
"Selamat Lex" ucap asisten Ronald.
"Makasih Om."
Berkat lomba kemarin Alex mendapat hadiah dari Alden sebuah mobil sport keluaran terbaru.
"Makasih Dad."
"Sama-sama. Daddy bangga padamu, jadi lah siswa berprestasi, nak. Jangan kayak dulu oke."
"Siap Dad. Oh ya, boleh ku coba Dad."
"Silahkan tapi jangan ngebut."
"Siap Dad."
"Om, Alex permisi."
"Iya hati-hati."
Alex meluncur ke tempat Dio namun sampai di rumah ternyata tak ada, ia memilih untuk ke club tempat ia nongkrong.
Di club
Gadis cantik tengah minum dan sudah tak sadarkan diri. Tiba-tiba, ada pria hidung belang ingin memapahnya , ia setengah sadar melihat dan mencoba memberontak.
"Brengsek, lepasin aku!"
Dan sebuah tangan mendorong tubuh pria itu hingga terjatuh.
Bruk
"Beraninya bawa gadis sudah mabuk, mau mati kau," bentak Alex
Alex menggeleng kepala, lagi dan lagi ia menolong calon budaknya itu.
"Kenapa kau lagi sih, menyusahkan saja," gerutu Alex menggendong tubuh Lala.
Alex pun membawanya menuju hotel lalu menyuruh pegawai perempuan untuk membawanya ke kamar.
"Mbak, ganti juga pakaiannya. Ini untukmu, bilang dari Alex."
"Siap tuan. Terimakasih."
Pegawai hotel menuruti permintaan Alex, sedangkan Alex memilih kembali ke rumah karena sudah tak mood ke club. Di rumah nampak Daddy di ruang tamu , ia pun bertanya
"Loh cuma bentar nyobanya."
"He ... iya Dad. Besok kan sekolah ya udah, aku balik lagipula juga masih ngantuk."
"Ya udah selamat tidur, nak."
"Iya Dad."
Esoknya, bunyi telpon dari ponsel Lala membuat terbangun. Ia melihat tak ada nama kontaknya. Ia coba untuk mengangkat telpon dengan masih agak pusing ia duduk bersandar.
"Halo, siapa ya."
"Hei bangun, kau lupa mulai hari ini kau jadi budakku."
"K-kau."
"Iya aku, buruan ke sini."
Belum sempat Lala bertanya alamat rumah sudah main dimatikan Alex. Ia kesal dan ia baru sadar jika pakaiannya bukan ini yang tadi malam di pakai. Sontak ia menjerit ,"Aaaa."
"Siapa yang mengganti bajuku, dan ya ini bukan di kamarku."
Tiba-tiba ada bel dari pintu tepat dia sedang berfikir siapa pelakunya. Dan ia pun membuka pintu.
__ADS_1
"Pagi nona, saya Lisa. Pegawai hotel di sini. Maaf nona, tadi malam anda mabuk dan saya mengganti pakaian anda atas suruhan tuan Alex."
"Jadi dia yang membawaku ke sini."
"Iya benar nona."
Lala menepuk jidatnya tatkala mendengar penuturan pegawai itu.
"Ya sudah makasih mbak."
"Sama-sama. Oh ya nona ini ada titipan dari tuan Alex juga," pegawai menyerahkan paperbag pada Lala.
"Oke terimakasih."
Lala menutup pintu dan kembali masuk ke dalam kamar. Ia melihat isi paperbag , dan terkejut lagi ada seragam sekolah.
"Seragam, dan alamat rumahnya."
"Sial banget aku. Dan dia lagi yang nolong aku, sumpah malu pakai banget."
Lala buru-buru masuk kamar mandi membersihkan diri dan setelah memakai pakaian ia turun dan menuju rumah Alex.
Tak sampai setengah jam, gadis itu sudah di depan rumah megah milik keluarga Alex. Ia heran rumah Alex begitu besar, ia memberanikan diri memencet bel dan bertanya pada securty depan.
Tintong
"Oya nona, bisa di bantu," tanya securty
"Pagi pak, saya Lala. Benerkah ini rumah Alex."
"Iya bener non. Sebentar saya kabari dulu tuan muda."
Setelah 5 menit akhirnya Keluarlah Si tampan Alex. Ia menyungingkan senyuman dan menghampiri si judes itu.
"Hai, makasih kau nolong aku mulu."
Dari cctv, Marvel melihat kelakuan putranya yang menyebalkan, jadi ingat dulu sungguh seperti dirinya.
Di satu sisi, Lala mengemudikan kendaraannya maksimal hingga tak terasa sampai di depan sekolah Alex.
"Kau hebat juga, mengendarainya. Kapan-kapan aku ajak kamu."
"Kemana."
"Nanti juga tahu, oh ya nanti jemput jam satu kalau telat ada hukumannya."
Alex masuk ke dalam sekolah, Lala pun melajukan mobil ke tempat sekolahnya.
Sampai di kelas, Dio memberondong berbagai pertanyaan pada kawannya itu.
"Bro, tadi siapa yang mengantarmu. Aku nggak pernah lihat."
"Dia budakku."
"Hah, sejak kapan punya budak."
"Sejak tadi. Udah ah bawel banget sih kayak tetangga kompleks aja."
"Hahahahha, ketahuan eh lo selalu denger gosipin tetanggamu itu."
"Dasar sinting."
Tak lama, guru mapel datang dan membagikan kertas ulangan. Semua berserudan guru menyuruh untuk segera mengerjakann dan dikumpulkan.
Sekitar 30 menit, Alex sudah selesai mengerjakan, ia memutuskan untuk segera
Ke kantin. Waktupun cepat berlalu, kini sudah pukul satu siang Alex melihat di depan belum ada Laa. Dan saat akan masuk kembali ke dalam sekolah, ada sebuah bunyi klakson.
Tit
__ADS_1
Tit
Alex menoleh dan ia masuk kedalam mobil Lala, lalu duduk mendekatinya.
"K-kau kenapa duduk di depan."
"Pengen memberi hukuman padamu, ini lihat pukul berapa?"
"Sorry tadi aku ulangan bentar."
"Aku juga. Jadi tetap kau tak bisa mengelak dari hukumanku."
Alex menatap intens wajah cantik Lala mencium bibir indah sekilas.
Cup
"Itu hukuman bagi iorang telat."
Laa menatap tajam pada Alex karena ia mencuri ciuman pertamanya.
Plak
Sebuah tamparan mendarat di wajah tampan Alex dan menampakkan kemerahan disana.
"Kau," ucap Alex menunjuk Kayla dengan tatapan ingin menerkam.
"Kau mencuri ciuman pertamaku yang aku persembahkan untuk suamiku kelak. Dasar cowok sialan."
"Lalu kau mau apa, gantian cium aku. Oke boleh dan asal kau tahu ya ciumanku juga terenggut olehmu. Jadi kita satu sama, mengerti. Udah ayo buruan ke mall. Aku bosen di rumah."
Lala denga perasaan kesal pun melajukan mobil menuju mall terdekat, ia merasa juga butuh refreshing karena selalu kesepian di rumah.
Sampai di mall, Alex memberikan tas nya untuk di bawa Lala.
Saat akan nonton bioskop tiba-tiba ada cewek memanggilnya.
"Lex," panggil Dena pada Alex.
"Hem, ada apa?"
"Kau ngapain di sini."
"Nyuci baju. Apa kau buta nona kaya."
"Maaf Lex, ini siapa."
"Calon istriku, emang kenapa kepo banget jadi orang."
"Udah sana pergi," usir Alex dan menggandeng tangan Lala masuk ke dalam bioskop.
Dena kesal karena Alex tak tergoda dengannya sama sekali. Heran juga yang dibawa ke bioskop gadis seperti itu.
Sedangkan Lala dan Alex masuk dan duduk di dalam bioskop karena akan segera dimulai. Sesaat film di putar dan menampakkan kunti membuat Lala menjerit.
"Aaaa."
Alex menengok ke arah Lala nampak gadis itu ketakutan, lagi dan lalu Kayla menjerit melihat film itu. Alex mencoba menggenggam tangan Lala, ia merasakan tangan Lala menggigil mencoba menyadarkannya.
"La, hei sadar."
"La," Alex sungguh panik di buatnya. Ia bergegas menggendong tubuh Lala keluar dari teater. Dan sampai di depan ada tempat duduk ia dudukkan disitu.
"Lala, bangun. Mampus aku anak orang."
Tiba-tiba.
"Hahhahha, panik juga dia," Kayla dengan tanpa bersalah tertawa.
Alex kesal dikerjain lalu menghukum gadis itu di depan umum.
__ADS_1