Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Berlian terlupa


__ADS_3

Marvel menggendong tubuh Mami nya di atas ranjang lalu mengambil minyak di oleskan di hidung Mami. Kayla juga membantu mengoleskan di telapak kaki mertuanya. Tak lama  Bebi sadar, ia mengerjab-ngerjab melihat sekeliling.


"Vel, Kay. Kapan kalian datang," tanya nya sambil berusaha duduk


"15 menit yang lalu. Mami kenapa bisa pingsan, untung  Marvel dan Kayla datang tepat waktu."


"Mami menelpon Hilda tapi yang mengangkat Raka, kekasih Hilda. Mami  shock, karena tau sendiri dia dinyatakan meninggal."


"Apa!" pekik Marvel dan Kayla


"Huh, kalian ini kaget juga kan. Nah, Mami juga gitu. Mending kau sekarang coba telpon Hilda, Vel. Mami mimpi atau memang kenyataan."


"Iya Mi, bentar."


Marvel mengambil ponsel di saku celana lalu menelpon Hilda adeknya.


"Halo, assalamuaikum  Hil."


"Halo kak waalaikumsalam, tumben telpon. Gimana kabarnya?"


"Pengen aja, Kakak baik. Kamu gimana?"


"Aku juga baik kak, oh ya esok aku pulang ke rumah."


"Hah, yang bener Hil."


"Iya kak, pernahkah aku bohong. Oh ya siapkan mental kalian."


"Maksudnya Hil."


"Ada deh nanti juga tahu. Udah ya Kak, aku masih kerja nih. Assalamulaikum."


"Waalaikumsalam."


Marvel menutup telponnya memandang kearah Mami dan Kayla bergantian membuat keduanya penasaran.


"Ngomong apa dia, Vel," tanya Bebi penasaran


"Hilda besok pulang, siapkan mental," ucap Marvel berlalu membuat Mami dan Kayla mencerna omongannya.


"Apa!"


"Ih dasar anak nakal  Marvel, Vel maksudnya gimana?" teriak Bebi kesal pada putranya yang iseng


Di kamar, Marvel menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang lama tak ia tempati. Karena ia dan Kayla sudah ada rumah lebih besar berkat kerja kerasnya di bidang bengkel dan juga game.


Marvel melanjutkan kuliah sambil kerja dan weekend ia gunakan berkumpul dengan keluarga kecilnya. Marvel dan Kayla sengaja satu kampus agar tak jauh darinya dan tahu setiap apa yang dilakukan. Kini hot daddy itu nampak kelelahan, ia memejamkan mata tapi tak lama membuka matanya lagi karena bidadari  Kayla iseng balik padanya.


"Uluh ... uluh. Hot Daddy nya twin," cubit hidung mancung suaminya


"Aw, sayang. Jahil banget, sumpah aku ngantuk sayang."


"Ya sudah," ucap Kayla seraya berdiri namun tangannya di tarik olah Marvel


"Temani suami mu, ini sayang," Marvel memeluk Kayla erat agar tak pergi.


"Iya."


"Yang ikhlas dunk sayang, agar capeknya suami hilang."


"Apa hubungannya Paksu? udah tidur  dulu, ngomong kok  sambil tidur."


Di tempat lain, Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, Raka beberes untuk segera mengajak kekasihnya pulang. Saat ia akan mengajak pulang, terlihat kekasihnya sedang beberes. Hilda tak tau jika sedari tadi dipandang oleh Raka, karena keasyikan beberes peralatan.


Dan deheman membuyarkan Hilda untuk berhenti.

__ADS_1


"Ehem."


"Eh Kak, mau pulang."


"Nggak, nginep. Ya pulang sayang, ayo buruan kasihan Berlian."


"Cie, Hilda. So sweet," goda Meli


"Apaan sih kalian. Udah ayo pulang udah waktunya," ajak pada Meli dan Yanti


"Baik Bu Bos."


Hilda menyambar slingbag lalu keluar dari ruangan bersama teman-teman dan Raka. Sampai depan, Yanti dan Meli berpamitan berpisah di depan.


Saat akan masuk mobil, Hilda memberanikan diri bertanya.


"Kak, besok jadi pulang kan."


"Iya jadi sayang, kenapa kamu takut atau ada masalah apa sayang."


"Nggak gitu, tanya aja. Kalau jadi nanti aku siap-siap."


"Nggak usah dibawa barang-barangnya sayang. Cukup keperluan Berlian dan kamu saja yang penting."


"Baik kak."


"Ya udah kita pulang ya."


"Hem."


Sebelumnya, Raka mengajak Hilda untuk membeli makanan dan kebutuhan Berlian di toko sejenak. Setelah semua keperluan dan makanan sudah terbeli, Raka memacu kembali kendaraannya menuju rumah.


.....


Di rumah Hilda.


"Huuuuu, dasar ******. Bisanya tinggal di kampung ini."


"Eh tahu nggak Ibu-ibu, dia pindah kan gara-gara punya anak duluan. Dan pacarnya pasti nggak mau tanggung jawab makanya dia ke  kekampung kita, bikin nama jelek aja," ucap salah satu Ibu-Ibu.


"Maaf Bu, jujur saya marah karena kalian menghakimi calon istri saya tanpa tahu mulanya."


"Apa, calon istri. Tuan Rayan buta ya, cewek ini nggak bener."


"Anda itu siapa, berani mengatai calon istri saya," ucap Raka lantang


"Saya kan cerita apa adanya."


"Saya bisa seret anda ke meja hijau jika ikut campur urusan pribadi saya."


"Udah kak, nggak usah diladenin."


"Dasar wanita sialan, nggak didik orangtuamu ya."


Ucapan seorang Ibu itu membuat Hilda begitu marah, ia paling tak suka jika masalahnya disangkut pautkan dengan orangruanya yang ia sayangi. Sekejab tangan ibu itu di pelintir oleh Hilda.


"Aw."


"Hei tolong aku," ringis nya


"Denger ya wanita tua, saya paling nggak suka masalah dikaitkan dengan orangtua. Saya benci itu dan anda perlu tahu, saya tak sepicik putri anda yang berani menculik anak saya, paham," tegasnya menatap tajam serta melepas tangan wanita itu.


Seketika nyali Ibu itu menciut dan berlalu meninggalkan semua.  Setelah kepergian wanita itu, Raka mendekat dan Ibu yang lain bubar. Raka terharu dengan apa yang dia lakukan pada orangtua, Raka mencium puncak kepala kekasihnya hangat.


Kemudian, Hilda berhambur menggendong bayi mungilnya.

__ADS_1


"Maafin Mami jika telat pulangnya ya," ucap Hilda sambil menciumi bayi mungil itu


"Ayo kak masuk dulu."


"Iya."


Raka masuk ke dalam lalu mengambil alih gendongan pada Hilda.


"Sini sayang, biar aku gendong Berlian."


"Iya kak, aku mandi dulu."


"Iya, yang wangi biar aku makin kesengsem."


"Makin gombal kamu kak."


Tanpa terasa waktu cepat berlalu,  Raka dan Hilda bermain dengan bayi mereka, Pukul 8 malam Raka pamit.


"Sayang, aku pulang dulu. Nanti pagi bersiaplah, aku akan jemput."


"Hai sayangnya Papi, Papi pulang dulu ya," ucap lembut Raka pada bayinya mencium lembut pipi.


"Boleh cium Mami nya nggak," goda Raka pada Hilda


"Apaan sih," Hilda menyunggingkan senyum


"Ya udah assalamulaikum."


"Waalaikumsalam."


"Hati-hati kak," Hilda sambil melambaikan tangan


Raka mengacungkan jempol sambil tersenyum manis ke arahnya dan melajukan kendaraannya menuju rumah.


Esoknya, Hilda pagi sekali membangunkan Lia untuk bersiap.


"Mbak, ayo bangun. Nanti kita telat."


Lia terkejut Hilda sudah ada di depannya, ia bangun pelan-pelan dan beranjak dari kasurnya.


"Seneng banget ya, mau pulang."


"Iya dunk  mbak. Apalagi sama doi."


"Cie  ... akhirnya kebahagiaanmu menjemput."


"Iya mbak, alhamdulillah."


Tak lama terdengar suara klakson, membuat kedua perempuan itu gelagapan bingung.


"Aduh, kak Raka cepet amat sih datengnya. Buruan mbak."


"Iya."


Setelah memastikan tak ada yang ketinggalan, beberapa saat Hilda dan Lia keluar dari kamar dan menuju depan menemui Raka.


"Pagi Kak," sapa Hilda


"Pagi sayang, udah nggak ada yang ketinggalan?"


"Udah kak."


"Beneran," tanya Raka memastikan


"Kalau Berlian."

__ADS_1


Hilda melihat di gendongan tak ada bayi itu,  sontak ia saling pandang pada Lia, dan menepuk jidat.


"Oh my god."


__ADS_2