
Sampai di apartemen, Kinan langsung masuk kamar sama halnya dengan Arthur. Setelah membersihkan diri, Kinan turun dan membuatkan makan siang. Di kamar, Arthur juga sudah segar kembali, ia akan pulang hari ini agar orangtua tak mencurigainya.
"Huh, aku harap dia baik-baik aja aku tinggal."
Arthur keluar dari dalam kamar dan mencium bau wangi aroma masakan, membuat ia merasa lapar. Ia berjalan menuju dapur dan terlihat ada Kinan sedang beraksi. Arthur menyunggingkan senyuman saat gadis cantik tengah bergulat di dapur.
"Masak apa?" Tanya Arthur di meja makan menompang dagunya menunggu Kinan selesai masak.
"Arthur, aku kira tadi nggak ada orang."
"Segede gini, nggak kelihatan."
"Maaf. Ini aku masak cumi asam manis. Tunggu ya sebentar lagi selesai."
"Oke."
Beberapa menit kemudian, akhirnya Kinan selesai masaknya. Ia mulai menaruh masakan serta miunman diatas meja makan. Arthur rasanya tak sabar untuk mencicipi.
"Nah sudah, ayo makanlah."
"Jangan lupa doa dulu supaya berkah."
Kinan dan Arthur mulai berdoa, sekilas ia melihat Kinan cara berdoanya berbeda. Ia mengerutkan dahi menatap gadis di depannya.
"Ayo Arthur."
"Iya."
"Ini enak sekali, Kinan."
"Beneran."
"Iya."
"Makasih."
Keduanya pun melahap masakan buatan Kinan, dipikiran Arthur masih bingung dengan berdoanya Kinan, Ia akan bertanya setelah ini. Setelah makan Kinan membereskan piring-piring dan mencucinya. Arthur memberanikan diri bertanya pada Kinan.
"Em, Nan. Bolehkah aku bertanya."
"Iya boleh, Arthur."
"Maaf, apa agama mu yang kau anut. Tadi tak sengaja melihat cara berdoamu denganku berbeda."
Inilah yang Kinan takutkan jika suatu saat ada yang tanya agamanya. Ia menghela nafas berat lalu mulai menjawabnya.
"Agamaku Katolik."
"Oh begitu, aku kira sama denganku. Oh ya udah, aku hari ini pulang ke rumah dulu ya. Kamu nggak apa kan tinggal sendiri disini. Nanti aku akan mengabarimu."
"Iya Arthur, nggak apa. Maaf ya merepotkan. Oh ya Arthur, apakah kita masih bisa berteman," tanya Kinan lirih.
"Aku tak masalah, Nan. Dan Suatu saat aku akan minta balasannya darimu."
"Kenapa kau selalu bilang begitu."
"Nanti kau juga bakal tahu. Aku pergi dulu."
Arthur pergi dan apartemen menuju ke rumahnya , agar tak dicurigai orangtua. Sedangkan Kinan buru-buru pergi mengunjungi tempat kerja yang ia cari kemarin di sosial media. Kinan sengaja berjalan kaki untuk menghemat biaya, karena persediaan gaji yang kemarin tinggal sedikit makanya ia berhemat.
Setelah hampir setengah jam ia berjalan akhirnya rumah yang ia cari ketemu juga.
__ADS_1
"Akhirnya, semoga Tuhan memberkatiku. Semoga diterima aku."
Kinan mulai memencet bel rumah tersebut dan tak lama dibuka oleh seorang pelayan.
"Permisi bik, saya Kinan mau melamar pekerjaan sebagai babysitter."
"Baik, tunggu sebentar nona. Saya panggilkan nyonya dulu."
"Terimakasih."
Kinan menatap rumah itu bak istana, sungguh ia kagum sekaya apa orang ini. Saat asyik melihat interior datanglah nenek menghampirinya.
"Ehem, selamat sore nona."
"Selama sore nyonya."
"Panggil Oma Rina saja, namamu siapa anak cantik."
"Saya Kinan, Oma."
"Baiklah Kinan mulai kapan kamu akan bekerja. Kerjamu hanya menemaniku dan membuat makanan khas pedesaan. Apakah kau sanggup, Kinan."
"Saya sanggup Oma. Dan hari ini Kinan akan muai bekerja."
"Baiklah ini pakai untukmu," Oma Rina memberikan sebuah baju seragam untuk Kinan.
Setelah berganti pakaian, Kinan mulai memasak seperti yang diucap oleh Oma Rina. Sekitar setengah jam Kinan bergulat di dapur, akhirnya selesai juga. Kinan naik ke lantai dua dan mengajak Oma untuk segera makan.
"Oma, makanannya udah siap."
"Sungguh."
"Iya Oma. Ayo Kinan bantu jalannya."
"Maaf Oma."
"Tak masalah Kinan."
Di ruang makan, banyak maid berjejer rapi menyaksikan Oma Rina makan tapi Kinan heran kenapa anak Oma tak terlihat sama sekali.
"Ini Oma silahkan."
Saat Oma Rina mulai mengecap rasa ia sungguh bahagia selera makannya kembali lagi saat makan masakan Kinan.
"Kinan, makasih ya. Oma suka masakanmu, besok jangan lupa buat lagi yang lain ya."
"Baik Oma, terimakasih."
Di sisi lain, Arthur baru saja di rumah sudah kena semprot.
"Arthur, kau dari mana aja 3 hari ini."
"Arthur di rumah Dimas, Dad."
"Pembohong," bentak Marvel pada putranya.
"Beneran Dad."
"Lalu ini siapa?" Ucap Marvel sambil menunjukkan foto Arthur bersama gadis cantik masuk ke apartemen.
"I-itu memang Arthur, Dad."
__ADS_1
"Lalu kenapa kau berbohong."
"Arthur menolong teman Arthur saja Dad, nggak lebih."
"Lalu apartemen punya siapa?"
"Punya Arthur sendiri, Dad. Itu hasil tabungan Arthur."
Marvel menatap putranya kali ini berbeda terlihat tak menunjukkan kebohongan. ia mendekat dan menepuk bahu Arthur.
"Daddy bangga padamu, nak."
Arthur mendongak dan memeluk Daddy nya.
"Tapi Daddy mau, kau menjauhi teman wanitamu."
"Kenapa Dad?"
"Keyakinan dia dan kita berbeda, jadi lebih baik jangan terlalu dekat. Daddy pernah muda, Arthur. Daddy itu juga mantan playboy jadi tahu gerak gerikmu itu. Daddy takut kau terluka karenanya."
Arthur mencerna omongan Daddy, sesma beberapa hari bersama Kinan rasa terhadap Kinan berbeda bukan lagi teman melainkan sayang yang lebih. Hanya saja ia tak berani mengungkapkannya.
Tiga hari kemudian, Arthur sudah jarang bertemu dengan Kinan. Kinan menyadari mungkin Arthur sedang konsentrasi menghadapi ujian yang tinggal dua bulan lagi. Kinan akan menemui Arthur karena ingin bicara sesuatu. Saat istirahat, Kinan berjalan menghampiri bangku Arthur.
"Arthur, aku mau ngomong."
Arthur tak menjawab malahan ia pergi darinya, sungguh Kinan bingung dengan sikap Arthur. Dia tak tau apa permasalahannya, sepulang sekolah Kinan berencana akan ke rumah Arthur.
Tak terasa pukul satu siang, semua berhambur pulang. Saat Kinan ingin memanggil Arthur, ada cewek bernama Sasa masuk ke dalam mobil Arthur. Kinan akhirnya memutuskan menunda.
Di dalam mobil, Arthur mengusir Sasa, Ia risih dengan kelakuan perempuan jadi-jadian itu.
"Maafkan aku, Kinan," batin Arthur.
Sedangkan Kinan berjalan kaki menuju rumah Arthur, tiba-tiba ada mobil berhenti di dekatnya.
"Kinan," panggil Sha.
"Sha," Kinan berhambur memeluk.
"Hei cerewet kenapa kamu menangis."
"Nggak, aku nggak apa. Aku merasa kalian menjauhi ku."
"Kalian. Kalian siapa maksudmu, hem."
"Kamu dan Arthur. Dia udah mendiamkanku beberapa hari ini, kau pun juga sibuk dengan acara mu."
"Sorry, aku kemarin menghafalkan kata-kata untuk ngungkapin perasaanku pada Dewa. Sekarang aja masih belum hafal, dari kemarin kak Arthur juga mengajakku pergi mulu, saat aku ingin mengajakmu ke kantin."
"Kenapa Sha, apa aku ada salah."
"Enggak, kau tak ada salah. Aku juga tak tahu kenapa kakak bisa begitu."
"Kau ini mau kemana?"
"Aku mau ketemu Arthur dirumahmu, aku hanya ingin bertanya kenapa dia diam."
"Hei tunggu, kau kenapa sampai segitunya pada kakakku. Hayo ceritakan."
"A-aku hanya berteman."
__ADS_1
"Tapi itu bukan perasaan teman menurutku, Nan. Jangan bilang kamu?"