Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Semangat


__ADS_3

Di tempat lain seorang wanita paruh sedang mengganti infus pada seorang pemuda tampan. wanita itu kebetulan seorang dokter di kampung itu beberapa waktu lalu ia menemukan pemuda tak jauh dari puing-puing pesawat tersangkut pohon. Awalnya ia mengira pemuda itu sudah tewas namun setelah memeriksa denyut nadi ternyata masih hidup, ia membawa kerumah kebetulan alat-alat di rumah lumayan lengkap karena dulunya ia praktik d kota.


Setelah selesai mengurus pemuda itu, ia kembali praktik di kampungnya.  Dan berpesan pada asisten rumah tangganya.


"Mbok, Sarah kerja dulu. Nanti kalau ada apa-apa telpon ya. Titip anak itu."


"Baik, nyonya."


Sarah sudah banyak membantu banyak warga yang kesusahan, sehingga di kampung ia di segani. Statusnya janda banyak menyukainya namun tak dihiraukan semenjak suami dan putranya meninggal 4 tahun  kecelakaan. Sekarang wanita itu hanya fokus pada pekerjaan dan mengurus pemuda yang ditemukannya.


Sesaat setelah Sarah berangkat kerja, tiba-tiba pemuda tampan itu membuka mata ia melihat sekeliling dan berusaha bangun  bersandar. Asisten rumah tangga Sarah kebetulan akan menaruh bunga di kamar, ia terkejut mendapati pemuda itu bangun.


"A-aden sudah sadar," ucap gelagapan


"Anda siapa, dan ini dimana?"


"Saya asisten rumah tangga di sini den. Dan aden apakah ingat namanya."


"Saya lupa bik, saya tak ingat apapun."


"Ya sudah tak usah dipaksakan, den. Ini minumlah dulu," Bibik memberikan segelas air putih


"Makasih bik."


"Aden disini dulu, saya akan mengabari nyonya jika sudah sadar."


"Baik bik."


Bibik itu pun keluar dari kamar lalu menghubungi Sarah.


"Halo assalamulaikum nyonya."


"Waalaikumsalam bik, iya ada apa?"


"Begini nyonya, pemuda itu sudah bangun baru saja. Tapi dia lupa ingatan."


"Baiklah bik, dan siapkan bubur untuknya ya."


"Iya nyonya. Assalamualaikum."


"Waaikumsalam."


Dokter Sarah melihat daftar pasien masih ada dua segera memanggilnya. Tak butuh lama setelah selesai praktik, Sarah sampai di rumah. Sarah masuk rumah lalu ke  kamar pemuda itu dan  mengetuknya terlebih dahulu.


Tok


Tok


"Masuk."


Nampak wanita paruh baya datang menghampirinya.


"Assalamualaikum nak. Bagaimana keadaanmu " tanya nya lembut.


"Waalaikumsalam Bu. Saya lebih baik. Sebelumnya anda siapa dan kenapa saya bisa di sini?" tanya ingin tahu


"Kau tak usah formal padaku nak, anggap saja saya ibumu saja. Jadi begini, Ibu menemukanmu di dekat puing-puing pesawat  tersangkut di pohon waktu itu. Ibu kira kamu meninggal ternyata masih ada denyut nadi lalu, Ibu membawamu ke rumah. Kebetulan Ibu seorang dokter jadi bisa mengobatimu. Apakah kamu ingat namamu, aku."

__ADS_1


"Aku lupa Bu, aku lupa semua."


"Baiklah Ibu berfiķir kamu amnesia. Coba kamu ingat dulu sebentar tapi jangan dipaksa."


Pemuda itu menuruti perkataan Sarah, ia mencoba mengingat semua terlintas ada seseorang yang tersenyum tapi wajahnya samar.


"Aku hanya mengingat samar perempuan tersenyum, Bu."


"Baiklah jangan dipaksa. Ini makanlah dulu, setelah itu minumlah obat diatas meja."


"Ingatanmu akan kembali karena hanya sementara amnesianya, nak."


"Baik, terimakasih sebelumnya Bu. Makasih sudah menolongku."


"Oh ya Ibu sampai lupa, ini Ibu temukan di saku celana mu waktu itu," Sarah memberikan sebuah kotak berisi liontin inisialnya dengan seseorang.


"Terimakasih Bu."


Sarah mengangguk dan keluar dari kamar sedangkan Pemuda itu menatap kalung liontin itu.


"Siapa pemilik ini," tanya pada diri sendiri.


Di sisi lain, Hari ini keluarga Baratawijaya mengadakan acara tujuh bulanan Hilda. Ben hanya mengundang kerabat dan juga sahabat terdekat. Sebelum acara di mulai Hilda masih setia di kamarnya, ia menatap cermin dan melihat perut buncitnya. Ia berharap setelah kepergian Raka, dia bisa bangkit dan semangat lagi.


"Semangat Hilda," ucapnya menyemangati sendiri


Dan sebuah ketukan dari pintu kamar terdengar.


Tok


Tok


"Masuk."


"Baru aja, oh ya ayo turun mau dimulai tuh."


"Em iya."


"Hil, yang sabar ya. Kita tahu ini berat buat kamu tapi ada yang lebih penting lagi yaitu calon anak kamu. Kamu harus tetap semangat ok. Ada kami disini, kamu nggak sendirian," tutur Ica


"Iya Hil, benar kata Ica. Kita akan selalu ada buat kamu. Jadi tetap semangat, kita turun yuk," ajak Nana.


"Oke, come on."


Ketiganya turun dan mengikuti acara pengajian sampai dengan selesai. Arga dan Ara bahagia melihat Hilda berangsur membaik. Alden dan Yasmine juga merasakan hal yang sama jika Hilda kembali meski tak seratus persen.


........


Tiga bulan kemudian, pemuda yang diberi nama Rayan oleh Sarah tiba-tiba pagi sekali ia merasakan perutnya sakit tak tertahankan. ia coba buang air besar namun ta juga keluar malah amkin sakit sesaat rasa sakit itu hilang dan kembali lagi. Ia pun menelpon Sarah untuk memeriksanya.


"Halo assalamulaikum Bun."


"Waalaikumsalam nak, ada apa kau menelpon Bunda."


"Kau tak praktik hari ini."


"Bun, bisa pulang dalu. Ray merasa sakit sekali di perut."

__ADS_1


"Kau itu calon dokter, malah Bunda yang tetap meriksa. Ya sudah Bunda pulang, assalamulaikum."


"Waalaikumsalam."


Di kamar Rayan makin seperti orang tak waras berteriak tak karuan.


"Aduh, arghhhh."


Bibik yang melihat tak tega hingga memberikan minuman hangat.


"Den, minumlah ini bisa mengurangi rasa sakitnya."


"Makasih Bik."


Rayan minum air hangat itu lalu ia merasa agak mendingan tapi mulai lagi.


"Arggh."


"Aden, kenapa seperti orang mau melahirkan."


"Apa! pekik Sarah di ambang pintu


Rayan menoleh karena suara lantang Bundanya.


"Bun, ayo periksa sakit sekali nih. Kadang muncul kadang hilang sendiri."


"Iya-iya bentar."


Sarah mulai memeriksa Rayan dan ia merasa tak ada yang sakit. Lalu ia mengingat sesuatu yang dikatakan oleh asistennya.


"Nak, ini tak ada penyakitnya. Bunda bingung, dan Bunda rasa seperti dugaan bibik."


"Maksudnya melahirkan."


"Iya, tapi masak iya Rayan mau melahirkan. Lihat ini perut Rayan rata dan nggak ada pintu keluar nya."


"Astaga Ray, kau itu sungguh menggelikan. Intinya kau mengalami apa yang dialami wanita


saat akan melahirkan. Jadi Bunda pikir, kamu punya istri diluar sana sebelum kau kecelakaan."


"Apakah itu benar Bun," tanya memastikan


"Iya nak, lihat saja jika bayi itu lahir rasa sakit itu akan hilang sendiri. Jadi nikmatilah dulu, mungkin bayi mu tahu jika ayahnya masih hidup."


"Huh, baiklah Bun. Rayan akan istirahat saja kalau begitu."


"Ya udah, Bunda juga istirahat."


Setelah pergi dari kamar Rayan, Sarah berfikir akan mencari tahu tentang Rayan sesungguhnya.


....


Di Indo, Hilda baru saja melahirkan putri pertamanya. Semua berbahagia atas kelahiran cucu ketiga mereka.


"Selamat sayang, anak kamu cantik sekali tapi mirip," ucapan Bebi terhenti takut Hilda marah kala mengingatkan pada sosok Raka


"Mirip Raka kan, Mi. Mami tak usah sungkan, Hilda udah ikhlas semua. Sekarang Hilda ingin menata hidup bersama putri Hilda."

__ADS_1


"Mami terharu sayang, Mami bangga padamu," ucap Bebi memeluk erat putrinya


__ADS_2