
"Maksud kak Dewa."
"Kakak harus pergi Sha, besok kakak ke New york. Kamu kira apa," menatap wajah sendu gadis kesayangannya.
"Yang bener."
"Iya, udah nggak usah sedih setelah selesai aku kembali. Oh ya, mau aku bawain apa."
"Kakak balik aku udah seneng dengan selamat, aku udah seneng kok."
"Oke. Sekarang kita makan yuk, pasti cacing perutmu melambai."
"Tahu aja kak," ucapnya tersenyum malu.
Akhirnya mereka berdua makan malam romantis dan saling menyuapi, Tak ada kata yang paling manis selain indahnya malam berdua.
.......
Keesokan harinya, Sha bangun terburu-buru dia ingin mengantar Dewa di bandara namun ia kesiangan.
"Astaga, sial banget sih. Dasar kebo emang," gerutunya kesal
Tanpa menunggu lama, Sha sudah rapi dan menyambar kunci mobil turun tanpa permisi. Ia memacu kendaraannya kencang hingga tak sampai setengah jam tiba di bandara. Sha berlari menuju keberangkatan ke New york tapi disana sudah sepi.
"Ih nyebelin banget, sial," sha.
menghentak-hentakkan kaki nya.
"Kak Dewa maafin aku."
"Maaf kenapa?" Tiba-tiba seseorang berbicara dari belakangnya dia menoleh dan berhambur memeluk.
"Kakak. Kak Dewa nggak jadi ke New york."
"Jadi dunk, tapi pesawat delay. Kamu berantakan banget."
Sha buru-buru membetulkan rambutnya yang acak-acakan.
"Kamu pasti belum sarapan kan, gimana kita sarapan dulu yuk, setengah jam pagi pesawat nya."
"Baiklah kak, ayo."
Setelah sarapan berdua, akhirnya perpisahan itu terjadi. Pengumuman pesawat tujuan Newyork telah di dengar untuk segera check in.
"Jaga dirimu baik-baik. Aku akan kembali unyukmu. Sha, kakak mencintaimu."
"Hah, apa!"
"Aduh, kamu cantik-cantik budek apa ya," ucapnya kesal.
"Sha, i love you."
Sha malah cekikikan membuat Dewa mengerinyitkan dahi.
"He ... maaf kak. Aku juga cinta kakak, Cepat kembali."
"Beneran."
"Iya, hati-hati."
"Makasih sayang. Aku kan kembali," ucapnya mencium tangan kekasihnya.
Dewa sungguh bahagia tak menyangka jika Sha juga mencintainya, Dewa pun menyeret kopernya dan check in ke dalam pesawat. Sesekali pria tampan itu menengok ke belakang melambai pada Sha. Sha terkekeh geli melihat tingkah Dewa.
Di tempat lain, seorang gadis bernama Sasa semakin kesal Kinan tak mati juga.
"Sialan tuh cewek, dia tak mati juga ternyata. Oke, aku kali ini yang bertindak," Sasa terlihat memakai kacamata hitam di dalam mobil dan bersiap menabrak Kinan.
__ADS_1
Kinan tak sadar bahaya datang, ia masuk ke dalam angkutan memutuskan kembali ke apartemen karena tak kunjung dapat pekerjaan.
Sasa yang sudah kehabisan akal untuk menyingkirkan Kinan ia berfikir dengan cara ini bisa mendapatkan Axel. Sasa memacu kencang mobilnya dan menabrak mobil angkutan hingga terpental ke jurang yang dibawahnya sungai
Bruk
Byur
Sasa memberhentikan mobil dan membuka kaca mobil melihat betapa ringseknya mobil angkutan itu. Sasa tersenyum menyeringai, saat mengetahui Kinan tiada dari kondisi mobil angkutan porak poranda.
Di Kafe, tiba-tiba gelas kopi Arthur pecah tersenggol tangannya.
Prang
"Ada apa ini. Sial banget sih."
"Untung nggak kena kaki."
Arthur merasa ada sesuatu terjadi segera memghubungi Kinan namun tak juga diangkat.
"Kemana dia, oh Tuhan semoga dia baik-baik aja. Tapi hatiku tak baik ini."
Arthur tak mau menunggu ia turun dan berpamitan pada karyawannya pergi dan mencari keberadaaan Kinan. Saat di apartemen, kinan tak ada barangnya masih utuh. Ia heran kemana perginya mencari pekerjaan. Ia menelpon bodyguard Daddy minta tolong mencari Kinan. 15 menit kemudian diaaat ia juga mencari Kinan di jalanan ada sebuah telpon dai bodyguard.
"Halo tuan muda. Nona Kinan kecelakaan."
"Apa!"
"Dimana dia?"
"Ada di sekitar jalan x, tuan muda."
"Terimakasih."
Setelah mendapat telpon ia mengajak Dimas untuk memastikan jika itu adalah Kinan.
"Semoga bukan. Tapi perasaanku tak tenang."
Mobil Arthur melesat kencag dan akhirnya sampai di sebuah jurang yang dibawahnya sungai dan disitu ada mobil angkutan ringsek kemungkinan Kinan kecelakaan disitu.
Deg
Dada Arthur gemuruh cepat serasa marathon, ia turun bersama Dimas melihat kerumunan di bawah.
"Pak, tolong minggir."
"Bos, apakah ini punya nona Kinan. Karena kami melihat cctv jalan tadi menunjuk pada mobil angkutan yang ditumpangi nona Kinan persis dengan mobil ini," bodyguardnya memberikan sebuah ponsel.
"Kinan," ucap Arthur tersusuk lemas dan tak terasa air matanya meleleh.
"Lalu, dimana Kinan."
"Nona Kinan mungkin hanyut bos, karena tak ada disekitar mobil hanya jasad sopir angkut saja."
"Astaga, Kinan."
"Sabar Arthur, kita akan bantu mencari Kinan."
Pencarian mulai dilakukan dari kejadian saat itu hingga tujuh hari namun tak juga ditemukan, Arthur sudah seperti orang gila, hanya mengurung diri di dalam selama itu.
"Dad, panggil psikiater kasihan Arthur."
"Iya Mom, nanti aku panggil."
"Jangan nanti, sekarang."
Marvel menghela nafas berat dan pergi ke tempat temannya yang seorang psikiater. Sedangkan Sha berusaha mengetuk pintu kamar kakaknya tak juga di buka.
__ADS_1
"Kak, kalau kamu mau mati, mati aja tapi jangan buat kami kesal dengan kelakuanmu kayak orang gila. Kau dengar itu, kalau kau tak gila keluar atau aku panggil psikiater," teriak Sha di depan pintu.
Seketika pintu kamar terbuka dan tercium menyengat, Sha ingin rasanya muntah tapi ia tahan.
"Kak, bau apa ini."
Sha menengok kamar kakanya sudah kayak kapal pecah banyak botol minuman berserakan.
"Kak, jorok tahu."
"Jangan pernah bawa pskiater. Bilang sama Daddy jika terjadi aku bakal hancurin rumah ini."
Brug
Pintu di tutup keras hingga Sha terlonjak kaget sama halnya Kayla, ia buru-buru naik mendengar keributan.
"Ada apa Sha?"
"Mom, kakak marah jika ada psikiater kesini bisa diratakan rumah ini, Mom."
"Udah kamu tenang."
Dan saat keduanya saling memeluk datanglah dari belakang Alex yang memakai baju rok n roll dia mau kabur dan mengganti baju tapi tak sempat karena ada yang memanggil.
"Berhenti. Darimana kau, Lex."
"Mommy, he..."
"Alex dari tempat temen, Mom."
"Tempat temen apa balapan liar lagi."
"Temen Mom, udah urusin itu si kulkas yang gila."
"Jaga mulutmu, Lex. Kamu itu juga putra Mommy. Kapan Mommy nggak peduli tiap hari Mommy ngomel demi kebaikanmu, dan sekarang Kakakmu sedang berduka. Kamu adeknya jadi cobalah saling berkomunikasi. Mommy nggak pernah bedain, semua anak Mommy," ucap Kayla berlalu.
Setelah kepergian Mommynya, Sha berceloteh ria.
"Lex, kakak pengen kamu fokus belajar dulu bukan main-main. Kasihan Daddy, Mommy nyekolahin kita, tapi kita enakan menghamburkan uang. Jadi berfikirlah jika kita peduli padamu. Kamu sama kak Arthur kan sama lelaki, coba dekati dia mungkin akan bercerita keluh kesahnya. Kakak percaya padamu," ucap Sha menepuk bahu dan masuk ke kamar.
Alex menyadari jika kenakalannya karena orangtua tak peduli, padahal tiap hari dia kena marah Mommy akibat ulahnya. Ia baru ingat jika Mommy nya pernah bilang jangan main-main, tapi fokus sekolah dulu.
Akhirnya Alex sadar dan mulai hari ini akan mulai dekat dengan kakak-kakaknya lagi, ia akan menuruti perkataan orangtuanya.
"Come on Alex, kau pasti bisa!"
Alex mulai mengetuk pintu kamar Arthur sesaat pintu terbuka.
"Ada apa kamu ke sini."
"Judes amat kak. Boleh masuk."
"Masuklah."
"Bau apa ni, kau terlihat bersih tapi ternyata jorok."
"Kalau kamu mau kesini hanya ceramah, mending balik sana," usir Arthur kesal.
"Kak, aku minta maaf atas sikapku selama ini. Aku mau kakak juga bangkit."
"Apa aku gak salah denger, kamu habis kejedot pintu atau salah minum obat."
"Tahu. Aku baik salah nggak baik tambah salah."
"Iya-iya. Kakak maafin. Bantuin yuk," Arthud mengulas senyum.
"Hah, aku jadi sasarannya," keluh Alex.
__ADS_1
Dibalik pintu, ada yang tersenyum puas melihat mereka berdua kembali.