
Bebi berlari menuju ruangan dokter untuk melihat keadaan menantunya.
"Dokter, tolong periksa menantu saya. Sekilas saya lihat ada pergerakan di tangannya."
"Baik nyonya, mari."
Dokter dan perawat bergegas melihat keadaan Kayla mereka pun masuk ruang icu tempat Kayla. Ben yang baru saja datang dari kantin mengerutkan dahi melihat dokter masuk ruangan jam segini.
"Ada apa sayang," tanya Ben pada istrinya.
"Tangan Kayla tadi bergerak, Dad."
"Alhamdulillah, semoga benar sayang."
Dan tak lama dokter keluar menghampiri mereka.
"Selamat nyonya, tuan. Nona Kayla akan segera pulih, sungguh keajaiban. Mungkin satu jam lagi dia akan siuman segera."
"Alhamdulillah makasih dokter."
"Sama-sama kami permisi."
Saat Bebi akan memencet ponsel, Ben tahu yang ditelpon siap ia pun mencegahnya.
"Jangan, biar kejutan buat anak nakal itu."
"Kau itu suka sekali menggodanya."
"Siapa suruh kayak orang gila."
"Eh denger ya bambang tamvanku, kalau kau di posisi Marvel pasti sama, kan."
"He .... sayang. Tapi aku nggak segitunya kali."
"Tahu ah ngeles aja. Kita ke ruang bayi, yuk."
"Come on."
Saat akan ke ruang bayi mereka memang tak bisa melihat dari dekat karena jam besuk sudah tutup.
"Namanya siapa ya Dad, aku kok lupa nanyain pada Marvel."
"Tahu sayang, nanti kalau dia kesini."
Ke esokan harinya.
Reyhan, Dewi bersama Viona dan Alvin datang. Mereka menghampiri Bebi dan Ben yang sedang terlelap.
"Hem, lihat nih Ma. Besan nggak tahu diri udah siang ngebo pakai pelukan segala," celetuk Reyhan.
Ben mendengar suara tak asing membuatnya bangun, ia mengucek mata.
"Astaga, sialan kau Rey. Jam berapa ini udah kesini."
"Eh bos lihat jam tangan mahalmu."
Ben terkekeh ternyata sudah pukul 7 pagi. Ia pun membangunkan istrinya.
"Sayang, ayo bangun. Ada besan kita tuh."
"Em, hah. Kalian udah disini aja. Duh Dad, memalukan kita baru bangun."
"He ... udah nggak apa Ra, masih cantik kok," ucap Dewi menahan tawa.
"Aish, kau itu. Ayo Dad. Kita mandi dulu yuk."
"Oke, bidadariku. Kini giliran kalian kita mandi dulu," ucpa Ben dan menggandeng tangan istrinya pergi.
"Thanks bos."
Setelah kepergian Bebi dan Ben, Reyhan lupa menanyakan keadaan Kayla putrinya. Ia menepuk jidat seraya lupa dengan hal itu.
"Kenapa Pa," tanya Dewi istrinya.
__ADS_1
"Aku lupa nanyain keadaan Kayla, Ma."
"Eh iya ya."
"Huh, sungguh pasangan ideal," celetuk Alvin membuat Viona tertawa geli.
Tak lama, dokter datang bebarengan dengan Marvel yang baru saja datang bersama para sahabat.
"Assalamualaikum Pa," Marvel mencium punggung tangan mertuanya.
"Waalaikumsalam. Gimana kabarmu Vel, kau tampak kacau lagi."
"Iya seperti biasa Om, kak orang gila," Willi menimpali.
"Sialan kau."
"Udah, masih ribut aja kalian."
"Mama apa kabar, dan kamu Vin, Vi?" tanya Marvel.
"Kami baik, Vel."
"Nanti kita mampir ke rumah ya, lihat twins. Oh ya bayimu cowok atau cewek , Mama mau lihat."
"Alhamdulillah cowok Ma, nanti Marvel antar."
"Alhamdulillah, lalu kau tahu keadaan istrimu sekarang."
"Marvel belum tahu, yang tahu Mami sama Daddy. Marvel baru dateng, Ma."
"Eh iya ya."
Dan keluarlah dokter dari ruangan Kayla, lalu menghampiri mereka.
"Selamat pagi tuan, nyonya. Saya dokter yang menangani pasien nona Kayla. Alhamdulillah sungguh keajaiban nona Kayla sudah sadar sejak tadi malam. Nanti kami akan pindahkan ke kamar rawat inap biasa."
"Alhamdulillah."
"Apa! Sejak malam," tanya mereka saling pandang bingung.
"Terimakasih dokter."
Marvel seketika sujud syukur mendengar pernyataan dokter itu, para sahabat terharu atas perjuangan hidup Marvel dan Kayla yang banyak rintangan tapi mereka bisa melewatinya.
Muncul dari belakang mereka pasangan paruh baya dan masih keren menghampiri.
"Hai, ada apa ini?"
Semua seketika menatap kearah keduanya, mereka berdua saling pandang dan mengedikkan bahu.
"Em, ada apa ya kok lihatnya kita kayak mau makan orang," tanya Bebi pelan.
"Emang mau makan orang."
"Siapa?"
"Kalian."
"Astaga, emang kita salah apa?"
"Salahmu kenapa tak kasihtahu kami, kalau Kayla udah sadar."
"Heee... sorry kita lupa."
"Apa!" pekik semua.
Beberapa menit kemudian, perawat memindahkan Kayla ke ruang rawat vvip. Mereka mengikuti kemana Kayla dibawa. Setelah sampai di ruang vvip, Marvel berhambur memeluk istrinya.
"Sayang, akhirnya kau sadar."
"Emang aku berapa lama disini."
"5 hari. Itu membuatku kacau lagi seperti orang gila."
__ADS_1
"Pantes bulu kumis kamu ada, nanti dicukur ya."
"Iya, aku kacau kalau kamu kaya gini sayang."
"Iya maaf. Apa maafku kurang hem."
Belum sampai dijawab, sudah ada nyinyiran dari sahabatnya.
"Udah nanti lagi, masih ada kita juga. Bikin iri."
"Makanya buruan nikah, mau sampek kapan bujang lapuk."
"Sialan kau, Vel. Lihat aja nanti bakal tahu kapan nikahnya."
"Masih kapan aja, bangga."
"Huh, dasar emang temen nggak ada akhlak ini."
"Udah stop debatnya ya. Kini giliran Papa Mama yang mendekat, kau minggir dulu, Vel."
"Hahahahhhaa rasain kau, Vel."
Marvel melengos dan pergi dari ranjang istrinya beralih di sofa, ia pun memilih bertanya tentang perusahaan pada Daddy nya. Sedangkan para wanita mendekat di ranjang Kayla.
"Nak, apa yang kamu rasain," tanya Dewi.
"Kayla mendingan Ma, daripada kemarin. Rasanya kemarin ada yang ingin membawa ke suatu tempat namun Marvel memanggilku, Ma."
"Sukurlah kau tak ikut orang itu."
"Oh ya Vel, kamu sudah kasih nama siapa anakmu itu," tanya Dewi.
"Sudah Ma, namanya."
"Siap Vel, aduh bikin penasaran aja."
"Ayo tebak siapa."
"Kamu ini malah ngerjain orangtua, Vel," Reyhan tak terima.
"Iya-iya Pa, Marvel kasih nama Alexandro Baratawijaya."
"Waw, keren pasti nanti kayak kau, Vel."
"Ya jelaslah aku yang tanam masak tumbuh kayak kau, Wil."
"Hahahahaha."
Empat hari kemudian, Kayla dan Marvel pulang disambut para anak panti asuhan yang sengaja diundang untuk mendoakan kelahiran Alex.
"Alhamdulillah, makasih Vel."
"Makasih untuk."
"Kejutannya."
"Sama-sama. Tapi ini ide Mami sayang, ya sudah kan baik, aku ikut aja."
Acara penyambutan dan doa bersama berjalan lancar kemudian mereka berbagi sedikit rejeki pada anak-anak panti. Keluarga Baratawijaya memang terkenal kaya dan dermawan tak jarang semua memuji dan mendoakan yang terbaik.
Satu bulan sesudah kelahiran Alexandro, keluarga Baratawijaya dan Erik mengadakan pesta megah kembali untuk kali ini mereka tak menerima sumbangan atau kado dalam bentuk apapun. Semua bahagia bersuka cita menyaksikan pernikahan Dira dan Willi.
"Saya terima nikah dan kawinnya Nadira baratawijaya dengan maskawin tersebut tunai."
"Gimana saksi?"
"Sah."
"Sah."
Akhirya keduanya sah menyandang status suami istri, Willi bahagia akhirnya bisa menikahi pujaan hatinya dari masa SMA itu dan dia yang paling terakhir menikah diantara para sahabatnya.
Pesta pernikahan di gelar sehari setelah acara akad nikah mereka.
__ADS_1
"Love you Nadira."
"Laove you too, kak Willi."