Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Mencari Sharen


__ADS_3

Dimas heran dengan kelakuan Arthur yang tak biasa, ia pun mengeluarkan celetukan.


"Kau menyukai gadis bar-bar itu."


"Ma-maksudmu."


"Iya itu Kinan."


"Ya enggaklah."


"Suka juga nggak apa bro, dia juga cantik cuma ketularan adikmu."


"Sialan kau, Dim."


Tak lama,  Sha dan Kinan  kembali kekelas bersama Gery. Sedangkan Arthur daritadi hanya mengamati.  Dimas menggeleng heran dengan teman kulkasnya itu.


"Nanti jadi jerawat tau rasa lo, Arthur."


"Dasar sinting," Arthur berlalu menuju kelas diikuti Dimas.


Sedangkan di tempat lain.


Lelaki tampan yang sekarang  nampak mapan itu berkunjung di panti asuhan milik Bu Yuni. Ia ingat dulu bagaimana ia pertama kali di panti ini. Selain ingin bertemu dengan Ibu Yuni, dia juga ingin mencari gadis kecil nya yang ingin ia temui dia adalah Sha.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Maaf siapa ya."


"Apakah Ibu lupa, siapa kamu"


"Siapa nak. Maaf Ibu udah tua jadi pelupa."


"Ibu tetep cantik kok."


"Kamu bisa aja. Jadi kau siapa?"


"Aku Dewa, Bu."


"Dewa."


"Iya Bu, yang dulunya pendiam saat pertama disini."


"Dewa. Ini kamu nak. Ya Allah kamu sangat tampan,nak. Ibu sampai tak mengenalimu, sejak kau diadopsi orang itu. Di mana orangtua angkatmu nak."


"Orangtua angkatku udah meninggal, Bu . Mereka kecelakaan jadi Dewa sendiri  lagi."


"Kalau kamu nggak mau  sendiri, segeralah mencari pasangan  nak."


"Ini sedang mencari Bu."


"Siapa gadis beruntung itu."


"Sha."


"Sha. Sha putri dari tuan Marvel baratawijaya."


"Iya benar Bu, Dewa kesini untuk itu juga selain bertemu Ibu."


"Ini kamu coba kerumah Oma, Opa nya, karena mereka setahu Ibu, mereka dulu pamit pindah kemana gitu. Ibu lupa."


"Ini alamat rumah orangtua tuan Marvel."


"Makasih Bu, ini untuk keperluan Ibu dan anak-anak," Dewa memberikan amplop berisi uang.


"Kenapa kamu repot-repot nak. Kamu kunjungi saja, Ibu bahagia. Sehat selalu ya nak, semoga kamu segera bertemu Sha."


"Amin makasih Bu, doanya. Dewa pergi dulu, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, hati-hati nak."


Dewa masuk mobil mewahnya menuju kediaman Benardo tama baratwijaya. Sampai disana mobilnya diperiksa terlebih dahulu dan akhirnya diperbolehkan masuk. Dewa turun dari mobil lalu berjalan kerumah besar itu.


Tintong


Tintong

__ADS_1


"Selamat sore bik, tuan Arga ada?"


"Oh ada tuan, maaf dari siapa"


"Saya Dewa bilang saja begitu, Bik."


"Baik, tunggu sebentar tuan."


Bibik itu menuju kamar Ben yang ada di bawah, tak jauh dari ruang tamu.


Tok


Tok


"Iya bik, ada apa?"


"Ada yang ingin bertemu anda tuan."


"Siapa?"


"Katanya tuan Dewa."


"Dewa. Ya sudah suruh tunggu aja bik."


"Baik tuan."


Ben pun mengajak Bebi untuk menemui Dewa di ruang tamu.


"Siapa Dad?"


"Daddy juga nggak tahu sayang. Kita lihat aja."


Mereka pun keluar kamar dan menemui Dewa di ruang tamu.


"Selamat siang tuan dan nyonya Baratawijaya."


"Siang, maaf anda siapa ya."


"Saya Dewa, tuan. Teman Sha, dulu saya anak panti asuhan milik Bu Yuni. Lalu saya bertemu dengan  Sha di situ dan kami berteman. Saya ingin bertemu dengan Sha, apakah boleh."


"Di Singapura. Kebetulan sekali, tuan."


"Maksudnya kebetulan."


"Saya tinggal disana saat ini."


"Waw, kejutan sekali. Ini alamatnya, ngomong-ngomong kenapa kamu ingin  mencari Sha. Kalau hanya berteman tak mungkin kan," ucap Ben menyelidik.


"Em, saya ingin menikahinya."


"Apa!"  pekik keduanya.


Dewa tersenyum kikuk mendengar mereka terkejut dengan ucapannya. Tak lama Dewa berpamitan setelah mendapat alamat tempat tinggal Sha.


Pria tampan itu melajukan mobilnya menuju bandara agar segera sampai di Singapura bertemu calon istrinya.  Dewa tak menggunakan jasa pesawat umum namun ia menggunakan jet pribadinya.


Dua jam kemudian, Dewa sudah tiba di Singapura. Ia mengerahkan anak buahnya mencari keberadaan Sha. Dan tak lama ia mendapat telpon dari salah satu anak buahnya.


"Bos, gadis yang anda  cari berada di panti  asuhan tak jauh dari tempat anda."


"Oke thanks."


Dewa bergegas menuju tempat Sha , saat ia keluar dari mobil. Dia terpesona wajah cantik Sha.


"Kau tak berubah Sha cantik hati dan wajahmu."


Dewa berjalan menghampiri gadis yang ia cari.


"Ehem, permisi nona."


"Oh ya tuan. Ada apa?"


"Maaf apakah panti asuhan ini milik anda."


"Oh tidak tuan. Saya hanya membantu disini. Apakah anda ingin bertemu dengan pemiliknya. Biar saya panggil, tuan."


"Oh tidak usah. Saya ingin berteman dengan anda nona."

__ADS_1


"Haha, anda tak salah ngomong kan Om."


"What!"


"Kenapa Om, apa ada yang salah dengan ucapanku."


"Hei aku itu belum nikah, dan apakah wajahku setua itu."


"Lumayan."


"Hah."


Seketika Dewa melihat wajahnya di cermin yang ia simpan di saku celananya. Ia melihat tak terlalu tua amat. Dari kejauhan, Sha tertawa geli melihat Om-om yang ia isengin.


"Astaga, lucu banget sih om itu."


Tiba-tiba dari belakang ada seseorang menepuk bahunya.


"Astaga,  kau ngagetin aja, Nan."


"Kamu ngapain disini, maen petak umpet ikut dunk."


"Sialan  kau, lihat tuh di depan ada om-om pengen kenalan.  aku mending ya kabur dunk."


"Gila, Om-om itu maksudmu Sha. Tajir dan tampan gitu, Sha."


"Tapi aku nggak mau, gimana dunk."


"Ya sudah buat aku aja," ucap Kinan.


"Udah sana angkut aja."


Kinan sengaja ingin tahu reaksi sahabatnya itu  apakah jelaous atau tidak padanya. Nampak Kinan mengajak berkenalan dan sesekali mereka tertawa bersama. Sha  makin kesal karena Kinan tak juga balik, dia pun beranjak  pengen tahu apa yang dilakukan sahabatnya itu. Sha berjalan ke depan dan melihat Om itu dekat dengan Kinan padahal baru ketemu.


"Nan, pulang yuk," ajak Sha pada sahabatnya.


"Ayo aku antar," Dewa menawari.


"Tak perlu Om, kita jalan kaki aja."


"Udah Sha, kamu terima aja."


"Nggak ah, yuk pulang."


Sha dan Kinan akhirnya pulang berjalan kaki tapi Dewa tak membiarkan mereka jalan sendiri. Sha merasa ada yang ikuti lalu menoleh kebelakang bersamaan Kinan.


"Kenapa Om-om itu ngikutin kita ya, Sha."


"Tahu, udah biarin aja."


Sha dan Kinan makin mempercepat jalannya hingga tak sadar sudah di depan rumahnya. Dan Kinan tak sengaja menabrak tubuh seseorang.


"Arthur."


"Kalian kayak dikejar anjing aja."


"Ada apa?"


"Nggak apa,  ya udah aku balik dulu, Sha."


"Ayo aku antar."


"Nggak Arthur, aku balik dulu. Sampai jumpa lagi, Sha," seru Kinan.


"Oke see you."


Arthur yang penasaran pun mengikuti Kinan, Arthur yang tak tahan jika Kinan berjalan sendiri segera menarik tangan halus Kinan.


"Ayo masuk."


"Arthur."


Mereka pun masuk ke dalam mobil dan melajukan ke tempat Kinan. Tiba di depan rumah, saat akan masuk tangan Kinan di cekal oleh Arthur.


"Besok aku jemput."


Betapa terkejutnya  Kinan atas ucapan Arthur, ia melongo sampai Arthur tak terlihat.

__ADS_1


__ADS_2