Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Tak sadarkan diri


__ADS_3

Nadia buru-buru minta pertolongan untuk membantu membawa Ayu kerumahsakit. Sesampai di sana Ayu masuk ruang ugd, dan tak lama Brian yang sudah dulu dihubungi para bodyguard. Pria tampan itu kini di depan Nadia.


"Nad, bagaimana bisa? Tolong jelaskan."


"Tadi aku tak tahu kronologinya, yang aku tahu dia udah jatuh di bawah," ucapnya ketakutan sambil menangis


Brian cemas mencoba menghubungi Johan untuk mencari tahu masalah sebenarnya di restaurant tempat istri dan Nadia tadi.


"Jo, minta rekaman cctv tadi siang."


"Siap bos."


Roy buru-buru memanggil beberapa bodyguard dan mulai masuk minta ijin pemilik restaurant tersebut.


"Silahkan tuan."


Johan melihat seksama dan disitu jelas ada seorang wanita menepis tangan Ayu. Johan menggeleng kepala, dan teringat wajah wanita itu.


"Nggak mungkin wanita itu adalah," batin Johan tak habis pikir


"Maaf tuan, bisakah saya minta rekamannya. ini untuk jadi bukti."


"Baiklah tuan silahkan. Mohon tunggu."


Beberapa saat Johan sudah membawa bukti, kini menyuruh para bodyguard mencari tahu wanita yang ada di cctv.


"Kalau ada kabar, segera kabari."


"Baik bos."


Johan memutuskan ke rumahsakit pastinya istri sedang tak karuan pikirannya karena kejadian tadi. Sesaat, Johan sudah ada di rumahsakit, ia mempercepat langkahnya. Saat akan menghampiri, dari kejauhan, Johan melihat bosnya memarahi seorang dokter dengan penampilan kacaunya.


Johan mencoba menenangkan bosnya


"Bos, sabar. Aku sudah mendapatkan rekamannya."


"Mana Jo."


"Ini bos," Johan menyerahkan sebuah disk pada Brian.


Brian mengusap air mata, dan segera keluar dari rumahsakit. Di parkiran, ia masuk ke mobil duduk dan membuka laptopnya tak lupa mengunci


Saat disk di masukkan ke laptop dan terbuka disana. Brian menggeleng tak percaya apa yang dilihatnya.


"Nggak, nggak mungkin Kak Rena."


Tak berapa lama, Brian kembali menuju depan ruang istrinya dan bertepatan seorang dokter keluar


"Permisi tuan, keluarga nona Ayunda."


"Saya suaminya, dokter."

__ADS_1


"Baiklah tuan, saya kan melakukan tindakan operasi karena takut nyawa keduanya terancam," ucap dokter obygn


"Baik dokter. Lakukan yang terbaik."


"Baik tuan, saya permisi dulu."


Dan muncullah brankar berisi istri Brian. Brian menghampiri sambil mencium keningnya.


"Aku akan menghabisi orang karena mencoba mencelakaimu, sayang. Berjuanglah, aku dan anak-anak menunggumu," bisik Brian


Dan akhirnya, suster membawa istrinya masuk ruang operasi. Sungguh hati Brian tak karuan, ia bingung bagaimana mengabari putranya. Brian memutuskan menelpon anak buahnya untuk mencari tahu perempuan yang berusaha mencelakai istri.


Operasi itu berlangsung selama 4 jam, Brian mondar mandir tak karuan seperti setrikaan. Tak lama, suster keluar dan mendorong box kecil ke arahnya.


"Tuan Brian, selamat. Putri anda lahir tanpa cacat hanya saja masih harus di inkubator."


"Alhamdulillah, baik suster lakukan yang terbaik."


"Silahkan di adzani dulu, tuan."


Brian terharu melihat bayi mungil cantiknya persis dengan Ayunda. Ia mulai mengucapkan di telinga sang bayi baru lahur tersebut dan setelahnya ia mencium keningnya.


"Silahkan suster. Terimakasih."


Suster itu membawa bayi Brian dan Ayunda ke ruangan bayi.


Sedangkan Ayunda belum juga keluar, Brian semakin tegang karena begitu lama. Tiba-tiba Dokter keluar ruangan dengan raut cemas.


"Lakukan yang terbaik dokter, atau aku ratakan rumahsakit ini," bentak Brian sambil menarik kerahnya


"Ba-baik tuan," ucapnya gugup dan kembali ke ruang operasi.


Tanpa terasa waktu sudah menjelang pagi, dokter yang menangani Ayu keluar dari ruangan dan menemui Brian.


"Maaf tuan Brian," sapa dokter


Brian yang sudah acak-acakkan tertidur di depan ruangan operasi. Ia mendongak saat ada yang membangunkannya.


"Em, iya dokter. Bagaimana keadaan istri saya."


"Operasi berjalan lancar tuan. Hanya saja nona Ayunda masing tak sadarkan diri."


Brian menghela nafas berat tapi ia harus kuat. Setelahnya ia berpesan pada susuter yang jaga istrinya.


"Suster, tolong jaga istri saya. Kalau ada apa-apa beritahu saya," ucap Brian sambil memberikan kartu nama


"Baik tuan."


Brian mengecup kening istrinya lalu pergi, ia akan pulang terlebih dahulu untuk memberitahu kedua putranya. Brian sebelumnya sudah menyuruh para bodyguard untuk menjaga 24 jam disekitar ruangan istrinya.


Sepanjang perjalanan, Brian teringat wajah ceria snag istri yang ia rindukan padahal baru tadi siang ia bertemu. Sungguh ia merasa menyesal tak mendampingi istrinya. tak lama, mobil mewah Brian sudah tiba di mansion. Pria tamoan itu menarik lengan kemejanya sampek siku dan melonggarkqn dasi. Ia merasa lelah segalanya tapi tidak untuk istri tercintanya. Kini Brian masuk ke dalam rumah dan tepat kedua putranya menunggu.

__ADS_1


"Daddy, kemana aja?Lalu Bunda mana, Dad," tanya Axel nerocos karena cemas dengan keduanya tak ada kabar dari kemarin.


Brian duduk mensejajarkan kedua putranya itu sambil memberi penjelasan.


"Boy, maafin Daddy. Daddy nggak bisa jagain Bunda."


"Maksud Daddy?" tanya Ben mulai cemas


"Bunda di rumahsakit dan sudah melahirkan adik kalian. Namun, belum sadar boy."


"Bunda ... Kita harus ke sana Xel, ayo," ajak Ben buru-buru dan sambil menahan tangisnya. Brian melihat keduanya rapuh memaksa untuk tak menangis tapi akhirnya pecah juga, saat di pelukan Daddy nya.


"Maafkan Daddy."


Setelah keduanya tenang dan mengajak ke kemarnya. Brian menuju kamarnya membersihkan badan saat merilekskan badan di bathub, ponselnya berdering terliibat kontak nama Johan.


"Halo Jo."


"Halo Bro. Aku udah bawa dia."


"Oke, tunggu aku akan segera ke sana."


"Baiklah."


Brian menggeleng kepala pelan, heran kenapa Rena yang dianggap sebagai saudara tega berbuat pada istrinya. Brian pun bergegas mengganti pakaian dan menuju ruangan bawah tanahnya. Saat di sana wanita itu sudah terlihat kacau karena sedari tadi berteriak-teriak seperti orang gila.


Brian berjalan menuju wanita yang terlihat sayu. Ia tersenyum smirk lalu mencengkram dagunya


"Arggh," ringis Rena


"Hai pecundang,"sapa Brian


Seketika Rena mendongak dan menatap ternyata suami dari Ayunda


"Brian, kau."


"Iya aku. Apa kabarmu nona Rena? Oh ya apa motif mu menyerang istriku," Bentak Brian


"Ma-maksudmu apa? Bri."


"Kau itu pura-pura tolol, ya. Kau mencoba mencelakai istriku dan dengar kau, bodoh. Sekarang istriku berjuang melawan maut, bodoh," teriak Brian keras


"Apa!" pekik Rena terkejut mengetahui perbuatannya yang tak sengaja mengakibatkan Ayunda jadi kritis.


"Kau itu memang serigala berbulu domba Pura-pura saja hidupmu. Sekarang jelaskan maksudmu apa? melakukan pada istriku."


"Aku tak sengaja melukainya Bri, aku tak mau Ayunda mengetahui pekerjaan ku sekarang karena aku menjadi simpanan sugar daddy," tangis Rena pecah


"Apa! Kau jadi simpanan. Sungguh gila kau," Brian tak habis pikir.


Rena dengan terpaksa menceritakan aib nya sungguh malang bagi nya. Ia menceritakan kehidupannya hingga bisa menjadi sugar baby kakek-kakek.

__ADS_1


Johan dan Brian saling menatap, namun mereka tak mau terlalu percaya dulu. Mereka akan mencari tahu semua.


__ADS_2