Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Di bawah tekanan


__ADS_3

"Siapa kau," tanya Jenni pada Ayunda


"Kalau mau tau, mari kita masuk ke ruang presdir," ajaknya


Ayunda dengan santai berjalan masuk ke ruangan Brian dan membukanya diikuti dari belakang oleh Jenni. Dan di ruangan itu, tepat ada meeting membuat Brian dan karyawannya terkejut.


"Sayang, kau kesini. Kejutan sekali," Brian menghampiri dan memeluk istri seksinya.


"K-kau," Jenni terkejut Brian memeluk Ayunda


"Perlu anda tahu, ini adalah istri saya. Dan ada apa perlu apa kesini," tanya Brian menatap tajam pada Jenni


"Saya hanya ingin memastikan anda baik saja," ucapnya gugup


"Kenapa repot memperhatikan saya, sedangkan istri saya lebih tahu."


"Oh ok, Kalau begitu saya permisi," ucap Jenni berbalik badan meninggalkan ruangan itu.


Usai Jenni keluar, Ayunda memberi rekaman cctv di toilet kafe pada suami. Brian menerima rekaman terkejut dengan kelakuan Jenni padanya. Brian pun menatap para karyawan lalu berkata, "Rapat kita lanjut besok terimakasih."


Semua karyawan itu keluar dan tak terkecuali Johan dan hanya meninggalkan Ayunda.


"Maasih sayang, kau pahlawanku," ucap Brian memeluknya dari belakang


"Lain kali lebih hati-hati. Kenapa malah istrimu yang lebih waspada," sindir Ayunda pada Brian


"Maaf. Kalau udah berurusan sama pawangnya, aku bisa apa?"


"Ih, dasar."


"Kita makan yuk sekalian aku mau meeting dengan perusahaan lain."


"Apa tak mengganggumu, Dad."


"Nggak, aku malah seneng kamu nemenin aku. Kan udah lama kita nggak barengan pas kerja."


"Ya terserah tuan Brian saja, apalah daya hanya istrimu."


"Kau bisa aja sayang," cubit gemas hidung Ayunda


"Bentar, aku panggil Johan."


Tak lama, masuklah Jihan di ruangannya


"Ehem, apa yang bisa saya bantu bos."


"Kita meeting sekarang, Jo. Kau siapkan semua, bertahu pihak sana sekarang di restoran depan."


"Siap bos."


15 menit kemudian, Brian dan Ayunda keluar dari ruangan dan diikuti Johan menuju lobby. Sampai di bawah, semua karyawan menyapa ceo dan istri dan dibalas ramah. Mereka sungguh mengagumi Ayunda yang nampak sederhana meski sudah menjadi istri orang terkaya.


Kini ketiganya sudah sampai di restoran depan kantor. Beberapa menit kemudian dataglah partner kerja Brian.


"Selamat siang, tuan Brian," sapa Rendra dan diikuti dari belakangnya Ryan dan Jessi


Saat akan menjawab sapaan Rendra, Brian terkejut ada Jessi.


"Siang tuan. Jessi," tunjuk Brian


Jessi seketika menunduk tak enak hati pada kakak angkatnya, ia takut pasti akan dimarahi jika tahu kerja di Rendra grup.


Rendra melihat keterkejutan Brian, ia pun bertanya


"Maaf, apa anda kenal sekretaris saya, tuan," taya Rendra memastikan


"Sekretaris."


"Iya, dia baru bekerja hari ini."

__ADS_1


Ayunda tak bisa membela apapun pada Jessi, karena suaminya mengetahui adik angkat bekerja sepengetahuan.


"Ehehm. Bagaimana tuan, apa bisa dilanjut meeting kita hari ini?" Rendra menyadarkan Brian


"Bi-bisa. Mari kita mulai."


Saat presentasi, Brian kagum akan adik angkatnya yang memiliki otak cerdas. Makin lama ia, tak jadi memarahi Jessi. 1 jam kemudian, Rendra grup berpamitan.


"Terimakasih sudah diberi kesempatan bekerja sama, tuan Brian."


"Sama-sama."


"Kami permisi dulu," pamit Rendra


"Hati-hati."


Jessi pun hanya menatap sekilas kakaknya karena takut. Dan berlaan cepat emngikuti Rendra. Di dala mobil Rendra mulai brtanaya pada Jessi.


"Kau kenal tuan Brian?"


"I-iya tuan. Dia kakakku."


Citttt


Seketika Rendra mengerm mendadqk membuat Jessi dan Ryan terkejut sambil bepergangan.


"Astaga, tuan. Saya masih mau hidup."


"Siapa ngajak kau mati. Kalau kau adeknya tuan Brian, kenapaemlamar pekerjaan."


"Saya mau mandiri, tak mau bergantung pada kakakku terus."


"Oh begitu," Rendra manggut-manggut dan melanjutkan perjalanan ke kantornya.


Saat ketiganyakembali, betapa terkejutnya Rendra ada kakeknya dan wanita seksi menunggu. Rendra tahu apa masdu kakeknya , ia tak kurang akal saat Jessi akan keluar ruagan tangan Jessi di cekal oleh Rendra.


"Tetap disini."


"Rendra, siapa gadis itu? Kenapa kau memegangnya," tanya lantang kakek Leo


"Dia kekasihku kek."


Deg


Jessi dan Ryan sama terkejutnya atas pengakuan dari Rendra, tapi Ryan tahu jika sengaja karena tak mau di jodohkan.


"Kau sudah tahu sipa dia asal usulnya."


"Sudah kek."


"Oh ya, yang hanya sekretaris kantor saja."


"Kakek, jangan menilai dari profesinya. Tapi hati dan ketulusannya, tolong jangan campuri urusan pribadi Rendra terus, kek. Kalau tak mau Rendra pergi."


"Kau mengancamku, Ren."


"Sedikit, agar kakek tak menekanku," ucap Rendra lau keluar dari ruangan sambil menarik Jessi.


Ryan tahu bagaimana perasaan sahabatnya itu karena di bawah tekanan kakeknya selama ini. Dia harus menuruti omongan kakeknya jika tidak akan kehilangan segalanya namun hari ini, Rendra sudah muak atas ucapan kakeknya.


Di tempat lain, Rendra duduk di tepi pantai memandang ombak diikuti Jessi perlahan duduk didekatnya.


"Maaf tuan, apa tidak takut masuk angin," tanya


"Tak masalah Jes. Maafkan aku, melibatkanmu soal pribadi."


"Saya tak apa tuan. Kalau anda mau, anda lebih baik ke sana biar nggak masuk angin."


"Makasih Jes. Tapi aku ingin menikmati hariku disini seharian , udah lama tak merasakan udara segar seperti ini," ucapnya lirih dan menunduk

__ADS_1


Jessi merasakan jika ada kepedihan mendalam di hati Rendra , ia pun duduk dan melihat apa yang akan dilakukan Rendra.,


Sekitar satu jam kemudian Rendra mengajak pulang dan berhenti di sebuah resto.


"Kita makan dulu," ucap Rendra sebelum Jessi bertanya


"Baik tuan."


Keduanya tak lama makan bersama, sampai ada sedikit kotoran di sudut bibir Jessi membuat Rendra mengusapnya pelan.


"Maaf."


"Tak apa tuan."


Usai makan, tiba-tiba dering ponsel Jessi tertanda Brian.


"Maaf tuan, kakak saya telpon. Saya mau angkat sebentar."


"Iya silahkan."


Jessi berjalan agak menjauh dari tempat Rendra dan mulai mengangkat.


"Ya halo, kak. Ada apa?"


"Kau dimana?"


"Aku lagi makan di resto. Ada apa?"


"Nanti ke rumah."


"Baik kak."


"Ya udah aku tutup."


Setelah telponnya di tutup Brian, Jessi kembali pada Rendra.


"Kau disuruh pulang ya."


"Bukan, di suruh ke rumahnya."


"Oh begitu, mari aku antar kau."


"Tak usah, saya bisa sendiri."


"Tapi aku yang mengajakmu, jadi sebagai cowok aku juga mengantarmu pulang. Oh ya Jes, mulai sekarang panggil aku Rendra saja."


"Tapi, aku sekeretaris anda tuan."


"Kalau berdua, panggil namaku."


"Baiklah."


Keduanya kini keluar dari resto dan melanjutkan pulang ke rumah Baratawijaya. Tak butuh lama, mobil mewah Rendra sudah di depan gerbang utama Baratawijaya.


"Makasih Ren."


"Iya sama-sama."


"Hati-hati," ucap Jessi pada Rendra dan melambaikan tangan berlalu


Jessi masuk ke dalam rumah dan bertemu kakaknya. Sedangkan Rendra, barusaja tiba tapi barangnya sudah di depan rumah.


"Ada apa ini?"


"Kau tak diterima di rumah ini lagi," ucap Kakek Leo


"Ok terimakasih kakek, Rendra juga takkan menginjakkan kaki lagi disini."


Rendra bahagia jika diusir oleh kakeknya karena selama ini di bawah tekanan, ia akan mempergunakan sisa uangnya untuk usaha. Tapi ia bingung harus kemana ia cari tempat tinggal sedangkan waktu sudah malam. Saat ia duduk di tepi trotoar dengan kopernya sebuah sorot lampu mobil mengarahnya mbuat ia penasaran.

__ADS_1


"Siapa dia?"


__ADS_2