Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Serahkan Ben


__ADS_3

"Halo siapa ini?"


"Hai sayangku, masih ingat denganku," tanya seseorang wanita di sebrang telepon


"Siapa kau, jangan basa basi. Atau aku tutup telpon ini."


"Sttt, jangan buru-buru sayang. Dengar ya, serahkan Ben putramu itu."


"Hah, buat apa putraku, untukmu. Dasar gila."


Tut


Panggilan diputus sepihak oleh Brian, ia sudah tak ingin mengobrol lebih panjang pada wanita sialan itu.


"Ada apa Bri? wajahmu nampak tegang," tanya Johan


"Tak apa. Oh ya, enaknya siapa ya nama putriku ini," Brian mencoba mengalihkan perhatian


"Marshella baratawijaya gimana," ucap Nadia


"Kelihatannya cukup cantik, nanti aku tanya sama Istriku. Oh ya, kapan Nadia melahirkan, Jo."


"Bulan depan, kau harus memberiku cuti."


"Oke-oke. Siap."


"Ya udah Bri, kita pulang. Maaf mengganggu istri dan putrimu. Tapi untung mereka tak bangun."


"Iya tak apa."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Setelah kepergian Johan dan Nadia buru-buru, Brian mengunci ruangannya. Ia ingin mengistirahatkan badannya yang mulai lelah karena sedari tadi menerima tamu. Ia mulai membersihkan diri sejenak lalu, mulai ke alam mimpi di brankar sebelah istri dan putrinya.


.....


Paginya, terdengar ketukan dari ruangannya membuat Brian terbangun. Ia kesal, karena baru beberapa jam sudah ada yang mengganggu. Saat membuka pintu, ia terkejut ternyata duo putra tampannya yang datang


"Selamat pagi Dafdy," seru kedua bocah tersebut


"Pagi boy, kalian sama siapa."


"Kita diantar sopir, Dad, Oh ya boleh kita masuk," ucap Ben


"Oh iya, ayo masuk Daddy sampai lupa. Ini kalian bawa apa," tunjuk Brian pada kantong yang di bawa Ben dan Axel


"Oh ini sarapan kita dan Daddy."


"Tahu aja, Daddy belum makan. Daddy bangunin Bunda dulu ya."


Saat pria tampan itu hendak membangunkan istri nampak wanita cantik itu menyahut


"Tak perlu, Dad. Kita udah bangun."


"Pagi Bun," seru keduanya


"Pagi boy, kalian makanlah dulu."


"Lalu, Bunda udah makan," tanya Axel


"Belum, nak. mungkin bentar lagi kesini perawatnya."


"Udah, kalian makan dulu ya."


"Baik Dad."


Tak lama, ada ketukan dari arah pintu nampak dua perawat masuk kedalam ruangan.


"Permisi, selamat pagi."


"Pagi, Sus."


"Saya periksa dulu ya, nona."


"Silahkan sus."


15 menit kemudian Perawat sudah selesai memeriksa bayi dan Ayunda.


"Sudah selesai nona, bayinya sehat juga Ibunya. Nanti siang dokter akan kesini memeriksa kembali."


"Oh iya nona, ini makan pagi nya."

__ADS_1


"Terimakasih, sus."


"Sama-sama. Kami permisi dulu, tuan."


"Iya sus, terimakasih."


Setelah perawat itu keluar ruangan, Daddy Brian mulai menyuapi istri tercinta.


"Dad, aku bisa sendiri. Kau juga makan ya."


"Udah, biar aku aja sayang nyuapin kamu, kapan lagi kayak begini."


"Cie," seru dua bocah kecil itu


"Udah, mana nanti kesedak," ujar Brian


"Siap bos."


Usai makna bersama dua bocq yqmpan itu beramitan beranfkat sekolah.


"Adek. Adek siapa ya namanya Bunda?"


"Oh iya, lupa kasih tahu kalian. Nama Adek Marshella baratawijaya. Bagaqman menurut kalian?"


"Cantik Dad, seperti adek. Sella kita sekolah dulu ya, sampai ketemu nanti," pamit Ben berganti Axel.


"Bunda, kita bernagkat ya cepet pulag."


"Iya sayang, hati-hati."


"Kami pamit juga Dad," ucap keduanya


"Iya boy, hati-hati."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Sedangkan Brian berpamitan pukul 8 pagi.


"Sayang, aku berangkat dulu ya. Nanti Nadia kesini."


"Nggak bisa nggak apa kok."


"Ih percaya diri sekali anda tuan Brian."


"Iyalah. Sella sayangnya Daddy. Daddy berangkat kerja buat Sella. Nggak boleh rewel ya," kecup kening pada Sella bayi cantiknya


Brian mengecup kening istri dan keluar dari ruangan. Ia tak lupa berpesan pada para bodyguard 24 jam menjaga putri dan istrinya.


Di tempat lain sebuah mobil tengah berjaga tak jauh dari sekolah Axel dan Ben.


"Halo bos."


"Masih lama kah."


"Seperti nya bos. Ini masih jam 12."


"Huh, ya sudah tunggu sampai mereka keluar dan agak sepi baru bekap dia."


"Siap bos."


Di sisi lain, Ben dan Axel baru saja keluar dari gerbang. Mereka terlihat membeli sebuah jajan di pinggir jalan. Dari kejauhan sudah bersiap melakuakn aksinya.


"Kau keluarlah, sesuai perintah."


"Siap."


Dua orang berbadan tegap keluar dari mobil tersebut lalu melangkahkan kaki menuju dua bocah tampan di dekat pintu gerbang sekolah.


Ben melihat dua orang berbadan tegap napk berjaln kearah mereka merasa curiga


"Bersiap Xel, ada orang aneh depan kita," bisik Ben pada adiknya


"Siap kak."


Tak lama, dua orang itu mendekat tapi Ben menendangnya


Brug


"Sialan kau anak kecil."


"Serang dia."

__ADS_1


Dengan tidak malunya, dua orang berbadan tegap menyerang dua bocah tampan berusia di bawah umur.


Bugh


Bugh


"Aw."


Tak lama, kedua orang itu kalah dan kabur akibat bogeman dua bocah tampan itu.


"Kabur," seru keduanya


"Hahhahahahha, tos dulu dunk," ucap Ben pada Axel


Muncullah sopir keluarga menjemput Axel dan Ben, kemudian turun


"Maaf tuan muda, tadi bannya pecah."


"Oke tak masalah. Ayo pak."


"Baik tuan muda."


Sedangkan para preman itu mencoba menghubungi seseorang


"Bos, maaf kami gagal, mereka berdua pandai kelahi."


"Hah, kalian itu kalah sama anak kecil. Astaga, gila ya," bentaknya


Telpon di tutup sepihak oleh orang itu, dan beralih pada temannya yang lain.


"Aku butuh bantuanmu."


"Kita ketemu di kafe biasa."


"Oke."


Di tempat lain tepatmya di kantor, Brian tersenyum melihat dua lelaki tampannya bisa melawan orang jahat.


"Dua cowok kesayanganku, kini makin keren dan kuat menghadapi para penjahat."


"Siapa Bri?"


"Siapa lagi kalau bukan Ben dan Axel."


"Oh iya lupa aku."


Di kafe, Vera bertemu dengan Vero mantan kekasihnya yang seorang mafia.


"Hai baby, apa kabarmu? Kau makin cantik dan sexy."


"Nggak usah basa basi, aku butuh bantuanmu."


"Buat apa, hem."


"Aku ingin menghancurkan Brian."


"Kau itu bukan menghancurkan tapi lebih tepatnya kesal karena Brian menolakmu bukan," ucapnya penuh selidik


"Sok tahu. Kamu mau bantu atau tidak."


"Iya aku bantu, tapi ada syaratnya."


"Apa?"


Vero membisikkan sesuatu di telinga Vera dan cewek itu terkejut atas syarat yang di berikan.


"Emangnya nggak ada syarat lain."


"Nggak ada, hanya itu kalau setuju."


Vera nampak menimang pernyataan dari Vero , dia takut malah dia terjebak dalam lingkarannya sendiri.


"Terserah kau saja," ucap Vero berbalik badan


Vera akhirnya menyetujui


"Iya, aku setuju dengan syaratmu."


"Oke, deal."


Setelah pertemuan di kafe, keduanya lanjut di suatu tempat melepaskan penat.


Usai bermalam, Vero buru-buru meninggalkan Vera seorang diri di hotel setelah mendapat telepon dari seseorang. Vero hanya meninggalkan sepucuk surat dan sebuah black card. Saat Vera terbangun ia melihat ada secarik kertas

__ADS_1


"Brengsek."


__ADS_2