
Bebi melihat ada pesan dari suaminya jika harus lembur jadi terpaksa dibatalkan acara makan malamnya. Bebi hanya bisa menerima kenyataan bahwasanya suami super sibuk karena pekerjaan menjadi CEO.
"Hem, ya sudah."
Tiba-tiba ada dering ponsel Milik Bebi terlihat namanya adalah Rina , akhirnya mengangkat telpon.
"Halo assalamualaikum, Rin. Ada apa?"
"Waalaikumsalam. Beb, nanti kau liburkan."
"Iya, ada apa?"
"Kita jalan yuk, nonton. Ada film bagus katanya."
"Nanti kau kabari, mau ijin sama suami."
"Cie suami, emang udah cinta."
"Apaan sih kamu, Rin. Udah dulu."
"Oke deh. Assalamualaikum."
"Waaaikumsalam."
Sekarang, Bebi menelpon suaminya namun tak juga diangkat. Ia pun memilih untuk tidur sejenak karena ia begitu setelah aktifitas ranjang dengan suaminya tadi.
Di tempat lain, Ben dan Axel sedang meeting di restuaran mal tak jauh dari kantor. Mereka menunggu CEO dari Mss dan tak lama datanglah seseorang menghampiri mereka.
"Hai tuan Ben, Axel" ucapnya mengulurkan tangan, dia adalah Dewi teman sekolahnya dulu
"Kau tahu namaku juga," ucap Axel bertanya
"Kenapa tidak, kau kan selalu saingan sama kakakmu ini."
"Jadi kau siapa?"
"Aku Dewi."
"Dewi," ucap kompak keduanya
Wanita cantik itu menebar senyum pada kedua temannya dulu.
"Hai semua, apa kabar kalian?"
"Kabar kita baik. Waw, kau makin keren."
"Dan kau makin dingin," gurau Dewi pada Ben
"Oh ya, jadi kau anak pewaris Mss itu."
"Itu dari kakekku."
"Oh gitu, keren abis," ucap Axel
"Eh ya duduklah. Kau pesenlah dulu, habis itu kita bahas proyeknya."
"Oke."
Tiba-tiba, Axel mendadak sakit perut, ia pun pamit pada kakaknya.
"Kak, aku ke toilet dulu."
"Oke."
Sedangka di sisi lain, Bebi sudah mengirim beberapa pesan namun tak juga di balas oleh Ben. Bebi pun membiarkan. Bebi berpikir jika suaminya sangatlah sibuk.
"Beb, kau mikir apa?" tanya Rina melihat sahabatnya gelisah
"Oh nggak."
"Beneran."
"Iya."
Tak lama, taksi mereka sudah sampai di mal. Mereka turun dan naik lift menuju bioskop. Saat keduanya berjalan menuju bioskop sekilas, Bebi melihat suaminya dengan seorang perempuan dan terlihat dekat. Bebi pun menyuruh Rina untuk memesan tiketnya.
"Rin, kau pesanlah aku mau telpon dulu."
"Oke."
Bebi mulai memencet nomor Ben terlihat dering dan akhirnya di jawab.
__ADS_1
"Iya, sayang assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Kau dimana?"
"Aku masih meeting sama klien."
"Oh ya, di kantor."
"Nggak, di restoran. Memang kenapa sayang?"
"Cuma tanya, aku sekarang ada di mal. Kau terlalu sibuk sampai tak melihat pesan dan telponku."
Ucapan Bebi membuat Ben terkejut dan gelisah dan saat Bebi berbalik badan, dari kejauhan Ben melihat seperti istrinya. Sontak, ia berdiri dan berpamitan pada Dewi.
"Dew, aku tinggal bentar ya. Mau ke toilet."
"Oke."
Dan kebetulan Axel kembali ke kursinya.
"Mau kemana kak?"
"Ada urusan," bisik Ben
"Oke."
Ben berlari mengejar wanita mirip istrinya itu terlihat di bioskop. Ben menaiki lift dan sampai disana ia bertanya pada resepsionis.
"Mbak, nanya. Tadi ada wanita cantik, kulit putih berambut panjang sebahu, memakai kemeja kotak merah hitam dan memakai rok pendek hitam, pesan disini."
"Barusan ada wanita cantik, yang tuan maksud bersama temannya."
"Oke baiklah terimakasih."
Ben akhirnya menelpon salah satu bodyguard yang menjaga Bebi.
"Halo, kau dimana."
"Di mal tepatnya bioskop bos."
"Kau tahu nona mu dimana, bukan?"
"Nona ada di bioskop saat ini, tuan."
"Baik tuan."
Dan masuklah pesan dari bodyguard Ben
Ting
Terlihat istrinya memakai baju sesuai yang ia lihat tadi. Ia menepuk jidat tajut istrinya berfikir jika bersama Dewi aja padahal ada Axel.
Setelah menunggu satu jam, akhirnya Bebi dan Rina keluar dari bioskop. Dan saat akan turun, mereka terkejut ada Ben menatap.
"Ben, kau."
"Iya aku, terkejut ya."
"Sedikit. Udah selesai meetingnya," ucap Bebi sambil berjalan diikuti Rina dari belakang
Tangan Bebi seketika ditarik lalu badannya di dekap.
"Jangan berfikir macam-macam. Aku hanya meeting dan itu ada Axel. Ayo ikut aku. Rin, ikutlah kami," ajak Ben
"Baiklah."
"Mau kemana, aku mau pulang."
"Kau harus tahu kejujuranku, Bebi."
Ben masih setia menggenggam tangan istrinya agar mengikuti ke mana dia pergi. Dan sampailah di depan Axel dan Dewi.
"Ada kakak ipar juga disini," ucap Axel menahan tawa tapi ia melirik di belakang Bebi ada seorang gadis
"Ehem, sama siapa juga tuh kak."
Bebibdan Ben melihat kearah mata Axel dan itu tertuju pada Rina.
"Huh, udah diem dulu kau, Xel," ucap Ben
"Dew, kenalkan ini istriku."
__ADS_1
"Kau udah nikah?"
"Iya udah."
"Hai, aku Dewi teman SMA Ben dan Axel."
"Hai," ucapnya kikuk
"Sayang, kau duduk disitu dulu ya, sama Rina. Tunggu aku, meeting dulu sama Dewi dia adalah klienku."
"Iya."
Dewi melihat Ben begitu mencintai istrinya sampai harus mengenalkan dengan kejujuran Ben. Dan itu membuat ia berfikir ingin punya kekasih seperti Ben.
Setelah menunggu selama satu jam suaminya meeting, akhirnya Ben memanggil.
"Sayang, sini. Udah selesai kok."
"Oh oke. Ayo Rin."
"Iya."
"Ya udah, Xel, Ben makasih ya udah mau kerja sama dengan perusahaan kecil."
"Perusahaan sudah besar, hanya perlu sedikit labih maju."
"Terimakasih ya. Sampai jumpa lagi."
"Bye," ucap Axel
Setelah Dewi pergi, kini Ben mengajak istrinya pulang. Sedangkan Axel berusaha mendekati Rina.
"Ehem, aku anter saja. Mereka butuh berdua sepertinya."
Rina menatap penuh selidik pada Axel, Axel heran tampangnya dicurigai.
"Tenang, aku adik mereka. Masak mau nyulik kamu."
"Iya-iya."
Dalam hati Axel, bersorak, "Yes."
Bebi dan Ben masuk ke dalam mobil lalu mencari Rina.
"Sayang, Rina mana?"
"Oh ya mana dia," ucap Bebi lalu menoleh temruat ada ketukan di mobil Ben
Tok
Tok
"Kau. Ada apa Xel?"
"Ben, Bebi aku pulang bareng Axel ya," ucap Rina
"Oh iya, aku kira kau diculik. Hati-hati Rin, Xel."
"Iya kau juga sampai ketemu besok."
"Iya."
Axel dan Rina masuk ke dalam mobil Axel sedangkan Bebi dan Ben melajukan mobil menuju suatu tempat. Berselang 15 menit, mobil sport Ben berhenti di rumah makan lesehan.
"Mau kemana, Ben?"
"Udah, ayo turun," ucap Ben membukakan pintu mobil istri dan menggenggam tangan.
Keduanya berjalan masuk ke sebuah kafe, Ben disambut bak pelayan disana. Dan memesan beberapa menu
"Mbak, menu spesial dua porsi sama lemon tea, ya."
"Baik tuan."
"Kenapa kita kesini, Ben. Ini udah malam lo."
"Hei, istriku. Meski kita pulang pagi, siapa yang berani memarahi," ucap Ben tersenyum sambil mencubit hidung mancung Bebi
"Iya tahu, apa kau tak malu bawa kesini."
"Ngapain, kau cantik."
__ADS_1
Tiba-tiba, ada yang menyahuti mereka berdua
"Memang cantik."