasiswa
#Karma#


__ADS_3

Agista pun tiba di rumahnya peninggalan Novita itu yang merupakan warisan dari sang kakek.


"Masuk Yank, kamu harus segera istirahat."ujar Agista pada David yang kini diikuti oleh asisten pribadi nya yang membawakan koper Agis dan Rayan.


Disambut oleh asisten rumah Agista langsung meminta bibi untuk menyiapkan air untuk David mandi di kamar sebelah kamar Agis.


David yang sedari tadi terdiam dia hanya bisa mengikuti kemanapun Agista membawanya.


"Kamu bisa istirahat di kamar ini setelah bersih-bersih dulu Yank, aku juga harus bersih-bersih setelah itu kita makan malam dan kamu bisa kembali ke rumah sakit atau tetap disini."ujar Agista lembut.


Gadis itu mengelus punggung David yang kini terlihat masih diam.


"Tunggu aku."ujar Rayan lirih.


"Aku di sebelah setelah kamu selesai mandi jika tidak tidur kamu bisa temui aku di sana."ujar Agista.


David pun mengangguk pelan.


Agista pun merasa ada sesuatu yang begitu besar terjadi saat ini hingga pria arogan itu bisa seperti itu.


David begitu terpuruk, mungkin karena kondisi sang Mommy saat ini.


Agista pun langsung bergegas menuju kamar nya dan langsung bersiap untuk membersihkan diri begitu pula dengan David, meskipun pikirannya kacau pria itu tetap harus tegar dan menghadapi semuanya.


Setidaknya saat ini ada Agista yang selalu ada menjadi penyemangat hidupnya.


Sampai mereka selesai bersih-bersih dan berpakaian rapi meskipun dengan pakaian santai, David mendatangi kamar Agista yang tidak dikunci sama sekali.


Terlihat gadis cantik yang kini sudah terlihat jauh lebih cantik dengan polesan lipstick tipis meskipun tanpa menggunakan makeup di wajah nya hanya skincare saja tapi kecantikannya sungguh tidak bisa membuat David berkedip sedikit pun.


"Sudah selesai."ujar Agis yang kini menyimpan sebuah diary kembali kedalam nakas.


"Apa? itu Yank."tanya David.


"Hanya sebuah buku tidak terlalu penting."ujar Agista yang langsung mendekat ke arah David.


"Ayo makan malam, Bibi pasti sudah masak."ujar gadis itu.


"Aku tidak lapar."balas David.


"Yank,,, kamu harus kuat dan tegar menghadapi semua yang terjadi saat ini, aku tau ini berat tapi kamu harus lebih tegar dari kedua orang tua mu, kasihan mereka jika tidak ada salah satu yang menyemangati mereka."ujar Agista.


David pun hanya bisa menurut seolah dirinya dalam pengaruh hipnotis.


"Setelah makan kita akan pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi mommy."ujar Agista.


"Terimakasih kamu sudah menjadi penyemangat untukku maafkan semua kesalahan keluarga ku yang telah berbuat keliru padamu."ujar David sungguh-sungguh.


"Sudahlah lupakan semuanya sudah berlalu, mungkin untuk memaafkan itu sangat berat karena luka itu masih ada dan masih sangat terasa tapi aku tidak pernah dendam kepada kalian semua, aku justru berterimakasih kepada kalian karena dengan begitu, Agista si anak haram ini tidak lagi menjadi benalu di hidup kalian."ujar Agis sambil tersenyum kecil.


Agista pun berjalan lebih dulu hingga David pun berusaha untuk meraih tangan yang halus dan lembut itu.


"Yank,, aku benar-benar minta maaf."ujar David karena tidak mendapatkan jawaban seperti yang dia inginkan.


"David,,, kamu tidak perlu repot-repot melakukan itu, lagipula aku tidak pernah dendam dengan keluarga kalian."ujar Agista.


"Yank,,, kamu tidak bisa memaafkan kami aku bisa mengerti mungkin kami terlalu menyakiti dirimu."ujar pria tampan itu.


"Heumm,,, kamu tidak salah tapi yang seharusnya minta maaf itu bukan kamu, Ah... sudahlah lupakan saja sekarang kita makan malam dulu jangan sampai pembahasan itu membuat mood kita jelek."ujar gadis itu.


Agis berusaha tersenyum.


Sesampainya di meja makan yang sudah ada banyak hidangan meskipun dalam porsi kecil.


"Mau makan sama apa? heumm."tanya Agista.


"Aku tidak lapar."ujar David.


"Yank.... kamu harus makan."ujar Agista lembut namun pria itu tetap menggeleng.


"Apa? kamu tidak ingin makan karena pembahasan kita tadi."tanya Agis.

__ADS_1


"Salah satunya."ujar David lirih.


"Dav, jujur aku masih butuh waktu untuk itu."ujar Agista.


"Tapi dia sudah mendapatkan karmanya, apa? kamu masih tetap dengan pendirian mu."ujar David.


"Apa? kata maaf bisa mengubah semua yang telah terjadi, aku rasa tidak dan jika kamu mendekatiku karena hanya inginkan itu maaf aku tidak bisa, silahkan."


"Agista! hubungan kita tidak ada kaitannya dengan itu, aku sangat mencintaimu apa? semua itu masih belum jelas heuhhhhh."ujar David yang tiba-tiba tersulut emosi karena Agista mengungkit hubungan mereka dengan mengaitkan dengan permintaan maafnya itu.


David langsung terdiam setelah membentak Agista.


Agis sendiri kini terdiam setelah kata-katanya terhenti oleh teriakan David.


David langsung menarik piring yang tadi Agista isi dengan menu yang ada di atas meja.


"Tidak usah dimakan, aku tau kamu terpaksa nanti kamu sakit perut."ujar Agis yang beranjak pergi namun David langsung meraih tangan yang halus dan lembut itu.


"Yank,,, jangan begini aku minta maaf aku salah tolong jangan seperti ini aku sedang sangat kacau karena Raya mommy sakit dan aku tidak tau keadaannya saat ini."ujar David.


"Ada apa? dengan dia."ujar Agista.


"Adikku hamil."ujar David yang kini menundukkan pandangannya.


"Apa? hamil."ujar Agista yang terlihat santai.


"Aku tau semua ini adalah sebuah kabar baik untuk mu, dan kini kami sudah mendapatkan karmanya."ujar David.


"Aku tidak pernah menganggap itu sebagai kabar baik , aku tidak kaget dengan itu karena ini bukan pertama kalinya aku tau tentang itu bahkan aku tau sejauh mana kelakuan adikmu dan itu adalah salah satu penyebab dia berbuat jahat terhadap ku, ahhh sudah lah itu tidak perlu dibahas lagipula ini bukan yang pertama kali."ujar Agista yang hendak pergi.


"Apa? maksud mu."tanya David yang kini mencengkeram bahu Agista.


"Aku tidak perlu mengatakan aib dari seseorang, karena waktu yang akan membuka semua itu, selama ini aku diam pun dia sudah menyakiti ku habis-habisan apalagi jika aku mengatakan bahwa ini bukan kali pertama adikmu hamil dan laki-laki mana saja yang telah menjamah tubuhnya. aku rasa kalian lebih pintar jika kalian memiliki kemauan untuk mencari tahu dan mau membuka mata."ujar Agista yang membongkar fakta mencengangkan.


"Jangan omong kosong Agista adikku tidak mungkin seperti itu dan kau tidak perlu menambahkan garam di atas luka orang lain."ujar gadis itu.


"Itulah kenapa? aku tidak pernah mau berkata apapun tentang semua yang kutahu aku sadar aku bukan siapa-siapa jadi perkataan ku hanya akan dianggap sebuah fitnah atau angin lalu, meskipun semua bukti sudah berada di depan mata."ujar Agista yang langsung melepaskan kedua tangan David.


"Agista katakan padaku semuanya katakan aku janji akan mendengar kan semuanya dengan baik ayolah jangan marah."ujar David yang baru sadar jika perkataannya tadi salah.


Agista mengambil sebuah kotak yang ia simpan di samping meja riasnya.


Agista memberikan semua itu pada David.


"Aku tidak tahu ini semua nyata atau tidak yang jelas aku dikirim semua ini dari orang misterius."ujar Agista .


"Apa? ini yang."ujar David.


"Kamu bisa melihatnya sendiri."ujar Agista.


David langsung membuka kotak tersebut dan matanya terbelalak, saat dimana foto-foto tentang adiknya dengan pria yang berbeda-beda tengah berada di sebuah club malam hotel dan juga dokter obegyn.


Tangan pria itu mengepal erat mencengkeram kotak pelastik itu hingga retak tidak beraturan.


"Sialan!. ahhh!!!."teriak David dengan tubuh bergetar diliputi emosi.


"Tenanglah aku mohon yang semua sudah terjadi sekarang tidak ada gunanya kamu seperti ini lebih baik saat ini kamu pikirkan kesehatan mommy."ujar Agista.


"Aku tidak bisa tenang Yank! bagaimana aku bisa tenang bajingan tengik ini sudah seperti ****** ."teriak David yang langsung bergegas pergi namun Agista tidak bisa menghentikan semuanya.


"Yank,,, berhenti jangan pergi dalam keadaan emosi begini Yank, dengarkan aku ini tidak baik aku mohon kembali."ujar Agista namun David sudah pergi dengan taksi yang ia tumpangi.


Agista langsung pergi menyusul dengan cepat menggunakan mobil nya. tapi sayang David sudah menghilang.


Agis tau sasaran utama David adalah Raya gadis itu melanjutkan perjalanan menuju Mension dengan kecepatan tinggi beruntung tidak terlalu banyak kendaraan yang melintasi kawasan itu hingga Agista bisa pergi dengan cepat.


Agista pun langsung masuk gerbang Mension saat itu juga dan berlari masuk tanpa permisi setelah turun dari mobil karena kegaduhan sedang terjadi jerit tangis pelayan dan Raya juga satpam yang menghalangi David yang kini hendak menghajar raya lagi setelah tamparan keras bertubi-tubi ia berikan di wajah adiknya yang kini terlihat bengkak.


"Stop! David, stop! adikmu bisa mati."ujar Agista yang datang menghadang David yang ternyata tengah menggenggam sebilah pisau.


"Jangan halangi aku! dia adalah ****** yang sudah membuat mommy ku sekarat, dia tidak pantas dimaafkan!."ujar David.

__ADS_1


"Baiklah jika seperti itu kamu bunuh aku dulu baru dia."ujar Agista.


"Jangan sembarangan kamu Yank! minggir!"teriak David yang sudah tidak tertahankan lagi oleh satpam tersebut.


"Apa? kau pikir dengan begitu mommy mu bisa sembuh David, tidak Yank mommy mungkin akan pergi jika putri nya kamu bunuh dia adikmu Yank, dia adikmu sadarlah!."teriak Agista sambil menghadang David yang masih dipenuhi emosi.


"Bawa nona Raya pergi ke rumah sakit dan obati dia bahkan aku yang mengurus tuan muda kalian."ujar Agista yang kini menggenggam tangan David yang tengah memegang kuat pisau tersebut.


Mereka pun langsung pergi menuju rumah sakit karena perintah Agista yang tau bahwa saat ini dia sedang tidak baik-baik saja.


"lepas pisau ini Yank, kamu sayang aku kan tolong lepaskan pisau ini aku mohon, ingat jika kamu berbuat seperti itu bukan hanya adikmu yang tiada tapi ada dua nyawa lain yang harus pergi dari dunia ini."ujar Agista yang kini membujuk David.


"Dia sudah membuat mommy koma, aku tidak mau mommy seperti ini aku ingin mommy ku Yank, aku ingin mommy ku."ujar David yang kini sudah melepaskan pisau dari tangannya.


Agis memberikan pisau itu kepada satpam yang tadi memegangi David.


"Yank kamu lihat aku, mommy Dy orang baik dia pasti akan baik-baik saja kita hanya harus berdoa."ujar gadis itu lembut yang kini memberikan pelukan hangat pada David untuk menyalurkan ketenangan.


"Ayo duduklah."ujar Agista lagi.


David pun duduk di samping Agis dia tertunduk sedih.


"Yank,,, kamu lihat aku kamu bisa lewati ini semua mommy Dy masih memiliki banyak orang yang sangat menyayangi dia, kita hanya perlu berdoa untuk kebaikannya."ujar Agis yang kini membingkai wajah tampan itu.


Agis mendekatkan wajahnya di kecupnya bibir tipis itu.


David pun membalas itu, sampai beberapa detik setelah itu Agista mengakhiri semuanya.


"Aku ada di sini untuk mu."ucap Agista lembut.


David sudah mulai tenang, saat ini dia tengah berbaring di atas sofa mengistirahatkan kepalanya yang terasa sangat sakit.


Kapala David kini berada di atas pangkuan Agista gadis itu terus mengelus puncak kepala David dengan penuh kelembutan, hingga pria itu pun tertidur pulas.


Agista sendiri kini ikut memejamkan mata nya sampai beberapa jam kemudian, gadis itu kembali terjaga saat seseorang hendak menggendong dirinya.


"Yank turunkan aku, aku harus segera pulang aku lupa harus mengerjakan sesuatu."ujar Agista.


"Kamu tidak lihat itu Yank, pukul dua."ujar David.


"Tidak apa? aku tetap harus pulang kamu baik-baik saja kan maafkan aku tadi ketiduran."ujar Agis.


"Aku yang seharusnya minta maaf."ujar David.


"Tidak apa-apa sekarang kamu sebaiknya istirahat besok pagi temui mommy dia pasti senang melihat mu datang."ujar Agista.


"Heumm."ujar David yang kini menurunkan Agista.


"Aku pulang dulu Yank."ujar Agista.


"Aku antar."ujar David.


"Yank,,, tidak usah aku tau kamu lelah istirahat lah aku akan baik-baik saja."ujar Agis.


"Baiklah sayang hati-hati di jalan jika ada apa-apa segera hubungi aku."ujar gadis itu.


"Mau hubungi pakai apa? lihatlah aku tidak membawa apapun karena tadi aku buru-buru."ujar Agista.


"Kalau begitu tidak usah pulang."ujar David yang kini memeluk Agista.


"Kalau aku tidak pulang kamu gak akan bisa istirahat, sudah ya, aku pulang dulu."ujar Agista.


"Baiklah hati-hati cintaku."ujar David sambil mengecup bibir Agista sekilas.


"Heumm,,, ya malam."ujar Agista lembut.


"Night."lirih David saat melihat cintanya pergi.


Sementara itu di rumah sakit, Ray kini tengah menunggui Raya, sang kakak yang tampak menyedihkan itu.


Ray juga sangat marah saat tau hal itu, tapi dia tidak bisa melukai kakaknya itu, Ray masih bisa berpikir jernih karena bagaimanapun kekerasan tidak akan menyelesaikan masalahnya.

__ADS_1


Ray hanya bisa menangis dalam diam saat ini kelurganya yang selalu baik-baik saja kini seakan telah hancur.


Sang mommy tengah berjuang melawan maut, sementara disisi lain kakanya harus berbaring di atas bed pasien.


__ADS_2