
"Memang cantik."
Seseorang yang menyahuti itu adalah kepala satpol pp yang sudah lama mencintai Bebi sejak bekerja disitu. Pria berperawakan tegap dan sedikit kumis tipis, berjalan menuju keduanya. Bebi sungguh tak menyangka pria itu mendekatinya.
"Hai cantik."
Ben kesal seenak jidat pria itu menyapa istri seperti itu. Ia pun tak mau terlihat bodoh, seketika menyeletuk.
"Maaf anda siapa ya, saya suaminya."
"Apa! Jadi kau sudah menikah, Bebi."
"I-iya pak. Memang kenapa?"
Pria itu berbalik sambil memegang dadanya merasakan sakit hati.
"Hancur sudah harapanku," batinnya
Lalu, dia berbalik lagi menatap keduanya bergantian.
"Lalu cincin kalian mana."
Dan keduanya kompak menunjukkan, Toni semakin tak kuasa menahan air matanya.
"Kenapa kau menangis," ucap Ben ketus tapi ingin tahu
"Aku patah hati Bebi, denganmu. Ya sudah, aku pergi dulu, Bebi."
Bebi dan Ben melongo melihat kepala satpol pp itu. Tak lama, pesanan Ben datang juga.
"Selamat menikmati, tuan," ucap pelayan tersebut.
"Makasih mbak," balas Bebi
Ben nampak seperti tak nafsu setelah ada lelucon tapi tak lucu menurutnya.
"Kau cemburu," tanya Bebi
Ben masih tak bergeming, Bebi kesal lalu meletakkan alat makannya dan beranjak dari kursi namun tangannya dicekal Ben.
"Duduklah."
Akhirnya Bebi menuruti dengan wajah cemberut. Ben memegang tangan Bebi lalu berucap, "Maafkan aku. Ayo kita makan."
Lalu mereka mulai makan, sesekali Ben menyuapinya dengan bahagia. Pasangan itu nampak seperti pada umumnya, hanya beda pacaran setelah menikah.
Selesai makan, Ben melamar kembali istrinya.
"Bebi, will you marrry me?"
"Kenapa melamarku lagi."
"Ini berdasarkan cinta, dulu belum."
"Kau ada saja. Iya, aku terima tuan dingin."
"Makasih sayangku," Ben mengulas senyuman lalu menyematkan cincin bermata berlian pada istri tercinta mencium tangannya.
"Tapi ada syaratnya."
"Aku masih kerja sama kuliah."
"Siap tuan putri."
"Oh ya, kita pindah ke apartemen ya sayang. Aku ingin berdua tak mau sama orangtua. Kau mau kan mandiri."
"Mau, aku ikut suamiku aja."
"Baiklah, terima kasih sayang."
"Kita pulang ya."
"Pulang ke rumah kan."
"Bukan."
"Ke apartemen, sayang."
"Tapi baju ku disana."
"Udah, di apartemen ada banyak, udah ku siapkan."
"Tapi, baju kerja ku ada di rumah, sayangku," ucap Bebi gemas mencubit kedua pipi suaminya
"Oh ya udah, kita juga belum pamit."
__ADS_1
"Ayo, kita pulang."
"Let's go."
Keduanya berjalan keluar dari kafe namun mereka berpapasan dengan Rio.
"Hai bro."
"Eh, Rio. Kalian mau pulang."
"Iya, masak mau nginap. Kita duluan, ya."
"Iya hati-hati sobat."
"Oke."
Setelah Ben dan Bebi pergi, Dewi menyapa Rio.
"Rio," panggil Dewi
"Eh siapa ya."
"Hei, kau lupa aku."
"Maaf aku lupa."
"Ih kau itu sama dengan Ben."
"Kau kenal Ben."
"Kalian kan teman sekolahku dulu."
"Jadi kau itu Dewi yang sebangku dengan Ben."
"Iya, kan lupa."
"Sorry-sorry. Ayo masuklah."
"Tapi kau traktir kan."
"Iya ayo."
Keduanya pun bercerita namun makin lama Dewi berceritanya sudah luar jalur.
"Astaga, Dewi. Kau tak takut karma datang padamu."
"Mungkin tak terpikir sekarang, karena sesungguhnya aku mau bilang ke dia jika suka dengannya ternyata malah dia tahu-tahu udah nikah. Patah hati banget aku, Rio."
"Sudahlah Dew, biarkan mereka bahagia. Kau cantik, masih banyak cowok."
"Tapi aku nggak bisa bohongin perasaanku, Rio."
"Terserah kaulah aku tak mau ikut campur. Jika Ben tahu kau pasti takkan dimaafkan."
"Huh, pusing kepalaku."
Sedangkan Ben dan Bebi baru saja tiba di rumah. Mereka bergegas masuk ke kamar karena sudah larut.
"Mau mandi, sayang."
"Nggak, aku cuci muka aja, udah kemaleman sayang."
"Oh ya sudah."
Setelah keduanya sudah berganti piyama, Ben ingin menerkam istri tapi apalah daya dia lelah. Ben hanya meluk dan mencium kening istri.
Cup
"Jika ada yang ingin kau tahu tentangku, kau boleh tanyakan."
"Apa perempuan tadi menyukaimu."
"Aku tak tahu, karena memang aku tak pernah dekat dengan wanita dulunya. Kau tahu kan aku dingin apalagi sama orang asing. Aku dulu hanya berfikir cara membahagiakan Bunda dan Daddy. Terutama Bunda, aku dan Axel beda Ibu, sayang. Bunda Axel sudah meninggal saat ia masih kecil tapi kita saling menyayangi."
"Oh begitu, maaf jika aku mengungkit masa lalumu."
"Nggak masalah sayang, biar kamu thqu dulu Bunda Daddy berjuang penuh banyak rintangan mereka hadapi dan sempat berpisah selama 5 tahun. Dan Tuhan mempertemukan kembali mereka, mungkin jodoh dan sampai saat ini. Makanya di hidupku maunya sekali seumur hidup seperti Bunda dan Daddy."
"Jadi terharu, sayang. Pasti orangtuamu bayak kenangan."
"Iya benar, mereka panutanku. Saat aku di suruh menikahimu. Sungguh terkejut dan aku tak tahu harus bagaimana?"
"Kalau sekarang?"
"Aku mencintaimu."
__ADS_1
"Oh ya," goda Bebi
Lalu Ben menggelitiki tubuh istrinya mereka berdua tertawa bersama. Sungguh Ben dan Bebi tak menyangka bakal seindah itu akhirnya.
Lama kelamaan, keduanya tertidur sendiri karena kelelahan.
Keesokan harinya, Ben dan Bebi bangun pagi karena ingin joging. Saat di bawah, mereka berjumpa Axel dan Bunda Ayunda.
"Pagi Bunda, Axel."
"Cerianya pengantin baru."
"Iyalah, emang kau."
"Hem, dasar tukang pamer. Bunda, aku juga mau joging."
"Ngapain ikutan," ucap Ben kesal
"Buka ikutan aku udah, maksudnya emang pengen joging. Kalian duluanlah."
"Ih, dasar aneh. Kita duluan Bunda," pamit Ben
"Iya sayang, hati-hati."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Xel, kenapa nggak bareng aja sih."
"Nggak Bunda. Ya udah Axel berangkat dulu."
"Baiklah, hati-hati."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Axel berlari kecil agak menjauh dari sejoli di depannya siapa lagi kalau bukan Ben dan Bebi. Dan dari kejauhan, Axel melihat Rina sudah ada di taman, Ia bingung lewat mana agar sejoli itu tak tahu.
"Duh, gimana nih."
Terlihat sejoli itu berlari menjauh dari taman Axel bernafas lega lalu ia berlari menghamoiri Rina.
"Hai," sapa Axel oqda Rina
Tiba-tiba, ada yang menyahutinya
"Cie..Ternyata begini di belakang kita," sìndir Ben
"Astaga, kalian macam setan aja."
"Wah, adik nggak ada akhlak ini. Kakaknya dibilang setan."
"Sayang, please. Dari tadi ribut mulu, capek dengernya," cercah Bebi
"Hee .. iya sayang, kita cari tempat lain yuk."
"Oke."
Sedangkan Axel mengajak Rina duduk di kursi taman.
"Rin, nanti kamu kerja."
"Iya, kenapa?"
"Aku antar ya. Masuk jam berapa?"
"Aku dan Bebi masuk sore terus, soalnya pagi kita kuliah."
"Oh kamu satu kampus dengan Kak Bebi."
"Iya."
"Yah, pasti aku di ledekin lagi."
"Hahahaaha, ngapain di ledekin."
"Iya begitulah kalau orang jatuh cinta dan tak pernah pacaran."
"Oh ya."
Sedangkan Bebi dan Ben asyik berfoto ria, tiba-tiba ada yang muncul dari belakang mereka
"Hai Ben."
__ADS_1