Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Siapa dia?


__ADS_3

"Gila bener, Vero," batin Johan


Ben melihat raut muka Johan berbeda ia pun memberanikan diri bertanya.


"Ada apa om?"


"Eh  Ben. Nggak apa, udah selesai makannya."


"Udah barusan."


"Ya udah, om pulang dulu ya, kalau Daddy mu bangun kabari, om."


"Baik om. Hati-hati."


"Iya, Yu, aku pulang dulu. Kalau ada apa-apa kabari aku."


"Iya Jo, hati-hati."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Sedangkan Vero bersiap pulang usai menggempur Vera kembali.


"Sayang, kau sangat manis. Habis ini kau akan mendapat hadiah besar," ucapnya membelai wajah Vera


Vero menutup pintu kamar, lalu meuju kediamannya. Beberapa jam kemudian, Vera terbagun fan ia melihat ada kertas kecil di samping nya. Setelah membaca ia mengumpat keras.


"Brengsek, kau Vero," teriaknya


Saat dia melihat ponsel, ia mendapat pesan dari orang bayarannya.


"Bos, dia masih hidup."


"Sial."


Vera bergegas mandi lalu merencanakan sesuatu kembali. Selesai semua ia keudian checkout.


Di rumahsakit


"Bunda, pulanglah dulu, kasihan Sella," ujar Ben


"Mending kalian yang pulang sambil lihat adik kaliò kan besok kalan sekolah."


"Apa tak masalah kita tinggal sendiri,Bunda."


"Tak masalah, kqn ada bodyguard lainnya."


"Baiklah, bunda. Kita pulang nanti kita lihat juga adek Sella."


"Ya udah hati-hati."


"Assalamualaikum."


"Waaalaikumsalam."


Ben dan Axel keluar dari rumhsait diantar pulang oleh sopir keluarga. Sedangkan Ayu  mask ke dalam ruangan Bria. Wanita cantik itu menselonjorkan kaki nya dekat ranjang Brian.


"Cepat bagunlah, Dad."


Pukul 01.00, ada seorang perawat masuk ke dalam ruang Brian. Wanita itu pelan-pelan mendekati ranjang Brian.


"Kau qkan mqti sektaang juga, Brian," di hati permepuan itu mulai mendekat dan menutup hidung Bria, saat wanita itu melakukannya tepat Ayunda terbangun, ia terkejut ada  suster berniat membunuh suainya.


"Stop!" teriak Ayunda membuat  perawat itu gelagpanberushaa berlari


Namun buka Ayu jika tidak bisa menendangnya lalu memukul


Bugh


Bugh


"Kau siapa, hah," Ayu membetak sambil mendekap leher perawat itu lalu mencoba membuka masker di wajah wanita tersebut.


"Lepaskan."


Ayu merasa pernah emndegar suara wanita tersebut tapi saat akan membukanya kembali ia kena serang wanita itu dan berganti  akan dicekik


"Kau akan tahu siap aaku, saat nanti di neraka. Wanita perebut," ucapnya menyeringai


"Si-siapa kau," ucapnya lirih


"Hahahhhaha kau pengen tahu ya. Nanti ucapkan salam pada neraka dulu."


Saat Wanita itu mengeluarkan  pisau dan ingin menusukkan  pada Ayunda tiba-tiba wanita itu tergeletak


Brak


Bugh


Ayunda melongo mepihat wanita bersimbah darah di depannya. Tapi lebih terkejutnya dia melihat suami terbangun


"Daddy," teriak Ayunda lalu berlari menghampiri


Ayunda kemudian memeluk erat suaminya sungguh tak disangka karena keributan itu membuat Brian terjaga dari tidurnya. Ayunda bersyukur malaikat penolongnya adalah suami sendiri.


"Sayang, jangan nangis. Untung kau selamat, aku sudah ketakutan tadi," ucap Brian pada istrinya


"Bentar kau diam, aku panggil dokter memeriksa mu."


"Eh diam, cukup pencet ini " ucap Brian memncet bel membuat Ayu salah tingkah karena ia panik

__ADS_1


"Ponselmu mana sayang, aku akan menelpon."


"Sayang, aku tahu kau menelpon siapa. Denger ya, Dad. Mereka aku suruh istirahat, Dad kasihan. Aku nggak mau kau menghukumnya, mereka juga manusia."


"Kenapa sih kamu tak mikir nyawamu sendiri, hem."


"Kau pekerjakan mereka juga ada imbal nya, jangan biarkan mereka sakit jika ingin kau di dampingi mereka terus."


"Ya-ya aku ngalah. Demi nyonya Baratawijaya."


Ayunda menyunggingkan senyuman dan terdengar suara ketukan.


"Permisi tuan, nyonya. Maafkan atas insiden ini."


"Iya, tolong urus wanita itu udah mati ata hanya pingsan."


"Baik tuan."


Usai Vera di bawa para bodyguard, Brian pun menatap penuh tanya pada istrinya.


"Sejak kapan kau menjadi semakin cerdas sayang."


"Udah lama."


"Oh ya," ucap Brian mendekt ke arah wajah istrinya mmbuat Ayu gugup dan saat tatapan intens tiba-tiba ada ketukan membuat Brian gemas.


Tok


Tok


"Permisi."


"Iya, silahkan masuk."


"Selamat pagi tuan Brian," sapa dokter


"Pagi dokter."


"Saya sungguh bersyukur ada mukjizat anda bangun lebih cepat dari perkiraaan saya."


"Memangnya aku terjaga berapa lama dok."


"Dua hari."


"Astaga, kau tak apa sayang," tanya Brian cemas


"Kau lihat sendiri bukan, Dad."


"Em, saya periksa dulu ya tuan."


"Iya silahkan dokter."


Setelah 15 menit di periksa, Dokter dan perawat itu berpamitan.


"Terimakasih dokter."


"Saya permisi dulu ."


"Iya dokter."


Dpkter itu keluar ruangan  lalu Ayunda bergegas menelpon Johan dan Vero.


"Halo Jo, Brian sudah sadar."


"Oh ya sukurlah. Nanti kau kesitu."


Saat akan menghubungi Vero, ponsel Ayunda di raih suaminya.


"Kau menelpon siapa lagi, sayang."


"Aku mau mengabari Vero."


"Biar aku saja."


Brian mulai memencet nomor Vero namun tak diangkat juga.


"Kemana si brengsek itu," ucapnya


"Ada apa Dad?"


"Vero telponnya nggak diangkat."


Di lain sisi, Vero tengah mengurus administrasi Vera. Dia sudah berpesan pada bodyguard Brian agar dia yang mengurus.


Tak lama, dokter yang menangani Verakeluar dari ruangan.


"Selsmat pagi tuan."


"Saya Vero kekasih nona Vera. Apa ada sesuatu dok."


"Begini tuan, kuatnya benturan membuat nya bisu sementara."


"Berapa lama pemulihannya."


"Paling cepat satu tahun dan paling lama tiga tahun dan itu harus terapi."


"Baiklah terimakasih dokter."


Setelah di beritahu dokter, ada rasa aiba dihati Vero namun ia juga masih marah atas tindakan ingin membunuh dan melukai Brian serta istrinya.


"Aku akan mengajarimu cara bertaubat, dan ini adalah kesempatan bagus."

__ADS_1


Vero masuk ruangan Vera di rawat lalu keluar kembali menuju ruangan Brian.  Saat dia berjalan menuju ruangan Brian. Nampak Johan dan Nadia baru saja keluar dari tempat Brian.


"Hai Jo, Nadia," sapa Vero


"Eh hai tuan tak tahu malu."


"Kenapa begitu?"


"Eh kau lupa mengirim video serta fotomu sialan yang gila itu padaku,"bisik Johan


"Hahahahaa," Vero seketika tertawa membuat Nadia curiga pada keduanya.


"Sayang, tadi dia ngasih video lagi asik sama cewek."


"Oh begitu."


"Kalau gitu aku balik dulu," pamit Johan


"Iya hati-hati."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Sebelumnya Vero mengetuk lalu masuk ruangan Brian .


"Permisi," sapa Vero


"Hai, vero . Kau darimana saja, aku telpon nggak di angkat."


"Aku ada urusan yang pasti kau akan tahu semua nya."


"Gimana keadaanmu," tambahnya


"Udah lebih baik, lusa aku udah pulang. Aku ngadain syukuran. Kau datanglah."


"Aku usahain datang."


"Oh ya Vero, ada yang mau aku tanyakan pada mu."


"Apa?"


"Lihat ini."


Brian menunjukkan jika sahabatnya  mengurus semua tentang Vera.


"Apa yang bisa kau jelaskan," Brian memperlihatkan sejumlah foto pada Vero


Vero menyunggingkan senyuman lalu menjawabnya


"Tenang bro, aku ingin memberinya pelajaran berharga. Saat kau terbaring dan melihat orang ksu cintai menangis sku sudah ingin membunuhnya namun tindakan itu bukan untuk wanita. Jadi inilah pembalasan terbaik perempuan sialan itu."


"Kau sungguh tak waras, awas saja jika kau ke makan omongan sendiri."


"I don't care."


Tiba-tiba, ada yang menimpali dari belakang mereka.


"Johan."


"Kalau yang ini mau nggak ke makan omonganmu, bro," tunjuk foto mesra menyuapi Vera di ruamhsakit


"Hahahahaha."


"Mau ngelak lagi, kau hah."


"Itu biar dia keperangkap rayuanku dulu. Kalian ini selalu saja dibuat serius."


"Terserah kau sajalah. Oh ya Bri, kapan kau bisa pulang."


"Lusa, aku juga mengadakan syukuran aku sudah sehat kembali."


"Waw, makanan gratis. Yang jadi baby sitter nggak boleh datang," sindir Johan pada Vero


"Sialan, babysitter juga manusia


"Oh ya."


"Kau mau ku timpuk ya."


Usai bercanda bersama, Vero dan Johan berpamitan.


"Kami pulang dulu, bro. Cepet sembuh."


"Ok thank. Oh ya, jangan rerlau dekat."


"Berlebihan."


"Aku juga, salam buat dua jagoanmu, Yu."


"Baiklah, salam buat anak dan istrimu, jagan lupa beritahu lusa."


"Oke."


Setelah kepergian dua pria tampan itu, kini Brian dan Ayu berisitirahat. Sedangkan di mansion Brian. Sella dan juga kedua kakaknya Axel dan Ben sedang asyik bermain.


"Xel, kita ke rumahskait yuk."


"Boleh, tapi habis ini ya. Aku masih pengen sama si bayi ini."


"Huh, dasar lo ya."

__ADS_1


Saat membuka ponsel, Ben melihat ada berita membuatnya kesal.


__ADS_2