Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Rayan atau Raka


__ADS_3

"Maaf nona. Saya permisi," ucap Rayan berlalu


"Ta-tapi kau."


Ucapan terpotong saat lelaki mirip Raka sudah  pergi dari hadapannya. Ia tak mau terlalu berharap jika Raka masih hidup, ia memilih kembali berbelanja tujuan utamanya.


Setelah setengah jam, ia buru-buru kembali kerumah. Sampai di rumah, Hilda menaruh belnjaannya di dapur lalu beralih ke kamar melihat buah hatinya. Saat membuka pintu ternyata sudah bangun dan bermain bersama Lia.


"Hai sayangnya Mami," sapa pada bayi mungilnya


"Hai Mami," Lia menirukan gaya bicara anak kecil


"Oh ya Li, kamu tunggu ya. Aku mau mandi dulu baru kita masak."


"Siap nona."


Hilda bergegas mandi karena tubuhnya terasa lengket, 15 menit keudian ia sudah segar kembali dan semakin cantik. Hilda menggendong  Berlian dan mereka turun ke dapur, saat keduanya masak bayi mungil di taruh di stroller. Dan tak butuh waktu lama, keduanya sudah selesai masak, kemudian ia menata makanan tersebut ke dalam box untuk di bagikan kepada tetangga.


"Taraaaa .... sudah siap."


"Ya udah kita jalan yuk, Li.  Mumpung masih jam segini."


"Baik nona."


Hilda membawa beberapa kotak makan sedangkan Lia mendorong bayi Berlian di stroller, mereka berjalan mulai dari tetangga dekat hingga terakhir di tempat dokter Sarah.


"Huh, ini yang terakhir Li. Semangat," seru Hilda


"Iya nona."


Akhirnya mereka sampai di depan rumah agak besar milik dokter Sarah, Hilda mulai memencet bel rumah.


Tintong


Tintong


Dan akhirnya di buka oleh asisten rumah tangganya.


"Selamat siang Bu, saya warga baru di depan sana. Saya Hilda, ini ada makananan untuk Dokter sebagai perkenalan saya," tutur Hilda lembut


"Baik nona, saya panggilkan dokter Sarah dulu ya. Tunggu sebentar."


"Baik Bu."


Tak lama, muncul wanita paruh baya masih cantik dan anggun kira-kira sebaya Mami nya. Ia menghampiri Hilda dengan senyum manis.


"Siang nona, saya dokter Sarah. Bisa dibantu?"


"Saya Hilda, dokter, warga baru di sini. Saya ada sedikit makanan untuk dokter sebagai perkenalan saya."


"Wah terimakasih Hilda, kamu nggak usah formal padaku. Panggil Bunda saja, sepertinya kamu masih belia."


"Iya Dok, eh Bunda. Saya masih SMA tapi saya harus menafkahi buah hati yang masih bayi."


"Oh begitu, tetap semangat Hil."


Tiba-tiba, ada pemuda tampan baru saja pulang dari kuliahnya, betapa terkejutnya Lia dan Hilda melihat pria itu.


"Assalamulaikum, Bun."


"Waalaikumsalam nak. Baru pulang ya."

__ADS_1


"Iya Bun. Oh lagi ada," ucap nya terpotong saat tahu cewek yang tadi ia tak sengaja tabrak dekat pasar.


"Hai, kita ketemu lagi."


"Kau kenal Hilda, Ray."


"Tadi tak sengaja nabrak dia dekat pasar, Bun," ucapnya sambil melirik Hilda yang nampak gugup


"Oh gitu, ya udah kamu istirahat gih."


"Siap Bun."


Entah mengapa hati Rayan ingin mengetahui siapa cewek di depan nya ia merasa tak asing tapi dimana pikirnya.


Sedangkan Sarah, melihat keduanya seperti ada sesuatu yang tak bisa dibohongi dari sorot mata mereka.


"Maaf ya Hil, tadi Rayan putra Bunda dia baru saja pulang kuliah."


"Oh ya Bun,  Tadi itu Rayan bukan Raka."


"Bukan. Memangnya kenapa Hil?"


"Tidak apa-apa Bun, hanya mirip seseorang  Bun. Ya udah kami pamit dulu ya Bun," Hilda menyalami Sarah


"Iya nak, hati-hati."


Hilda mengangguk tersenyum lalu berjalan menuju pulang, dari atas balkon Rayan mengamati perempuan cantik itu. Ia berniat akan mencari tahu siapa cewek tadi ia sungguh terpesona atas kelembutannya.


Esoknya, pagi-pagi sekali Hilda pamit pada Lia untuk melamar pekerjaan.


"Lia, doakan aku di terima ya."


"Iya nona, saya doakan ketrima."


"Iya nona, hati-hati."


Saat berjalan menuju tempat tujuan, tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di depannya. Hilda yang masih hafal gerakan bela dirinya sudah siap-siap menyerang jika memang orang jahat.


Dan saat seseorang turun dari mobil ia terkejut ternyata Rayan. Rayan tersenyum manis menghampiri Hilda, Hilda gugup pandangan lelaki didepannya sungguh persis kekasihnya Raka. Ia berusaha acuh agar tak gugup menghadapi pria itu.


"Pagi Hil," sapa Rayan pada Hilda


Hilda yang gugup tak mau menatap wajahnya.


"A-aku mau pergi."


"Aku antar ya."


"Enggak, aku bisa jalan sendiri," ucapnya berlalu namun tangannya diraih Rayan membuat ia terhenti


"Aku akan mengantarmu, kau nggak takut di begal."


"Nggak, aku miskin ngapain dibegal."


"Tapi aku khawatir," ucap Raya lalu mengajaknya masuk mobil


"Hah."


Saat di mobil, Rayan sesekali mencuri pandang wajah cantik ibu satu anak itu dengan tatapan penuh arti.


"Kamu mau kemana, Hil."

__ADS_1


"Aku turun disitu saja," tunjuk Hilda


Rayan tersenyum lalu menepikan mobil, Rayan turun dan membukakan pintu untuk Hilda.


"Makasih."


"Kamu melamar di toko ini, Hil."


"Iya."


"Oh gitu ya sudah, nanti pulang jam berapa."


"Nggak tau, udah sana pergi," usir Hilda karena ia grogi


Rayan menggeleng kepala heran melihat tingkah perempuan yng baru kenal kemarin tapi ia sudah terpukau.


Hilda masuk toko kue tersebut melamar sebagai pramuniaga.


"Selamat pagi nona."


"Pagi, bisa dibantu nona."


"Saya mau melamar pekerjaan disini, adakah lowongannya."


"Oh, untung masih ada satu nona. Kalau kamu berkenan silahkan mulai bekerja sekarang."


"Beneran nona. terimakasih," ucap syukur Hilda  karena ia tak menunggu lama  mendapat pekerjaan


"Iya nona. Perkenalkan saya spv disini nama saya Seli."


"Saya Hilda kak."


"Selamat bekerja di toko ini ya, Hil. Semoga betah."


"Iya kak, makasih."


"Mari aku kenalkan yang lain dan apa saja kerjaanmu."


"Iya kak."


Setelah perkenalan dan  bekerja tak terasa hari mulai sore, pukul 5 sore semua  satu persatu pulang. Ada sekitar 100 pegawai di toko itu dengan bidang masing-masing. Saat Hilda bersama teman barunya Yanti dan Meli di depan toko ada seorang pemuda menghampiri mereka. Mei dan Yanti terkejut dia ingin mengatakan sesuatu tapi ditahan oleh Rayan.


"Kau, ngapain kesini. Toko udah tutup," ucap ketus Hilda


"Galak amat neng, aku mau jemput kamu."


Ketiga perempuan itu terkejut saat Rayan berkata seperti itu, Yanti dan Meli heran bagaimana Hilda bisa mengenal Rayan. Mereka akan bertanya pada Hilda esoknya tentang semua.


"Udah sana bareng," Meli menyenggol lengan Hilda


"Nggak, aku nggak mau. Kita jalan bareng aja, yuk," ajak Hilda berlalu meninggalkan Rayan.


Rayan mengulas senyuman, bagaimana bisa ia ditolak cewek dan baru kali ini. Biasanya cewek yang akan mengejar  ini malah sebaliknya.


Akhirny Hilda sampai juga di depan rumahnya, ia merasa ada yang mengikuti dan menoleh kebelakang. Benar saja ada seseorang  di mobil berhenti, Hilda mengamati siapa sosok itu ternyata.


"Kau."


"Iya Hil, maaf aku mengikutimu. Aku takut kau di begal."


Hilda mengangguk dan berbalik badan, saat akan pergi tangan kekar meraih tangannya.

__ADS_1


"Ijinkan aku berteman denganmu."


__ADS_2