Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Dia atasanku


__ADS_3

"Jadi, kau yang akan melamar jadi sekretaris."


"Mampus aku, ternyata dia atasanku, udah aku maki kemarin," batin Jessi tak enak hati


"I-iya tuan."


"Mana lamaranmu."


"Ini, tuan," ucap Jessi memberikan lamarannya


"Oh ya, bukannya kau orang kaya, kenapa melamar pekerjaan disini."


"Itu rumah kakak saya, jadi saya mau mandiri."


"Oh begitu. Udah nikah?"


Hah


Jessi melongo atas pertanyaan tersebut apakah badannya terlihat seprti Ibu-ibu.


"Apakah pertanyaan saya salah sehingga kau sampai terkejut."


"Tidak, saya belum menikah."


"Baiklah, kau diterima."


"Apa?"


"Apa omongan saya kurang jelas ditelingamu."


"Tidak, sudah jelas. Terimakasih tuan."


"Mulai besok kau harus datang lebih pagi dan jangan pernah terlambat."


"Baik tuan."


"Ya sudah, kau boleh pulang."


Jessi keluar dari ruangan dan bersorak


"Yes, aku diterima."


Lalu ia berlari menuju lift krena ingin segera bertemu keponakannya untuk merayakan. Sedangkan di kantor, Rendra tertawa terpingkal-pingkal karena melihat ekspresi Jessi seperti orang culun.


"Hahahahaha, aduh sakit perut ku."


Tiba-tiba, ada yang mengetuk ruangannya dan mode muka kembali dingin.


Tok


Tok


"Masuk."


"Maaf bos ada yang harus di tanda tangani."


"Oh ya mana."


"Ini," Ryan memberikan sebuah map lalu Rendra menanda tanganinya


"Ini proposal yang akan kita ajukan ke Baratawijaya."


"Iya bos."


"Oke, besok kita kesana dengan sekretaris baru."


"Oh ya, kapan dapetnya."


"Baru saja 15 menit yang lalu."


"Waw, aku ketinggalan."


"Kejutan."


Sedangkan di sisi lain, Jessi tiba di mansion Brian.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Bik, mana kak Ayu dan anak-anak."


"Ada di kamar, bentar saya panggilkan, nona."


"Baik bik."


Jessi yang kehausan menuju dapur mengambil segelas air dingin.


"Huh, leganya ."


Dia pun kembali ke ruang keluarga menunggu Ayunda. Tak lama, Ayunda datang menghampirinya sambil menggendong baby Sella.


"Hai, Jes."


"Hai kak, eh baby cantik sini sama aunti ya."


"Sepertinya kamu pagi bahagia, Jes."

__ADS_1


"Tebak aja."


"Main tebak-tebakkan. Mungkin dapat pacar atau dapat diskonan baju," Ayunda malenahan tawa


"Ops, salah semua itu. Yang bener itu, Jessi dapet kerjaan."


"Oh ya, dimana? selamat Jessi."


"Di Rendra grup. Mulai besok aku jadi sekretaris disana, kak."


"Waw, keren. Perlu dirayakan kayaknya."


"Tenang pasti dirayain, tapi nanti pas udah gajian pertamaku aja kak."


"Baiklah itu juga boleh."


"Oh ya mana duo bocah lelaki tampan nan jenius."


"Belum pulag mungkin bentar lagi."


Dan muncullah salam dua bocah yang di tunggu Jessi


"Assalamualaikum."


"Waalaaikumsalam."


"Nah, umur panjang anaknya."


"Iya kak."


"Siapa umur panjang Bunda, Tante," celetuk Ben


"Astaga, kau ngagetin aja Ben. Kau dan Axel, baru aja diomongin udah nongol aja kayak hantu."


"Oh ya, kangen kita kan."


"Idih, kau itu percaya diri sekali seperti Daddy mu. Udah sana mandi dulu baru gabung."


"Oke siap."


Setelah Ben pergi, malahan muncul Axel.


"Halo sayanganya Kakak," sapa Axel pada bayi mungil nan cantik itu


"Nah ini dia hantu dua nya, kak."


"Siapa yang Tante bilang hantu," ucap Axel tanpa menatap wajah Jessi


"Ya kau lah. Dasar ya kakak adek nggak ada bedanya."


"Bunda, aku mandi dulu, kalau Tante Jessi mau lama biarin aja, mungkin bosan di apartemen sendirian."


Ayunda cekikikan melihat Tante dengan keponakan berdebat tiada akhirnya.


Di kantor Baratawijaya


"Bos, besok ada pertemuan degan ceo Rendra grup."


"Oh ya, sudah lama sekali tak ketemu ceo itu."


"Sekarang ceo nya bukan dia tapi putranya."


"Kok aku baru tahu ya."


"Aku udah pernah bilang bis, bos aja nggak dengwrin."


"Oh ya, masih umur segini tapi pikun sendiri. Ya sudah kau persiapkan."


"Sudah semua bos, tenang aja."


"Ya udah kita pulang."


"Siap."


Dua pria tampan tersebut turun ke lobby dan saat sampai di situ mereka berpapasan dengan seorang sahabat bernmaa Vero.


"Hai sobatku," sapa Vero


"Waw, makin keren aja ni mafia."


"Apaan sih kalian kencang amat bilangnya."


"Hahhahha, dia takut Bri ketahuan suka Vera."


"Apaan. Dia hanya budakku."


"Oh ya budak, kalau budak nggak mungkin tidur sekamar."


"Sialan kau, Bri. Kau pasang cctv di apartemenku ya."


"Nah, kan ketahuan jika dia beneran menyukainya," goda Johan


"Udah-udah, sekarang. Kau mau apa, Vero?"


"Gue pengen ngobrol sama kalian. Kalian sibuk nggak?"


"Tapi gue pengen pulang," tegas Johan

__ADS_1


"Hahahahaa pakai elo gue lagi, kalian," ucap Brian tertawa


"Sialan nih bos satu ini, mau Gue mau kau tahulah yang penting ngomong. Enaknya dimana nih?"


"Butuh banget ya," tanya Johan


"Menurut lo, Johan," Vero melirik tajam pqda Johan


"Oh ok, aku bilang sama istri."


"Nah itu sahabat, come on."


Brian juga mengirim pesan pada istrinya terlebih dahulu jika pulang terlambat.


Ketiga pria dewasa itu kini meluncur ke kafe langganan temannya bernama Reyhan. Disana, Reyhan tengah bersama tunangannya Jenni.


Saat sampai, ketiga pria tersebut menyapa Reyhan


"Rey."


Reyhan mendengar namanya di panggil, ia pun menoleh.


"Eh hai, Brian, Johan, Vero."


"Eh kau masih ingat denganku."


"Menurutmu, Vero," ucapnya mengejek


"Emang kau sahabat the best."


"Ayo duduklah. Oh ya makan dan minum sepuasnya."


"No, kita disini pelanggan bukan gratisan, Rey " ujar Brian


"Ya.. Ya bos Brian."


"Oh ya, kau sama siapa," tanya Vero


"Oh ini kenalkan calon istri ku, namanya Jenni."


"Hai."


Hai," sapa balik Vero dan Johan


Sedangkan Brian hanya mengulas senyum datar, Jenni menjadi penasaran siapa pria tampan di depannya yang acuh.


"Em, sayang. Kau tunggu aku di lantai dua ya. Aku mau ngobrol bentar."


"Oh ok."


Jenni menatap sekilas pada Brian namun manusia itu tak menatapnya sama sekali membuatnya Jenni kesal.


"Sialan tuh cowok, sok kecakepan."


Sedangkan Johan dan Vero sedari tadi melihat tingkah Jenni aneh seperti ada sesuatu pada Brian.


"Eh kenapa kalian bengong," tanya Reyhan pada Vero dan Johan


"Hah, enggak cuma heran aja cewek itu kok mau sama kau," celetuk Vero


"Sialan kau Vero. Dia cinta pertamaku SMA."


"Waw, bersemi kembali," Johan menggoda


"Seperti itulah. Udah kalian nikmati ya, aku mau ke lantai dua."


"Mau enak-enak dia," goda lagi Vero


"Sok tahu, see you."


Setelah Reyhan naik ke lantai dua, Vero pun mulai berbicara perihal tentangnya.


"Sobat, begini. Aku mau nikah."


Uhuk.. Uhuk


Seketika Johan dan Brian terbatuk-batuk bersamaan.


"Eh, kau yang bener Vero," tanya Brian memastikan


"Emangnya wajahku tak meyakinkan."


"Wajahmu datar, mana bisa aku lihat," Johan meledek


"Kau ini emang ya Johan, pengen aku lempar sepatu mahalku."


"Haahhahaha, sabar. Orang sabar kuburannya lebar."


"Wah mendoakan."


"Duh, kaian ini bikin aku pengen toilet aja," tutur Brian dan berlalu


"Wah bos itu malah seenaknya mengatai," Vero tak terima


Saat Brian menuju toilet, ia tak sengaja bertabrakan dengan seseorang


Bruk

__ADS_1


"Sorry."


"


__ADS_2