Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Jadi badut


__ADS_3

Tak lama Kayla bangun tapi kepalanya masih terasa berat. Ia mencoba untuk bersandar dan mencari sosok suami ternyata tengah fokus di depan laptop. Lelaki tampan itu tak sadar jika istrinya sudah sadar.


"Vel," panggil Kayla pada suaminya


Marvel seketika menoleh ternyata istrinya sudah sadar. Ia beranjak dari sofa lalu menghampiri istri tercinta.


"Sayang, kau sudah bangun sejak kapan?"


"Baru saja, kau mengerjakan apa?"


"Aku ingin mengembangkan bisnis bengkel mobil sayang."


"Aku dukung kamu, Vel."


"Makasih sayang, oh ya sayang apa ada yang sakit?" tanya Marvel lembut.


"Sedikit pusing aja."


"Kau tahu apa yang terjadi, itu  karena kita akan jadi orangtua," Marvel tersenyum bahagia.


"Ma-maksudnya, Vel."


"Iya sayang, kamu sedang hamil," ucapnya sambil mengelus pipi istrinya


Kayla seketika meneteskan air mata haru karena dia tengah mengandung buah hati mereka berdua.


"Hai, kenapa menangis sayang? kau tak suka, hem."


"Bukan gitu, Vel. Aku bahagia, bahagia banget kita akan punya baby," peluk erat Kayla pada suaminya.


"Ini anugerah dari Tuhan, kita bisa punya baby secepat ini. Hanya 3 bulan kita pusaka ku bisa menembus," ucapnya cekikikan.


Seketika Kayla malu dan menimpuknya dengan bantal.


Pluk


"Aw, sayang."


"Kau sih terlalu vulgar."


Tiba-tiba, pintu terbuka datanglah Kakek, Nenek Marvel membawa sekeranjang buah.


"Sayang, bagaimana keadaaanmu, hem."


"Kayla udah enakan, Nek. Kenapa repot sih Nek."


"Nggak kok, sayang. Kau mau yang mana buahnya biar Nenek yang kupas."


"Apel aja, Nek."


"Hanya itu."


Kayla nampak berfikir jika dia menginginkan sesuatu  tak lama, ia menatap suaminya dengan tatapan penuh arti. Marvel sudah merinding dengan tatapan istrinya ia sudah berkomat kamit agar istrinya tak minta macam-macam  dan apa yang terjadi ternyata seperti dugaannya salah.


"Waw, kau lucu sekali sayang " Kayla tertawa terpingkal-pingkal apalagi Kakek, Nenek nya melihat cucu sudah jadi badut dalam beberapa menit saja.


"Aduh, sakit perut Nenek, Vei. Kau lucu sekali, gemas Nenek," sambil mencibit hidung mancung Marvel.


"Ih Nenek, tolongin Marvel," ucapnya memelas


Semua tertawa melihat dandanan tak biasa Marvel karena permintaan Kayla. Walau Marvel malu, tapi ia bahagia bisa menuruti keinginan istrinya.


....


Di kantor Baratawijaya, Bebi baru saja datang membawa makana untuk suaminya. Wanita cantik paruh baya itu sekarang sudah di depan ruang Ben. Ia pun mengetuknya lebih dulu.


Tok

__ADS_1


Tok


"Masuk."


Ben masih tak sadar jika istrinya yang datang, ia masih asyik fokus pada laptopmya.Hingga deheman membuat ia sadar ada suara tak asing di telinga, memanggil.


"Ehem."


Ben mendongak lalu ia seketika tersenyum dan menghampiri wanita yang sudah menemani belasan tahun tersebut.


Cup


"Sayang, maaf aku terlalu fokus pada laptop. Ada meeting nanti siang,  sekarang nggak usah cemberut ya,  duduklah."


"Ini makan nanti siang ya Dad, oh ya Marvel dan Kayla lagi liburan ke rumah Ayah, Ibu."


"Lalu, kau ingin kita nyusul mereka kah sayang," tanya lembut Ben


"No, Mami kangen aja sama Marvel dan Kayla. Ya udah kamu lanjut aja kerjanya, Dad. Aku mau ke rumah Hesti, boleh kan."


"Tumben mau maen, sayang."


"Bosen di rumah, anak-anak entah pada kemana."


"Baiklah, tapi sama sopir kan sayang."


"Siap bos, makasih Dad."


Cup


"Assalamualaikum," ucapnya sambil mengedipkan satu mata genit pada Ben.


"Nakal, awas nanti di rumah kau Bebi, Waalaikumsalam."


Nyonya presdir itu turun ada sampai di lobby, banyak pasang mata memuji wanita 40 tahun itu karena kecantikannya tak memudar.


"Istri presdir kita memang cantik tak pernah luntur, aku fans beratnya, udah baik ramah dan banyak lagi."


Dan masih banyak lagi pujian yang di lontarkan para staf kantor Baratawijaya. Kini, Bebi meluncur di tempat Hesti istri asisten Rudi.


Di sisi lain tepatnya  Mall ternama, Hilda sedang bersama teman-temannya asyik bermain time zone.


"Hil,, ayo buruan tinggal dikit lagi kita menang, huu," sorak semangat Dea


"Ih kamu berisik Dea, bentar nih. Dan ya, ye... aku menang," teriak Hilda hingga buat para pengunjung menatapnya, ia melongo melihat tatapan mereka dan yang membuatnya geram salah satu pengunjung ada yang ia benci dia adalah Raka.


Raka menatap Hilda tatapan sinis dan menggeleng kepala heran dengan kelakuan kekanakan Hilda kemudian berlalu.


"Eh, guys. Itu cowok paling menyebalkan," tunjuk Dira pada teman-temannya


"Hah, iya Hilda, keren amat."


"Keren dari Hongkong mu itu."


"Eh cantik, kau itu mulai rabun ya, cowok keren dianggurin."


"Ah tau ah, ayo kita cari makan yuk, laper."


"Siap bos."


Ketiganya kini, menuju restaurant jepang kesukaan, Hilda mulai memesan dan ia melihat agak sepi segera ia memesan.


"Mbak," panggil Hilda bebarengan dengan pelanggan lain dan itu Raka lagi.


"Mbak."


"Astaga dia lagi," gerutu nya kesal

__ADS_1


"Mbak, sini," teriak Hilda


"Mbak sini dulu."


"Eh Om, aku duluan yang pesan duluan."


"Enak aja aku duluan, tanya aja pada mbak nya."


Palayan itu terihat gemas dan mendatangi Hilda.


"Maaf non, memang benar tuan  itu yang duluan. Tadi dia ke toilet sebentar."


Hilda mengerucutkan bibir dan bersidekap depan dada nya.


Pelayan itu beralih mengantar menu pada Raka yang sedang duduk di pojok. Setelah memesan, pelayan berjalan  menuju ke Hilda, Raka tersenyum miring  menatap Hilda dan mengacungkan jempol ke bawah.


Hilda meremas jari jemarinya emosi diejek Raka. Hilda bersumpah tak mau bertemu atau pun punya jodoh seperti Raka.


"Silahkan non, mana yang di pesan."


"Kita ini aja, Hilda " ucap Tia


"Ok, kau gimana, Dea."


"Samain aja. Oh ya mbak kita pesan yang ini 3 porsi sama minumnya jus alpukat 3," tunjuk Hilda pada pelayan


"Baik non."


Tak sampai menunggu lama, pelayan membawakan pesenan Hilda dan Raka secara bersamaan.


"Selamat menikmati."


"Terimakasih."


Hilda tersenyum geli lalu, ia  mulai menghitung.


3


2


1


Howek ... howek


"Makanan apa ini," bentak Raka mengusap bibirnya dengan kain napkin, pelayan mendengar bentakkan Raka segera menghampiri.


"Maaf tuan, bisa dibantu."


"Ini makanan kenapa asin banget, hah. Mau ngeracunin aku?" Raka menatap pelayan dengan sorotan tajam.


Dir dari kejauhan sudah cekikikan melihat raut muka Raka kesal, saat mata tertuju pada Hilda yang tertawa sambil pegang perut, gadis kecil itu mengacungkan jempol ke bawa seperti yang ia lakukan.


"Brengsek. Sialan gadis kecil itu. Awas aja lain kali aku balas lagi," batin Raka kesal, ia menaruh uang di meja dan beranjak pergi dari restaurant.


Sepanjang perjalanan ia mengumpat karena kejadian di restaurant.


"Sialan tuh, gadis kecil itu. Lihat aja nanti aku bakal balas."


Raka kemudian menelpon Marvel.


"Halo Ka, ada apa?"


"Ke cafe yok, bosen nih."


"Tapi aku mash di luar kota bro, lusa aja gimana aku undang kau."


"Hah, undang. Acara apa, Vel."

__ADS_1


Tiba-tiba telponnya terputus lagi dan lagi ia mengumpat.


"Sial banget sih," umpatnya


__ADS_2